spot_imgspot_img
Minggu 19 Juli 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 2

Prancis vs Inggris Berebut Posisi Ketiga Piala Dunia 2026, Deschamps Jalani Laga Terakhir

0
Internasional, FOKUSJabar.id
Prancis vs Inggris Berebut Posisi Ketiga Piala Dunia 2026, Deschamps Jalani Laga Terakhir

INTERNASIONAL,FOKUSJabar.id: Meskipun tidak memperebutkan trofi juara, pertandingan perebutan tempat ketiga Piala Dunia FIFA 2026 tetap memikat perhatian para pencinta sepak bola. Prancis dan Inggris akan saling berhadapan pada Sabtu, 18 Juli 2026, di Hard Rock Stadium, Miami Gardens, Amerika Serikat, demi menutup turnamen di posisi ketiga.

Pertemuan kedua tim raksasa ini bergulir sehari sebelum partai final yang mempertemukan Spanyol dan Argentina. Publik menilai duel ini tetap krusial karena mempertaruhkan gengsi dua negara besar sepak bola dunia, sekaligus menjadi kesempatan pamungkas bagi para pemain untuk menunjukkan performa terbaik.

Bukan sekadar hasil akhir, laga Prancis kontra Inggris juga menyajikan sejumlah cerita menarik. Pertandingan ini mengiringi momen perpisahan Didier Deschamps bersama Timnas Prancis, upaya kebangkitan Inggris, hingga persaingan sengit memperebutkan gelar Golden Boot.

Prancis terlempar ke perebutan posisi ketiga setelah harus mengakui keunggulan Spanyol dengan skor 0-2 pada babak semifinal. Sementara itu, Inggris gagal mengamankan tiket final usai kalah tipis 1-2 dari Argentina dalam laga empat besar.

Bagi Les Bleus, pertandingan ini mengusung makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar menentukan peringkat akhir. Duel melawan Inggris menjadi panggung terakhir Didier Deschamps sebagai pelatih Timnas Prancis setelah mengabdi selama hampir 14 tahun dan mempersembahkan berbagai trofi bergengsi.

Meski bukan partai final, Deschamps menegaskan bahwa timnya memikul tanggung jawab besar untuk memberikan penampilan terbaik hingga peluit akhir.

“Ini bukan pertandingan final, tetapi kami memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri dan untuk mewakili Prancis dengan cara sebaik mungkin,” kata Deschamps saat konferensi pers menjelang laga.

Fokus Duel Menghadapi Prancis

Bek Prancis, Ibrahima Konaté turut menyuarakan semangat serupa. Ia menegaskan seluruh pemain ingin mempersembahkan kemenangan manis sebagai hadiah perpisahan bagi sang pelatih.

“Kami ingin memenangkannya untuknya,” tegas Konaté.

Di kubu lawan, Inggris mengusung tekad kuat untuk menutup perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 dengan hasil positif. Pelatih Thomas Tuchel memilih untuk tidak larut dalam kekecewaan pascakekalahan di semifinal dan kini mengalihkan fokus sepenuhnya pada duel menghadapi Prancis.

“Saya tidak memiliki penyesalan,” ujar Tuchel menjelang pertandingan.

Ia juga memastikan bahwa skuad The Three Lions tidak akan menghabiskan waktu untuk saling menyalahkan atas kegagalan lalu, melainkan berjuang bangkit demi meraih kemenangan di laga penutup ini.

Bek Inggris, John Stones mengakui kekalahan dari Argentina masih menyisakan kekecewaan mendalam di dalam tim. Meski demikian, para pemain mematok target bangkit dan mengakhiri kiprah mereka di Piala Dunia FIFA 2026 dengan performa yang jauh lebih baik.

Selain menentukan predikat juara ketiga, pertandingan ini juga berpotensi memanaskan persaingan peraih gelar Golden Boot. Panitia tetap menghitung setiap gol yang tercipta dalam laga ini ke dalam daftar pencetak gol terbanyak turnamen.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi sejumlah pemain top. Termasuk Kylian Mbappé dan jajaran penyerang Inggris, untuk menambah koleksi gol mereka sebelum Piala Dunia FIFA 2026 resmi berakhir.

(Jingga Sonjaya)

BPBD Kabupaten Bekasi Salurkan 904 Ribu Liter Air Bersih ke 9 Desa Terdampak Kekeringan

0
BEKASI, FOKUSJabar.id
Pendistribusian air bersih di Desa Ridogalih Kecamatan Cibarusah. Sumber Gambar: bekasikab.go.id

BEKASI,FOKUSJabar.id: BPBD Kabupaten Bekasi terus mengintensifkan penyaluran bantuan air bersih bagi masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air. Kemarau berkepanjangan memicu krisis ini, sehingga petugas harus bergerak cepat menggandeng sejumlah pihak demi memenuhi kebutuhan air bersih warga.

Pemerintah Kabupaten Bekasi merangkul Palang Merah Indonesia (PMI), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), serta beberapa kawasan industri. Mereka bahu-membahu mendistribusikan pasokan air ke wilayah-wilayah yang terdampak kekeringan.

Baca Juga: 20 Tahun Tsunami Pangandaran, Begini Kisah Perumahan Penyintas yang Berdiri di Bekas Rawa

Kolaborasi ini menyasar sembilan desa yang berada di empat kecamatan. Tim gabungan terus mengirimkan armada bantuan secara bertahap seiring bertambahnya lokasi yang mengalami krisis air bersih selama musim kemarau ini.

Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi hingga Jumat, 17 Juli 2026, pukul 22.00 WIB, menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan. Petugas mencatat ada 39 titik kekeringan yang tersebar di sembilan desa pada empat kecamatan, yakni Cibarusah, Serang Baru, Bojongmangu, dan Pebayuran.

Bencana kekeringan ini memukul kehidupan sekitar 4.929 kepala keluarga (KK) atau setara 13.985 jiwa. Mereka kini menggantungkan kebutuhan domestik sehari-hari pada pasokan bantuan air bersih.

Kecamatan Cibarusah menghadapi tekanan berat dengan 10 lokasi terdampak kekeringan. Sebanyak sembilan titik berada di Desa Ridogalih, sedangkan satu titik lainnya melanda Desa Cibarusah Jaya.

904.00 Liter Air untuk Masyarakat

Kecamatan Serang Baru juga mencatatkan sembilan titik kekeringan. Sebaran area tersebut meliputi delapan titik di Desa Nagasari dan satu titik di Desa Sukasari.

Wilayah Kecamatan Bojongmangu turut menjadi daerah dengan sebaran kekeringan yang cukup luas. Di kawasan ini, satu titik berada di Desa Sukamukti, satu titik di Desa Sukabungah, enam titik di Desa Medalkrisna, serta sembilan titik di Desa Karang Indah.

Selain ketiga wilayah tersebut, krisis air bersih juga menjalar ke Kecamatan Pebayuran. BPBD mengonfirmasi ada tiga titik kekeringan yang mendera warga di Desa Karangsegar.

Hingga Jumat, 17 Juli 2026, tim gabungan telah berhasil menggelontorkan total 904.000 liter air bersih kepada masyarakat. Capaian ini merupakan buah dari kerja sama solid berbagai instansi pemerintah dan pihak swasta yang peduli pada penanganan dampak kemarau.

Secara rinci, pasokan air tersebut berasal dari BPBD Kabupaten Bekasi sebanyak 590.000 liter, PMI menyumbang 250.000 liter, Deltamas mengucurkan 33.000 liter, PT Hyundai mengirim 3.000 liter, serta BBWS memasok 28.000 liter.

Pihak swasta dan instansi sosial memastikan penyaluran bantuan ini masih terus berjalan. Pada Sabtu, 18 Juli 2026, PMI Pusat kembali memperkuat armada bantuan dengan mengirimkan 20.000 liter air bersih ke lokasi bencana.

Bukan hanya air bersih, PMI Pusat juga menyertakan fasilitas penunjang berupa dua unit tandon air berkapasitas 5.000 liter dan dua unit tandon berkapasitas 2.000 liter. Mereka juga membagikan 200 jerigen serta 100 ember untuk meringankan beban warga Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah.

(Jingga Sonjaya)

Anyaman Bambu Situ Beet Tasikmalaya Terancam Punah, DKKT Gelar Kibar Budaya 2026

0
Tasikmalaya, FOKUSJabar.id
Ket foto : DKKT Kota Tasikmalaya, segera menggelar event budaya daerah"Kibar Budaya 2026" di kawasan Situ Beet Kota Tasikmalaya (ist DKKT)

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Kampung Situ Beet, Kelurahan Cipari, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya menyimpan jejak sejarah panjang tentang kerajinan anyaman bambu di balik suasana tenangnya.

Dahulu kala, masyarakat mengenal kampung ini sebagai sentra produksi anyaman bambu yang menghidupi ratusan kepala keluarga. Produk kreatif tersebut sekaligus menjadi identitas budaya lokal Tasikmalaya.

Baca Juga: Halaman Balekota Tasikmalaya Mendadak Jadi Arena GateBall, Dicky Candra Punya Harapan Besar

Namun kini, derasnya pertumbuhan pembangunan dan perubahan zaman mulai menggerus eksistensi kearifan lokal tersebut hingga terlupakan.

Kelangkaan bahan baku serta minimnya ketertarikan generasi muda membuat eksistensi Anyaman Bambu Situ Beet akhirnya terkubur perlahan.

Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT), Tatang Supriatna Sumpena membeberkan dua persoalan besar yang saat ini menghimpit para perajin di Kecamatan Mangkubumi.

Masalah pertama muncul dari kelangkaan bahan baku. Alih fungsi lahan menjadi area perumahan dan kawasan usaha mengikis keberadaan rumpun bambu di sekitar Situ Beet. Akibatnya, para pengrajin terpaksa mendatangkan bambu dari luar daerah dengan harga yang jauh lebih mahal.

“Kondisi ini membuat biaya produksi naik dan berdampak pada keberlanjutan volume usaha mereka,” ungkap Tatang Supriatna Sumpena, Sabtu (18/07/2026).

Kurangnya Minat Anak Muda Menekuni Kerajinan

Faktor kedua yang menjadi ganjalan serius adalah masalah regenerasi. Minat anak muda untuk menekuni kerajinan ini kian merosot tajam. Mereka lebih memilih pekerjaan lain karena menilai nilai ekonomi dari kerajinan lokal tersebut kurang menjanjikan keuntungan.

“Melestarikan budaya tidak cukup hanya dengan imbauan menjaga dan cinta tradisi, namun harus ada ekosistem yang membuat perajin bisa hidup layak dari hasil karyanya,” ujarnya.

Merespons persoalan pelik tersebut, DKKT Kota Tasikmalaya berinisiatif menggelar pagelaran bertajuk “Kibar Budaya 2026”. Pihak panitia akan melangsungkan festival ini di kawasan Situ Beet Mangkubumi pada 25 Juli 2026 mendatang.

Festival ini mengusung misi untuk mengembalikan perhatian bersama pada potensi daerah. Selain itu, agenda ini menjadi ruang untuk mencari solusi konkret bagi sentra anyaman bambu setempat.

Pria yang akrab dengan sapaan Tatang Pahat ini menilai pelestarian budaya baru akan bermakna jika berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi. Pemerintah dan masyarakat harus memberikan dukungan nyata mulai dari ketersediaan bahan baku, akses pembiayaan, perluasan pemasaran, inovasi produk, hingga pendidikan bagi perajin baru.

“Budaya tidak hanya hidup lewat panggung atau pameran. Ia akan bertahan kalau ada kebijakan strategis nyata yang memihak kepada para pelaku budaya dan lingkungan pendukungnya,” paparnya.

Ragam Acara Menarik pada Festival Budaya

Festival budaya tersebut akan menyuguhkan beragam acara menarik, mulai dari pertunjukan seni tradisi, musik, tari, teater, sastra, seni rupa, hingga kreasi seni dari masyarakat Mangkubumi. Ragam acara ini bertujuan memberikan ruang apresiasi, edukasi, sekaligus menghidupkan kembali Situ Beet sebagai sentra anyaman bambu.

DKKT mengemas Kibar Budaya 2026 sebagai agenda tahunan Kota Tasikmalaya. Event ini memegang peran sebagai pengingat bagi generasi muda agar mau merawat nilai-nilai kearifan lokal di tengah arus modernisasi yang terus menderu.

Tatang menegaskan bahwa Situ Beet bukan sekadar titik koordinat kerajinan lokal. Kampung ini merupakan simbol vital bahwa identitas budaya daerah memerlukan penjagaan demi masa depan generasi penerus.

“Menjaga anyaman bambu berarti menumbuhkan pengetahuan, keterampilan, dan ingatan kolektif warga Tasikmalaya. Kalau tradisi ini hilang, sebagian cerita kota kita juga ikut ditelan bumi,” ujarnya.

Melalui festival budaya tersebut, DKKT Kota Tasikmalaya berharap Situ Beet kembali memancarkan pesonanya sebagai pusat kreativitas yang terus hidup, sehingga tidak sekadar menjadi dongeng masa lalu.

(Seda)

Persib Bandung Ikat Kakang Rudianto hingga 2029, Manajemen Ungkap Alasannya

0
BANDUNG, FOKUSJabar.id
Foto: Persib perpanjangan kontrak Kakang Rudianto. (Media Officer Persib)

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Persib Bandung resmi memperpanjang kerja sama dengan Kakang Rudianto hingga tahun 2029. Kedua belah pihak menyepakati kontrak baru berdurasi tiga tahun tersebut sebagai bagian dari rencana jangka panjang klub.

Manajemen mengambil langkah ini demi menjaga kesinambungan skuad Pangeran Biru. Selain itu, langkah tersebut menjadi bentuk apresiasi bagi pemain muda yang telah menunjukkan kualitas, karakter, dan konsistensi bersama tim.

Baca Juga: Igor Tolic: Piala Presiden 2026 Sarana Adaptasi Pemain Anyar

Kakang Rudianto merupakan bek muda kelahiran Cianjur, 2 Februari 2003. Skuad Maung Bandung menaruh harapan besar pada kemampuan dan potensi sang pemain untuk mengawal lini pertahanan.

Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Adhitia Putra Herawan membeberkan bahwa tim pelatih merasa puas dengan perkembangan Kakang. Sang pemain selalu mampu memberikan kontribusi nyata bagi tim di setiap pertandingan.

“Prinsipnya, tim pelatih merasa puas dengan kontribusi Kakang selama ini. Meski awalnya bermain untuk memenuhi regulasi pemain muda, Kakang selalu mampu menunjukkan kualitas dan performa terbaik setiap kali mendapatkan kepercayaan,” kata Adhitia, Sabtu (18/07/2026).

Adhitia menilai etos kerja tinggi menjadi salah satu nilai tambah tersendiri bagi pemain asal Cianjur tersebut.

“Konsistensi, etos kerja, serta kemauannya untuk terus berkembang menjadi nilai penting yang membuat kami yakin mempertahankannya,” ujar Adhitia.

Bukti Komitmen Persib Terhadap Pemain Muda

Lebih lanjut, Adhitia menegaskan bahwa keputusan ini bukan sekadar urusan mempertahankan pemain belakang andalan. Perpanjangan kontrak tersebut menjadi bukti nyata komitmen Persib Bandung terhadap pembinaan pemain muda secara berjenjang.

Seperti publik ketahui, Kakang Rudianto merupakan produk asli Akademi Persib Cimahi. Kini, ia sukses menembus ketatnya persaingan di skuad utama Maung Bandung.

“Kakang adalah contoh bahwa proses pembinaan yang dilakukan PERSIB mampu melahirkan pemain berkualitas,” ungkapnya.

Ia berharap keberhasilan Kakang mampu memotivasi para pemain muda lainnya di akademi untuk terus berjuang menembus tim utama.

“Kami ingin terus memberikan ruang bagi talenta-talenta muda untuk bertumbuh, berkembang, dan menjadi tulang punggung tim di masa depan,” tegas Adhitia.

Kesepakatan baru hingga 2029 ini membuka babak baru bagi perjalanan karier Kakang. Klub berseragam biru ini sudah menjadi bagian dari impian masa kecil sang pemain.

Persib percaya Kakang masih memiliki ruang berkembang yang sangat lebar mengingat usianya yang masih muda. Manajemen optimistis sang bek akan terus memberikan performa terbaik sekaligus menginspirasi generasi penerus di Akademi Persib.=

“Terus berkembang, terus menjaga semangat belajar, dan lanjutkan perjuangan untuk selalu memberikan yang terbaik bagi Persib. Kami percaya perjalanan Kakang bersama Persib masih akan menghadirkan banyak cerita dan prestasi,” pungkasnya.

(Arif)

20 Tahun Tsunami Pangandaran, Begini Kisah Perumahan Penyintas yang Berdiri di Bekas Rawa

0
Pangandaran, FOKUSJabar.id
Poto: Penampakan perumahan tsunami di Babakan Pangandaran

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Deretan rumah sederhana di Gang Babakan, Desa Bojongsari, Kabupaten Pangandaran kini berdiri rapi. Jalan lingkungan yang sudah mulus tercor dan halaman penuh bunga menciptakan suasana kampung yang begitu tenang.

Namun, tidak banyak orang tahu bahwa dua dekade lalu tempat ini hanyalah area rawa dan kebun belukar yang rimbun. Kini, warga sekitar mengenal kawasan tersebut sebagai “Perumahan Tsunami”, tempat tinggal bagi para penyintas bencana tsunami Pangandaran 17 Juli 2006.

Baca Juga: SPP SMA Negeri di Jabar Bakal Berlaku Lagi? Ini Penjelasan Kepala SMAN 1 Pangandaran

Salah seorang penghuni yang masih bertahan, Iin (67), mengingat betul bagaimana warga membangun kawasan ini benar-benar dari titik nol.

“Dulunya ini kebon dahon, rawa. Rimbun sekali. Enam bulan ngebabatnya, dikerjakan 12 orang. Sehari sampai 27 truk bolak-balik angkut tanah,” kenang Iin di rumahnya, Sabtu (18/07/2026).

Sebelum menempati rumah baru, Iin bersama puluhan penyintas lain harus menghabiskan waktu hampir dua tahun di dalam tenda pengungsian. Mereka sempat menerima bantuan dana stimulan sebesar Rp15 juta, namun nominal tersebut tidak cukup untuk membeli sebidang tanah sekaligus membangun rumah.

“Waktu itu dikasih uang Rp15 juta, tapi enggak punya tanah, enggak punya rumah. Kalau buat beli rumah paling cuma dapat sepetak. Terus bangunnya di mana?” ujarnya.

Peran Lembaga Kemanusiaan yang Menawarkan Bantuan

Titik terang akhirnya muncul saat sebuah lembaga kemanusiaan donatur menawarkan bantuan. Lembaga tersebut meminta para penyintas mencari lahan yang luas agar mereka bisa membangun rumah dalam satu kawasan terpadu.

“Katanya, ‘masa mau bertahan terus di tenda? Coba cari tanah yang luas, nanti dibangun bareng. Saya bantu bahan rumahnya’,” tutur Iin.

Warga akhirnya memilih lahan di kawasan Babakan meski kondisinya penuh lumpur dan semak. Para penyintas kemudian bergotong royong membersihkan area tersebut selama enam bulan berturut-turut.

Setelah lahan siap, lembaga Church World Service (CWS) langsung turun tangan membantu pembangunan rumah. Bangunan generasi pertama tersebut memiliki ukuran 6×6 meter dengan dinding bilik bambu dan atap seng.

“Dulu masih bilik. Atasnya seng, sekarang diganti asbes karena sudah banyak yang bocor,” kata Iin.

Seiring berjalannya waktu, warga mulai merenovasi rumah mereka secara mandiri sesuai dengan kemampuan finansial masing-masing.

Jumlah Penghuni Asli yang Terus Menyusut

Awalnya, proyek perumahan ini menampung 22 kepala keluarga penyintas. Namun, setelah 20 tahun berselang, jumlah penghuni asli terus menyusut secara drastis.

“Semuanya dulu 22 penerima. Sekarang yang asli survivor tinggal delapan orang. Ada yang pindah, ada juga yang sudah meninggal,” ujar Iin.

Meskipun jumlah mereka berkurang, hubungan antarwarga tetap terikat erat karena mereka pernah sama-sama melewati masa-masa sulit selama di pengungsian.

Iin menceritakan bahwa kawasan ini sempat menjadi langganan banjir pada tahun-tahun awal karena posisinya yang bekas rawa. Terlebih lagi, sebuah aliran sungai di belakang permukiman kerap meluap setiap kali hujan deras mengguyur.

“Awal-awal sering banjir. Sekarang juga kalau hujan besar pas pancaroba air suka naik sampai ke rumah. Belakang ini kan sungai,” katanya.

Bagi Iin, Perumahan Tsunami memuat makna yang jauh lebih mendalam dari sekadar bantuan fisik bangunan. Tempat ini menjadi simbol perjuangan 22 keluarga untuk merajut kembali kehidupan mereka setelah kehilangan rumah dan harta benda akibat bencana dahsyat 17 Juli 2006.

Kini, rekahan bunga-bunga di depan rumah seolah menegaskan bahwa kehidupan baru yang indah telah tumbuh subur di atas lahan yang dulu hanya berupa rawa dan semak belukar.

(Sajidin)

SPP SMA Negeri di Jabar Bakal Berlaku Lagi? Ini Penjelasan Kepala SMAN 1 Pangandaran

0
Pangandaran, FOKUSJabar.id
‎Poto: Kepala sekolah SMA Negeri 1 Pangandaran, Mulanya.

PANGANDARAN FOKUSJabar.id: Wacana pemberlakuan kembali Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) di SMA dan SMK negeri di Jawa Barat kini mencuat ke permukaan. Usulan ini menggelinding karena dana BOSP maupun bantuan pemerintah daerah belum mampu menutup seluruh kebutuhan operasional sekolah.

Meski begitu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat hingga saat ini belum mengetuk palu keputusan. Pihak pemprov masih menempatkan kebijakan tersebut sebatas wacana dan akan mematangkan kajiannya terlebih dahulu.

Baca Juga: Sate Totok Kalipucang, Kuliner Legendaris Pangandaran Berbahan Kerang Citanduy yang Diburu Wisatawan

Kepala SMAN 1 Pangandaran, Mulyana menilai pemerintah daerah dan BOSP sebenarnya sudah mengalokasikan biaya pendidikan untuk sekolah negeri. Oleh karena itu, langkah paling bijak saat ini adalah mengoptimalkan dana yang sudah tersedia.

“Saya lihat kontennya Pak Gubernur, sudah diklarifikasi bahwa secara prinsip biaya pendidikan di negeri itu sebenarnya sudah ada alokasinya dari BOSP maupun dari pemerintah daerah. Makanya saya juga menangkap yang menjadi prioritas sebenarnya kita maksimalkan saja yang ada dulu. Jangan berpikir SPP dan lain sebagainya,” kata Mulyana, Jumat (17/07/2026).

Mulyana tidak menolak andai pemerintah daerah benar-benar mengkaji wacana tersebut kelak. Namun, ia mengingatkan bahwa kebijakan sensitif seperti ini memerlukan pembahasan yang sangat matang.

“Kalaupun memang ada wacana ke sana, ada rencana ke sana, tentu harus dikaji terlebih dahulu,” ujarnya.

Aturan yang Mengikat Ketat Pihak Sekolah

Ia mengakui bahwa BOSP belum sepenuhnya menanggung sejumlah kebutuhan sekolah. Kendala ini muncul bukan sekadar karena keterbatasan anggaran, melainkan juga akibat aturan penggunaan yang mengikat ketat pihak sekolah.

“Kalau dihitung ingin lebih dari standar pelayanan minimum tentu kita kekurangan. Memang tidak semua kegiatan bisa ter-cover, baik dari sisi regulasi maupun dari sisi volume atau jumlah anggarannya,” katanya.

Mulyana mencontohkan dua kondisi pelik di lapangan. Pertama, kondisi saat anggaran berada di bawah kebutuhan nyata sekolah. Kedua, dana sebenarnya tersedia namun regulasi melarang penggunaannya untuk kegiatan tertentu.

“Misalkan anggarannya cuma segini, tetapi kebutuhan kita lebih banyak. Atau uangnya ada, tetapi tidak bisa digunakan untuk itu. Nah, makanya sepertinya kalaupun ada SPP itu untuk meng-cover hal-hal yang seperti itu,” ucapnya.

Kendati demikian, SMAN 1 Pangandaran menegaskan tidak memiliki rencana untuk menarik SPP dari siswa dalam waktu dekat. Pihak sekolah memilih fokus memaksimalkan skema pembiayaan yang mengucur dari pemerintah.

“Kalau dulu memang Permen 75 berlaku. Memang secara aturan boleh melakukan penggalangan dana melalui komite sekolah. Kalau dulu ada seperti itu, tetapi tidak dalam bentuk iuran ataupun SPP. Lebih kepada sumbangan dari orang tua dan itu dirumuskan melalui rapat,” jelas Mulyana.

Memaksimalkan Anggaran yang Ada

Ia menambahkan bahwa pihak sekolah rutin menggelar rapat bersama orang tua siswa. Namun hingga kini, pembahasan mengenai SPP tidak pernah masuk dalam agenda pertemuan tersebut.

“Kalau rapat orang tua pasti kita laksanakan. Cuma kalau terkait masalah SPP, kita belum ke sana. Kita mau memaksimalkan yang ada terlebih dahulu,” ujarnya.

Sebelumnya, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat membenarkan bahwa banyak SMA/SMK negeri yang kewalahan memenuhi dana operasional. Hal ini terungkap jelas saat tim dinas melakukan monitoring dan evaluasi (monev) bersama Komisi V DPRD Jabar.

Hasil evaluasi tersebut kemudian melahirkan wacana untuk mengaktifkan kembali SPP sebagai jalan keluar pembiayaan alternatif. Namun kembali lagi, Pemprov Jabar belum mengambil keputusan final.

Mulyana berharap kebijakan apa pun yang lahir nantinya tetap menjamin akses pendidikan bagi seluruh siswa. Di sisi lain, pemerintah juga perlu memberi ruang pembiayaan agar mutu layanan sekolah meningkat tanpa harus membebani dompet orang tua.

(Sajidin)

Sate Totok Kalipucang, Kuliner Legendaris Pangandaran Berbahan Kerang Citanduy yang Diburu Wisatawan

0
Pangandaran, FOKUSJabar.id
Poto: Penampakan sate totok Kalipucang Pangandaran

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Sejumlah pedagang berdiri berjejer sambil membawa wadah berisi sate totok di tepi Jalan Raya Kalipucang, Kabupaten Pangandaran. Mereka sesekali menghampiri kendaraan yang melambat untuk menawarkan kuliner khas berbahan dasar kerang tersebut.

Pemandangan unik ini mewarnai aktivitas sehari-hari warga, tepatnya di tikungan dekat minimarket Kalipucang. Bagi para pedagang, kendaraan yang menepi bukan sekadar lalu lintas biasa, melainkan tumpuan harapan datangnya rezeki.

Baca Juga: Cara Unik Polres Pangandaran Rayakan Hari Bhayangkara, Gelar Lomba Melukis Anak Difabel

Salah seorang pedagang bernama Tutur mengaku sudah menekuni usaha sate totok selama kurang lebih 20 tahun. Demi memanjakan lidah pembeli, ia juga menyediakan lontong dan peyek udang sebagai makanan pelengkap.

“Totok itu nama kerangnya. Memang ciri khas Kalipucang karena kerangnya diambil dari Citanduy,” ujar Tutur, Sabtu (18/07/2026).

Tutur menjelaskan bahwa kerang totok mendiami aliran Sungai Citanduy yang melintasi kawasan Kalipucang. Dahulu, warga setempat kerap berburu kerang tersebut langsung ke sungai. Namun kini, Tutur memilih membeli daging kerang yang sudah bersih dan siap olah dari pasar seharga Rp40.000 per kilogram.

Proses pengolahan kuliner ini berawal dengan merebus daging kerang bersama bumbu kuning hingga meresap sempurna. Langkah berikutnya, pedagang menusuk daging tersebut menggunakan lidi sebelum menjajakannya ke konsumen.

Rasa Gurih Alami Kerang

Berbeda dengan sate ayam atau sapi pada umumnya, sate totok menonjolkan cita rasa gurih alami kerang. Kelezatan ini lahir dari perpaduan pas bumbu rempah sederhana.

Para pedagang melepas sate totok dengan harga terjangkau, yakni Rp5.000 untuk setiap empat tusuk. Penjualan kuliner ini sangat bergantung pada tingkat keramaian arus lalu lintas.

“Kalau ramai bisa habis tiga sampai empat kilogram. Kalau sepi sekitar dua kriminal,” katanya.

Pada hari-hari biasa, Tutur rata-rata mampu menghabiskan sekitar 2 kilogram daging kerang. Volume penjualan tersebut langsung melonjak menjadi 3 hingga 4 kilogram saat akhir pekan atau musim liburan tiba.

Keberadaan sate totok ini mendapat keuntungan dari posisi strategis Kalipucang sebagai pintu masuk utama menuju kawasan wisata Pangandaran. Banyak pelancong memilih rehat sejenak untuk mencicipi makanan khas ini sebelum melanjutkan perjalanan mereka.

Bagi Tutur dan rekan seprofesinya, sate totok bernilai lebih dari sekadar barang dagangan biasa. Kuliner legendaris ini merupakan warisan berharga Kalipucang yang terus bertahan sekaligus memperkuat identitas daerah.

(Sajidin)