spot_imgspot_img
Kamis 23 Juli 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 2

Kabar Baik! WiFi Gratis Kini Tersedia di 5 Titik Singaparna Tasikmalaya, Begini Cara Mengaksesnya

0
Tasikmalaya, FOKUSJabar.id
5 Titik lokasi wifi publik gratis di Kabupaten Tasikmalaya

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya meluncurkan fasilitas wifi publik gratis di 5 titik strategis wilayah Kecamatan Singaparna. Langkah digitalisasi ini bertujuan mempermudah masyarakat mengakses internet untuk mendukung kegiatan belajar, bekerja, mencari informasi, hingga berkomunikasi.

Baca Juga: Ratusan Guru di Tasikmalaya Dibekali Edukasi Kanker Serviks dan Diabetes, Ini Pesan Dokter

Masyarakat Kabupaten Tasikmalaya dapat menikmati layanan internet gratis ini di beberapa lokasi fasilitas umum, yaitu:

  • Alun-alun Singaparna
  • Area Monumen Lam Alif
  • Area Lapangan Setda
  • Area Taman Kompleks Perkantoran
  • Area Masjid RSUD KHZ. Musthofa

Cara Mudah Mengakses WiFi Gratis Diskominfo

Masyarakat dapat terhubung ke jaringan internet publik ini dengan langkah yang sangat mudah. Warga cukup mengaktifkan fitur wifi pada ponsel pintar atau laptop, lalu memilih nama jaringan atau SSID ‘WIFI GRATIS DISKOMINFO’.

Setelah proses koneksi berhasil, pengguna bisa langsung berselancar di dunia maya sesuai dengan ketentuan pengguna layanan publik.

Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya mengimbau seluruh warga untuk menggunakan fasilitas internet gratis ini secara bijak.

Masyarakat perlu memanfaatkan akses internet untuk kegiatan-kegiatan positif, menjaga kerahasiaan data pribadi, serta membendung penyebaran informasi bohong (hoaks) di dunia maya.

(Diskominfo Kabupaten Tasikmalaya/Irfansyahriza)

Ratusan Guru di Tasikmalaya Dibekali Edukasi Kanker Serviks dan Diabetes, Ini Pesan Dokter

0
Tasikmalaya, FOKUSjabar.id
Ket foto : Ratusan guru dan tenaga pendidik dari Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, bersemangat mengikuti Seminar Kesehatan Reproduksi dan Metabolik, yang digelar IIDI Tasikmalaya di Restoran Sambel Hejo Tasikmalaya (fokusjabar/Seda)

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Ratusan guru dan tenaga pendidik dari tingkat SD hingga SMA/MTS Sederajat se-Kota dan Kabupaten Tasikmalaya menunjukkan antusiasme tinggi saat mengikuti Seminar Kesehatan Reproduksi Wanita dan Penyakit Metabolik Diabetes Melitus.

Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Tasikmalaya menggaet Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Tasikmalaya untuk merancang agenda edukasi kesehatan ini di Restoran Sambel Bejo, Jalan Letjen Mashudi, Cibeureum, Kota Tasikmalaya pada Rabu (22/7/2026).

Baca Juga: Hari Anak Nasional di Tasikmalaya Berlangsung Meriah, KPAID Tegaskan Perlindungan Anak Tak Boleh Berhenti

Ratusan peserta yang mayoritas kaum hawa tersebut memadati lokasi acara. Panitia menghadirkan narasumber spesialis penyakit dalam Hematologi-Onkologi Medik, dr. Arie Taufik, yang langsung mendapat sambutan hangat dari para guru.

Ketua Umum IIDI Cabang Tasikmalaya, Prima Nanda Farid Wajdi, menyebutkan bahwa program kerja organisasi ini bertujuan memupuk kesadaran serta pemahaman para tenaga pendidik mengenai kesehatan reproduksi dan deteksi dini penyakit.

“Langkah ini merupakan bagian dari komitmen IIDI untuk meningkatkan literasi Kesehatan di tengah-tengah masyarakat. Dan kali ini sasaranya adalah para tenaga guru di lingkungan pendidikan,” ungkap Prima Nanda kepada awak media, Rabu (22/7/2026).

Guru Punya Peran Strategis Bentuk Karakter dan Kesehatan Anak

Prima Nanda menilai guru memegang posisi strategis sebagai garda terdepan pembentuk karakter anak di sekolah. Oleh sebab itu, para pengajar membutuhkan pemahaman kesehatan mendalam selain penguasaan materi akademik.

“Fokus dalam seminar ini yakni Kesehatan Reproduksi dan Metabolik, tentang kangker serviks dan payudara, dan diabetes melitus, yang ternyata banyak para kaum hawa,” ujarnya.

Ia menambahkan, ancaman kanker serviks dan diabetes memang tidak menular, namun bisa berakibat fatal jika warga mengabaikannya.

“Melalui seminar kesehatan, kami berharap kesadaran masyarakat, khususnya para tenaga guru dan pendidik semakin meningkat dalam menjaga kesehatan diri. Kesehatan harus kita jaga sejak dini agar kualitas hidup lebih baik di masa mendatang,” kata Prima Nanda.

Sementara itu, Ketua IDI Kota Tasikmalaya dr. Farid Wajdi menyampaikan apresiasi tinggi atas konsistensi pengurus IIDI Cabang Tasikmalaya dalam meningkatkan derajat kesehatan publik.

“Peserta yang mengikuti seminar ini adalah para guru-guru, ini sangat tepat pasalnya, mereka ini tenaga pendidik yang tidak hanya membentuk adab, etika dan kualitas akademik anak-anak, tetapi juga membentuk karakter dan kesehatan mereka,” ungkap dr. Farid Wajdi.

Ia menerangkan bahwa pergaulan bebas dan infeksi menular memicu masalah kesehatan reproduksi. Sementara pola makan tidak teratur mendorong lonjakan penyakit metabolik.

“Kesehatan reproduksi ini perlu pemahaman yang komprehensif mengenai penyebabnya dan pencegahannya mulai pergaulan bebas, infeksi menular, dan kesehatan metabolik yang terpengaruh pola makan yang tidak teratur yang memicu peningkatan kasus penyakit seperti diabetes melitus, hipertensi, obesitas, dan penyakit jantung,” paparnya.

Edukasi Deteksi Dini Kanker dan Penyakit Metabolik

Narasumber acara, dr. Arie Taufik, memaparkan bahaya laten kanker serviks dan kanker payudara yang mengintai organ vital perempuan.

“Jumlah perempuan yang menderita kanker ini, cukup tinggi dan korbannya pun terus meningkat dari tahun ke tahun karenaya, perlu pencegahan dan deteksi dini,” ungkap dr. Arie Taufik.

dr. Arie menyoroti paparan asap rokok, pengawet makanan, penggunaan minyak goreng berulang, hingga gaya hidup tidak sehat sebagai pemicu kanker.

“Deteksi dini sangat penting. Kalau menemukannya lebih awal, penanganannya akan lebih mudah dan tingkat kesembuhannya pun tinggi. Guru bisa menjadi penyambung informasi kesehatan ini ke siswa dan juga ke keluarga di rumah,” tegas dr. Arie.

Para peserta juga mempelajari gejala awal penyakit serta langkah pencegahannya lewat pemeriksaan rutin. Salah seorang peserta, Tania Marwan, merasa bersyukur bisa mendapatkan wawasan kesehatan berharga ini.

“Saya seneng bisa ikut dalam seminar ini. Banyak hal yang tadinya tidak kami tahu tentang penyakit yang rawan pada perempuan. Sekarang jadi tahu penyebabnya dan bagaimana cara mencegahnya,” ungkap Tania.

IIDI Tasikmalaya berkomitmen melanjutkan program edukasi ini secara berkala ke berbagai kalangan masyarakat,. Mulai dari pekerja, pelajar, hingga orang tua murid.

(Seda)

Soroti Kasus Kekerasan Anak di Bogor, KPAID dan TP PKK Dorong Orang Tua Jadi Benteng Utama

0
BOGOR, FOKUSJabar.id
PKK dan KPAID Kota Bogor Kolaborasi Gelar Program KILAS Lindungi Anak dari Kekerasan Seksual

BOGOR,FOKUSjabar.id: Tim Penggerak (TP) PKK Kota Bogor bersama Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Bogor meluncurkan program Keluarga Indonesia Lindungi Anak dari Kekerasan Seksual (KILAS). Kolaborasi ini bertujuan memperkuat benteng keluarga dalam mencegah tindak kekerasan seksual terhadap anak.

Ketua Bidang I TP PKK Kota Bogor, Novianti Jenal Mutaqin, menilai program ini memegang peranan krusial karena keluarga merupakan benteng pertama perlindungan anak.

Baca Juga: Serap Ribuan Pendaftar, Pemkot Cirebon Buka 5 Bidang Pelatihan Kerja Paling Dicari Pasar

“Orang tua merupakan pengawas bagi anak. Perkembangan teknologi yang ada perlu diimbangi dengan kewaspadaan orang tua serta memantau kegiatan anak-anak, baik di keluarga maupun lingkungan agar menjadi keluarga yang nyaman bagi anak untuk bercerita dan berkeluh kesah,” kata Novianti di Auditorium Perpustakaan dan Galeri Kota Bogor, Jalan Kapten Muslihat, Rabu (22/7/2026).

Novianti menjelaskan bahwa Gerakan KILAS menindaklanjuti program unggulan Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital (PAAREDI).

“Momentum ini mengingatkan kita bahwa perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama yang dimulai dari keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama bagi tumbuh kembang anak,” katanya.

Laporan Kasus Meningkat, Keluarga dan Sekolah Jadi Sorotan

Sementara itu, Ketua KPAID Kota Bogor Dede Siti Amanah mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 KPAID Kota Bogor mencatat 93 pengaduan kasus. Angka tersebut melonjak signifikan jika kita bandingkan dengan capaian tahun sebelumnya.

Dede menilai kenaikan grafik aduan ini menunjukkan masyarakat mulai berani menyuarakan berbagai persoalan di sekitarnya.

“Laporan yang masuk perlu mendapat apresiasi. Karena masyarakat mulai tercerahkan, sehingga tumbuh keberanian untuk melapor dan berani speak up atas segala hal yang terjadi. Namun demikian di sisi lain menjadi kegagalan semua pihak dalam hal perlindungan anak-anak di Kota Bogor,” ujar Dede.

Mirisnya, Dede menyebut lingkungan keluarga dan lembaga pendidikan justru menempati posisi teratas sebagai penyumbang aduan terbanyak terkait pelanggaran hak anak.

“Keduanya semestinya kita yakini sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak tumbuh dan berkembang. Namun mirisnya keduanya menjadi penyumbang terbesar dari pelanggaran-pelanggaran pemenuhan hak dan perlindungan anak di Kota Bogor,” tegas Dede.

Mencetak Kader PKK Sebagai Pelopor Perlindungan Anak

Lewat program KILAS, KPAID Kota Bogor mendorong kader TP PKK untuk tampil sebagai pelopor perlindungan anak di wilayah masing-masing lewat edukasi publik yang intensif.

Menghadapi era digital, Dede mengingatkan para orang tua untuk terus meningkatkan pengawasan karena anak-anak belum mampu menyaring ancaman secara mandiri.

“Walau pengawasan terlihat pasif tapi ini menjadi kunci utama,” katanya.

Ketua Pelaksana KILAS, Agustini, menambahkan bahwa program kolaborasi ini membekali orang tua dengan pengetahuan komprehensif mengenai bahaya dan dampak kekerasan seksual.

Melalui pembinaan KILAS, pemerintah kota mendorong terciptanya keluarga yang berkualitas, harmonis, serta memiliki ketahanan diri yang kuat.

“Sosialisasi dan pembinaan KILAS bagi orang tua harapannya mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang pentingnya pencegahan kekerasan seksual pada anak. Serta strategi membangun komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak,” tutup Agustini.

(Pemkot Bogor/IrfansyahRiza)

Sekda Garut: 31 Warga Cibatu Terindikasi Gejala Keracunan

0
sekda garut keracunan fokusjabar.id
Korban dugaan keracunan makanan di PKM Cibatu

GARUT, FOKUSJabar.id: Sekda Garut Jawa Barat (Jabar), Nurdin Yana mengatakan, sedikitnya 31 warga Desa Mekarsari Kecamatan Cibatu terindikasi keracunan makanan, Rabu (22/7/2026).

Para korban kini tengah mendapatkan penanganan intensif tenaga medis PKM Cibatu.

BACA JUGA:

Puluhan Santri dan Guru di Cibatu Garut Diduga Keracunan MBG

Menurut Sekda Garut, pihaknya langsung monitoring kejadian dugaan keracunan makanan tersebut. Tercatat sebanyak 27 orang sudah mendapatkan penanganan.

“4 orang lagi di kabarkan terdampak. Namun hingga kini belum di rawat di PKM. Mudah-mudahan gejalanya tidak serius dan bisa di tangani di tempat,” ungkap Nurdin Yana.

Kronologis kejadian, sekitar pukul 13.00 WIB, sebanyak 3 orang santri datang ke PKM Cibatu mengeluhkan pusing, muntah dan diare.

Jumlah pasien bertambah menjadi 23 orang pada pukul 15.00 WIB dan hingga pukul 18.00 tercatat 27 orang yang sudah mendapatkan penanganan dan di rawat di PKM Cibatu.

“Sebagian besar merupakan santri dari Pesantren Al Almansuriyah Desa Mekarsari,” imbuh Sekda Garut.

Salah seorang korban asal Kampung Dukuh, RT03/05 Desa Mekarsari Kecamatan Cibatu, Aceng Muhamad Arifin Riziq mengaku, pada pukul 11.00 WIB Dia mengonsumsi makanan Dari program MBG.

Setelah beberapa jam, Dia mengalami gejala pusing, mual, muntah dan diare.

sekda garut keracunan fokusjabar.id
Sekda Garut, Nurdin Yana (tengah)

“Terasa mual, pusing daw langsung muntah-muntah di sertai Diare,” singkat  Aceng.

BACA JUGA:

3 Tahun tak Ada Kepastian, Warga Giriawas Garut Gotong Royong Perbaiki Jalan Kabupaten

Sebelumnya FOKUSJabar mengabarkan, Kepala Desa Mekarsari, Ahmad Sadeli mengatakan, puluhan siswa dan guru di duga mengalami keracunan setelah menyantap makanan dari SPPG Sindangsuka.

“Puluhan siswa dan guru di duga mengalami keracunan setelah menyantap hidangan program MBG. Saat ini mereka sudah mendapatkan penanganan di PKM Cibatu,” katanya.

Ahmad menyebut, pemerintah setempat juga telah turun ke lokasi untuk memantau perkembangan kejadian dan berkoordinasi dalam penanganan para korban.

Camat Cibatu, Budi Darmawan mengatakan, jumlah korban masih belum dapat di pastikan karena hingga kini masih ada warga yang terus berdatangan ke Puskesmas.

Penyebab pasti dugaan keracunan tersebut masih dalam proses penyelidikan. Petugas bersama instansi terkait tengah mendata para korban sekaligus menelusuri sumber makanan yang di konsumsi.

(Andian)

Serap Ribuan Pendaftar, Pemkot Cirebon Buka 5 Bidang Pelatihan Kerja Paling Dicari Pasar

0
Cirebon, FOKUSJabar.id
Pembukaan dan Pembekalan Calon Peserta Pelatihan Vokasi Nasional Batch 3 serta Pemberian Soft Skill bagi Peserta Pelatihan Vokasi Nasional Batch 2 di Mall UMKM

CIREBON,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kota Cirebon terus menggenjot peningkatan kompetensi warga untuk menjawab tantangan dunia kerja yang kian dinamis. Langkah nyata ini berwujud lewat Pembukaan Pelatihan Vokasi Nasional Batch 3 sekaligus Pemberian Soft Skill Peserta Batch 2 di Mall UMKM, Rabu (22/7/2026).

Sekretaris Daerah Kota Cirebon, Iing Daiman, hadir mewakili Wali Kota Effendi Edo untuk membakar semangat 112 peserta pelatihan hasil dukungan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia tersebut.

Baca Juga: Ubah Masa Lalu Jadi Bekal Masa Depan, Ratusan Warga Binaan Cirebon Antusias Ikuti Pelatihan Keterampilan

Iing menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak bisa menyelesaikan masalah ketenagakerjaan secara parsial. Perubahan tren industri menuntut pencari kerja menguasai keterampilan spesifik.

“Dulu mungkin kita berpikir, kalau sudah memiliki ijazah, masa depan dan pekerjaan akan aman. Tapi sekarang situasinya sudah berubah. Dunia kerja membutuhkan kompetensi yang lebih spesifik dan sesuai dengan kebutuhan di lapangan,” ujar Sekda Iing.

Menjawab Kebutuhan Pasar Ekonomi Kota Cirebon

Iing menilai pelatihan vokasi menjadi jembatan krusial untuk menyambungkan kemampuan warga dengan kebutuhan dunia usaha. Oleh karena itu, Pemkot Cirebon membuka lima program pelatihan strategis pada Batch 3, yakni Digital Marketing, Teknisi Telepon Seluler, Pembuatan Roti dan Kue, Operator Menjahit, serta Peracikan Minuman Kopi (Barista).

“Kita bisa melihat sendiri, tempat usaha kopi tumbuh di berbagai sudut kota, hampir semua orang membutuhkan layanan perbaikan telepon seluler, dan pelaku UMKM harus mampu memanfaatkan pemasaran digital untuk bisa bersaing. Karena itu, pelatihan ini bukan pilihan yang dibuat secara asal-asalan. Ada kebutuhan nyata di balik setiap program yang dibuka,” katanya.

Iing ingin warga Kota Cirebon tampil sebagai pelaku utama perekonomian daerah, bukan sekadar penonton. Namun, ia mengingatkan agar para peserta mengimbangi keahlian teknis dengan mentalitas yang kuat.

“Mengetahui takaran kopi, mampu menjahit dengan rapi, atau bisa memperbaiki perangkat adalah bekal penting. Tetapi itu saja tidak cukup. Kejujuran, kedisiplinan, sikap melayani, kemampuan bekerja sama, dan semangat untuk terus belajar akan menentukan sejauh mana seseorang mampu bertahan dan berkembang,” tuturnya.

Tingkat Pengangguran 6,41 Persen dan Antusiasme Tinggi Warga

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Cirebon, Ma’ruf Nuryasa, mengungkapkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Cirebon saat ini menyentuh angka 6,41 persen. Angka tersebut merepresentasikan hampir 12.000 pencari kerja yang membutuhkan akses lapangan kerja layak.

“Bagi kami, angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik angka itu ada ribuan keluarga yang menaruh harapan agar pemerintah dapat membuka jalan menuju pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik,” kata Ma’ruf.

Program ini menyedot perhatian besar warga Kota Cirebon. Pada Batch 2, sebanyak 291 pendaftar berebut posisi hingga menyaring 259 peserta siap latih. Sementara pada Batch 3, pendaftar melonjak hingga 708 orang untuk merebutkan posisi di lima bidang keahlian.

Dari total pendaftar Batch 3 tersebut, panitia meloloskan 376 peserta setelah melewati seleksi wawancara ketat. Rinciannya mencakup 108 peserta kelas Peracikan Kopi, 98 peserta Roti dan Kue, 77 peserta Digital Marketing, 66 peserta Operator Menjahit, serta 27 peserta Teknisi Ponsel.

Bangun Ekosistem Ketenagakerjaan Berkelanjutan

Disnaker Kota Cirebon menegaskan tidak hanya berfokus mencetak lulusan bersertifikat, melainkan memastikan peserta bisa terserap kerja atau membuka usaha mandiri.

“Harapan kami, pelatihan tidak berhenti di ruang kelas dan sertifikat tidak berhenti menjadi dokumen. Sertifikat itu harus menjadi tiket menuju masa depan yang lebih baik,” tegas Ma’ruf.

Guna mendukung target tersebut, Disnaker merangkai ekosistem terpadu mulai dari bursa kerja khusus, job fair, hingga kemitraan industri. Ajang Cirebon Job Fair Online terbukti sukses menggandeng 42 perusahaan dengan menyediakan lebih dari 1.300 lowongan pekerjaan.

Guna memperkuat kesiapan peserta, Pemkot Cirebon turut menggandeng DKUKMPP, Apindo, dan Bank Indonesia untuk memberikan pembekalan soft skill, legalitas usaha, budaya industri, hingga literasi keuangan digital.

“Kami ingin membangun talenta, bukan sekadar pencari kerja. Kami ingin mencetak inovator, bukan hanya pencari nafkah. Harapannya, peserta pelatihan ini tidak hanya mampu bersaing di tingkat nasional, tetapi juga memiliki kesiapan untuk menghadapi persaingan global,” pungkasnya.

(Pemkot Cirebon/IrfansyahRiza)

Ubah Masa Lalu Jadi Bekal Masa Depan, Ratusan Warga Binaan Cirebon Antusias Ikuti Pelatihan Keterampilan

0
CIREBON, FOKUSJabar.id
Pemkot Cirebon dan Lapas Kelas I Cirebon Siapkan Bekali Warga Binaan dengan Keterampilan

CIREBON,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kota Cirebon memperkuat sinergi strategis bersama Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cirebon dan Kementerian Ketenagakerjaan guna meningkatkan kompetensi warga binaan.

Sekretaris Daerah Kota Cirebon, Iing Daiman, membuka secara resmi Pelatihan Tenaga Kerja Konstruksi dan Buruh Bangunan di Lapas Kelas I Cirebon pada Rabu (22/7/2026).

Baca Juga: PWI Jawa Barat Tegaskan 3 Pilar Utama Wartawan Profesional Saat Buka UKW di Majalengka

Dalam program tersebut, para warga binaan mengikuti beragam pelatihan keterampilan pilihan, mulai dari teknisi telepon seluler, servis pendingin udara (AC), pembuatan kue, potong rambut, hingga keahlian penunjang lainnya. Pemerintah menghadirkan program ini sebagai bekal kemandirian ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.

Sekda Iing menyampaikan apresiasi tinggi atas kolaborasi solid antara Pemkot Cirebon, Lapas Kelas I Cirebon, Dinas Tenaga Kerja, serta Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bandung.

“Warga binaan tetap merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki hak untuk mendapatkan pembinaan dan bekal keterampilan. Kami tidak melegitimasi kesalahan yang pernah dilakukan. Tetapi pemerintah memiliki tanggung jawab untuk membantu mereka agar memiliki kemampuan dan tidak mengulangi perbuatan yang sama,” ujar Iing.

Perkuat Komitmen Lewat Nota Kesepakatan Pemasyarakatan

Iing menegaskan pelatihan vokasi ini bukan sekadar agenda seremonial administratif. Melainkan langkah nyata membangun kemandirian sosial dan ekonomi para warga binaan. Oleh karena itu, Pemkot Cirebon mengukuhkan komitmen lewat Nota Kesepakatan tentang Sinergi Penyelenggaraan Pemasyarakatan bersama Lapas Kelas I Cirebon.

Kolaborasi komprehensif ini mencakup peningkatan keterampilan, literasi, tertib administrasi kependudukan, pelayanan kesehatan, hingga edukasi pengelolaan sampah. Sekda juga menginstruksikan seluruh jajaran perangkat daerah untuk mengawal komitmen tersebut lewat pelayanan publik yang tanggap dan berempati.

Kepada para peserta, Sekda berpesan agar mengikuti seluruh rangkaian pelatihan secara serius dan menjadikan masa lalu sebagai batu loncatan untuk menata masa depan.

“Masa lalu adalah pelajaran, tetapi masa depan adalah ruang yang masih bisa dibangun kembali. Keahlian yang diperoleh hari ini mudah-mudahan menjadi bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik,” tuturnya.

Dukungan Penuh dari Lapas Kelas I Cirebon dan BBPVP Bandung

Kepala Lapas Kelas I Cirebon, Suranto, menyambut hangat sinergi lintas instansi ini. Kemudian mengucapkan terima kasih kepada Pemkot Cirebon serta BBPVP Bandung.

“Warga binaan kami juga merupakan bagian dari masyarakat Kota Cirebon yang membutuhkan bekal. Harapannya, setelah keluar dari Lapas, mereka memiliki kompetensi dan dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik. Sehingga tidak kembali lagi ke sini,” ungkap Suranto.

Sementara itu, Kepala BBPVP Bandung, Dr. Reni Rosyida Muthmainnah, menegaskan bahwa hak mendapatkan pendidikan vokasi berlaku inklusif bagi seluruh warga negara, termasuk warga binaan pemasyarakatan.

BBPVP Bandung memberikan dukungan penuh berupa fasilitas, bahan pelatihan, hingga sarana prasarana penunjang untuk memastikan keberlanjutan program.

“Dengan memiliki kompetensi, mereka diharapkan dapat lebih mandiri dan memiliki peluang untuk bekerja. Pada akhirnya, hal ini juga dapat berkontribusi dalam mengurangi angka pengangguran,” pungkas Reni.

(Pemkot Cirebon/IrfansyahRiza)

Jangan Lagi Beri Stigma! Mantan Napi di Ciamis Kini Bangun Usaha dan Santuni Anak Yatim

0
CIAMIS, FOKUSJabar.id
Jangan Lagi Beri Stigma! Mantan Napi di Ciamis Kini Bangun Usaha dan Santuni Anak Yatim

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Masyarakat perlu mengikis stigma negatif terhadap para mantan narapidana. Yayasan Anugerah Insan Residivis (AIR) Kabupaten Ciamis membuktikan hal tersebut dengan menghadirkan wadah pembinaan, pelatihan, serta kegiatan produktif yang memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Ketua Yayasan AIR, Ali Yulchowas, menyebutkan bahwa pihaknya mendirikan Yayasan AIR Ciamis sejak tahun 2022.

Baca Juga: Lahan Bambu Seluas 1.400 Meter Persegi Terbakar di Ciamis, Warga Bergerak Cepat Selamatkan Permukiman

Kehadiran yayasan ini menjadi sarana curhat dan berbagi pengalaman sesama mantan napi untuk saling memotivasi dalam menyongsong kehidupan yang lebih baik.

Ali menilai orang yang baru bebas dari lembaga pemasyarakatan biasanya berada pada posisi rentan. Mereka sering bingung mencari pekerjaan dan menentukan arah hidup agar tidak mengulangi kesalahan masa lalu.

Melalui tagline “Dari Residivis Bisa Berkarya, Produktif, dan Kreatif”, Yayasan AIR terus menyuntikkan semangat kepada para mantan napi bahwa mereka sanggup memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Faktor Pendukung Perubahan dan Usaha Mandiri

Ali menjelaskan bahwa dukungan sosial yang positif dari keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar menjadi kunci utama seseorang keluar dari kebiasaan buruk.

Selain itu, kesadaran diri, motivasi, kesempatan belajar, pendampingan, hingga apresiasi turut memegang peranan penting dalam mendorong perubahan perilaku.

“Harapan kami jangan pernah memberikan stigma negatif kepada mantan residivis, karena mereka juga bisa berkarya dan ingin berubah menjadi lebih baik,” ujar Ali pada Rabu (22/07/2026).

Yayasan AIR mengusung visi untuk mewujudkan mantan narapidana yang aktif, kreatif, produktif, sejahtera, serta berakhlak mulia. Pihaknya ingin yayasan ini membukakan jalan bagi para anggota untuk memperoleh pekerjaan yang layak.

Para pengurus merasa sedih jika ada mantan napi yang kembali terjerat kasus hukum. Oleh karena itu, melalui semangat siapa bilang eks napi gak bisa berkarya, yayasan merintis berbagai unit usaha produktif.

Anggota yayasan aktif memproduksi alat pancing belut, joran, koja, budidaya ikan, hingga mengolah limbah menjadi tas. Produksi alat pancing belut bahkan sudah menembus pemesanan hingga ratusan kodi lewat kolaborasi bersama warga binaan Lapas Kelas IIB Ciamis.

Aksi Sosial dan Harapan Dukungan Pemerintah

Tidak hanya fokus pada bidang ekonomi, Yayasan AIR juga menjalankan aksi sosial secara konsisten. Setiap bulan, mereka menyalurkan santunan kepada anak yatim dan kaum jompo sebagai wujud kepedulian sesama.

“Kedepan kami berharap bisa mendapatkan dukungan dari pemerintah dengan memberikan pelatihan agar mempunyai keahlian yang lebih. Yang jelas apa pun masa lalu yang pernah kami lakukan, kami eks napi ingin bertobat dan kembali hadir dengan karya di tengah masyarakat,” tutur Ali.

Pembina Yayasan AIR, Ipan, menambahkan bahwa kehadiran yayasan ini efektif mengikis stigma negatif masyarakat terhadap mantan napi. Wadah ini menjadi jembatan transisi sebelum para mantan narapidana kembali sepenuhnya ke tengah masyarakat luas.

“Saya berharap semoga yayasan AIR bisa lebih memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat, baik sosial, ekonomi, dan budaya agar bisa lebih memberikan dampak kebermanfaatan yang positif,” tutur Ipan.

(IrfansyahRiza)