CIAMIS,FOKUSJabar.id: Saat cuaca panas ekstrem melanda di musim kemarau, tubuh bekerja ekstra keras mengeluarkan keringat untuk menjaga suhu internal tetap stabil. Di tengah kondisi ini, beberapa jenis makanan dan minuman justru bertindak sebagai “pencuri air” di dalam tubuh secara diam-diam.
Bukannya memberikan energi, mengonsumsi jenis makanan berikut justru mempercepat dehidrasi. Terlebih dapat meningkatkan suhu tubuh, dan memicu berbagai penyakit seperti panas dalam, gangguan pencernaan, hingga heatstroke.
Baca Juga: Cuaca Panas Saat Musim Kemarau? Ini 5 Tips Memilih Outfit agar Tetap Adem dan Stylish
Berikut adalah jenis-jenis makanan dan minuman yang sebaiknya Anda batasi atau hindari selama musim kemarau:
1. Kelompok Pemicu Dehidrasi Cepat (Efek Diuretik & Osmotik)
Makanan dan minuman dalam kategori ini memaksa tubuh membuang air lebih banyak melalui urine atau menarik air keluar dari sel-sel tubuh.
- Minuman Tinggi Kafein (Kopi, Teh Kental, dan Minuman Energi): Kafein memiliki sifat diuretik alami. Kafein merangsang ginjal untuk membuang lebih banyak cairan dan garam melalui urine. Jika Anda mengonsumsinya secara berlebihan tanpa diimbangi air putih, tubuh akan mengalami dehidrasi lebih cepat.
- Makanan Tinggi Garam dan Sodium (Camilan Asin, Mi Instan, Makanan Kaleng): Ketika Anda mengonsumsi terlalu banyak garam, tubuh akan menarik air dari sel-sel untuk menyeimbangkan kadar sodium dalam darah. Proses ini tidak hanya membuat Anda cepat haus, tetapi juga membuat sel-sel tubuh mengalami dehidrasi secara mikroskopis.
- Minuman dan Makanan Sangat Manis (Soda, Boba, Kue Manis): Kadar gula yang melonjak tinggi dalam darah (efek osmotik) memaksa tubuh menarik air dari jaringan tubuh untuk mengencerkan gula tersebut. Akibatnya, Anda justru akan merasa semakin haus sesaat setelah meminum minuman manis dingin.
- Minuman Beralkohol: Alkohol merupakan salah satu senyawa yang paling cepat memicu dehidrasi. Karena menghambat hormon antidiuretik (ADH) yang bertugas membantu tubuh menyerap kembali air.
2. Kelompok Pemicu Kenaikan Suhu Tubuh (Efek Termogenik)
Beberapa makanan membutuhkan energi ekstra yang sangat besar untuk dicerna, yang akhirnya meningkatkan suhu internal tubuh (efek panas dari dalam).
- Makanan Tinggi Protein secara Berlebihan (Daging Merah Tebal): Proses memecah protein padat membutuhkan energi metabolisme yang sangat besar (termogenesis). Proses ini menghasilkan panas internal di dalam tubuh dan membutuhkan banyak air untuk membuang sisa nitrogen melalui ginjal.
- Makanan Sangat Pedas: Kandungan senyawa kapsaisin pada cabai merangsang reseptor panas di tubuh secara instan. Meskipun memicu keringat (yang sebenarnya mendinginkan tubuh), jika kelembapan udara sangat rendah, keringat yang menguap terlalu cepat tanpa hidrasi yang cukup akan langsung memicu dehidrasi dan iritasi lambung.
3. Kelompok Pemicu Sakit & Gangguan Pencernaan
Suhu panas kemarau membuat bakteri berkembang biak berkali-kali lipat lebih cepat pada makanan tertentu.
- Gorengan dan Makanan Sangat Berminyak: Minyak jenuh memperlambat proses pencernaan di dalam perut. Di tengah cuaca panas, pencernaan yang bekerja terlalu keras akan membuat tubuh terasa begah. Terlebih cepat lemas, dan meningkatkan risiko radang tenggorokan atau panas dalam.
- Makanan yang Mengandung Mayones atau Susu di Ruang Terbuka: Saus berbasis telur dan susu sangat rentan basi dalam hitungan jam di bawah terik matahari. Mengonsumsi makanan seperti salad buah/sayur dengan mayones yang sudah terlalu lama berada di suhu ruang sangat sering menjadi pemicu utama diare dan keracunan makanan saat kemarau.
(Irfansyahriza)



