CIAMIS,FOKUSJabar.id: Masyarakat tidak harus selalu menggunakan ruang-ruang formal untuk menjaga identitas Galuh. Pendiri Prameswari Galuh sekaligus pemilik Arimbi Wedding Panawangan, Mia Sumiari Dewi, membuktikan bahwa kain pakaian harian mampu mengenalkan kembali nilai dan filosofi leluhur kepada publik.
Gagasan kreatif tersebut melahirkan motif Batik Cakra Galuh. Mia merancang motif ini dengan mengambil inspirasi dari kembang Cakra Rahayu Kancana, sebuah simbol identitas Galuh yang tertuang dalam Prasasti Kawali 6.
Baca Juga: Gatrik Kembali Menghidupkan Malam Ciamis, Kulineran Sambil Menyusuri Kota
Mia kemudian menerjemahkan simbol bersejarah tersebut ke dalam bahasa visual yang memikat agar generasi masa kini lebih mudah menerimanya.
Ia menegaskan bahwa motif ini membawa pesan filosofis mengenai keseimbangan kehidupan yang sangat relevan dengan zaman sekarang. Keseimbangan tersebut meliputi hubungan manusia dengan Sang Pencipta, hubungan dengan sesama, serta hubungan dengan alam sekitar.
“Kalau kita ingin sejahtera, ada tiga hal yang harus seimbang, yaitu hubungan manusia dengan Sang Pencipta, hubungan manusia dengan sesama dan hubungan manusia dengan alam,” kata Mia.
Mia menuangkan nilai-nilai luhur tersebut melalui perpaduan unsur visual seperti bentuk lingkaran, garis tegas, tunas muda, dan bunga mekar.
Semua Rangkaian Corak Menyimpan Pesan Mendalam
Bagi Mia, setiap elemen bukan sekadar ornamen penghias kain semata. Seluruh rangkaian corak menjadi sarana menyampaikan pesan mendalam tentang hakikat kehidupan, pertumbuhan, dan keselarasan.
Ia menaruh harapan besar agar publik tidak sekadar mengenal Cakra Galuh sebagai produk batik khas Ciamis, tetapi juga menjadikannya sebagai salah satu identitas utama kebudayaan Galuh.
“Harapan saya, ini bisa menjadi identitas Galuh. Bukan hanya dikenal di Ciamis, tetapi suatu saat bisa dikenal lebih luas, bahkan sampai dunia,” ujarnya.
Demi mewujudkan cita-cita tersebut, Mia melengkapi setiap produk Cakra Galuh dengan lembar informasi khusus mengenai filosofi motif. Ia bahkan menyertakan buku saku kecil agar para pembeli dapat memahami cerita berharga di balik kain yang mereka kenakan.
“Kalau orang memakai kain ini, saya berharap bukan hanya melihat motifnya indah. Tapi kemudian tahu bahwa di dalamnya ada pesan tentang bagaimana manusia harus menjaga keseimbangan dengan Tuhan, sesama manusia dan alam,” katanya.
Melalui helai demi helai kain batik, Mia ingin memindahkan nilai-nilai Galuh dari artefak prasasti menuju kehidupan sehari-hari masyarakat modern.
Batik Cakra Galuh pun berdiri sebagai jembatan yang menghubungkan warisan masa lalu dengan dinamika masa kini. Sekaligus menghadirkan pesan bijak para leluhur lewat motif indah yang bisa siapa saja kenakan.
(Mia)



