TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, menuntut para kepala sekolah yang mengemban tugas tambahan di lembaga pendidikan untuk memiliki kemampuan mumpuni dalam membangun ekosistem sekolah melalui pemikiran-pemikiran inovatif.
Ia menyampaikan gagasan tersebut dalam agenda “Penguatan Ekosistem Kepemimpinan Sekolah Melalui Pembelajaran Mendalam”. Kegiatan tersebut berlangsung di Horison Hotel Tasikmalaya, Jalan Yudanegara, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, Sabtu (20/6/2026) sore.
Baca Juga: Cetak Sejarah Baru, Tim Voli Kota Tasikmalaya Matangkan Pasukan Lewat Kejurkot 2026
Pertemuan strategis ini menghadirkan Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dicky Candra Negara, serta Direktur Kepala Sekolah, Pengawas, dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI, Dr. Iwan Junaedi. Ratusan kepala sekolah dari wilayah Garut, Kota Tasikmalaya, dan Kabupaten Tasikmalaya turut memadati lokasi acara.
“Kepemimpinan kepala sekolah tidak hanya memikul tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak didik. Mereka juga harus mampu menghadirkan rasa dan inovasi yang mendatangkan nilai tambah (value) bagi keberlangsungan kemandirian pembiayaan di sekolah,” ungkap Ferdiansyah, Sabtu (20/6/2026).
Politisi senior ini menyodorkan ide segar mengenai pemanfaatan limbah domestik sekolah sebagai salah satu sumber pendapatan mandiri lembaga. Selanjutnya, tata kelola lingkungan yang cerdas dapat menyulap masalah lingkungan menjadi pundi-pundi rupiah demi mendanai operasional pendidikan.
Kurangi Beban TPA Ciangir, Legislator Golkar Dorong Sekolah Produksi Bangku Berbahan Limbah
Ferdiansyah memaparkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2025 yang menunjukkan volume sampah masyarakat di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya menembus 121.962,85 ton per tahun. Kemudian dari jumlah masif tersebut, Pemerintah setempat baru mengelola sekitar 20.160,14 ton. Sehingga menyisakan celah potensi ekonomi yang sangat besar.
“Melalui inovasi ini, sekolah turut membantu pemerintah daerah menyusutkan tumpukan pembuangan akhir ke TPA Ciangir. Kepala sekolah bisa memimpin gerakan mendaur ulang sampah lingkungan menjadi pupuk organik, atau memprosesnya menjadi bangku dan kursi sekolah yang bernilai jual tinggi. Pihak sekolah dapat menjual pupuk tersebut atau menukarnya dengan hasil pertanian lokal,” jelasnya.
Ferdiansyah menilai skema ini sebagai peluang bisnis menjanjikan bagi koperasi sekolah. Terlebih kondisi objektif di lapangan membuktikan bahwa alokasi anggaran Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) belum mampu menutup seluruh kebutuhan operasional sekolah secara ideal.
Oleh karena itu, institusi pendidikan membutuhkan nakhoda yang bertindak layaknya direktur perusahaan. Leader yang sanggup membaca potensi lingkungan dan mengubah peluang menjadi pendapatan riil.
Ferdiansyah mengunci pemaparannya dengan menegaskan bahwa tantangan zaman hari ini mutlak memerlukan figur kepala sekolah yang berintegritas tinggi. Terlebih lues pandai bergaul, memahami regulasi, serta adaptif terhadap ekosistem sekitar.
(Seda)









