spot_imgspot_img
Jumat 9 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 259

Batukaras Surf Festival 2026, Ombak Internasional Berpadu dengan Budaya Sunda

0
Pangandaran, FOKUSJabar.id
Poto: Suasana peselancar bertanding di ‎Batukaras Surf Fest 2026

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Pantai Batukaras, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat kembali menyedot perhatian lewat helatan Batukaras Surf Festival 2026.

Berbeda dari dua penyelenggaraan terdahulu, panitia mengusung konsep kearifan lokal pada festival tahun ketiga ini. Ajang berkelas internasional ini menghadirkan 153 peserta yang berasal dari 12 negara selama 4 hari penuh, mulai 6 hingga 9 Agustus 2026.

Baca Juga: Menjelajah Goa Panggung Pangandaran, Lorong Karst yang Penuh Legenda Embah Jaga Lautan

Ketua Panitia, Ucup, menjelaskan bahwa jika edisi 2024–2025 lebih banyak menyuguhkan musik live bagi kaum muda, tahun ini pihak panitia sengaja menonjolkan kebudayaan Sunda.

“Untuk tahun ini konsepnya kita lebih memunculkan seni budaya. Karena dari tahun ke tahun kita lebih fokus ke surfingnya,” ujar Ucup di Batukaras, Minggu (9/8/2026).

Menurut Ucup, panitia tetap mempertahankan flow contest surfing dari edisi ke edisi tanpa merubah struktur kompetisi. Hanya saja, panitia menyuntikkan suasana baru pada atmosfer acara.

Sebagai wujud sinergi dengan masyarakat sekitar, panitia menyajikan pertunjukan hiburan gratis setiap malam. Malam pertama menyuguhkan Parade Nasi Liwet, malam kedua menampilkan Ronggeng Gunung, dan malam penutupan menghadirkan pagelaran Wayang Golek.

“Nah, untuk tahun ini kita pengin lebih mendekatkan diri sama lokal setempat. Terus kita pengin ngasih fasilitas hiburan untuk warga setempat juga. Jadi ya untuk bisa menghibur warga setempat intinya,” ujar Ucup.

Empat Kategori Pembinaan dan Total Hadiah Rp60 Juta

Kompetisi tahun ini menyediakan total hadiah Rp60 juta beserta trofi bergengsi. Ucup merinci bahwa festival ini membuka 4 kategori kompetisi: Shortboard putra-putri, Longboard putra-putri, Cook, serta Legend.

Ia menerangkan bahwa kategori Cook menyasar para peselancar yang sering menyambangi Batukaras namun belum pernah mencicipi arena kompetisi. Sementara kategori Legend membuka kesempatan bagi peselancar senior lokal Batukaras.

“Kita bikin wadahnya buat orang-orang kota yang sering ke Batukaras. Supaya mereka bisa merasakan gimana sih vibes-nya berkompetisi. Legend itu buat orang Batukaras yang sudah tua,” jelas Ucup.

Ucup menyebut bahwa kawasan Batukaras memikat perhatian peselancar mancanegara karena memiliki karakter ombak ideal untuk longboard. Karakteristik ombaknya memanjang dan tidak mudah pecah.

“Enggak banyak ombak di Indonesia yang bagus buat longboard. Batukaras salah satunya. Tahun ini harusnya ada World Surf League juga di sini, kayak World Cup-nya surfing. Tapi enggak tahu kenapa batal,” katanya.

Konsistensi Pembinaan Peselancar Cilik

Di sisi lain, Batukaras Surf Club yang berdiri sejak era 1980-an memegang komitmen kuat dalam membina talenta muda. Tokoh lokal seperti Om Dendi Darman dan Om Lucky merintis klub ini hingga rutin menggelar surf lesson bagi anak-anak mulai usia 4 tahun. Setiap hari Sabtu, klub menyelenggarakan pelatihan khusus bagi peselancar cilik (grom) usia 4–16 tahun.

“Menurut saya Batukaras salah satu tempat yang mempunyai grom paling banyak di Indonesia. Sayang kalau punya bibit banyak tapi enggak ada yang taking care. Makanya kita bikin training buat anak-anak kecil,” ucap Ucup.

Ajang ini menandai penyelenggaraan ketiga sejak panitia mengemas kegiatan kompetisi menjadi festival pada tahun 2024.

Jauh sebelum ini, Mang Bali telah memelopori kompetisi surfing di Batukaras sejak belasan tahun silam. Tahun ini, festival mendapat dukungan penuh dari perusahaan Yanagawa Sokai asal Jepang.

(Sajidin)

Bukan Cuma Soal Gizi, Dapur SPPG di Ciamis Ikut Dongkrak Ekonomi Petani

0
CIAMIS, FOKUSJabar.id
Keterangan foto: Relawan SPPG Dewi Maya Panumbangan mengolah sayuran untuk persiapan menu makan bergizi gratis. SPPG ini menjalin kemitraan dengan petani lokal untuk kebutuhan pangannya.

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Senyum sumringah kini menghiasi wajah para petani di Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis. Kehadiran Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dewi Maya Panumbangan membawa angin segar yang memberi berkah luar biasa bagi perekonomian warga sekitar.

Para petani kini tidak perlu pusing memasarkan hasil panen atau merugi akibat menjual produk dengan harga murah kepada para bandar. Pihak pengelola dapur menyerap seluruh komoditas sayuran lokal secara optimal melalui penawaran harga yang jauh lebih kompetitif.

Baca Juga: Bukan Sekadar Ritual, Nyuguh Jadi Cara Warga Kampung Kuta Ciamis Menjaga Adat dan Alam

Pasar Jelas, Harga Di Atas Rata-Rata Bandar

Pengurus Kelompok Tani Karya Mukti 1 Dusun Cimuncang, Desa Jayagiri, Joni Wiguna S.P., mengungkapkan rasa syukurnya atas kemitraan strategis ini. Kehadiran Dapur SPPG Dewi Maya benar-benar memberi solusi atas masalah klasik yang selama ini menjerat petani lokal terkait pemasaran.

“Kami merasa bersyukur hasil produksi pertanian para petani lokal bisa diterima oleh Dapur SPPG Dewi Maya Panumbangan dengan harga bagus. Jadi kami tidak lagi kesulitan mencari pasar untuk menjual hasil panen,” ujar Joni, Minggu (9/8/2026), penuh antusias.

Joni menjelaskan bahwa alur distribusi kini berjalan jauh lebih efisien. Petani mengirimkan pasokan komoditas timun secara rutin setiap dua hari sekali. Sementara untuk jenis sayuran segar lainnya, petani melakukan pengiriman dua kali seminggu atau bahkan setiap hari sesuai kebutuhan dapur.

Dalam sekali pemesanan, Dapur SPPG Dewi Maya memerlukan tidak kurang dari 100 kilogram sayuran. Angka fantastis ini bahkan belum memperhitungkan jaringan dapur SPPG lain di bawah naungan yang sama yang ikut menyerap hasil bumi dari Panumbangan.

“Alhamdulillah, sejak ada program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini, kami para petani di Panumbangan mendapatkan berkah dan kesejahteraan petani juga meningkat,” tambah Joni.

Dampak positif program ini meluas hingga ke para pedagang lokal. Salah seorang pedagang bahan pangan di Panumbangan, Hj Evi, mengaku omzet usahanya melonjak pesat seiring tingginya standar kualitas dan kuantitas yang pengelola dapur tetapkan.

“Secara ekonomi kami meningkat pesat karena bahan pangan bisa diterima oleh Dapur SPPG dengan harga tinggi, namun tentu dengan catatan kualitas pangan harus tetap dijaga,” ungkap Evi.

Sisi lain, lonjakan permintaan dari program MBG ini membuat para petani kerap kewalahan memenuhi ketersediaan bahan baku. Evi berharap para petani meluaskan area tanam sayuran agar mampu menjawab tingginya kebutuhan pangan harian tersebut.

Menumbuhkan Ekonomi Kerakyatan dan Serapan Tenaga Kerja

Kepala SPPG Dewi Maya Panumbangan, Femy Filia Irfany, S.H., menegaskan komitmennya untuk selalu memprioritaskan hasil bumi dari petani lokal di sekitar wilayah operasional dapur. Langkah ini mengusung misi sosial untuk menggerakkan roda ekonomi kerakyatan sekaligus memenuhi standar gizi anak-anak.

“Kami sebagai pengelola dapur SPPG Dewi Maya selalu mengutamakan hasil produk masyarakat sekitar, terutama sayuran, agar keberadaan dapur ini bisa berdampak nyata pada peningkatan kesejahteraan petani lokal,” tegas Femy Filia.

Kehadiran dapur ini juga membuka lapangan kerja baru bagi lingkungan sekitar. Pengelola mempekerjakan sebanyak 47 warga setempat sebagai relawan di dalam dapur.

Sejak tahun pertama peluncuran program nasional ini, SPPG Dewi Maya sukses melayani lebih dari 2.100 anak penerima manfaat. Melalui variasi menu harian yang terus berganti, program ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat, sekaligus membuktikan bahwa sinergi antara pemerintah, pengelola, dan petani lokal mampu menciptakan ketahanan pangan yang berkelanjutan di Panumbangan, Kabupaten Ciamis.

(Abdul Latif)

Bukan Sekadar Ritual, Nyuguh Jadi Cara Warga Kampung Kuta Ciamis Menjaga Adat dan Alam

0
CIAMIS, FOKUSJabar.id
Ketpot : Warga Kampung Adat Kuta Ciamis saat menggelar ritual Nyuguh

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Warga Kampung Adat Kuta, Desa Karangpaninggal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat menggelar ritual Nyuguh guna mempertahankan tali paranti atau tradisi leluhur. Perwakilan adat Kampung Kuta, Didi Sardi, menegaskan bahwa ritual ini membuka ruang bagi warga untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan sekitar, Minggu (9/8/2026).

Didi menjelaskan bahwa warga memegang teguh konsistensi untuk menggelar tradisi Nyuguh setiap satu tahun sekali, tepatnya pada tanggal 25 Bulan Sapar dalam kalender Hijriyah.

Baca Juga: Dari Motif Galuh ke Pasar Dunia, Batik Cakra Galuh Dorong Ekonomi Kreatif Ciamis

“Ritual Nyuguh rutin dilaksanakan di tepian Sungai Cijolang perbatasan Kabupaten Ciamis dan Kuningan,” katanya.

Didi menyoroti peran aktif masyarakat sebagai kunci utama dalam merawat keberlanjutan tradisi ini. Oleh karena itu, ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para tamu dan seluruh pihak yang menyokong suksesnya acara.

“Semua lapisan masyarakat dengan hidmat mengikuti prosesi Nyuguh setiap tahunya,” ucapnya.

Nilai Filosofis dan Perekat Dua Wilayah

Di sisi lain, Sekdis Budpora Ayi Daud yang mewakili Bupati Ciamis Herdiat Sunarya menyampaikan bahwa Kabupaten Ciamis menyimpan beragam warisan budaya bernilai tinggi, baik berupa benda maupun takbenda. Ia menyebut Kampung Adat Kuta sebagai salah satu benteng penting yang menjaga keberlanjutan warisan sejarah tersebut.

“Nyuguh memiliki nilai filosofis tinggi dalam menyampaikan rasa syukur kepada Allah,” jelasnya.

Ayi mengulas bahwa gelaran Nyuguh tahun ini mengusung tema Ngamumule Adat Karuhun, Ngukuhkeun Deduluran Sapanjang Wates Lembur jeung Provinsi.

“Tema itu menekankan dua hal sekaligus. Yakni menjaga adat leluhur dan memperkuat persaudaraan masyarakat di kawasan yang berada di antara batas wilayah,” terangnya.

Pihaknya menambahkan bahwa posisi geografis Kampung Adat Kuta memang bersisian langsung dengan kawasan perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Geografi unik ini menjadikan ritual Nyuguh tidak sekadar identitas lokal warga Kuta semata. Melainkan juga wahana perjumpaan warga dari berbagai daerah.

“Pemerintah Kabupaten Ciamis menilai Nyuguh bukan hanya ritual tahunan. Tetapi Tradisi itu menjadi bagian dari kekayaan budaya yang harus terus dilestarikan,” ungkapnya.

(Husen Maharaja)

Dari Motif Galuh ke Pasar Dunia, Batik Cakra Galuh Dorong Ekonomi Kreatif Ciamis

0
CIAMIS, FOKUSjabar.id
Ketfot: Istimewa

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Peluang usaha sektor kriya terus mengalir deras seiring hadirnya produk-produk lokal yang memadukan kreativitas dan kearifan daerah. Salah satu contoh nyata hadir lewat Batik Cakra Galuh yang kini memelopori pertumbuhan produk ekonomi kreatif di Kabupaten Ciamis.

Pendiri Prameswari Galuh sekaligus pemilik Arimbi Wedding Panawangan, Mia Sumiari Dewi, menginisiasi kehadiran produk ini. Langkah pengembangannya tidak sekadar menyasar para pencinta kain batik, melainkan juga membuka lapangan kerja baru bagi para pengrajin setempat.

Baca Juga: Batik Cakra Galuh Terinspirasi Prasasti Kawali 6, Ini Filosofinya

Saat ini, lima pengrajin lokal merapat untuk menerima pembinaan langsung dalam mengolah produk Cakra Galuh. Keterlibatan mereka menjadi pijakan awal untuk membangun rantai produksi yang kuat seiring melonjaknya permintaan pasar.

Mia optimistis bahwa produk berbasis akar budaya memiliki prospek cerah sebagai bisnis berkelanjutan. Oleh karena itu, ia menerapkan beragam teknik produksi dan pilihan bahan kain.

Strategi Variasi Produk dan Jangkauan Harga

Cakra Galuh menghadirkan ragam pilihan produk yang fleksibel. Tim produksi mengolah kain batik menggunakan teknik cap, sementara varian lainnya memanfaatkan teknologi printing serta printing prada.

Rencana pengembangan ke depan juga mencakup pembuatan batik tulis khusus untuk melayani pesanan eksklusif.

Variasi ini memberi kebebasan kepada konsumen untuk memilih produk sesuai kebutuhan dan anggaran belanja. Strategi tersebut sekaligus memperluas jangkauan pasar ke berbagai segmen pembeli.

Untuk varian kain printing berbahan primis ukuran 2 meter x 110 sentimeter, pengelola menetapkan harga sekitar Rp200 ribu.

Sementara itu, varian printing prada dengan ukuran serupa dibanderol pada kisaran Rp250 ribu. Pengelola juga menyediakan kain motif ukuran 1 meter dengan harga mulai Rp80 ribu.

Bagi pencinta kain kelas atas, Cakra Galuh menawarkan bahan katun satin seharga Rp400 ribu untuk ukuran 2 meter x 110 sentimeter.

Pemberdayaan Pengrajin Lokal Jadi Pilar Utama

Kehadiran lima pengrajin lokal memegang peranan vital dalam mengakselerasi bisnis Cakra Galuh. Program pembinaan ini memacu proses produksi sekaligus memberikan penghasilan tambahan bagi warga melalui keterampilan membatik.

Pengembangan bisnis ini memicu perputaran roda ekonomi baru, mulai dari tahap pengerjaan kain hingga strategi pemasaran.

Mia meyakini, semakin luas masyarakat menggunakan produk Cakra Galuh, semakin besar pula peluang untuk membesarkan kapasitas produksi dan menyerap lebih banyak tenaga kerja.

Maka dari itu, ia merancang rentang harga yang bersahabat agar produk Cakra Galuh dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Menyertakan Narasi Filosofi di Setiap Kemasan

Meski mengusung fokus pada pengembangan ekonomi kreatif, Cakra Galuh tetap mempertahankan nilai-nilai budaya luhur.

Desain motifnya mengambil inspirasi dari kembang Cakra Rahayu Kancana yang tertuang dalam Prasasti Kawali 6 sebagai warisan kebudayaan Galuh.

Mia menerjemahkan simbol bersejarah itu ke dalam corak kain yang memikat. Agar pembeli memahami makna di balik busana mereka, pengelola menyertakan lembar penjelasan filosofi pada setiap kemasan produk.

Mia bahkan menyusun buku saku khusus yang mengulas asal-usul desain. Langkah cerdas ini memberikan nilai tambah berupa wawasan sejarah bagi para pelanggan.

Menembus Pasar Internasional

Pengelola akan terus menggenjot pengembangan Cakra Galuh secara bertahap. Selain menambah teknik pembuatan, rencana jangka panjang mencakup diversifikasi produk dan perluasan jaringan distribusi.

Mia menargetkan produknya mampu mendobrak pasar nasional dan internasional, tidak hanya jago kandang di wilayah Ciamis.

“Jika pasar semakin berkembang, peluang produksi bagi para pengrajin pun diharapkan ikut meningkat. Dengan begitu, Cakra Galuh tidak hanya menjadi produk fesyen berciri khas daerah, tetapi juga dapat menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi kreatif masyarakat,” pungkasnya.

(Mia)

Batik Cakra Galuh Terinspirasi Prasasti Kawali 6, Ini Filosofinya

0
CIAMIS, FOKUSjabar.id
Ketfot: Istimewa

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Masyarakat tidak harus selalu menggunakan ruang-ruang formal untuk menjaga identitas Galuh. Pendiri Prameswari Galuh sekaligus pemilik Arimbi Wedding Panawangan, Mia Sumiari Dewi, membuktikan bahwa kain pakaian harian mampu mengenalkan kembali nilai dan filosofi leluhur kepada publik.

Gagasan kreatif tersebut melahirkan motif Batik Cakra Galuh. Mia merancang motif ini dengan mengambil inspirasi dari kembang Cakra Rahayu Kancana, sebuah simbol identitas Galuh yang tertuang dalam Prasasti Kawali 6.

Baca Juga: Gatrik Kembali Menghidupkan Malam Ciamis, Kulineran Sambil Menyusuri Kota

Mia kemudian menerjemahkan simbol bersejarah tersebut ke dalam bahasa visual yang memikat agar generasi masa kini lebih mudah menerimanya.

Ia menegaskan bahwa motif ini membawa pesan filosofis mengenai keseimbangan kehidupan yang sangat relevan dengan zaman sekarang. Keseimbangan tersebut meliputi hubungan manusia dengan Sang Pencipta, hubungan dengan sesama, serta hubungan dengan alam sekitar.

“Kalau kita ingin sejahtera, ada tiga hal yang harus seimbang, yaitu hubungan manusia dengan Sang Pencipta, hubungan manusia dengan sesama dan hubungan manusia dengan alam,” kata Mia.

Mia menuangkan nilai-nilai luhur tersebut melalui perpaduan unsur visual seperti bentuk lingkaran, garis tegas, tunas muda, dan bunga mekar.

Semua Rangkaian Corak Menyimpan Pesan Mendalam

Bagi Mia, setiap elemen bukan sekadar ornamen penghias kain semata. Seluruh rangkaian corak menjadi sarana menyampaikan pesan mendalam tentang hakikat kehidupan, pertumbuhan, dan keselarasan.

Ia menaruh harapan besar agar publik tidak sekadar mengenal Cakra Galuh sebagai produk batik khas Ciamis, tetapi juga menjadikannya sebagai salah satu identitas utama kebudayaan Galuh.

“Harapan saya, ini bisa menjadi identitas Galuh. Bukan hanya dikenal di Ciamis, tetapi suatu saat bisa dikenal lebih luas, bahkan sampai dunia,” ujarnya.

Demi mewujudkan cita-cita tersebut, Mia melengkapi setiap produk Cakra Galuh dengan lembar informasi khusus mengenai filosofi motif. Ia bahkan menyertakan buku saku kecil agar para pembeli dapat memahami cerita berharga di balik kain yang mereka kenakan.

“Kalau orang memakai kain ini, saya berharap bukan hanya melihat motifnya indah. Tapi kemudian tahu bahwa di dalamnya ada pesan tentang bagaimana manusia harus menjaga keseimbangan dengan Tuhan, sesama manusia dan alam,” katanya.

Melalui helai demi helai kain batik, Mia ingin memindahkan nilai-nilai Galuh dari artefak prasasti menuju kehidupan sehari-hari masyarakat modern.

Batik Cakra Galuh pun berdiri sebagai jembatan yang menghubungkan warisan masa lalu dengan dinamika masa kini. Sekaligus menghadirkan pesan bijak para leluhur lewat motif indah yang bisa siapa saja kenakan.

(Mia)

Menjelajah Goa Panggung Pangandaran, Lorong Karst yang Penuh Legenda Embah Jaga Lautan

0
Pangandaran, FOKUSJabar.id
Poto: Penampakan lorong Goa Panggung Pangandaran

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Sinar matahari menembus tipis dari mulut goa di kawasan Taman Wisata Cagar Alam Pangandaran. Di balik lorong batu kapur yang lembap, tetesan air konsisten menetes dari stalaktit, memecah keheningan yang membalut Goa Panggung.

Bukan sekadar objek wisata alam biasa, goa sepanjang 61 meter ini juga menyimpan daya pikat spiritual. Masyarakat meyakini tempat ini sebagai lokasi semedi sekaligus area peristirahatan terakhir Embah Jaga Lautan, sosok yang dalam cerita rakyat merupakan putra angkat Nyi Roro Kidul.

Baca Juga: Gempa M4,1 Guncang Selatan Pangandaran, Getarannya Terasa hingga Bandung Selatan

Sepintas, Goa Panggung menyajikan pemandangan celah raksasa pada gugusan batu karang terbelah. Begitu pengunjung melangkah ke dalam, perubahan suasana langsung terasa. Udara sejuk dan aroma batu basah menyambut kehadiran wisatawan bersama pendar cahaya dari kedua ujung ceruk.

Sekitar lima meter dari pintu masuk, dinding goa memamerkan formasi stalaktit dan stalagmit yang terbentuk selama ribuan tahun. Tetesan air dari sela batu kapur terus membasahi lorong, menciptakan lanskap alami yang memukau.

Ceruk Goa Panggung memiliki tinggi sekitar 5 meter dan lebar 17 meter. Lorong ini menembus bukit batu gamping hingga berujung langsung di kawasan Pantai Timur Pangandaran.

Pengunjung bisa melihat debur ombak dan jajaran perahu nelayan dari celah batu. Sisi timur menampilkan hamparan Pantai Pasir Putih, sedangkan sisi barat menyuguhkan pemandangan megah Samudra Hindia. Perpaduan panorama laut dan bentang karst inilah yang membedakan Goa Panggung dari goa lain di kawasan Cagar Alam Pangandaran.

Keunikan Sejarah dan Cerita Spiritual Goa Panggung

Anggota Staf Resor KSDA Wilayah XXI Pangandaran, Hadiat Kelsaba, menjelaskan bahwa Goa Panggung memiliki nilai geologi tinggi sekaligus menyimpan sejarah dan cerita spiritual mendalam.

“Ada yang menyebut dinamakan Goa Panggung karena di dalam goa terdapat tempat menyerupai panggung yang dahulu digunakan untuk sembahyang para wali atau orang-orang yang hendak berangkat menunaikan ibadah haji ke Mekkah,” kata Hadiat, Minggu (9/8/2026).

Masyarakat juga memercayai versi lain yang menyebutkan nama panggung berasal dari posisi makam di bagian atas goa yang menjulang tinggi.

Guna mencapai area makam, peziarah harus menaiki sekitar 10 anak tangga batu. Kain hijau dan payung-payung tradisional membungkus makam tersebut, menciptakan suasana yang kian sakral.

“Masih ada yang datang berziarah ke sini. Ada yang datang sendiri, ada juga rombongan,” ujar Hadiat.

Legenda Embah Jaga Lautan dan Misteri Ikan Topel

Cerita tutur warga mengisahkan Embah Jaga Lautan yang juga berjuluk Kyai Pancing Benar sebagai putra angkat Dewi Roro Kidul. Sosok ini mengemban tugas menjaga kawasan lautan, khususnya pesisir Jawa Barat dan perairan Nusantara.

Namun, Hadiat menyebutkan adanya versi sejarah lokal lain yang mengakar di tengah masyarakat. Menurut versi ini, Embah Jaga Lautan berasal dari Mesir dan menginjakkan kaki di Nusantara untuk menyebarkan syiar Islam. Ia memiliki tujuh orang istri dan rutin mengunjungi mereka secara bergiliran setiap malam.

“Pada suatu hari ia tidak sempat mengunjungi istri ketujuh karena sedang pergi memancing. Pancing yang digunakan bukan berbentuk melingkar, tetapi lurus. Ikan yang didapat disebut ikan Topel karena ikan tersebut menempel pada pancingnya,” tutur Hadiat.

Kehadiran ikan Topel tersebut berhasil mendamaikan ketujuh istrinya yang sebelumnya sering berselisih. Sejak peristiwa itulah masyarakat menyematkan gelar Kyai Pancing Benar kepadanya.

Hingga saat ini, sebagian warga masih memercayai khasiat khusus dari ikan Topel sehingga kerap memburu keberadaannya.

Terlepas dari berbagai versi cerita rakyat, Goa Panggung berdiri kokoh sebagai keajaiban bentang alam karst dan warisan budaya Pangandaran. Bagi pemburu estetika alam, tempat ini menawarkan keindahan geologi yang memanjakan mata; sementara bagi peziarah, lorong batu ini menjadi ruang spiritual untuk menyusuri jejak legenda Embah Jaga Lautan.

(Sajidin)

Bursa Ketua Demokrat Jabar Dibuka, Pendaftaran Bacalon Mulai 10 Agustus

0
BANDUNG, FOKUSJabar.id
Perebutan kursi Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Barat mulai memasuki tahapan resmi. Panitia Musyawarah Daerah (Musda) VI Partai Demokrat Jabar membuka pendaftaran bakal calon Ketua DPD mulai 10 hingga 16 Agustus 2026. -Ist- (FokusJabar.id/Yusuf Mugni)

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Perebutan kursi pimpinan DPD Partai Demokrat Jawa Barat resmi bergulir. Panitia Musyawarah Daerah (Musda) VI Partai Demokrat Jabar memberi kesempatan bagi kader terbaik untuk mendaftarkan diri sebagai bakal calon Ketua DPD mulai 10 hingga 16 Agustus 2026.

Panitia menggelar rangkaian Musda VI ini di Bandung pada 24 Agustus 2026. Para pendaftar dapat mendatangi langsung Kantor DPD Partai Demokrat Jabar di kawasan Arcamanik, Bandung.

Baca Juga: STKIP Pasundan Juara Liga Universitas Coca-Cola 2026

Sekretaris Steering Committee (SC) Musda VI Partai Demokrat Jabar, Jenal Arifin, mengajak seluruh kader potensial untuk meramaikan bursa pencalonan.

“Bagi kader yang memenuhi persyaratan dipersilakan mendaftar apabila mau menjadi bacalon ketua DPD,” kata Jenal, Minggu (9/8/2026).

Syarat Ketat Bagi Calon Ketua Demokrat Jabar

Jenal menegaskan bahwa panitia menerapkan Peraturan Organisasi Nomor 12 dalam menentukan kriteria peserta. Aturan ini menyaring kader secara selektif untuk menduduki jabatan supreme tingkat provinsi tersebut.

Pendaftar wajib mengantongi status Warga Negara Indonesia, menjalankan perintah agama, memiliki komitmen kuat memajukan partai, serta memegang surat keterangan sehat jasmani dan rohani.

Selain itu, calon pemimpin harus melampirkan surat bebas narkoba dari dokter. Panitia juga menutup pintu bagi kader yang menyandang status tersangka, terdakwa, atau terpidana dalam kasus hukum berancaman penjara minimal empat tahun.

Kader yang pernah menerima sanksi berat akibat pelanggaran AD/ART maupun Kode Etik Partai Demokrat otomatis gugur.

Dari segi latar belakang pendidikan, pendaftar minimal mengantongi ijazah SMA atau sederajat dan membawa Kartu Tanda Anggota (KTA) resmi.

Tak kalah penting, setiap bakal calon harus mengamankan dukungan minimal 20 persen dari total pemilik hak suara.

“Persyaratan ini menjadi bagian dari ketentuan organisasi yang harus dipenuhi oleh setiap kader yang ingin mengikuti kontestasi,” katanya.

Panitia juga memblokir kader yang pernah melancarkan Gerakan Pengambilalihan Kepemimpinan Partai Demokrat (GPK-PD) atau aksi lain yang mengancam kedaulatan partai.

Panitia Matangkan Persiapan Musda VI

Di sisi lain, Ketua Organizing Committee (OC) Musda VI Partai Demokrat Jabar, M. Handarujati Kalamullah, menjamin kesiapan penuh pihak panitia dalam mengawal ajang demokrasi internal ini.

Handaru menjelaskan bahwa timnya rutin berkoordinasi dengan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat guna mematangkan teknis acara, mulai dari pra-acara hingga pasca-Musda.

“Insyaa Allah Musda berlangsung kondusif dan konstruktif, kami berupaya sebaik mungkin agar segala sesuatunya berjalan lancar,” ujar Handaru.

(Yusuf Mugni)