spot_imgspot_img
Jumat 9 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 257

BGN Segera Berlakukan SOP Baru Program MBG

0
BGN MBG fokusjabar.id
Kepala BGN (foto: ilustrasi)

JAKARTA, FOKUSJabar.id: Untuk mencegah keracunan, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono (Mas Dar) bakal memberlakukan Standard Operating Procedure (SOP) baru.

Salah satu aturan baru, memberi label batas waktu konsumsi di setiap ompreng atau wadah MBG.

Menurutnya, kebijakan tersebut bakal di implementasikan mulai pekan depan.

BACA JUGA:

Legislator PKB Minta BGN Tindaklanjuti 6 Juta Penerima MBG

Sudaryono menegaskan, dalam label harus tertulis waktu menu di masak dan batas akhir makanan di konsumsi.

“SOP yang harus di jalankan jam berapa harus mulai masak, jam berapa (makanan) matang dan maksimal empat jam setelah matang (masih bisa di konsumsi),” ungkap Sudaryono du kutip idn times, Senin (10/8/2026).

“Jadi, nanti akan di beri label setiap hari. Di dalamnya tertulis harus di makan sebelum jam tertentu. Bila sudah lewat jamnya, maka sebaiknya tidak di makan,” dia menambahkan.

Mas Dar meminta bantuan kepada guru untuk memastikan MBG tidak di konsumsi jika sudah melewati batas waktu yang tercantum pada wadah.

“Bapak, ibu guru dan peserta didik tidak boleh mengonsumsi MBG jika sudah melewati batas dari jam yang di tentukan,” pesan Sudaryoni.

Menurutnya, menu MBG yang telah matang memiliki batas waktu aman di konsumsi. Karena makanan tersebut tidak menggunakan bahan pengawet dan di siapkan sebagai makanan segar.

Secara umum, makanan MBG maksimal di konsumsi empat jam setelah matang. Karena itu, terdapat batas waktu tertentu untuk memastikan makanan tetap aman di konsumsi.

Selain menetapkan batas waktu konsumsi, pihaknya juga meminta siswa tidak membawa pulang makanan MBG.

Makanan yang telah di terima di sekolah harus langsung di konsumsi sesuai dengan waktu yang telah di tentukan.

“Kami mohon sesuai dengan petunjuk teknis, MBG sebaiknya tidak di bawa pulang. Pastikan makannya di konsumsi di sekiolah,” imbuhnya.

Imbauan tersebut berkaitan dengan risiko keamanan pangan apabila makanan di simpan dan di konsumsi kembali di rumah setelah melewati batas waktu aman.

Menurut dia, praktik membawa pulang makanan MBG telah menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kasus keracunan MBG.

Bahkan kasus tersebut tidak hanya di alami siswa. Namun juga orang tua yang mengonsumsi makanan yang di bawa pulang.

BACA JUGA:

Terlibat Judi Online, 66 Kepala SPPG Dipecat BGN

Sudaryono mengklaim tren insiden keracunan MBG sepanjang 2025 hingga Agustus 2026 terus menurun.

Ketika MBG di mulai Januari 2025, BGN mengklaim jumlah korban keracunan kala itu hanya 525 jiwa. Sedangkan, pada Agustus 2026, jumlah korban keracunan berkisar 300 jiwa.

Jumlah korban keracunan tertinggi tercatat terjadi pada Oktober 2025 yakni 7.061 jiwa. Bila di akumulasi pada periode Januari hingga Agustus 2026, maka ada sekitar 22.672 orang yang menjadi korban keracunan MBG.

“Bukan berarti ini tujuan kita (untuk menurunkan tren keracunan). Tujuan kami adalah nol keracunan,” pungkasnya.

(Bambang Fouristian)

2 Desa Wisata di Bogor Masuk Top 15 SWJ ITDMA 2026

0
Desa Wisata Bogor fokusjabar.id
Desa Wisata Tugu Utara.(foto: bogorkab.go.id)

BOGOR, FOKUSJabar.id: Dua desa wisata di Kabupaten Bogor berhasil mencuri perhatian dalam ajang pariwisata tingkat Jawa Barat.

Desa Wisata Gunung Malang dan Desa Wisata Tugu Utara berhasil menembus jajaran Top 15 Desa/Kampung Wisata Terbaik dalam Smiling West Java Integrated Tourism Destination Management Award (SWJ ITDMA) 2026.

Pencapaian tersebut menjadi salah satu gambaran perkembangan desa wisata di Kabupaten Bogor yang terus di dorong untuk semakin kompetitif.

Pengelolaan potensi lokal tidak hanya di arahkan untuk menghadirkan destinasi yang menarik. Tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan pengalaman wisata yang autentik bagi pengunjung.

BACA JUGA:

Pemkab Bogor Tingkatkan Daya Saing Sektor Peternakan

Kedua desa tersebut menjadi bagian dari 15 desa/kampung wisata terbaik setelah bersaing dengan 44 peserta dalam ajang SWJ ITDMA 2026.

Proses seleksi di lakukan melalui penilaian portofolio digital. Sementara pengumuman peserta yang masuk Top 15 di sampaikan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat pada Rabu, 29 Juli 2026.

Capaian itu tidak terlepas dari upaya Pemerintah Kabupaten Bogor dalam memperkuat sektor desa wisata.

Atas arahan Bupati Bogor Rudy Susmanto, Pemkab melalui Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan (Disparekraf) terus melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan kualitas destinasi sekaligus kemampuan para pengelolanya.

Pengembangan tersebut di lakukan dengan memperkuat kapasitas pengelola, meningkatkan kualitas destinasi serta membuka ruang kolaborasi yang lebih luas.

Pemerintah juga melibatkan masyarakat, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pelaku UMKM hingga berbagai pemangku kepentingan agar pengembangan pariwisata dapat berjalan secara bersama-sama.

BACA JUGA:

Gandeng Korem 061/Suryakancana, Bupati Bogor Sulap Jalur Bomang Jadi Kawasan Pertanian Terpadu

Kepala Disparekraf Kabupaten Bogor, Ria Marlisa menyambut positif keberhasilan Gunung Malang dan Tugu Utara.

Menurutnya, pencapaian dalam ajang tingkat provinsi tersebut memperlihatkan bahwa desa wisata di Kabupaten Bogor memiliki potensi yang kuat untuk terus berkembang dan bersaing di cakupan yang lebih luas.

“Prestasi di SWJ ITDMA 2026 ini membuktikan bahwa desa wisata kita memiliki daya saing tangguh di tingkat provinsi. Kami berkomitmen terus menjadikan pariwisata sebagai motor penggerak ekonomi berkelanjutan,” ungkapnya.

Ria menilai, daya tarik desa wisata tidak semata-mata di tentukan oleh panorama alam yang di miliki. Kemampuan masyarakat dalam mengolah potensi daerah menjadi produk serta pengalaman wisata juga menjadi kekuatan yang penting untuk di kembangkan secara berkelanjutan.

Karena itu, peningkatan kapasitas pengelola menjadi salah satu fokus dalam pengembangan desa wisata.

Masyarakat, pelaku UMKM serta berbagai unsur pendukung pariwisata juga perlu di perkuat agar potensi yang tersedia dapat di kemas menjadi daya tarik yang bernilai bagi wisatawan sekaligus memberi manfaat bagi warga setempat.

Dari sisi pengelolaan destinasi, Desa Wisata Gunung Malang dan Desa Wisata Tugu Utara di nilai memiliki keunggulan dalam menerapkan standar pariwisata 5A.

Standar tersebut mencakup Administrasi, Atraksi, Amenitas, Aksesibilitas dan Advertising yang menjadi bagian penting dalam membangun pengelolaan destinasi secara menyeluruh.

BACA JUGA:

Perkuat Tata Kelola Aset dan Ruang, Pemkab Bogor Tegaskan Komitmen Cegah Korupsi

Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Disparekraf Kabupaten Bogor, Yuliana Idrus menjelaskan, penerapan standar tersebut di padukan dengan kearifan lokal 5K khas Jawa Barat.

Konsep tersebut terdiri atas Kadeuleu, Kaambeu, Kadangu, Karaba, dan Karasa yang menjadi unsur dalam menghadirkan pengalaman wisata yang lebih dekat dengan karakter lokal.

“Perpaduan tersebut berhasil menghadirkan pengalaman wisata holistik. Mereka tidak hanya rapi secara tata kelola dan fasilitas. Tetapi juga sukses menyajikan pengalaman sensorik otentik yang berakar pada budaya Sunda,” jelas Yuliana.

Penguatan desa wisata di Kabupaten Bogor juga di arahkan pada pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

BACA JUGA:

Pemkab Bogor Genjot Pembangunan Merata dari Barat Hingga Selatan

Kehadiran wisatawan di harapkan tidak hanya memberikan pengalaman bagi pengunjung. Tetapi turut membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat yang berada di sekitar destinasi.

Dampak ekonomi tersebut dapat di rasakan melalui berbagai sektor. Mulai dari pertumbuhan UMKM dan usaha kuliner, perkembangan ekonomi kreatif, jasa pariwisata hingga terbukanya lapangan pekerjaan.

Dengan demikian, peningkatan kunjungan wisata dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.

Sebagai bagian dari Top 15 SWJ ITDMA 2026, Gunung Malang dan Tugu Utara selanjutnya akan memperoleh coaching clinic dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Program tersebut menjadi salah satu tahapan pendampingan untuk membantu kedua desa mempersiapkan diri menghadapi proses berikutnya dalam ajang tersebut.

Pemkab Bogor melalui Disparekraf juga akan melanjutkan pendampingan kepada kedua desa wisata.

Dukungan tersebut di tujukan untuk memperkuat kesiapan Gunung Malang dan Tugu Utara agar dapat melanjutkan perjalanan hingga ke tingkat nasional melalui ajang Wonderful Indonesia Tourism Award (WITA) 2026.

BACA JUGA:

Kurangi Risiko Banjir, Pemkab Bogor Genjot Normalisasi Sungai Cibeuteung

Keberhasilan dua desa wisata tersebut di tingkat Jawa Barat di harapkan dapat menjadi pemacu bagi desa wisata lainnya di Kabupaten Bogor.

Setiap desa di dorong untuk terus mengenali kekuatan yang di miliki. Kemudian mengembangkannya menjadi daya tarik wisata yang mampu memberikan manfaat secara berkelanjutan.

Dengan menggabungkan potensi alam, kekayaan budaya, kreativitas masyarakat serta kearifan lokal, desa wisata di Kabupaten Bogor di harapkan semakin kuat sebagai destinasi unggulan.

Pada saat yang sama, pengembangan tersebut juga dapat memperbesar peran sektor pariwisata sebagai penggerak perekonomian masyarakat.

(Jingga Sonjaya)

Musancab PPP Tasikmalaya, Uu Ruzhanul Ulum Dorong Enjang Bilawini Maju di Pilkada 2029

0
Tasikmalaya, FOKUSJabar.id
Ket foto : Musancab Ke-VI PPP Kota Tasikmalaya, berlangsung di Restoran Hj.Ocoh Tasikmalaya, Persiapkan Kadernya untuk Pilkada Kota Tasikmalaya (fokusjabar/Seda)

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Guna memperkuat struktur organisasi, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Tasikmalaya menggelar Musyawarah Anak Cabang (Musancab) Ke-VI di Restoran Mewah Hj. Ocoh, Jalan Raya Mangin, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Minggu (9/8/2026).

Musancab Ke-VI ini berlangsung penuh khidmat. Seluruh jajaran pengurus partai hingga pejabat Pemerintah Kota Tasikmalaya menghadiri forum tersebut.

Baca Juga: PPP Tasikmalaya Bidik 15 Kursi di Pemilu 2029, Enjang Bilawini Didorong Maju Wali Kota

Tampak hadir Ketua DPW PPP Provinsi Jawa Barat H. Uu Ruzhanul Ulum, Ketua DPC PPP Kota Tasikmalaya H. Enjang Bilawini, serta Sekda Kota Tasikmalaya H. Asep Goparullah. Selain itu, jajaran pengurus harian, kader, pimpinan PAC, dan pengurus ranting se-Kota Tasikmalaya turut meramaikan kegiatan ini.

Sekda Kota Tasikmalaya, Asep Goparullah, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Musancab ke-VI PPP Kota Tasikmalaya ini. Ia berharap seluruh partai politik mampu bersinergi dengan Pemerintah Kota Tasikmalaya dalam mewujudkan visi, misi, dan program pembangunan pemerintah daerah.

“PPP memiliki sejarah panjang dan basis massa yang militan dan tetap terjaga. Ini adalah modal penting sebuah Partai untuk terus berkontribusi dalam menggerakkan elektabilitas di tengah-tengah masyarakat,” ungkap Asep Goparulloh, Minggu (9/8/2026).

Ia menuturkan, partai berlambang Ka’bah ini terus bertindak sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam mendorong kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Kota Tasikmalaya.

“Peran dan kontribusi parti ini selama ini tentu telah dirasakan masyarakat, karenanya sinergi ini harus terus di perkuat untuk bersama-sama membangun Kota Tasikmalaya, agar semakin maju dan berkembang,” pinta Asgop, sapaan akrabnya.

Dirinya pun berharap rangkaian Musancab Ke-VI ini berjalan sukses. Ia menekankan pentingnya forum ini menelurkan program-program strategis untuk kemajuan dan keberlangsungan partai ke depan.

Pesan Menohok Uu Ruzhanul Ulum untuk Kader PPP

Sementara itu, Ketua DPW PPP Jabar, H. Uu Ruzhanul Ulum yang membuka forum Musancab, menegaskan bahwa PPP wajib berkontribusi terhadap kemajuan dan pembangunan daerah. Dengan demikian, masyarakat luas akan selalu mencintai dan mendambakan kehadiran partai ini.

Ia meminta seluruh kader untuk memperkuat struktur partai. Menurutnya, berbekal legalitas saja tidak cukup, melainkan partai harus memberikan dampak nyata sehingga masyarakat luas langsung merasakan manfaatnya.

“Apalah artinya selembar kertas SK tanpa ada legitimasi dari masyarakat. Jangan sampai Partai punya SK tapi tidak dipilih masyarakat,” ungkap Uu Ruzhanul Ulum.

Ia menegaskan, Partai Ka’bah ini lahir dan berdiri di atas tiga pilar utama, yakni Tarbiyah, Muamalah, dan Siasah. Karena itu, masuk ke PPP bukan bertujuan mengejar kekuasaan, melainkan menjadikan partai sebagai rumah untuk mengabdi dan membantu masyarakat.

“Perbaharuan di PPP bukan hanya urusan merebut kekuasaan atau duduk di legislatif, tapi niat utamanya adalah membesarkan Siasah Islam. Kader harus meluruskan niatnya dalam membantu sesama,” ujarnya.

Di sisi lain, Uu menyoroti kriteria pimpinan partai di tingkat kecamatan dan kelurahan. Ia menyebut ada dua syarat mutlak bagi ketua PAC.

“Pertama, harus punya dedikasi tinggi. Jangan sampai pimpinan di kecamatan tidak dikenal masyarakat. Kedua, harus bisa berbicara di depan umum. Kalau tidak bisa pidato, bagaimana mau mengajak orang memilih PPP? Karena perubahan datang dari apa yang didengar dan dilihat masyarakat,” terangnya.

“Pimpinan di tingkat daerah, harus dapat melakukan konsolidasi internal, penataan struktural eselon hingga tingkat ranting, demi memulihkan perolehan suara serta mampu mengembalikan kejayaan partai pada pemilu yang akan datang,” pintanya.

Dorongan Enjang Bilawini Menuju Pilkada 2029

Pada kesempatan itu, Mantan Wakil Gubernur Jawa Barat tersebut memotivasi kader-kader terbaik PPP Tasikmalaya agar tampil menjadi pemimpin di Kota Resik Tasikmalaya.

“Saya ingin kader terbaik PPP Kota Tasikmalaya H. Enjang Bilawini, bisa merebut kembali kepemimpinan di sini, seperti tahun-tahun sebelum, kader PPP mampu sebagai pemimpin di Kota Tasikmalaya,” tegasnya.

Bahkan, Uu terang-terangan memuji kapasitas Enjang Bilawini. Ia menilai Enjang sudah sangat layak maju sebagai Wali Kota Tasikmalaya mengingat pengalaman panjangnya mengarungi dunia politik dan birokrasi di Tasikmalaya.

“Pak Enjang itu sudah empat periode menjadi anggota DPRD. Pengalaman dan semangatnya ada. Wajar kalau kami mendorong untuk mencalonkan diri sebagai Wali Kota Tasikmalaya pada pemilu 2029 mendatang, tapi semua tetap harus melalui mekanisme partai dan keputusan politik,” ucapnya.

Menanggapi keinginan Ketua DPW PPP Jabar tersebut, H. Enjang Bilawini mengaku kaget. Namun, ia menyatakan kesiapannya jika Ketua Jabar dan teman-teman separtai memintanya maju demi masa depan partai.

Kendati demikian, Enjang menganggap wacana pencalonan pada Pilkada Kota Tasikmalaya 2029 masih terlalu prematur. Saat ini, ia masih memusatkan fokusnya untuk membesarkan partai agar masyarakat terus memberikan simpati dan mencintai PPP.

“Saat ini, kita lebih fokus dulu untuk membangun infrastruktur dan suprastruktur Partai yang solid dan kompak untuk bisa meraih kejayaan kembali,” ujar Enjang.

Pengurus partai menargetkan gelaran Musancab Ke-VI PPP Kota Tasikmalaya ini mampu menghasilkan kepengurusan PAC dan ranting yang sah secara administratif sekaligus mendapat penerimaan dan kepercayaan penuh dari masyarakat. Dengan begitu, PPP Kota Tasikmalaya mantap melangkah untuk menambah kursi pada pemilu mendatang serta merebut kembali kejayaan partai.

(Seda)

Persib Segera Launching Skuad 2026/2027, Jersey dan Sponsor Baru Ikut Diperkenalkan

0
BANDUNG, FOKUSJabar.id
Foto: Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan. (Arif)

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Adhitia Putra Herawan, membeberkan bocoran mengenai agenda launching skuad Persib Bandung untuk mengarungi musim kompetisi 2026/2027.

Adhitia menegaskan, manajemen Persib telah menggodok persiapan matang untuk acara perkenalan tim, jersey baru, hingga jajaran sponsor pendukung.

Baca Juga: Bukan Sekadar Kenalkan Pemain Baru, Persib Ajak Bobotoh Bantu Penyintas Kanker

Kendati demikian, Adhitia belum merinci tanggal pasti pelaksanaan acara pengenalan skuad Maung Bandung tersebut. Pihaknya memastikan bakal menggelar hajatan ini sebelum melakoni babak play-off AFC Champions League Two 2026/2027.

Manajemen menjadwalkan laga krusial Persib pada babak play-off AFC Champions League Two 2026/2027 bergulir pada akhir Agustus 2026.

“Launching bulan Agustus, tanggalnya nanti kita akan kabarin sesegera mungkin,” kata Adhitia.

“Seperti biasa itu nanti rangkaiannya adalah launching tim, launching jersey, dan launching sponsor. Tanggalnya ya, tanggal 20-an lah. Nanti kita akan kabarin segera lah,” jelasnya.

Persiapan Matang Usai Piala Presiden dan Pemusatan Latihan di Bali

Skuad Maung Bandung sendiri baru saja mengakhiri kiprah di turnamen pramusim Piala Presiden 2026 dengan menyabet predikat runner-up.

Usai merampungkan laga di turnamen pramusim Piala Presiden 2026, tim Pangeran Biru memboyong para pemain untuk menjalani pemusatan latihan atau training center (TC) di Bali.

Sepanjang masa pemusatan latihan guna mematangkan persiapan musim 2026/2027, skuad racikan pelatih Igor Tolic ini bakal menantang Bali United dan Sabah FC dalam turnamen Dewata Challenge Series 2026.

(Arif)

Lumba-Lumba 1,65 Meter Ditemukan Mati di Pantai Timur Pangandaran

0
Pangandaran, FOKUSJabar.id
Poto: penguburan seekor lumba-lumba mati di Pantai Timur Pangandaran

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Warga menemukan seekor lumba-lumba dengan panjang 1,65 meter terdampar dalam kondisi mati di pesisir Pantai Timur Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Sabtu pagi (8/8/2026).

Warga yang sedang berolahraga menyaksikan bangkai mamalia laut itu untuk pertama kalinya sekitar pukul 06.45 WIB. Saat warga melihatnya, lumba-lumba tersebut berada di atas batu dalam keadaan tidak bernyawa.

Baca Juga: Batukaras Surf Festival 2026, Ombak Internasional Berpadu dengan Budaya Sunda

“Awalnya ada teman-teman yang sedang berolahraga. Katanya ada lumba-lumba di atas batu dengan keadaan sudah mati,” ujar Julia (48), warga setempat, Minggu (9/8/2026).

Julia menduga satwa tersebut terdampar karena mengejar ikan-ikan kecil hingga mendekati bibir pantai. “Lumba-lumba itu mati mungkin karena mengejar makanan sampai terdampar di darat,” kata Julia.

Usai menerima laporan warga, personel Satpolairud Polres Pangandaran bersama PSDKP Pangandaran langsung menerjunkan tim ke lokasi pada pukul 06.50 WIB.

Pengukuran Morfometri dan Evakuasi Petugas

Petugas menjalankan prosedur pengukuran morfometri terhadap bangkai lumba-lumba tersebut. Dari hasil pengukuran, petugas mencatat data sebagai berikut:

  • Panjang badan: 1,65 meter
  • Perkiraan berat: 80 kilogram
  • Panjang sirip depan: 70 cm
  • Panjang sirip punggung: 35 cm
  • Panjang ekor: 40 cm
  • Panjang kepala: 40 cm
  • Lingkar mulut: 25 cm

Berdasarkan ukuran tersebut, petugas mengategorikan lumba-lumba yang muncul di pantai ini ke dalam kelompok ukuran sedang.

“Petugas langsung melakukan pengecekan ke lokasi dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan evakuasi terhadap lumba-lumba yang ditemukan dalam kondisi sudah mati,” ucap Kasat Polairud Polres Pangandaran, AKP M. Anang Tri Sodikin.

Setelah mengangkat bangkai lumba-lumba secara manual dari atas batu, petugas memboyong dan menguburkan mamalia laut tersebut di area yang tidak jauh dari lokasi penemuan awal.

Hingga saat ini, petugas belum bisa memastikan penyebab pasti kematian mamalia laut tersebut. Pihaknya mengimbau warga agar segera menghubungi otoritas berwenang jika kembali menyaksikan mamalia laut terdampar di sekitar pesisir.

(Sajidin)

Serunya Ngubyag di Sungai Cijolang Ciamis, Penangkap Ikan Terbanyak Dapat Domba

0
CIAMIS, FOKUSjabar.id
Ketpot : Warga Desa Patakaharja Kecamatan Rancah saat Ngubyag di aliran Sungai Cijolang

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Warga Desa Patakaharja, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mengisi musim kemarau tahun ini dengan menggelar kegiatan tradisional Ngubyag di aliran Sungai Cijolang Leuwipanjang, Dusun Langensari, Minggu (9/8/2026).

Kepala Desa Patakaharja, Mochamad Dahlan, menyampaikan bahwa warga menyelenggarakan tradisi Ngubyag ini sekaligus untuk menyemarakkan rangkaian Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Baca Juga: 9 Agustus Diperingati sebagai Hari Masyarakat Adat Sedunia, Ini Sejarahnya

“Tradisi yang terselenggara setahun sekali ini mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat,” katanya.

Dahlan menerangkan, pihak desa sengaja memilih kondisi kemarau karena debit air Sungai Cijolang sedang surut. Aliran air yang dangkal memudahkan warga untuk menjalankan tradisi tersebut secara lebih leluasa.

“Sekarang kan lagi musim kemarau dan kebetulan menjelang bulan Agustus, kami manfaatkan untuk melaksanakan kegiatan Ngubyag sekaligus dalam rangka memperingati HUT RI ke-81,” ucapnya.

Hiburan Rakyat dan Hadiah Domba bagi Penangkap Ikan Terbanyak

Dahlan melanjutkan, tradisi Ngubyag tidak sekadar menjadi ajang menangkap ikan secara bersama-sama. Lebih dari itu, kegiatan ini menjelma sebagai hiburan rakyat yang ampuh mempererat tali silaturahmi dan rasa kekeluargaan antarwarga.

“Ini merupakan hiburan rakyat yang berlangsung setahun sekali. Masyarakat sangat antusias mengikuti kegiatan ini sehingga selain menjadi hiburan juga bisa mempererat kebersamaan dan gotong royong,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, warga terjun langsung ke dalam aliran Sungai Cijolang untuk berburu ikan bersama-sama menggunakan alat tangkap tradisional. Kemeriahan suasana makin terasa saat warga sekitar menyemut di pinggir sungai untuk menonton dan menikmati hiburan gratis ini.

Panitia penyelenggara juga menyediakan apresiasi menarik untuk menambah semangat para peserta yang turun ke sungai.

“Warga yang mendapatkan ikan paling banyak mendapat hadiah satu ekor domba dari panitia,” ungkapnya.

(Husen Maharaja)

9 Agustus Diperingati sebagai Hari Masyarakat Adat Sedunia, Ini Sejarahnya

0
NASIONAL, FOKUSjabar.id
Ilustrasi masyarakat adat. Sumber Gambar: nusantaranews.co

NASIONAL,FOKUSJabar.id: Masyarakat dunia memperingati Hari Masyarakat Adat Sedunia atau International Day of the World’s Indigenous Peoples setiap tanggal 9 Agustus. Pada tahun 2026, peringatan ini jatuh, Minggu (9/8/2026) dengan memberi perhatian khusus terhadap peran pengetahuan tradisional dalam menjaga kesehatan serta kesejahteraan masyarakat adat.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memanfaatkan momentum tahunan ini untuk mendongkrak kesadaran publik mengenai hak, budaya, pengetahuan, serta berbagai tantangan yang masih mengimpit masyarakat adat. PBB juga mengarahkan peringatan ini guna memperkuat upaya perlindungan dan pemajuan hak-hak masyarakat adat di berbagai belahan negara.

Baca Juga: BRIN Ungkap 2.564 Spesies Tumbuhan Berpotensi Jadi Sumber Pangan Indonesia

PBB mengusung tema “Honouring Indigenous Midwives: Safeguarding Life and Well-being” atau “Menghormati Bidan/Mama Bersalin Masyarakat Adat: Melindungi Kehidupan dan Kesejahteraan” pada tahun 2026. Fokus utama ini menyoroti praktik kebidanan masyarakat adat sebagai bagian dari pengetahuan yang terus mengalir lintas generasi dan menyatu dengan kesehatan, budaya, identitas, komunitas, serta wilayah kelola mereka.

Pemilihan tema ini berakar kuat dari pandangan bahwa pengetahuan masyarakat adat memegang peran vital dalam menopang kehidupan komunitas. PBB menyebut sistem pengetahuan tradisional telah menopang dan menjaga keberlangsungan hidup selama beberapa generasi. “Indigenous knowledge systems have sustained the well-being of Indigenous Peoples for generations.”

Kebidanan masyarakat adat menjadi salah satu bentuk pengetahuan yang memetik perhatian khusus dalam peringatan tahun ini. Praktik tradisional ini tidak sekadar menangani proses persalinan, melainkan menjadi pilar sistem pengetahuan serta denyut nadi kehidupan masyarakat adat. PBB menegaskan, “Indigenous midwifery is a powerful expression of these knowledge systems.”

Secara global, PBB menaksir sekitar 476 juta masyarakat adat mendiami lebih dari 90 negara. Mereka merepresentasikan sekitar 5.000 budaya berbeda dan menuturkan sebagian besar dari sekitar 7.000 bahasa yang ada di dunia. Keragaman ini membuktikan betapa kaya budaya dan pengetahuan yang tersimpan di dalam masyarakat adat.

Ancaman Kepunahan Bahasa dan Peran Menjaga Alam

Namun, keberadaan berbagai bahasa dan tradisi lokal ini menghadapi tantangan yang sangat berat. PBB mencatat setidaknya 40 persen bahasa di dunia berada dalam kondisi terancam punah. Bahasa masyarakat adat tergolong paling rentan mengingat ruang publik dan lembaga pendidikan tidak lagi menggunakannya secara luas.

Kehidupan masyarakat adat juga menjalin ikatan yang sangat erat dengan kelestarian lingkungan dan kawasan tempat tinggal mereka. Wilayah kelola masyarakat adat mencakup sekitar 28 persen permukaan bumi serta 11 persen kawasan hutan dunia. PBB menilai masyarakat adat memberi kontribusi paling nyata dalam menjaga sebagian besar keanekaragaman hayati yang masih bertahan hingga hari ini.

Pembahasan mengenai kesehatan masyarakat adat turut mengisi agenda utama PBB sepanjang tahun 2026. United Nations Permanent Forum on Indigenous Issues (UNPFII) menggelar sesi ke-25 pada 20 April hingga 1 Mei 2026 di Markas Besar PBB, New York. Forum internasional ini mengusung tema “Ensuring Indigenous Peoples’ health, including in the context of conflict” yang mengupas kesehatan masyarakat adat dalam situasi konflik, isu hak asasi manusia, pendanaan, serta berbagai persoalan mendesak lainnya.

UNESCO turut memberikan perhatian besar terhadap keberadaan bidan masyarakat adat pada momentum tahun ini. Peran para bidan adat tidak hanya melayani proses persalinan, tetapi juga memancarkan pengetahuan yang mengakar pada budaya dan kehidupan komunitas. Keberadaan bidan adat menjadi semakin krusial di sejumlah wilayah terpencil yang menghadapi hambatan geografis, sosial, maupun budaya untuk mengakses layanan kesehatan modern.

Relevansi di Indonesia dan Suara dari Tanah Papua

Dalam konteks Indonesia, peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia memiliki hubungan erat dengan berbagai persoalan yang belum tuntas, mulai dari pengakuan wilayah adat, perlindungan pengetahuan tradisional, kelestarian lingkungan, pengelolaan sumber daya alam, hingga akses terhadap layanan dasar. Momentum ini membuka ruang untuk meninjau kembali posisi masyarakat adat dalam konstelasi pembangunan nasional.

Pada Minggu (9/8/2026), Masyarakat Adat Independen Papua (MAI-P) turut menggunakan momentum ini untuk menyuarakan kondisi terkini masyarakat adat di Tanah Papua. Mereka menyoroti sejumlah isu krusial seperti konflik tanah adat, eksploitasi sumber daya alam, deforestasi, konflik agraria, hingga kebijakan pembangunan yang mengancam keberlangsungan masyarakat adat.

Berbagai persoalan tersebut membuktikan bahwa keberadaan masyarakat adat menyatu utuh dengan wilayah, lingkungan, budaya, serta pengetahuan warisan leluhur. Pengetahuan tradisional—termasuk praktik kesehatan dan kebidanan—menjadi identitas sekaligus benteng utama bagi komunitas untuk mempertahankan kehidupan mereka.

Oleh karena itu, upaya melindungi masyarakat adat tidak sekadar melestarikan budaya semata. Pengakuan atas pengetahuan tradisional, perlindungan wilayah adat, pemenuhan hak-hak dasar, serta perluasan akses layanan publik menjadi kunci penting untuk menciptakan kehidupan yang lebih layak bagi komunitas masyarakat adat.

Peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia pada Minggu (9/8/2026) menjadi pengingat penting bagi semua pihak. Tentunya untuk merawat pengetahuan antargenerasi sekaligus menjamin masyarakat adat memperoleh ruang hidup yang bermartabat. Penetapan peran bidan adat sebagai tema tahun ini membuktikan bahwa pengetahuan tradisional memiliki relevansi kuat dalam percakapan global mengenai kesehatan dan kesejahteraan manusia.

(Jingga Sonjaya)