spot_imgspot_img
Rabu 14 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 330

Perluas Akses Keadilan, Pemkab Garut Siapkan Perda Bantuan Hukum

0
Pemkab garut hukum fokusjabar,ud
Pemkab Garut Perda Bantuan Hukum

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut berkomitmen menjamin perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) bagi masyarakat kurang mampu melalui penyusunan Peraturan Daerah (Perda) tentang bantuan hukum.

Langkah tersebut di sampaikan Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin saat menjadi narasumber dalam forum Sinergitas Lintas Sektoral Kementerian HAM bersama Pemerintah Daerah, Masyarakat, Komunitas dan Pelaku Usaha Wilayah Jawa Barat bertajuk “Bersama Membangun Peradaban Hak Asasi Manusia” di Papandayan Hotel, Kota Bandung.

BACA JUGA:

BMKG dan Pemkab Garut Perkuat Mitigasi Gempa

Syakur menjelaskan, Kabupaten Garut dengan jumlah penduduk 2,8 juta jiwa dan luas wilayah sekitar 3.100 kilometer persegi masih menghadapi tantangan pembangunan manusia yang berdampak pada munculnya berbagai persoalan sosial dan potensi pelanggaran HAM.

“Kerentanan ekonomi dan relasi kuasa sering kali memicu berbagai masalah sosial. Seperti kasus penganiayaan hingga kekerasan seksual. Keterbatasan ekonomi membuat masyarakat miskin sering tidak memiliki kemampuan untuk menuntut hak atau mengusut keadilan,” kata Bupati Garut.

Sebagai langkah konkret, Pemkab Garut tengah menyiapkan Peraturan Daerah (Perda) tentang bantuan hukum bagi masyarakat miskin.

Penyusunan regulasi tersebut juga di selaraskan dengan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Tahun Anggaran 2027 agar pelaksanaannya di dukung pembiayaan yang memadai.

Menteri HAM RI, Natalius Pigai menegaskan, forum ini merupakan bagian dari upaya Kementerian HAM menghadirkan pelayanan publik yang berorientasi pada pemenuhan HAM.

Menurutnya, nilai-nilai HAM harus di implementasikan dalam tata kelola pemerintahan, kehidupan masyarakat dan dunia usaha.

“Karena memahami HAM itu adalah Intangible Assets (aset termahal di dunia tapi tidak bisa di pandang dan tidak bisa di lihat). Oleh karena itu aspek HAM yang berada di awang-awang di atas ini kami harus turun tarik ke bawah menjadi aspek kehidupan nyata dalam tata kelola pemerintahan, masyarakat dan dunia usaha,” tegas Natalius Pigai.

Direktur Jenderal Pelayanan dan Kepatuhan HAM, Munaftizal Manan menjelaskan, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 156 Tahun 2024, Kementerian HAM memiliki tugas melakukan penilaian kepatuhan HAM terhadap pemerintah daerah, masyarakat, komunitas dan pelaku usaha.

Jawa Barat menjadi wilayah percontohan dalam pelaksanaan simulasi penilaian tersebut.

BACA JUGA:

Gali Potensi Sumber PAD Kunci Kemandirian DOB

Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan mengapresiasi penunjukan wilayahnya sebagai daerah pelopor pembumian nilai-nilai HAM.

Menurutnya, penghormatan terhadap HAM merupakan fondasi utama dalam membangun masyarakat yang berkeadaban.

Melalui forum ini, terdapat tiga sasaran utama yang ingin di capai. Yakni, membangun sinergi antara kementerian, pemerintah daerah, komunitas dan dunia usaha.

Menyamakan persepsi mengenai indikator dan mekanisme penilaian kepatuhan HAM serta meningkatkan kesadaran kolektif untuk memperkuat pemenuhan HAM di Jawa Barat.

“HAM bukan hanya urusan dokumen atau penilaian administratif semata, melainkan fondasi peradaban. Masyarakat yang menghormati HAM adalah masyarakat yang beradab, mampu menjaga martabat manusia dan menegakkan keadilan,” katanya.

“Forum ini memastikan pembangunan ekonomi, sosial dan kebijakan publik berjalan seiring dengan penghormatan terhadap martabat manusia,” Erwan Setiawan menambahkan.

BACA JUGA:

Seminar PKK Garut Perkuat Perempuan Bangun Keluarga Tangguh

Ia berharap, forum tersebut menghasilkan langkah nyata melalui simulasi penilaian kepatuhan HAM bagi masyarakat, komunitas dan pelaku usaha di Provinsi Jawa Barat.

(Bambang Fouristian)

Warung Makan di Banjarsari Ciamis Dibakar Orang Tak Dikenal?

0
warung makan banjarsari fousjabar.id
Personel Pos Damkar WMK Banjarsari saat memadamkan api di warung makan

CIAMIS, FOKUSJabar.id: Warung makan milik Imas Anwari (50) di Dusun Sukamulaya Desa Sukasari Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis Jawa Barat (Jabar) hangus di duga di bakar oleh orang tak di kenal.

Dalam peristiwa kebakaran tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka. Pemilik warung makan di taksir mengalami kerugian Rp2 juta.

BACA JUGA:

Kacang Panjang Hilang di Pasar Manis Ciamis

Menurut Kasatpol PP Kabupaten Ciamis, Ega Anggara Alqausar melalui Kasi Pengendalian dan Penanganan Kebakaran Trisyanto, pihak Damkar pos WMK Banjarsari menerima laporan dari warga terkait kebakaran sebuah warung makan.

“Petugas piket Damkar WMK Banjarsari langsung menuju lokasi kejadian,” katanya, Rabu (29/7/2026).

Trisyanto menuturkan, posisi warung makan itu kebetulan jaraknya tidak jauh dari Mako Damkar pos WMK Banjarsari. Sehingga api bisa secepatnya di padamkan.

“Hanya dalam waktu satu menit, kobaran api berhasil di padamkan,” ucapnya.

BACA JUGA:

SMKN 2 Ciamis Jadi Sekolah Pertama Tuan Rumah Gerakan Pangan Murah DKPP Jawa Barat

Trisyanto melanjutkan, setelah api berhasil di padamkan, selanjutnya di lakukan pendinginan supaya api tidak kembali menyala.

“Saat ini api sudah padam dengan sempurna,” ungkapnya.

(Husen Maharaja)

Kronologi Dugaan Penipuan Berkedok Petugas PLN di Cimerak Pangandaran

0
Penipuan petugas PLN fokusjabar.id
lokasi dugaan penipuan mengatasnamakan petugas PLN di Cimerak, Pangandaran

PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Penjual pakaian di Kecamatan Cimerak Kabupaten Pangandaran Jawa Barat (Jabar), Hasan menjadi korban penipuan yang di lakukan dua orang pria dengan modus mengaku sebagai petugas PLN.

Korban yang di alami penjual pakaian di Cimerak tersebut sebesar Rp100 ribu.

‎BACA JUGA:

Video Dugaan Penipuan Atas Nama Petugas PLN Beredar di Cimerak Pangandaran

‎Peristiwa bermula saat Hasan sedang berada di rumah. Sekitar pukul 11.00 WIB, dua orang pria yang mengaku petugas PLN menghubungi Hasan melalui sambungan telepon.

‎”Mereka meminta uang sebesar Rp400 ribu dengan alasan untuk biaya penggantian nomor ID meteran listrik,” kata Hasan, Rabu (29/7/2026).

‎Hasan menolak memberikan uang. Dia meminta agar pembayaran di lakukan besok hari saat dirinya sudah berada di toko.

‎”Setelah menutup telepon, kedua pria tersebut langsung mendatangi toko. Saat itu yang berjaga adalah karyawan toko,” jelasnya.

‎Dengan alasan yang sama, pelaku kembali meminta uang kepada karyawan.

“Karena hasil penjualan hari itu baru Rp100 ribu, uang itu akhirnya di serahkan kepada pelaku,” ungkapnya.

‎Setelah menerima uang, pelaku sempat menunjukkan selembar kuitansi berwarna kuning kepada karyawan.

“Mereka beralasan kuitansi itu baru akan di berikan jika pembayaran lunas Rp400 ribu,” katanya.

‎Karena yang di berikan hanya Rp100 ribu, kuitansi tersebut kembali di bawa oleh pelaku.

‎Menurut Hasan, aksi tersebut di lakukan sekitar pukul 11.06 WIB. Dalam rekaman CCTV toko, terlihat dua pria memakai jaket gelap dan helm datang menggunakan sepeda motor Yamaha NMAX warna merah.

‎Salah satu pelaku sempat berpura-pura memeriksa meteran listrik di depan toko sebelum akhirnya pergi meninggalkan lokasi.

‎Hasan mengaku tidak dapat mengenali wajah pelaku karena keduanya memakai helm. Perkiraan usia pelaku 37-40 tahun.

BACA JUGA:

Pemkab Pangandaran Anggarkan Rp250 Juta agar IPAL Komunal Pantai Barat Segera Beroperasi

‎Kini rekaman CCTV tersebut telah beredar di media sosial dan grup WhatsApp warga.

‎Manager ULP Pangandaran, Diki Gunawan menegaskan, kedua orang tersebut bukan petugas resmi PLN.

Pihaknya mengimbau warga agar tidak memberikan uang atau data pribadi kepada siapapun yang mengaku dari PLN tanpa surat tugas dan identitas resmi.

(Sajidin)

‎

Kisah Waduk Cipancuh Indramayu: Proyek Penyelamat Krisis Zaman Belanda yang Dibayar Pakai Beras

0
Indramayu, FOKUSJabar,id
Waduk Cipancuh, Indramayu. FOTO/Urutan Waktu

INDRAMAYU,FOKUSJabar.id: Pagi hari pada 6 Mei 1936, sebuah kereta uap berhenti di Stasiun Haurgeulis, Indramayu. Seorang wanita bangsawan bernama Mevrouw B.C. de Jonge turun dari gerbong. Istri Gubernur Jenderal Hindia Belanda itu, bersama Residen Cirebon van der Plas, langsung bergegas menuju lokasi pembangunan Waduk Cipancuh.

Surat kabar Het Algemeen Handelsblad zaman itu mencatat bahwa proyek raksasa ini merupakan werkverschaffing—sebuah program padat karya demi menyelamatkan masyarakat yang terhantam badai malaise (depresi ekonomi global). Di tengah kebangkrutan ekonomi dunia, pemerintah kolonial sengaja membangun Waduk Cipancuh untuk menyerap ribuan tenaga kerja sekaligus memperluas jaringan irigasi di tanah Jawa.

Baca Juga: Kepala BGN Larang SPPG Gunakan Bahan Pangan dan Energi Subsidi

Kedatangan Mevrouw de Jonge membawa misi besar. Pemerintah kolonial merancang waduk ini untuk mengairi sawah, membuka lapangan kerja baru, mendukung pembukaan lahan pertanian, dan menjaga pasokan pangan di tengah krisis yang mencekik.

Badai Malaise Memaksa Negara Turun Tangan

Krisis ekonomi global (Great Depression) yang bermula dari runtuhnya pasar saham Amerika Serikat pada 1929 menjalar cepat ke seluruh dunia. Hindia Belanda menjadi salah satu korban terparah karena ekonominya sangat bergantung pada ekspor komoditas seperti gula, kopi, teh, karet, dan tembakau.

Saat harga komoditas global anjlok, perusahaan perkebunan gulung tikar. Pendapatan pemerintah kolonial merosot tajam, dan lapangan kerja di pedesaan lenyap. Meski kondisi mulai membaik menjelang tahun 1936, pemulihan berjalan sangat lambat dan tekanan ekonomi di pedesaan masih sangat terasa.

Kondisi Indramayu bahkan jauh lebih mengenaskan. Selain hantaman malaise, wilayah selatan kabupaten ini masih mengandalkan sistem pertanian tadah hujan. Kekeringan yang datang bertubi-tubi membuat petani sering gagal panen. Sementara itu, peluang kerja di luar sektor pertanian terus menyusut akibat melemahnya bisnis perkebunan.

Krisis parah ini memaksa pemerintah kolonial mengubah strategi dan mengambil peran yang lebih aktif. Sejarawan Ilham Nur Utomo mencatat bahwa pemerintah akhirnya memperluas proyek pekerjaan umum demi menekan dampak krisis dan menyediakan lapangan penghidupan bagi rakyat.

Strategi Membendung Sungai Cipancuh

Pemerintah kolonial tidak asal-asalan dalam memilih proyek ini. Sebelumnya, kawasan utara jalur kereta api Cikampek–Cirebon sudah menikmati pasokan air melimpah dari Sungai Cipunegara melalui Bendung Salamdarma. Sebaliknya, wilayah selatan Haurgeulis masih gersang dan sepenuhnya bergantung pada air hujan. Kebutuhan air menjadi semakin darurat saat pemerintah mulai membuka permukiman baru di wilayah tersebut.

Kebutuhan air yang mendesak ini menjadi alasan utama pembangunan. Selain itu, pemerintah kolonial memanfaatkan momen ini untuk menampung ribuan penganggur, mencetak areal persawahan baru, dan menyukseskan program kolonisasi (transmigrasi) pertanian.

Residen Cirebon van der Plas menjadi otak di balik pembangunan Waduk Cipancuh dengan membendung aliran Sungai Cipancuh. Bendungan ini memiliki target untuk mengairi sekitar 6.500 bouw sawah. Pemerintah mengambil sebagian lahan dari tanah sitaan, lalu menyiapkannya bagi para kolonis yang siap membuka kawasan pertanian baru.

Proyek irigasi, pembukaan lahan, dan pemindahan penduduk ini berjalan beriringan dalam satu paket kebijakan tunggal untuk menjinakkan krisis ekonomi.

Unik! Buruh Menerima Upah Beras, Bukan Uang

Setiap hari, sekitar 5.000 orang memadati lokasi pembangunan Waduk Cipancuh untuk bekerja. Menariknya, mereka tidak menerima sekeping uang pun sebagai upah. Pemerintah kolonial membayar keringat mereka dengan beras melalui lembaga Rijstfonds (Dana Beras).

Hingga Mei 1936, proyek ini telah menggelontorkan sekitar 330 ton beras, atau setara dengan 143.000 hari kerja. Setiap kuli rata-rata membawa pulang tiga kati beras per hari, sementara pekerja dengan keahlian khusus mendapatkan jatah yang lebih besar.

Di tengah jatuhnya harga barang dan anjloknya daya beli, beras menjadi alat tukar yang jauh lebih berharga daripada uang. Bagi para buruh, sistem ini menjamin ketersediaan pangan keluarga mereka secara langsung di tengah masa sulit.

Pemerintah mengatur distribusi ini menggunakan sistem kupon. Para pekerja akan menerima kupon khusus, lalu menukarkannya dengan jatah beras di pos pembagian. Sistem ini sempat memicu kemunculan para spekulan yang membeli kupon atau beras buruh dengan harga tengkulak. Demi melindungi daya beli buruh, pemerintah segera turun tangan membeli kembali kupon-kupon tersebut agar nilainya tidak merosot.

Melalui proyek ini, pemerintah kolonial mengendalikan dua hal sekaligus: membuka lapangan kerja dan mengatur distribusi pangan masyarakat.

Kritik di Balik Megahnya Proyek Bendungan

Jika hanya melihat dari kacamata proyek fisik, pemerintah kolonial terkesan sukses besar. Ribuan orang mendapat pekerjaan, sawah-sawah baru mulai terbentuk, dan jaringan irigasi meluas. Waduk Cipancuh seolah menjadi dewa penyelamat yang sangat logis di tengah depresi ekonomi. Namun, arsip sejarah juga menyimpan sudut pandang lain yang bernada sumbang.

Dalam laporan Het Algemeen Handelsblad edisi Mei 1936, seorang petugas dari Algemeene Inspectiedienst (A.I.D.) menilai bahwa proyek infrastruktur dan bantuan pangan ini hanya mampu meredakan penderitaan rakyat untuk sementara waktu.

Ia menegaskan bahwa akar masalah yang sebenarnya adalah maraknya petani yang kehilangan kepemilikan tanah dan rendahnya nilai sewa lahan. Menurutnya, pemerintah seharusnya memprioritaskan perlindungan tanah rakyat dari penyitaan dan membenahi sistem agraria, bukan sekadar sibuk membangun saluran air.

Silang pendapat ini membuktikan adanya friksi di internal pemerintah kolonial. Sebagian pejabat mengambinghitamkan kekeringan dan minimnya irigasi sebagai biang keladi kemiskinan, sehingga mereka mendewakan bendungan sebagai solusi. Sementara sebagian pejabat lain melihat ketimpangan agraria sebagai masalah yang jauh lebih mendasar, yang tidak akan pernah selesai hanya dengan membangun beton dan bendungan.

Belajar Membaca Arsip Sejarah Secara Kritis

Masyarakat hari ini mengetahui detail kisah Waduk Cipancuh sebagian besar dari dokumen peninggalan pemerintah Belanda. Peneliti Nathan Sowry mengingatkan bahwa arsip kolonial cenderung menonjolkan sudut pandang penguasa, sedangkan jeritan dan pengalaman riil masyarakat terjajah sering kali terkubur dan tidak terdengar.

Oleh karena itu, arsip Waduk Cipancuh sejatinya memotret dua sisi mata uang: taktik pemerintah kolonial menjinakkan depresi ekonomi lewat proyek padat karya, serta kritik tajam yang menilai proyek fisik tersebut gagal menyentuh akar kemiskinan sistemik terstruktur.

Warisan Abadi dari Masa Krisis Global

Saat Mevrouw B.C. de Jonge angkat kaki meninggalkan Waduk Cipancuh pada Mei 1936, proyek bendungan tersebut sebenarnya belum sepenuhnya rampung. Namun bagi pemerintah kolonial, bendungan itu telah menuntaskan misi daruratnya: memberi napas buatan bagi ribuan perut yang kelaparan di tengah depresi ekonomi.

Hampir satu abad berlalu, Waduk Cipancuh masih kokoh berdiri dan terus mengairi hamparan sawah di Indramayu. Warisan yang tersisa bukan hanya bangunan fisiknya, melainkan juga sebuah perdebatan klasik yang belum usai hingga hari ini.

Sejak zaman penjajahan, para pemikir sudah mempertanyakan apakah pembangunan infrastruktur megah dan proyek padat karya benar-benar mampu menghapus kemiskinan, atau hanya sekadar menunda dampak krisis untuk sementara waktu tanpa pernah menyelesaikan konflik penguasaan lahan dan hak hidup rakyat kecil.

Penulis: Rengga Ramayuda dan Budi Zaelani

Kepala BGN Larang SPPG Gunakan Bahan Pangan dan Energi Subsidi

0
Kepala BGN SPPG fokusjabar.id
Kepala BGN, Sudaryono

JAKARTA, FOKUSJabar.id: Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono (Mas Dar) melarang keras seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menggunakan bahan pangan dan energi bersubsidi (MinyaKita, LPG 3 kilogram dan beras SPHP).

Larangan tersebut di terapkan agar subsidi pemerintah tetap tepat sasaran dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.

BACA JUGA:

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Kinerja Prabowo Menurun

Kepala BGN menegaskan, seluruh mitra penyedia makanan MBG wajib menggunakan bahan baku komersial. Bukan barang yang memperoleh subsidi dari pemerintah.

“Tidak boleh masak memakai MinyaKita, tidak boleh memakai LPG 3 kg dan tidak boleh memakai beras SPHP,” tegas Sudaryono di kutip jawapos.com, Rabu (29/7/2026).

Pihaknya meminta masyarakat maupun media melaporkan jika menemukan SPPG yang masih menggunakan barang bersubsidi.

Menurut dia, BGN akan memberikan sanksi hingga penutupan SPPG apabila pelanggaran tersebut terbukti.

“Jika awak media menemukan di sosmed silakan di laporkan, dapur mana menggunakan MinyaKita. Kita beri teguran surat peringatan. Kalau memang ngeyel, bandel kita tutup,” katanya.

Sudaryono mengatakan, program MBG juga di arahkan untuk menjaga harga komoditas di tingkat petani dan peternak.

Ia mencontohkan, komoditas telur yang sempat mengalami penurunan harga jauh di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP).

Dalam kondisi tersebut, dapur MBG tetap di minta membeli telur sesuai harga acuan agar peternak tidak rugi.

“Harga telur yang harusnya HAP-nya Rp 25.000 di kandang, itu kemudian jatuh sampai Rp12.000-15.000 pernah tuh kemarin. Maka juga kemudian si Kepala Dapur harus membeli telur bukan kemudian 12.000-15.000, harus membeli telur di harga acuan pemerintah, untuk supaya memastikan stabilisasi harga, peternak tidak dirugikan,” jelasnya.

BACA JUGA:

Kepala BGN Pecat 261 Pegawai Non ASN dan Tenaga Ahli

Sudaryono menegaskan, salah satu tujuan MBG bukan hanya menyediakan makanan bergizi, tetapi juga menjadi instrumen stabilisasi harga di tingkat produsen.

“Memang dari MBG ini untuk sebagai stabilisator pasokan dan stabilisator harga level paling bawah yang namanya flooring price supaya memastikan peternak petani itu kemudian tidak di rugikan,” tutup Mas Dar.

(Bambang Fouristian)

Video Dugaan Penipuan Atas Nama Petugas PLN Beredar di Cimerak Pangandaran

0
penipuan PLN pangandaran
Tangkapan layar rekaman CCTV terduga pelaku penipuan mengatasnamakan petugas PLN

‎PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Rekaman CCTV yang memperlihatkan aksi dua orang pria yang di duga melakukan penipuan dengan mengatasnamakan petugas PLN beredar di Media Sosial (Medsos).

Kejadian itu berlangsung di depan sebuah toko pakaian di wilayah Cimerak, Kabupaten Pangandaran Jawa Barat (Jabar).

‎BACA JUGA:

Tak Ada Dapur MBG di Pangandaran yang Ditutup, Koordinator Pastikan 55 SPPG Tetap Aktif

‎Dalam video tersebut, tampak dua pria mengenakan jaket gelap dan helm datang ke depan toko. Salah satu di antaranya berdiri cukup lama di depan etalase baju. Sementara pria lainnya mondar-mandir dan terlihat berbincang dengan orang di dalam toko.

‎Kedua orang itu tidak tampak membeli barang. Mereka hanya berdiri, melihat-lihat dan berbicara. Di depan toko terparkir satu unit sepeda motor matic warna merah-hitam.

‎Manajer ULP Pangandaran, Diki Gunawan membenarkan adanya kejadian tersebut.

‎“Betul pak, kejadiannya kemarin,” kata Diki kepada FOKUSJabar melalui pesan WhatsApp, Rabu (29/7/2026).

‎Diki menegaskan, kedua terduga pelaku bukanlah petugas resmi PLN.

“Itu oknum bukan petugas PLN,” katanya.

‎Berdasarkan informasi yang dia terima, para pelaku telah meminta sejumlah uang kepada dua warga. Aksi serupa juga di sebut terjadi di wilayah lain.

‎“Korbannya ada 2 orang. Keluar uang 100 ribu. Kemarin dengar juga sampai ke Pameungpeuk kejadiannya,” kata Diki.

‎Menyikapi kejadian itu, ULP Pangandaran mengimbau masyarakat agar waspada terhadap penipuan yang mengatasnamakan PLN.

‎“Pelanggan PLN yang kami hormati, mohon berhati-hati terhadap segala bentuk penipuan yang mengatasnamakan PLN maupun petugas PLN,” ungkapnya.

‎BACA JUGA:

Pelebaran Jalan Pantai Barat Pangandaran Berdampak pada Penebangan Pohon, Pemkab Siapkan Pengganti

‎Beberapa poin yang di sampaikan:

  • Jangan memberikan OTP, PIN, password atau data pribadi kepada siapa pun.
  • Jangan melakukan transfer uang ke rekening pribadi dengan alasan apa pun.
  • Pastikan informasi dan layanan PLN hanya melalui aplikasi PLN Mobile atau kanal resmi PLN.

‎• Petugas PLN tidak meminta pembayaran melalui rekening pribadi.

‎“Apabila menemukan indikasi penipuan, segera laporkan melalui kanal resmi PLN. Waspada, Lindungi Data Pribadi dan Jangan Mudah Percaya,” pungkasnya.

(Sajidin)

Kacang Panjang Hilang di Pasar Manis Ciamis

0
kacang panjang pasar manis ciamis fokusjabar.id
kacang panjang hilang di pasar manis ciamis

CIAMIS, FOKUSJabar.id: Kacang Panjang di Blok F Pasar Manis Ciamis saat ini sangat sulit di temukan. Kalaupun ada harganya cukup mahal.

Hal itu di benarkan salah satu pedagang sayuran di Pasar Manis Ciamis, Ujang.

BACA JUGA:

Ujang menyebut, saat ini tidak menjual kacang panjang karena harga dari bandarnya sangat mahal dan barangnya langka.

“Sudah empat hari ini Saya tidak menjual Kacang panjang karena sulit untuk mendapatkannya,” kata Ujang, Rabu (29/7/2026).

Menurut Dia, meski stok di pasaran ada namun harga Buncis dan mentimun mengalami kenaikan.

“Untuk Buncis memang di pasaran ada tapi harganya saat ini sudah mencapai Rp20 ribu dari harga Rp 11 ribu per kg,” katanya.

Sementara untuk harga Mentimun naik dari Rp8 ribu menjadi Rp20 ribu per kg.

“Kenaikan Mentimun dan Buncis sangat tinggi setelah program MBG kembali di buka,” jelasnya.

Ujang menjelaskan, saat program MBG berhenti harga Mentimun dan Buncis anjlok di kisaran Rp5 ribu per kg.

“Seiring program MBG kembali beroperasi harga harga itu merangkak naik,” ungkapnya.

Sebagai informasi, Kacang panjang (Vigna unguiculata Kelompok Sesquipedalis) adalah salah satu tanaman sayuran yang populer dalam kuliner Asia Tenggara dan Asia Timur.

BACA JUGA:

Sayuran tersebut tumbuh dengan cara memanjat atau melilit. Bagian yang di jadikan sayur atau lalapan adalah buah (polong) yang masih muda dan serat-seratnya masih lunak.

Kacang panjang mudah di dapati di kawasan panas di Asia. Daunnya di sebut dengan lembayung dan dapat di olah pula menjadi sayur.

Cara menanam tanaman kacang panjang adalah tanam langsung dengan memasukan 2–3 biji ke dalam lubang sedalam 1–2 cm kemudian di timbun tanah, berbunga pada umur 30 hari dan mulai panen umur 45 hari.

(Husen Maharaja)