spot_imgspot_img
Jumat 9 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 258

5 Tahun Belajar di Saung Kayu, Potret Siswa SMA Al-Kautsar Tasikmalaya Berjuang Mengejar Mimpi

0
Tasikmalaya, FOKUSJabar.id
Keterangan foto: Kondisi bangunan SMA Al-Kautsar, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya yang memperlihatkan.

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Pemandangan kontras membayang di pelosok Kabupaten Tasikmalaya ketika dunia pendidikan modern semakin lekat dengan fasilitas digital dan ruang kelas ber-AC.

Selama lebih dari lima tahun, para siswa kelas 12 SMA Al-Kautsar di Kampung Tataru, Desa Tenjonagara, Kecamatan Cigalontang, merajut mimpi di atas selembar tikar sederhana yang membentang di dalam sebuah saung kayu.

Baca Juga: PPP Tasikmalaya Bidik 15 Kursi di Pemilu 2029, Enjang Bilawini Didorong Maju Wali Kota

Tokoh masyarakat setempat merintis sekolah swasta ini sejak tahun 2016 atas dasar kepedulian terhadap tingginya angka putus sekolah. Lembaga ini menyalakan secercah harapan bagi anak-anak di daerah terpencil yang menghadapi kendala ekonomi. Serta kendala jarak tempuh yang jauh menuju SMA negeri.

Keterbatasan Fasilitas dan Semangat yang Tak Pernah Padam

Meski telah melahirkan delapan angkatan bahkan beberapa alumninya sukses menembus perguruan tinggi dan kembali mengabdi sebagai guru kondisi infrastruktur di sekolah ini masih jauh dari kata layak.

Wakil Kepala Sekolah SMA Al-Kautsar, Agam Safaat, membeberkan bahwa berbagai lini fasilitas sekolah masih sangat memprihatinkan.

Kelas 12 terpaksa melangsungkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara lesehan di saung kayu. Sementara ruang kelas untuk kelas 10 dan 11 memerlukan renovasi mendesak. Selain itu, sekolah juga belum memiliki ruang guru yang layak, perpustakaan dan alat bantu belajar yang memadai. Hingga pagar benteng pengaman lingkungan sekolah.

“Untuk infrastruktur di SMA Al-Kautsar menurut saya masih kurang memadai. Dua ruang kelas untuk kelas 10 dan 11 perlu direnovasi, sementara kelas 12 belajar lesehan di saung. Meski demikian, alhamdulillah kegiatan belajar tetap berjalan dan kami berharap ada perhatian serta perbaikan ke depan,” ujar Agam, Minggu (9/8/2026).

Sorotan Publik: Ujian Nyata bagi Pemerintah Daerah

Kondisi yang memprihatinkan ini memetik perhatian dari berbagai pihak, salah satunya Ketua Ormas Bergerak Spontan, Rio Pamungkas. Ia menganggap fenomena ini sebagai bukti nyata bahwa pemerataan pembangunan fasilitas pendidikan di Jawa Barat masih menyisakan pekerjaan rumah (PR) besar.

Rio menegaskan bahwa situasi ini mencederai amanat Pasal 31 ayat 1 UUD 1945 serta UU Nomor 20 Tahun 2003. Yakni tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjamin hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan bermutu beserta sarana pendukungnya.

Ia juga mempertanyakan efektivitas pelaksanaan program daerah, seperti Surat Edaran Gubernur Jawa Barat tentang program Gapura Panca Waluya, yang belum menyentuh sekolah-sekolah di wilayah pelosok secara merata.

“Masyarakat sudah jenuh dengan janji para pejabat. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin harus membuktikan komitmennya dengan tindakan nyata, bukan sekadar wacana,” tegas Rio.

(Abdul Latif)

BRIN Ungkap 2.564 Spesies Tumbuhan Berpotensi Jadi Sumber Pangan Indonesia

0
Nasional, FOKUSJabar.id
Foto WEB

NASIONAL,FOKUSJabar.id: Indonesia mengantongi kekayaan pangan lokal yang sangat beragam dan berpotensi menjadi kekuatan utama dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Potensi raksasa ini berasal dari ribuan jenis tumbuhan yang telah lama memberi manfaat serta beradaptasi dengan kondisi lingkungan di berbagai wilayah Nusantara.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Wawan Sujarwo, mengungkapkan bahwa setidaknya terdapat 2.564 spesies tumbuhan bermanfaat yang berpotensi melengkapi kebutuhan pangan. Dari jumlah tersebut, lebih dari 77 spesies di antaranya menyimpan sumber karbohidrat lokal bernilai tinggi.

Baca Juga: Tour de Malasari 2026 Digelar, Pemkab Bogor Siapkan Pengembangan Rute Baru 2027

Selain sumber karbohidrat, kekayaan pangan ini mencakup ratusan jenis umbi-umbian, kacang-kacangan, buah, sayuran, rempah-rempah, hingga tanaman pangan tradisional. Sebagian besar tanaman telah beradaptasi dengan lingkungan setempat selama ratusan bahkan ribuan tahun dan membentuk pengetahuan serta praktik masyarakat secara turun-temurun.

Meski menyimpan keragaman besar, Wawan menyayangkan masyarakat belum memaksimalkan pemanfaatan potensi pangan lokal ini. Padahal, langkah diversifikasi pangan memberikan manfaat luas, tidak hanya memperbanyak opsi konsumsi harian tetapi juga memperkokoh ketahanan sistem pangan dalam menghadapi perubahan iklim, gangguan pasokan, serta gejolak harga pasar.

“Pengembangan pangan lokal sesungguhnya merupakan strategi ekologis, ekonomis, sekaligus sosial. Pangan lokal mampu memperkuat ekonomi masyarakat, melestarikan pengetahuan tradisional, mengurangi jejak karbon akibat distribusi pangan yang panjang, serta menjaga keberagaman genetik tanaman yang sangat penting untuk adaptasi di masa depan. Inilah esensi pembangunan berkelanjutan,” ungkapnya dalam Jamming Session #10 bertema “Pangan Lokal: Resolusi Ketahanan Pangan Berkeadilan dan Berkelanjutan”.

Pondasi Ekologi dalam Sistem Pangan Nasional

Menurut Wawan, tantangan ketahanan pangan nasional memerlukan cara pandang baru yang lebih luas. Kekayaan pangan lokal Indonesia yang lahir dari pengetahuan ekologi dan tradisi sebenarnya dapat menjadi modal utama, namun hingga kini pengambil kebijakan belum menempatkannya secara optimal dalam sistem pangan nasional.

Ia menerangkan bahwa pemangku kepentingan sering mengaitkan ketahanan pangan sekadar dengan kemampuan mendongkrak angka produksi. Namun dari kacamata ekologi, keberlanjutan produksi pangan sangat bergantung pada kesehatan ekosistem penopangnya.

“Ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari kesehatan lingkungan. Tidak ada pangan tanpa tanah yang sehat, tidak ada pertanian tanpa air yang tersedia, tidak ada penyerbukan tanpa keanekaragaman hayati, dan tidak ada hasil panen yang stabil tanpa iklim yang mendukung. Dengan kata lain, fungsi ekologi merupakan pondasi utama seluruh sistem pangan,” ujarnya.

Guna melambungkan potensi pangan lokal secara optimal, Wawan menegaskan perlunya sinergi dari berbagai sumber pengetahuan. Data ilmiah, riset etnobotani, serta kearifan lokal warga menjadi pijakan kuat dalam mengidentifikasi dan memajukan potensi tanaman pangan lokal.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) turut menguatkan keterkaitan ekosistem dan keberlanjutan pangan ini. Data FAO mencatat lebih dari 95 persen produksi pangan dunia menggantungkan nasibnya pada kesuburan tanah. Di sisi lain, sekitar sepertiga lahan pertanian global mengalami kerusakan akibat erosi, kemerosotan nutrisi tanah, serta pola penggunaan lahan yang merusak.

Peran penyerbuk juga memegang posisi vital dalam produksi pangan. Sekitar 75 persen tanaman pangan dunia membutuhkan jasa penyerbukan dari serangga dan satwa liar. Kerusakan habitat yang memicu penurunan populasi penyerbuk otomatis mengancam produktivitas pertanian secara global.

Konservasi dan Ketahanan Pangan Berjalan Seiring

Sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia memegang modal ekologis besar untuk merancang sistem pangan yang tangguh. Kekayaan plasma nutfah, keberagaman ekosistem, serta ribuan spesies tanaman pangan lokal merupakan aset strategis untuk melandasi diversifikasi pangan nasional.

Wawan juga meluruskan pandangan keliru yang menganggap upaya konservasi bakal menghambat peningkatan produksi pangan. Berbagai riset justru membuktikan bahwa ekosistem yang lestari menyokong produktivitas pertanian jangka panjang.

Tanah dengan kandungan bahan organik tinggi, misalnya, menyimpan air dan unsur hara jauh lebih efektif. Hutan yang terjaga juga menopang siklus air sehingga memperkecil risiko kekeringan. Sementara itu, keanekaragaman hayati menyediakan musuh alami bagi hama sehingga petani dapat menekan penggunaan pestisida kimia.

Sejumlah pendekatan modern seperti agroekologi, agroforestri, pengelolaan bentang alam terpadu, hingga pertanian regeneratif terbukti meningkatkan hasil panen sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

“Ketahanan pangan dan konservasi bukanlah dua tujuan yang saling bertentangan, melainkan dua sisi pembangunan berkelanjutan yang saling menguatkan. Kita perlu bergeser dari paradigma produksi maksimum menuju produktivitas yang berkelanjutan, yaitu sistem pangan yang tidak hanya menghasilkan panen hari ini, tetapi juga tetap produktif bagi generasi mendatang,” jelasnya.

Kolaborasi dan Inovasi Baru

Wawan turut mengajak para peserta forum untuk membangun kolaborasi dan inovasi baru. Pertukaran gagasan, integrasi data riset, serta penyusunan agenda penelitian bersama menjadi kunci utama dalam mengelola wilayah Indonesia secara adaptif dan berkelanjutan.

Forum Jamming Session #10 ini juga menghadirkan dua praktisi luar BRIN. Praktisi Pengembangan Masyarakat dan Ketahanan Pangan, Ir. Haryanti Koostanto, membawakan materi “Refleksi atas Kebijakan dan Praktik Pangan Nasional: Tantangan dan Peluang Pangan Lokal dalam Sistem Pangan yang Berkeadilan”. Haryanti mengulas kebijakan pangan nasional secara kritis serta mengusung peluang agar pangan lokal memperoleh kedudukan setara.

Sementara itu, Pegiat Ketahanan Pangan Mandiri sekaligus Pendiri Kebun Atqiya, Britania Sari, menyampaikan materi “Praktik Baik, Inovasi Sosial, dan Pemberdayaan Masyarakat dari Akar Rumput sebagai Alternatif Ketahanan Pangan Berkelanjutan”. Britania membagikan kisah sukses pemberdayaan masyarakat, mulai dari optimalisasi pekarangan rumah hingga penguatan program Posyandu untuk menciptakan ketahanan pangan berbasis komunitas.

Melalui forum ini, seluruh pihak berharap muncul gagasan segar yang dapat memperkuat sistem pangan Indonesia. Kekayaan 2.564 spesies tumbuhan pangan memberi bukti nyata bahwa Indonesia mengantongi modal besar untuk memimpin ketahanan pangan berkelanjutan.

(Jingga Sonjaya)

Tour de Malasari 2026 Digelar, Pemkab Bogor Siapkan Pengembangan Rute Baru 2027

0
BOGOR, FOKUSjabar.id
Tour de Malasari seri kedua yang digelar dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Minggu (9/8/2026).

BOGOR,FOKUSjabar.id: Pemerintah Kabupaten Bogor terus membuka peluang untuk memperkuat sektor pariwisata melalui pengembangan agenda berbasis potensi daerah. Pemkab Bogor mendorong gelaran Tour de Malasari di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, sebagai agenda rutin yang berkelanjutan.

Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menargetkan pelaksanaan kegiatan ini secara konsisten setiap tahun. Selain menyajikan ajang olahraga, Tour de Malasari mampu mempromosikan keindahan Desa Malasari sekaligus menggerakkan roda ekonomi warga setempat.

Baca Juga: Wali Kota Depok Bagikan Bendera Merah Putih di CFD Jelang HUT RI ke-81

Penyelenggaraan Tour de Malasari seri kedua berlangsung meriah bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Minggu (9/8/2026). Ajang ini sukses menyedot perhatian peserta dari berbagai daerah di Indonesia hingga pesepeda mancanegara.

Rudy menganggap kehadiran peserta lintas wilayah ini sebagai kesempatan emas untuk memperluas jangkauan promosi destinasi wisata Kabupaten Bogor. Ia meyakini Tour de Malasari mampu mengawinkan aktivitas olahraga dengan promosi destinasi lokal.

“Saya berbangga memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia di Kabupaten Bogor, tepatnya di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung. Alhamdulillah, Tour de Malasari seri kedua ini diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada peserta dari mancanegara,” ujar Rudy.

Pesona Alam Halimun Salak dan Pembangunan Jalan

Desa Malasari menyimpan karakter alam yang sangat memikat untuk menjadi tujuan wisata unggulan. Lingkungan yang asri di kaki Taman Nasional Gunung Halimun Salak, udara segar, serta hamparan perkebunan teh menjadi daya pikat utama kawasan ini.

Rudy menegaskan bahwa potensi indah ini membutuhkan akses jalan yang memadai agar wisatawan lebih mudah menjangkau Desa Malasari. Oleh karena itu, Pemkab Bogor memberi perhatian khusus pada pembangunan infrastruktur wilayah tersebut.

Pemkab Bogor mengawali pembangunan infrastruktur jalan di Desa Malasari sejak tahun 2025. Pembangunan ini menjadi lompatan sejarah penting bagi warga setempat yang sebelumnya puluhan tahun tidak menikmati akses jalan memadai.

“Datanglah ke Kabupaten Bogor. Kita semuanya berjuang dari Bogor untuk membangun bangsa Indonesia,” katanya.

Di sisi lain, Pemkab Bogor bersama pihak terkait telah merancang keberlanjutan Tour de Malasari sejak penyelenggaraan seri pertama. Semua pihak menyepakati agenda ini sebagai festival tahunan yang akan terus berkembang dari seri ke seri.

Tahun depan, Tour de Malasari mematok target memasuki seri ketiga. Rudy optimistis proyek pelebaran jalan serta pemasangan penerangan jalan umum (PJU) akan menyokong penuh kelancaran acara mendatang.

“Dari awal seri pertama, kita sudah sepakat menjadikannya agenda rutin event tahunan. Tahun depan masuk seri ketiga. Mudah-mudahan dengan infrastruktur jalan yang lebih lebar dan penerangan jalan umum, insyaallah sudah terpasang semua,” jelasnya.

Pemberdayaan Ekonomi Warga dan Rencana Rute Lintas Provinsi 2027

Pemkab Bogor mengarahkan pengembangan wisata Desa Malasari agar memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat. Rudy mengajak warga mengambil peluang bisnis dengan menyediakan akomodasi homestay menggunakan rumah tinggal mereka.

“Kita ingin Desa Malasari dengan segala potensi yang dimiliki Kabupaten Bogor, dengan keindahan alam yang luar biasa dan keramahan masyarakat yang luar biasa. Kalau ingin merasakan menjadi warga Desa Malasari, datang ke Malasari,” ungkap Rudy.

Selain hunian, kawasan Desa Malasari menawarkan beragam aktivitas wisata seperti camping, overland, serta olahraga luar ruang yang memanfaatkan keindahan alam sekitar.

Pemkab Bogor juga mulai merancang ekspansi rute Tour de Malasari untuk tahun 2027. Pihaknya menyiapkan rencana besar untuk menghubungkan Desa Cianten dengan Desa Malasari guna menyatukan dua kawasan perkebunan teh terbesar di Bogor.

“Untuk rute baru akan kita bicarakan kembali, karena 2027 kita merencanakan menghubungkan Desa Cianten dengan Desa Malasari. Jadi dua kebun teh besar akan kita satukan di Kabupaten Bogor,” ujarnya.

Rudy berharap Pemerintah Kabupaten Sukabumi menyambut positif ide konektivitas ini. Jika terwujud, rute wisata ini akan membentang hingga Pelabuhan Ratu dan tersambung menuju wilayah Lebak, Banten.

“Kalau ini bisa terwujud, tentunya menjadi jalan wisata Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Lebak, Banten,” pungkasnya.

(Jingga Sonjaya)

Wali Kota Depok Bagikan Bendera Merah Putih di CFD Jelang HUT RI ke-81

0
DEPOK, FOKUSjabar.id
Wali Kota Depok Supian Suri bersama Ketua TP-PKK Kota Depok Siti Barkah Hasanah atau Cing Ikah saat membagikan bendera di CFD, Minggu (09/08/26).

DEPOK,FOKUSJabar.id: Wali Kota Depok, Supian Suri, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Ia membagikan Bendera Merah Putih secara langsung dalam kegiatan Car Free Day (CFD), Minggu (9/8/2026).

Rangkaian kegiatan ini berlangsung meriah bersama jajaran kepala perangkat daerah serta aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Kota Depok. Mereka menyapa warga sekaligus membagikan bendera kepada para peserta CFD.

Baca Juga: Pemkab Bogor Tingkatkan Daya Saing Sektor Peternakan

Aksi pembagian bendera ini mengusung misi Gerakan Pengumpulan Bendera Merah Putih dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Gerakan ini sekaligus mengajak masyarakat untuk memperkuat nasionalisme, kepedulian, serta semangat gotong royong.

Rombongan mengawali pembagian bendera dari kawasan depan Balai Kota Depok. Selanjutnya, mereka menyusuri Jalan Margonda Raya sembari menyapa dan berinteraksi dengan warga sepanjang jalur CFD.

Supian Suri menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang menyokong suksesnya Gerakan Pengumpulan Bendera Merah Putih. Ia menegaskan bahwa partisipasi publik melambangkan antusiasme warga dalam menyambut momentum kemerdekaan.

Ia mengungkapkan, perolehan bendera bahkan berhasil melampaui target awal yang telah pemerintah kota rancang. Pihaknya sengaja menyesuaikan angka target dengan usia Republik Indonesia pada tahun 2026.

“Target awal kita 8.100 bendera sesuai dengan usia Indonesia tahun 2026 ke-81. Alhamdulillah berhasil yang terkumpul lebih dari 11 ribu,” ungkapnya di sela kegiatan tersebut.

Penyaluran Hingga Tingkat Kelurahan dan Pesan Nasionalisme

Pemkot Depok tidak sekadar memanfaatkan bendera-bendera ini untuk kegiatan seremonial semata. Pihaknya berencana menyalurkan Bendera Merah Putih tersebut kepada masyarakat luas melalui jaringan kecamatan dan kelurahan.

Supian Suri berharap semangat kebersamaan ini terus menyala walau perayaan HUT Kemerdekaan telah usai. Nilai kebersamaan ini memegang peranan penting dalam menopang pembangunan bangsa dan negara.

Ia juga mengingatkan bahwa warga tidak seharusnya menilai pembagian bendera ini dari besaran rupiah. Lebih dari itu, aksi ini menjadi sarana untuk saling mendukung serta memupuk rasa cinta Tanah Air.

“Bukan berapa rupiah harga benderanya, tetapi kita ingin satu sama lain sama-sama mencintai negeri ini,” jelasnya.

Di sela kegiatan CFD, Supian Suri juga memberikan perhatian khusus pada kehadiran anak-anak. Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi kesempatan emas untuk menanamkan kecintaan kepada bangsa sejak usia dini.

Ia optimistis semangat ini akan tumbuh subur di jiwa anak-anak sebagai pemegang estafet kepemimpinan masa depan.

“Semoga tumbuh semangat anak-anak dalam mencintai negeri ini. Sehingga estafet pembangunan bisa terus tumbuh di warga Indonesia,” tandasnya.

(Jingga Sonjaya)

PPP Tasikmalaya Bidik 15 Kursi di Pemilu 2029, Enjang Bilawini Didorong Maju Wali Kota

0
Tasikmalaya, FOKUSJabar.id
Ketua DPC PPP Kota Tasikmalaya Enjang Bilawini Pasang target 15 Kursi DPRD pada pileg 2029 mendatang

TASIKMALAYA,FOKUSjabar.id: Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Tasikmalaya bergerak cepat menatap konstelasi politik masa depan. Melalui konsolidasi matang, partai berlambang Ka’bah ini menancapkan target tinggi untuk mendulang kemenangan masif pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2029 mendatang.

Tidak tanggung-tanggung, DPC PPP Kota Tasikmalaya membidik target perolehan 15 kursi di DPRD Kota Tasikmalaya. Angka ini memacu semangat baru setelah pada Pileg 2024 lalu partai ini mengamankan posisi kedua di bawah Partai Gerindra.

Baca Juga: Atasi Fenomena LGBT di Kota Tasikmalaya, Dicky Candra Tekankan Peran Orang Tua

Konsolidasi Total dan Penguatan Struktur Ranting

Tekad kuat tersebut mengemuka dalam ajang Musyawarah Anak Cabang (Musancab) VI PPP Kota Tasikmalaya di RM Hj. Ocoh, Minggu (9/8/2026).

Ketua DPC PPP Kota Tasikmalaya, H. Enjang Bilawini, menekankan bahwa target 15 kursi merupakan misi realistis yang bisa terwujud melalui kerja keras, kedisiplinan organisasi, dan soliditas kader di semua tingkatan.

“Hari ini, ada kegiatan Musyawarah Anak Cabang PPP Kota Tasikmalaya. Salah satunya membahas konsep dan pemetaan ke depan supaya PPP kembali berjaya seperti dulu lagi,” ungkap Enjang.

Menurut Enjang, pengurus harus membangun mesin partai yang tidak hanya kuat secara administratif, tetapi juga memiliki legitimasi serta kedekatan emosional dengan masyarakat akar rumput.

Guna mencapai tujuan tersebut, ia menginstruksikan kader untuk aktif mendengar keluhan sekaligus memberikan solusi nyata bagi warga. Pihaknya juga mewajibkan pengisian struktur PAC dan Ranting oleh figur-figur yang mengantongi kepercayaan publik, bukan sekadar memegang Surat Keputusan (SK).

Sinyal Kuat Pilkada 2029: H. Enjang Bilawini Bidik Kursi Wali Kota

Agenda Musancab VI ini turut menghadirkan Ketua DPW PPP Jawa Barat, H. Uu Ruzhanul Ulum. Dalam kesempatan tersebut, Uu secara terbuka mendorong H. Enjang Bilawini untuk masuk dalam bursa pencalonan Wali Kota Tasikmalaya pada Pilkada 2029.

Uu menganggap pengalaman legislatif Enjang selama empat periode sebagai anggota DPRD Kota Tasikmalaya menjadi modal sosial dan politik yang sangat matang untuk memimpin lini eksekutif.

“Pak Enjang sudah empat periode di DPRD Kota Tasik. Pengalaman legislatifnya panjang, semangatnya juga luar biasa. Wajar kalau kita dorong sebagai calon kepala daerah. Tapi semua tetap harus melalui mekanisme partai dan keputusan politik,” tutur Uu.

H. Enjang Bilawini menyambut positif dukungan tersebut. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa prioritas utamanya saat ini berfokus menyukseskan target pemenangan partai di Pileg 2029.

“Saat ini kita fokus dulu memenangkan Pemilu 2029. Target kami 15 kursi di DPRD Kota Tasikmalaya. Kalau nanti suara partai bagus dan mekanismenya memungkinkan, kenapa tidak,” pungkas Enjang.

Langkah taktis PPP Kota Tasikmalaya melalui Musancab VI ini menandai kesiapan mereka menjadi kekuatan politik utama. Dengan memadukan strategi konsolidasi akar rumput, kehadiran nyata di tengah masyarakat, serta figur kepemimpinan berpengalaman, PPP optimistis mampu merebut kembali masa kejayaannya di Kota Resik pada Pemilu 2029.

(Abdul Latif)

Batukaras Surf Festival 2026, Ombak Internasional Berpadu dengan Budaya Sunda

0
Pangandaran, FOKUSJabar.id
Poto: Suasana peselancar bertanding di ‎Batukaras Surf Fest 2026

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Pantai Batukaras, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat kembali menyedot perhatian lewat helatan Batukaras Surf Festival 2026.

Berbeda dari dua penyelenggaraan terdahulu, panitia mengusung konsep kearifan lokal pada festival tahun ketiga ini. Ajang berkelas internasional ini menghadirkan 153 peserta yang berasal dari 12 negara selama 4 hari penuh, mulai 6 hingga 9 Agustus 2026.

Baca Juga: Menjelajah Goa Panggung Pangandaran, Lorong Karst yang Penuh Legenda Embah Jaga Lautan

Ketua Panitia, Ucup, menjelaskan bahwa jika edisi 2024–2025 lebih banyak menyuguhkan musik live bagi kaum muda, tahun ini pihak panitia sengaja menonjolkan kebudayaan Sunda.

“Untuk tahun ini konsepnya kita lebih memunculkan seni budaya. Karena dari tahun ke tahun kita lebih fokus ke surfingnya,” ujar Ucup di Batukaras, Minggu (9/8/2026).

Menurut Ucup, panitia tetap mempertahankan flow contest surfing dari edisi ke edisi tanpa merubah struktur kompetisi. Hanya saja, panitia menyuntikkan suasana baru pada atmosfer acara.

Sebagai wujud sinergi dengan masyarakat sekitar, panitia menyajikan pertunjukan hiburan gratis setiap malam. Malam pertama menyuguhkan Parade Nasi Liwet, malam kedua menampilkan Ronggeng Gunung, dan malam penutupan menghadirkan pagelaran Wayang Golek.

“Nah, untuk tahun ini kita pengin lebih mendekatkan diri sama lokal setempat. Terus kita pengin ngasih fasilitas hiburan untuk warga setempat juga. Jadi ya untuk bisa menghibur warga setempat intinya,” ujar Ucup.

Empat Kategori Pembinaan dan Total Hadiah Rp60 Juta

Kompetisi tahun ini menyediakan total hadiah Rp60 juta beserta trofi bergengsi. Ucup merinci bahwa festival ini membuka 4 kategori kompetisi: Shortboard putra-putri, Longboard putra-putri, Cook, serta Legend.

Ia menerangkan bahwa kategori Cook menyasar para peselancar yang sering menyambangi Batukaras namun belum pernah mencicipi arena kompetisi. Sementara kategori Legend membuka kesempatan bagi peselancar senior lokal Batukaras.

“Kita bikin wadahnya buat orang-orang kota yang sering ke Batukaras. Supaya mereka bisa merasakan gimana sih vibes-nya berkompetisi. Legend itu buat orang Batukaras yang sudah tua,” jelas Ucup.

Ucup menyebut bahwa kawasan Batukaras memikat perhatian peselancar mancanegara karena memiliki karakter ombak ideal untuk longboard. Karakteristik ombaknya memanjang dan tidak mudah pecah.

“Enggak banyak ombak di Indonesia yang bagus buat longboard. Batukaras salah satunya. Tahun ini harusnya ada World Surf League juga di sini, kayak World Cup-nya surfing. Tapi enggak tahu kenapa batal,” katanya.

Konsistensi Pembinaan Peselancar Cilik

Di sisi lain, Batukaras Surf Club yang berdiri sejak era 1980-an memegang komitmen kuat dalam membina talenta muda. Tokoh lokal seperti Om Dendi Darman dan Om Lucky merintis klub ini hingga rutin menggelar surf lesson bagi anak-anak mulai usia 4 tahun. Setiap hari Sabtu, klub menyelenggarakan pelatihan khusus bagi peselancar cilik (grom) usia 4–16 tahun.

“Menurut saya Batukaras salah satu tempat yang mempunyai grom paling banyak di Indonesia. Sayang kalau punya bibit banyak tapi enggak ada yang taking care. Makanya kita bikin training buat anak-anak kecil,” ucap Ucup.

Ajang ini menandai penyelenggaraan ketiga sejak panitia mengemas kegiatan kompetisi menjadi festival pada tahun 2024.

Jauh sebelum ini, Mang Bali telah memelopori kompetisi surfing di Batukaras sejak belasan tahun silam. Tahun ini, festival mendapat dukungan penuh dari perusahaan Yanagawa Sokai asal Jepang.

(Sajidin)

Bukan Cuma Soal Gizi, Dapur SPPG di Ciamis Ikut Dongkrak Ekonomi Petani

0
CIAMIS, FOKUSJabar.id
Keterangan foto: Relawan SPPG Dewi Maya Panumbangan mengolah sayuran untuk persiapan menu makan bergizi gratis. SPPG ini menjalin kemitraan dengan petani lokal untuk kebutuhan pangannya.

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Senyum sumringah kini menghiasi wajah para petani di Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis. Kehadiran Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dewi Maya Panumbangan membawa angin segar yang memberi berkah luar biasa bagi perekonomian warga sekitar.

Para petani kini tidak perlu pusing memasarkan hasil panen atau merugi akibat menjual produk dengan harga murah kepada para bandar. Pihak pengelola dapur menyerap seluruh komoditas sayuran lokal secara optimal melalui penawaran harga yang jauh lebih kompetitif.

Baca Juga: Bukan Sekadar Ritual, Nyuguh Jadi Cara Warga Kampung Kuta Ciamis Menjaga Adat dan Alam

Pasar Jelas, Harga Di Atas Rata-Rata Bandar

Pengurus Kelompok Tani Karya Mukti 1 Dusun Cimuncang, Desa Jayagiri, Joni Wiguna S.P., mengungkapkan rasa syukurnya atas kemitraan strategis ini. Kehadiran Dapur SPPG Dewi Maya benar-benar memberi solusi atas masalah klasik yang selama ini menjerat petani lokal terkait pemasaran.

“Kami merasa bersyukur hasil produksi pertanian para petani lokal bisa diterima oleh Dapur SPPG Dewi Maya Panumbangan dengan harga bagus. Jadi kami tidak lagi kesulitan mencari pasar untuk menjual hasil panen,” ujar Joni, Minggu (9/8/2026), penuh antusias.

Joni menjelaskan bahwa alur distribusi kini berjalan jauh lebih efisien. Petani mengirimkan pasokan komoditas timun secara rutin setiap dua hari sekali. Sementara untuk jenis sayuran segar lainnya, petani melakukan pengiriman dua kali seminggu atau bahkan setiap hari sesuai kebutuhan dapur.

Dalam sekali pemesanan, Dapur SPPG Dewi Maya memerlukan tidak kurang dari 100 kilogram sayuran. Angka fantastis ini bahkan belum memperhitungkan jaringan dapur SPPG lain di bawah naungan yang sama yang ikut menyerap hasil bumi dari Panumbangan.

“Alhamdulillah, sejak ada program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini, kami para petani di Panumbangan mendapatkan berkah dan kesejahteraan petani juga meningkat,” tambah Joni.

Dampak positif program ini meluas hingga ke para pedagang lokal. Salah seorang pedagang bahan pangan di Panumbangan, Hj Evi, mengaku omzet usahanya melonjak pesat seiring tingginya standar kualitas dan kuantitas yang pengelola dapur tetapkan.

“Secara ekonomi kami meningkat pesat karena bahan pangan bisa diterima oleh Dapur SPPG dengan harga tinggi, namun tentu dengan catatan kualitas pangan harus tetap dijaga,” ungkap Evi.

Sisi lain, lonjakan permintaan dari program MBG ini membuat para petani kerap kewalahan memenuhi ketersediaan bahan baku. Evi berharap para petani meluaskan area tanam sayuran agar mampu menjawab tingginya kebutuhan pangan harian tersebut.

Menumbuhkan Ekonomi Kerakyatan dan Serapan Tenaga Kerja

Kepala SPPG Dewi Maya Panumbangan, Femy Filia Irfany, S.H., menegaskan komitmennya untuk selalu memprioritaskan hasil bumi dari petani lokal di sekitar wilayah operasional dapur. Langkah ini mengusung misi sosial untuk menggerakkan roda ekonomi kerakyatan sekaligus memenuhi standar gizi anak-anak.

“Kami sebagai pengelola dapur SPPG Dewi Maya selalu mengutamakan hasil produk masyarakat sekitar, terutama sayuran, agar keberadaan dapur ini bisa berdampak nyata pada peningkatan kesejahteraan petani lokal,” tegas Femy Filia.

Kehadiran dapur ini juga membuka lapangan kerja baru bagi lingkungan sekitar. Pengelola mempekerjakan sebanyak 47 warga setempat sebagai relawan di dalam dapur.

Sejak tahun pertama peluncuran program nasional ini, SPPG Dewi Maya sukses melayani lebih dari 2.100 anak penerima manfaat. Melalui variasi menu harian yang terus berganti, program ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat, sekaligus membuktikan bahwa sinergi antara pemerintah, pengelola, dan petani lokal mampu menciptakan ketahanan pangan yang berkelanjutan di Panumbangan, Kabupaten Ciamis.

(Abdul Latif)