spot_imgspot_img
Rabu 19 Agustus 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Uji Coba Angkot Listrik di Bandung, Hemat Biaya Operasional?

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Koperasi Pemilik Angkutan Masyarakat (Kopamas) Kota Bandung mulai menguji coba angkot listrik pada trayek Terminal Ledeng-Bandara Husein Sastranegara melalui Sukahaji.

Uji coba satu unit kendaraan ini dilakukan untuk mengukur ketahanan kendaraan sekaligus melihat respons masyarakat sebelum digunakan sebagai angkutan umum secara penuh.

Ketua Kopamas Kota Bandung Budi Kurnia mengatakan, pengujian tidak sekadar mengenalkan kendaraan listrik kepada masyarakat. Kopamas juga mengumpulkan data teknis dan operasional sebagai bahan menentukan kebutuhan armada ke depan.

Baca Juga: Pelaku Perusakan Pohon di Jalan Riau Bandung Masuk DPO

“Uji coba ini memiliki beberapa tujuan. Pertama, kami ingin mengukur durabilitas atau ketahanan kendaraan. Kedua, kami ingin menguji sekaligus melihat tanggapan masyarakat Kota Bandung terhadap penggunaan kendaraan listrik sebagai angkutan umum,” kata Budi, Rabu (19/8/2026).

Trayek Terminal Ledeng-Bandara Husein Sastranegara melalui Sukahaji dipilih karena memiliki sejumlah ruas jalan yang relatif kecil dan membutuhkan kendaraan yang mudah bermanuver. Kopamas memproyeksikan kendaraan listrik produksi PT Mobil Anak Bangsa (MAB) sesuai dengan karakteristik jalur tersebut.

“Untuk trayek Bandara Husein Sastranegara-Terminal Ledeng, kami memproyeksikan penggunaan kendaraan MAB karena karakteristik jalannya relatif kecil dan membutuhkan kendaraan yang mudah bermanuver,” ujarnya.

Mengukur Sejumlah Indikator

Selama uji coba, Kopamas akan mengukur sejumlah indikator, termasuk load factor, ketahanan kendaraan, kebutuhan energi, serta respons penumpang. Hasil pengujian akan menjadi dasar untuk menentukan jumlah armada dan pola operasional.

“Kami juga akan menghitung load factor dan berbagai indikator lainnya. Dari hasil tersebut, nantinya akan diketahui berapa kebutuhan armada, bagaimana tingkat keterisian penumpang dan berbagai kebutuhan operasional lainnya,” katanya.

Dari sisi biaya, kendaraan listrik dinilai berpotensi menekan pengeluaran operasional. Budi menyebut kendaraan berbahan bakar bensin dengan jarak tempuh sekitar 180-200 kilometer per hari membutuhkan biaya bahan bakar sekitar Rp150 ribu hingga Rp170 ribu.

Sementara kendaraan listrik yang diuji menggunakan sekitar 50 kWh untuk sekali pengisian. Dengan tarif listrik sekitar Rp1.600-Rp1.700 per kWh, biaya pengisian disebut berada di bawah Rp50 ribu.

“Dari biaya operasional, kami bisa melakukan penghematan sampai sekitar 70 persen,” jelasnya.

Dengan konsumsi sekitar 1 kWh untuk lima kilometer, baterai 50 kWh secara teoritis dapat menempuh hingga 250 kilometer. Jarak tersebut dinilai cukup untuk kebutuhan operasional satu hari.

Nunggu Hasil evaluasi

Kopamas memperkirakan kebutuhan awal untuk trayek tersebut mencapai 15-20 unit dengan headway sekitar 10-15 menit. Namun, jumlah armada dan pola operasional masih menunggu hasil evaluasi uji coba.

Selain efisiensi biaya, kendaraan listrik dinilai memiliki keunggulan karena tidak menghasilkan emisi gas buang secara langsung. Kendaraan yang diuji juga telah dilengkapi pendingin udara atau AC untuk meningkatkan kenyamanan penumpang.

Baca Juga: Atasi Sampah, Pemkot Bandung Kembangkan Teknologi Tanpa Bau

“Untuk fitur angkot, semuanya sudah tersedia. Kendaraan ini sudah dilengkapi AC sehingga penumpang bisa merasa nyaman,” ucapnya.

Adapun fasilitas Wi-Fi dan pembayaran menggunakan tapping card masih dalam tahap persiapan. Kopamas akan mempertimbangkan penambahan fasilitas berdasarkan masukan pengguna selama uji coba.

Budi berharap program tersebut mendapat dukungan pemerintah, anggota koperasi, dan masyarakat jika penggunaan angkot listrik nantinya diperluas.

“Harapan saya tentu ada dukungan dari pemerintah, khususnya dalam bentuk support terhadap program ini. Selain itu, kami juga membutuhkan dukungan dari para anggota dan masyarakat Kota Bandung,” pungkasnya.

(Yusuf Mugni)

spot_img

Berita Terbaru