PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Sinar matahari menembus tipis dari mulut goa di kawasan Taman Wisata Cagar Alam Pangandaran. Di balik lorong batu kapur yang lembap, tetesan air konsisten menetes dari stalaktit, memecah keheningan yang membalut Goa Panggung.
Bukan sekadar objek wisata alam biasa, goa sepanjang 61 meter ini juga menyimpan daya pikat spiritual. Masyarakat meyakini tempat ini sebagai lokasi semedi sekaligus area peristirahatan terakhir Embah Jaga Lautan, sosok yang dalam cerita rakyat merupakan putra angkat Nyi Roro Kidul.
Baca Juga: Gempa M4,1 Guncang Selatan Pangandaran, Getarannya Terasa hingga Bandung Selatan
Sepintas, Goa Panggung menyajikan pemandangan celah raksasa pada gugusan batu karang terbelah. Begitu pengunjung melangkah ke dalam, perubahan suasana langsung terasa. Udara sejuk dan aroma batu basah menyambut kehadiran wisatawan bersama pendar cahaya dari kedua ujung ceruk.
Sekitar lima meter dari pintu masuk, dinding goa memamerkan formasi stalaktit dan stalagmit yang terbentuk selama ribuan tahun. Tetesan air dari sela batu kapur terus membasahi lorong, menciptakan lanskap alami yang memukau.
Ceruk Goa Panggung memiliki tinggi sekitar 5 meter dan lebar 17 meter. Lorong ini menembus bukit batu gamping hingga berujung langsung di kawasan Pantai Timur Pangandaran.
Pengunjung bisa melihat debur ombak dan jajaran perahu nelayan dari celah batu. Sisi timur menampilkan hamparan Pantai Pasir Putih, sedangkan sisi barat menyuguhkan pemandangan megah Samudra Hindia. Perpaduan panorama laut dan bentang karst inilah yang membedakan Goa Panggung dari goa lain di kawasan Cagar Alam Pangandaran.
Keunikan Sejarah dan Cerita Spiritual Goa Panggung
Anggota Staf Resor KSDA Wilayah XXI Pangandaran, Hadiat Kelsaba, menjelaskan bahwa Goa Panggung memiliki nilai geologi tinggi sekaligus menyimpan sejarah dan cerita spiritual mendalam.
“Ada yang menyebut dinamakan Goa Panggung karena di dalam goa terdapat tempat menyerupai panggung yang dahulu digunakan untuk sembahyang para wali atau orang-orang yang hendak berangkat menunaikan ibadah haji ke Mekkah,” kata Hadiat, Minggu (9/8/2026).
Masyarakat juga memercayai versi lain yang menyebutkan nama panggung berasal dari posisi makam di bagian atas goa yang menjulang tinggi.
Guna mencapai area makam, peziarah harus menaiki sekitar 10 anak tangga batu. Kain hijau dan payung-payung tradisional membungkus makam tersebut, menciptakan suasana yang kian sakral.
“Masih ada yang datang berziarah ke sini. Ada yang datang sendiri, ada juga rombongan,” ujar Hadiat.
Legenda Embah Jaga Lautan dan Misteri Ikan Topel
Cerita tutur warga mengisahkan Embah Jaga Lautan yang juga berjuluk Kyai Pancing Benar sebagai putra angkat Dewi Roro Kidul. Sosok ini mengemban tugas menjaga kawasan lautan, khususnya pesisir Jawa Barat dan perairan Nusantara.
Namun, Hadiat menyebutkan adanya versi sejarah lokal lain yang mengakar di tengah masyarakat. Menurut versi ini, Embah Jaga Lautan berasal dari Mesir dan menginjakkan kaki di Nusantara untuk menyebarkan syiar Islam. Ia memiliki tujuh orang istri dan rutin mengunjungi mereka secara bergiliran setiap malam.
“Pada suatu hari ia tidak sempat mengunjungi istri ketujuh karena sedang pergi memancing. Pancing yang digunakan bukan berbentuk melingkar, tetapi lurus. Ikan yang didapat disebut ikan Topel karena ikan tersebut menempel pada pancingnya,” tutur Hadiat.
Kehadiran ikan Topel tersebut berhasil mendamaikan ketujuh istrinya yang sebelumnya sering berselisih. Sejak peristiwa itulah masyarakat menyematkan gelar Kyai Pancing Benar kepadanya.
Hingga saat ini, sebagian warga masih memercayai khasiat khusus dari ikan Topel sehingga kerap memburu keberadaannya.
Terlepas dari berbagai versi cerita rakyat, Goa Panggung berdiri kokoh sebagai keajaiban bentang alam karst dan warisan budaya Pangandaran. Bagi pemburu estetika alam, tempat ini menawarkan keindahan geologi yang memanjakan mata; sementara bagi peziarah, lorong batu ini menjadi ruang spiritual untuk menyusuri jejak legenda Embah Jaga Lautan.
(Sajidin)



