spot_imgspot_img
Minggu 9 Agustus 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Batukaras Surf Festival 2026, Ombak Internasional Berpadu dengan Budaya Sunda

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Pantai Batukaras, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat kembali menyedot perhatian lewat helatan Batukaras Surf Festival 2026.

Berbeda dari dua penyelenggaraan terdahulu, panitia mengusung konsep kearifan lokal pada festival tahun ketiga ini. Ajang berkelas internasional ini menghadirkan 153 peserta yang berasal dari 12 negara selama 4 hari penuh, mulai 6 hingga 9 Agustus 2026.

Baca Juga: Menjelajah Goa Panggung Pangandaran, Lorong Karst yang Penuh Legenda Embah Jaga Lautan

Ketua Panitia, Ucup, menjelaskan bahwa jika edisi 2024–2025 lebih banyak menyuguhkan musik live bagi kaum muda, tahun ini pihak panitia sengaja menonjolkan kebudayaan Sunda.

“Untuk tahun ini konsepnya kita lebih memunculkan seni budaya. Karena dari tahun ke tahun kita lebih fokus ke surfingnya,” ujar Ucup di Batukaras, Minggu (9/8/2026).

Menurut Ucup, panitia tetap mempertahankan flow contest surfing dari edisi ke edisi tanpa merubah struktur kompetisi. Hanya saja, panitia menyuntikkan suasana baru pada atmosfer acara.

Sebagai wujud sinergi dengan masyarakat sekitar, panitia menyajikan pertunjukan hiburan gratis setiap malam. Malam pertama menyuguhkan Parade Nasi Liwet, malam kedua menampilkan Ronggeng Gunung, dan malam penutupan menghadirkan pagelaran Wayang Golek.

“Nah, untuk tahun ini kita pengin lebih mendekatkan diri sama lokal setempat. Terus kita pengin ngasih fasilitas hiburan untuk warga setempat juga. Jadi ya untuk bisa menghibur warga setempat intinya,” ujar Ucup.

Empat Kategori Pembinaan dan Total Hadiah Rp60 Juta

Kompetisi tahun ini menyediakan total hadiah Rp60 juta beserta trofi bergengsi. Ucup merinci bahwa festival ini membuka 4 kategori kompetisi: Shortboard putra-putri, Longboard putra-putri, Cook, serta Legend.

Ia menerangkan bahwa kategori Cook menyasar para peselancar yang sering menyambangi Batukaras namun belum pernah mencicipi arena kompetisi. Sementara kategori Legend membuka kesempatan bagi peselancar senior lokal Batukaras.

“Kita bikin wadahnya buat orang-orang kota yang sering ke Batukaras. Supaya mereka bisa merasakan gimana sih vibes-nya berkompetisi. Legend itu buat orang Batukaras yang sudah tua,” jelas Ucup.

Ucup menyebut bahwa kawasan Batukaras memikat perhatian peselancar mancanegara karena memiliki karakter ombak ideal untuk longboard. Karakteristik ombaknya memanjang dan tidak mudah pecah.

“Enggak banyak ombak di Indonesia yang bagus buat longboard. Batukaras salah satunya. Tahun ini harusnya ada World Surf League juga di sini, kayak World Cup-nya surfing. Tapi enggak tahu kenapa batal,” katanya.

Konsistensi Pembinaan Peselancar Cilik

Di sisi lain, Batukaras Surf Club yang berdiri sejak era 1980-an memegang komitmen kuat dalam membina talenta muda. Tokoh lokal seperti Om Dendi Darman dan Om Lucky merintis klub ini hingga rutin menggelar surf lesson bagi anak-anak mulai usia 4 tahun. Setiap hari Sabtu, klub menyelenggarakan pelatihan khusus bagi peselancar cilik (grom) usia 4–16 tahun.

“Menurut saya Batukaras salah satu tempat yang mempunyai grom paling banyak di Indonesia. Sayang kalau punya bibit banyak tapi enggak ada yang taking care. Makanya kita bikin training buat anak-anak kecil,” ucap Ucup.

Ajang ini menandai penyelenggaraan ketiga sejak panitia mengemas kegiatan kompetisi menjadi festival pada tahun 2024.

Jauh sebelum ini, Mang Bali telah memelopori kompetisi surfing di Batukaras sejak belasan tahun silam. Tahun ini, festival mendapat dukungan penuh dari perusahaan Yanagawa Sokai asal Jepang.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru