spot_imgspot_img
Rabu 15 Juli 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 28

Alarm Bahaya! Situ Gede Surut, Kekeringan Ancam Ribuan Hektare Sawah di Tasikmalaya

0
Tasikmalaya, FOKUSJabar.id
Keterangan foto: Kondisi air Situ Gede yang menjadi sumber air di Kota Tasikmalaya sudah menyusut. Kekeringan sudah melanda 4 Kecamatan di Kota Tasikmalaya.

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Aroma tanah kering yang menyengat serta hamparan sawah yang mulai retak-retak kini mewarnai pemandangan pilu di sejumlah sudut Kota Tasikmalaya. Hantaman musim kemarau panjang kembali datang membawa ancaman nyata yang siap melumpuhkan sektor pertanian lokal. Merosotnya pasokan air secara drastis pun mulai mencekik urat nadi kehidupan para petani.

Data dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Tasikmalaya menunjukkan bahwa efek domino dari kemarau ini mulai merayap ke seluruh wilayah. Otoritas kini memasukkan empat kecamatan ke dalam zona merah alias wilayah paling rawan kekeringan, yaitu Kecamatan Purbaratu, Kawalu, Tamansari, dan Kecamatan Mangkubumi.

Baca Juga: Budaya Sunda Mulai Ditinggalkan Anak Muda, PaSI Kota Tasikmalaya Siapkan Langkah Nyata

Meskipun hingga saat ini dinas belum menerima laporan resmi terkait kasus gagal panen total (puso). Bayang-bayang kerugian finansial yang besar sudah mengintai para petani jika pemerintah tidak segera mengambil langkah mitigasi yang cepat dan adaptif.

Larang Petani Spekulatif dan Imbau Istirahatkan Lahan

Merespons situasi kritis tersebut, Kepala Bidang Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan DKP3 Kota Tasikmalaya, Anisah Kardiyati, menegaskan bahwa kemarau tahun ini merupakan ujian kolektif yang menuntut kelenturan pola pikir para petani. Ia melarang petani nekat menanam komoditas yang haus air seperti padi biasa.

“Kalau pasokan air sudah mulai menipis, jangan dipaksakan untuk menanam padi. Ini saatnya petani beralih ke varietas tanaman yang jauh lebih tahan terhadap kondisi kering (palawija),” ujar Anisah, Rabu (8/7/2026).

Jika pasokan sumber air di suatu wilayah benar-benar telah mengering total, DKP3 menawarkan opsi yang lebih aman. Yakni menunda masa tanam dan membiarkan lahan bera (beristirahat) hingga musim penghujan tiba.

Menurut analisis Anisah, langkah membiarkan lahan beristirahat jauh lebih bijaksana daripada memaksakan diri yang justru berujung pada investasi bodong alias gagal panen. Sisi positifnya, masa bera ini sangat efektif untuk memutus mata rantai siklus perkembangbiakan hama serta penyakit tanaman.

Kebut Proyek Irigasi Cikunten II dan Sistem Pembagian Air

Pemerintah Kota Tasikmalaya sendiri bergerak cepat membenahi infrastruktur vital. Saat ini, pemerintah pusat sedang mengebut proyek rehabilitasi Jaringan Irigasi Cikunten II. Proyek tersebut menjadi urat nadi pengairan utama di wilayah tersebut. Kelancaran proyek irigasi ini harapannya mampu menjadi solusi jangka panjang yang kokoh untuk mengairi total luas sawah produktif di Kota Tasikmalaya yang mencapai 4.689 hektare.

Untuk penanganan jangka pendek yang mendesak, DKP3 menjalin kolaborasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Serta pengelola irigasi lokal guna menerapkan sistem pergiliran air secara ketat di lapangan.

“Begitu ada laporan lahan yang terancam kering, kami langsung bergerak bersama BBWS untuk mengatur pembagian air secara bergilir. Tujuannya agar asas keadilan terpenuhi,” tambah Anisah.

Alarm Bahaya dari Menyusutnya Debit Air Situ Gede

Kondisi di lapangan kian mengkhawatirkan seiring dengan menyusutnya volume air di sejumlah penampungan alami. Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUTR Kota Tasikmalaya, Rino Isa Muharam, mengungkapkan ikon wisata air daerah, Situ Gede, kini mulai surut secara drastis.

“Kondisi Situ Gede sekarang sudah mulai surut. Ini adalah alarm bagi kita semua. Jika tren penurunan ini terus berlanjut, ketahanan air dan otomatis ketahanan pangan kita akan sangat terganggu,” ungkap Rino memperingatkan situasi.

Saat ini, Bidang SDA mengawasi sedikitnya 29 daerah irigasi dengan total panjang jaringan yang membentang hingga 332 kilometer. Selama ini, petugas mengandalkan aliran Sungai Citanduy sebagai tumpuan utama untuk menyuntikkan suplai air ke Sungai Ciloseh.

Meskipun pemerintah mengupayakan pasokan air dari Sungai Citanduy, hasil rapat koordinasi bersama UPTD PSDA Wilayah Sungai Citanduy memetakan dinamika yang sedikit berbeda. Otoritas menetapkan tiga wilayah dengan risiko kekeringan paling ekstrem yang membutuhkan perhatian khusus, yakni Purbaratu, Cibeureum, dan sebagian wilayah Tamansari.

Dalam menghadapi kemarau panjang 2026 ini, kolaborasi erat antara DKP3, Dinas PUTR, serta kedewasaan para petani dalam mengubah pola tanam menjadi kunci utama. Kecepatan perbaikan infrastruktur serta manajemen distribusi air yang presisi diharapkan mampu menyelamatkan sektor pertanian Kota Tasikmalaya dari hantu gagal tanam.

(Abdul Latif)

Gibas dan Apache Datangi BPKPD Kota Banjar, Perjuangkan Hak Ahli Waris Dua Korban Tower

0
BANJAR, FOKUSJabar.id
Caption: Gibas dan Apache datangi BPKPD Kota Banjar. (Agus Purwadi/fokusjabar.id)

BANJAR,FOKUSJabar.id: Organisasi kemasyarakatan Gabungan Inisiatif Barisan Anak Siliwangi (Gibas) Kota Banjar bersama komunitas Apache, menggelar audiensi resmi dengan BPKPD Kota Banjar, Jawa Barat. Kedatangan mereka bertujuan untuk memperjuangkan hak kemanusiaan bagi ahli waris dari korban meninggal dunia akibat terjatuh dari sebuah menara telekomunikasi (tower).

Ketua Gibas Kota Banjar, Gintara Ginting, menjelaskan bahwa pihaknya mengambil langkah ini sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap keluarga almarhum. Ia menegaskan bahwa pertemuan ini berfokus utama pada pemenuhan seluruh hak yang seharusnya mengalir ke pihak ahli waris.

Baca Juga: Polemik Hajat Bumi Banjar Terjawab, Camat Akui Ada Miskomunikasi dengan Panitia

“Intinya kami datang ke dinas ini untuk memperjuangkan hak kemanusiaan yang menimpa keluarga atau rekan kami. Alhamdulillah, berkat komunikasi dan diskusi, kita tadi mendapatkan solusi terbaik agar pihak ahli waris mendapatkan hak-hak mereka,” ujar Gintara, Rabu (8/7/2026).

Saat awak media menanyakan perihal detail nilai kompensasi, Gintara enggan membeberkan secara spesifik mengenai nominal finansial tersebut. Menurut pandangannya, membicarakan angka di tengah situasi duka yang mendalam merupakan tindakan yang kurang etis.

Kendati demikian, ia memastikan kepala dinas terkait memegang komitmen penuh untuk mengakomodasi serta mengawal pemenuhan hak-hak tersebut.

“Kalau bicara finansial kan terlalu riskan karena ini musibah kecelakaan. Yang penting maksud dan tujuan kami datang ke sini sudah terpenuhi dan diakomodir oleh Pak Kadis. Masalah ini clear,” tambahnya mempertegas situasi.

Dalam kesempatan yang sama, Gintara membeberkan bahwa musibah kecelakaan kerja tersebut sebenarnya menelan dua korban jiwa. Satu korban berasal dari daerah Purwaraja dan satu korban lainnya merupakan warga wilayah Pataruman. Melalui gerakan advokasi ini, Gibas Kota Banjar berharap otoritas terkait mampu menyelesaikan hak-hak kedua korban dengan seadil-adilnya.

Pemerintah Siapkan Dana Santunan Pengganti BPJS

Secara terpisah, Pemerintah Kota Banjar melalui Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah (BPKPD) menegaskan komitmen kuat untuk mengawal seluruh hak bagi warga yang terdampak insiden di wilayah kerjanya. Kepala BPKPD Kota Banjar, Ian Rakhmawan, menyampaikan langsung komitmen tersebut.

Ian menjelaskan bahwa sejak awal bergulirnya kasus, pemerintah daerah terus berupaya mencari titik temu terbaik demi memastikan hak-hak prioritas bagi korban dapat terpenuhi secara maksimal. Sinergi antara pemerintah dan perwakilan warga kini telah membuahkan hasil yang positif.

Ia menyebut, bagi pekerja atau warga terdampak yang belum terakomodasi oleh fasilitas BPJS Ketenagakerjaan, BPKPD Kota Banjar tengah mengupayakan pemberian dana santunan atau uang duka khusus dengan nilai yang setara.

Selain mengurus hak finansial, kedua belah pihak juga menyepakati agenda keagamaan berupa doa bersama atau tahlilan di sekitar lokasi Tempat Kejadian Perkara (TKP) pada malam Jumat mendatang.

Ian Rakhmawan menyatakan bahwa seluruh rangkaian proses ini merepresentasikan bentuk kepedulian sosial serta tanggung jawab moral pemerintah terhadap keselamatan warganya.

“Alhamdulillah pada prinsipnya kita berupaya dari awal pun untuk memperjuangkan hak-hak yang bersangkutan. Jadi pada akhirnya memang ada titik temu semuanya bahwa hak-haknya akan diperjuangkan dengan prioritas. Nah itu yang tidak masuk ke BPJS Ketenagakerjaan, kita upayakan untuk setara. Bagaimanapun kan masyarakat kita juga,” pungkas Ian menutup penjelasan.

(Agus Purwadi)

2 Hektare Lahan Terbakar di Ciamis, Api Nyaris Capai SMPN 2 Banjarsari

0
CIAMIS, FOKUSJabar.id
Ketfot: Istimewa

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Kebakaran hebat melanda lahan kosong seluas kurang lebih dua hektare di belakang SMPN 2 Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Rabu (8/7/2026) siang. Kobaran api yang melalap hamparan ilalang kering tersebut sempat membesar akibat embusan angin kencang hingga mengancam keselamatan bangunan sekolah di dekatnya.

Saksi mata pertama kali melihat kepulan asap dan api sekitar pukul 13.05 WIB. Saat itu, petugas keamanan SMPN 2 Banjarsari, Dede Priatna (26), yang sedang berjaga mendengar beberapa kali suara letupan keras dari arah belakang sekolah. Ketika memeriksa sumber suara, ia mendapati api sudah membakar ilalang kering dan terus meluas secara cepat.

Baca Juga: Balita 2 Tahun di Ciamis Alami Insiden Unik, Kepalanya Terjebak Kaleng Biskuit

Menyadari kobaran api kian membesar dan membahayakan lingkungan sekolah, Dede segera menghubungi Pos Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) Banjarsari. Petugas menerima laporan darurat tersebut pada pukul 13.10 WIB dan langsung meresponsnya dengan mengerahkan satu unit mobil pancar ke lokasi kejadian.

Kepala Bidang Damkar dan Penyelamatan Satpol PP Kabupaten Ciamis, Budi Rahmat, menjelaskan bahwa timnya tiba di lokasi sekitar pukul 13.20 WIB dan langsung melancarkan aksi pemadaman. Petugas memprioritaskan lokalisir area guna menghentikan laju api yang terus bergerak menuju area belakang sekolah.

“Kondisi angin saat itu cukup kencang sehingga kobaran api cepat membesar. Petugas langsung melakukan pemadaman dan mengisolasi titik api agar tidak merembet ke bangunan sekolah maupun lahan lainnya,” ujar Budi Rahmat, Rabu (8/7/2026).

Petugas Buat Jalur Penyekat Guna Jinakkan Api

Tim pemadam harus bekerja ekstra keras karena api menyebar cepat di area yang penuh dengan vegetasi kering. Selain menyemprotkan air ke titik-titik api utama, petugas juga membuat jalur pemutus fisik agar kobaran tidak terus meluas mengikuti arah angin.

Setelah berhasil mengendalikan amukan api, personel Damkar segera menyisir seluruh area yang terbakar. Langkah ini bertujuan untuk memastikan tidak ada bara api tersembunyi yang masih tersisa, sekaligus mengantisipasi munculnya kebakaran susulan.

Berdasarkan hasil pendataan terakhir di lapangan, kebakaran tersebut menghanguskan lahan seluas sekitar dua hektare. Meski melahap area yang cukup luas, insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan fisik pada bangunan SMPN 2 Banjarsari.

Budi Rahmat menduga kuat bahwa aktivitas pembakaran ilalang yang pelaku tinggalkan tanpa pengawasan menjadi pemicu utama kebakaran ini. Hantaman musim kemarau membuat vegetasi di lokasi menjadi sangat kering sehingga api dengan mudah menjalar.

“Diduga ada pembakaran ilalang yang ditinggalkan. Dengan cuaca kering dan angin yang bertiup cukup kencang, api cepat merambat hingga membakar lahan yang lebih luas,” katanya mengurai kronologi penyebab.

Damkar Imbau Warga Waspada Musim Kemarau

Di samping memadamkan api, petugas juga memanfaatkan momen tersebut untuk mengimbau masyarakat luas agar tidak membakar lahan secara sembarangan atau membuang puntung rokok selama musim kemarau.

Pihak Damkar meminta warga untuk segera melaporkan setiap temuan titik api sekecil apa pun. Tujuannya agar petugas bisa melakukan penanganan lebih dini dan mencegah dampak yang lebih luas.

Aksi pemadaman ini melibatkan kerja keras dari personel Pos WMK Banjarsari. Yakni Dikri Nur Dena Tama, Nana Juliana, Nurholis, dan Uju Suparman. Tim ini juga mendapat dukungan penuh dari personel Polsek Banjarsari, anggota Tagana, serta warga sekitar.

Setelah memastikan seluruh titik api benar-benar padam sekitar pukul 15.00 WIB, petugas menyatakan situasi telah aman. Seluruh personel kemudian menarik diri dan kembali ke pos untuk melanjutkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana selama musim kemarau.

(Mia)

Jual Perhiasan dan Berutang, Pendiri SLBN Widi Asih Pangandaran Perjuangkan Dana Lahan Sejak 2004

0
Pangandaran, FOKUSjabar.id
Foto: Cicih Sukarsih (64) menunjukkan dokumen Sekolah Luar Biasa Negeri atau SLBN

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Pendiri Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Widi Asih, Cicih Sukarsih (64), mengaku masih terus memperjuangkan penggantian biaya pembelian lahan sekolah. Ia telah menalangi dana pembangunan fasilitas pendidikan tersebut menggunakan uang pribadinya sejak lebih dari 20 tahun lalu.

Cicih menceritakan, situasi saat itu memaksanya menggunakan dana pribadi hasil meminjam uang dan menjual perhiasan. Langkah nekat ini ia ambil setelah menerima arahan dari pejabat terkait untuk segera mengamankan lahan, sembari menunggu kucuran anggaran resmi dari pemerintah.

Baca Juga: Sejak 1996, Cicih Sukarsih Wujudkan Mimpi Pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Pangandaran

Persoalan pelik ini bermula pada tahun 2003, yaitu saat SDLB Negeri Widi Asih berganti status kelembagaan menjadi SLBN Widi Asih. Perubahan status ini otomatis menuntut sekolah memiliki area lahan yang lebih luas guna memfasilitasi program pengembangan.

Cicih menuturkan, sejumlah pejabat Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat sempat meninjau langsung kondisi sekolah pada masa itu. Tim peninjau menilai bahwa SLBN Widi Asih membutuhkan area tanah yang jauh lebih memadai.

“Pokoknya beli aja dulu sama kita. Nanti kita anggarkan tahun depan supaya bisa dibayar sama pemerintah,” kata Cicih menirukan kembali ucapan instruksi yang ia terima saat itu, Rabu (8/7/2026).

Isu Bocor ke Tuan Tanah, Cicih Bayar Lahan Sambil Menangis

Sayangnya, informasi mengenai rencana pembebasan lahan tersebut bocor ke telinga pemilik tanah. Pemilik lahan kemudian mendatangi Cicih untuk menagih kepastian pembayaran karena mengira anggaran dari pemerintah sudah cair ke rekening sekolah.

Lantaran khawatir pemilik akan menjual lahan strategis tersebut kepada pihak lain, Cicih akhirnya memutuskan untuk menebus tanah itu menggunakan dana pribadinya sendiri.

“Saya bayar sampai nangis-nangis. ‘Pak, saya punya uang cuma segini’,” kenang Cicih mengurai momen emosional tersebut.

Berdasarkan bundelan dokumen yang ia tunjukkan, Cicih menggelar pembayaran tahap pertama pada 14 April 2004 untuk mengamankan lahan seluas kurang lebih 700 meter persegi. Memasuki tahun 2006, ia kembali melunasi sebagian lahan yang tersisa karena adanya pembagian hak waris dari keluarga pemilik tanah.

Masalah kemudian memuncak pada Oktober 2010 saat pemilik tanah menetapkan batas waktu pelunasan terakhir. Hasil pengukuran ulang menunjukkan bahwa total luas lahan ternyata mencapai 1.309 meter persegi. Sementara itu, Cicih menerima informasi bahwa pemerintah hanya bersedia membayar area seluas 1.000 meter persegi.

Demi mengejar tenggat waktu yang kian mepet, Cicih kembali memutar otak dan meminjam dana ke berbagai pihak agar proses pembayaran selesai tepat waktu.

Menginap di Masjid Disdik Jabar Demi Temui Pejabat

Pemerintah Provinsi Jawa Barat baru mencairkan dana penggantian untuk lahan seluas 1.000 meter persegi tersebut pada Februari 2011. Namun, Cicih menegaskan bahwa nilai pencairan tersebut belum mampu menutupi total biaya riil yang sudah ia gelontorkan dari dompet pribadinya.

Sejak saat itu, Cicih tidak pernah berhenti mengirimkan surat permohonan penyelesaian kepada Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Ia tercatat memperbarui usulan pada 2015, melengkapi dokumen pada 2016, mengirim berkas melalui KCD pada 2019, serta mengajukannya lagi pada 2021 dan 2022 melalui perantara kepala sekolah.

Selama memperjuangkan haknya, wanita paruh baya ini sudah tidak terhitung berapa kali bolak-balik menempuh rute Pangandaran–Bandung. Demi menghemat ongkos perjalanan, ia kerap bermalam di emperan Terminal Cicaheum maupun di dalam Masjid Baitussholihin yang berada di lingkungan Kantor Dinas Pendidikan Jabar.

“Saya sering nginep di Terminal Cicaheum, kadang di Masjid Baitussholihin Dinas Pendidikan supaya besoknya bisa ketemu pejabat,” tuturnya lirih.

Hingga hari ini, Cicih masih menyimpan rapi seluruh bukti otentik, mulai dari surat permohonan resmi, lembar hasil pengukuran topografi, surat perjanjian, hingga kwitansi pembayaran bermaterai.

Ia sangat berharap Pemerintah Provinsi Jawa Barat tergerak hati untuk segera memberikan dana penggantian yang layak dan adil, sesuai dengan berkas pengajuan yang telah ia kawal selama lebih dari dua dekade ini.

(Sajidin)

Balita 2 Tahun di Ciamis Alami Insiden Unik, Kepalanya Terjebak Kaleng Biskuit

0
CIAMIS, FOKUSJabar.id
Ketpot istimewa : Personel Damkar UPTD Ciamis saat berjibaku melepas kaleng biskuit dari kepala bocil

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Momen bermain santai di dalam rumah seketika berubah menjadi kepanikan luar biasa bagi keluarga seorang balita di Kabupaten Ciamis. Kepala Naima Nurarafah (2), warga Dusun Puncak Asih, RT 001 RW 016, Desa Cisadap, Kecamatan Ciamis, masuk dan tersangkut di dalam kaleng biskuit kosong. Pihak keluarga akhirnya memanggil petugas UPTD Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Ciamis untuk melakukan evakuasi, Selasa (7/7/2026) malam.

Insiden menegangkan itu bermula saat Naima memainkan sebuah kaleng biskuit kosong yang tergeletak di rumahnya. Pada awalnya, ia sempat memasang dan melepas wadah seng tersebut dari kepalanya tanpa kendala. Namun, saat ia mengulangi tindakan itu, kaleng justru menjepit kuat dan tidak mau lepas lagi.

Baca Juga: Jelang Masuk Sekolah, Pasar Manis Ciamis Dipenuhi Orang Tua Berburu Seragam Baru

Ibu korban, Riska (44), mengaku sudah mengerahkan berbagai cara untuk melepaskan kaleng tersebut dari kepala putrinya. Ia bahkan nekat menggunakan gunting untuk memotong bagian atas kaleng, namun upaya mandiri tersebut menemui jalan buntu.

“Awalnya saya kira bisa keluar sendiri. Sudah dicoba digunting juga tetap tidak berhasil. Akhirnya saya meminta bantuan Damkar setelah mendapat nomor teleponnya dari tetangga,” ujar Riska menceritakan kepanikannya.

Mako Damkar Kabupaten Ciamis menerima laporan darurat tersebut sekitar pukul 20.58 WIB. Merespons informasi darurat ini, tim yang sedang piket bersiaga langsung mengemas peralatan rescue dan meluncur ke lokasi kejadian guna menyelamatkan sang balita.

Petugas Damkar Ciamis, Seprinda, menjelaskan bahwa timnya semula berencana memotong kaleng biskuit itu menggunakan mesin gerinda mini. Namun, melihat korban yang masih berusia dua tahun terus menangis dan bergerak aktif, tim rescue menilai metode tersebut memuat risiko cedera yang sangat tinggi.

“Karena anak masih kecil dan terus bergerak, kami khawatir penggunaan gerinda justru membahayakan. Akhirnya kami memilih menggunakan gunting dan memotong kaleng secara perlahan hingga berhasil dilepaskan,” kata Seprinda merinci strategi penyelamatan timnya.

Tim rescue membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk menuntaskan proses evakuasi tersebut. Selama tindakan penyelamatan berlangsung, para petugas menempatkan aspek keselamatan jiwa korban sebagai prioritas utama agar tidak memicu luka baru akibat gesekan seng.

Kasus Unik Pertama UPTD Damkar Ciamis

Seprinda mengakui, insiden tersebut menorehkan pengalaman baru bagi UPTD Damkar Kabupaten Ciamis dalam hal penanganan kedaruratan non-kebakaran yang melibatkan kepala balita terperangkap kaleng makanan.

“Kasus seperti ini baru pertama kali kami tangani. Memang kami sering menerima laporan penyelamatan non-kebakaran, tetapi untuk kepala balita yang tersangkut kaleng biskuit baru kali ini,” ungkap Seprinda jujur.

Riska menceritakan bahwa putrinya sempat menangis histeris karena merasakan sakit akibat jepitan kaleng yang tak kunjung terlepas. Tekanan pinggiran kaleng yang keras juga sempat menyisakan bekas memar kemerahan di kulit kepala Naima.

Meski demikian, Riska merasa sangat lega dan bersyukur karena seluruh proses evakuasi berjalan lancar tanpa menimbulkan cedera fisik pada buah hatinya.

“Alhamdulillah tidak ada goresan dari proses evakuasi. Hanya bekas tekanan kaleng saja yang membuat kulitnya sempat merah,” ucap Riska penuh rasa syukur.

Peristiwa dramatis ini menjadi alarm pengingat berharga bagi para orang tua agar memperketat pengawasan saat anak-anak bermain di area rumah. Walau terkesan sepele, benda-benda rumah tangga seperti kaleng bekas menyimpan potensi bahaya fatal jika anak-anak memainkannya tanpa kontrol orang dewasa.

(Mia/Husen Maharaja)

Jelang Masuk Sekolah, Pasar Manis Ciamis Dipenuhi Orang Tua Berburu Seragam Baru

0
CIAMIS, FOKUSJabar.id
Ketpot: Seorang ibu saat mencoba seragam baru untuk anaknya di kios pedagang baju seragam Pasar Manis Ciamis

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Sejumlah pedagang seragam sekolah untuk tingkat SD, SMP, hingga SMA di Pasar Manis Ciamis, Jawa Barat, menikmati berkah lonjakan pembeli dalam beberapa hari terakhir.

Masyarakat mulai memadati pasar tradisional tersebut lantaran masa libur sekolah segera berakhir dan tahun ajaran baru 2026/2027 akan segera bergulir dalam waktu dekat.

Baca Juga: Harga Buncis Naik Hampir 100 Persen, Cabai Merah Tembus Rp80.000 per Kg di Ciamis

Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, para ibu tampak mendominasi kerumunan di sejumlah kios pakaian seragam sekolah. Mereka sengaja mengajak anak-anak mereka agar bisa memilih dan membeli seragam yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Anak-anak sekolah itu pun memperlihatkan wajah sumringah saat orang tua mereka membelikan baju baru. Mereka langsung mencocokkan ukuran seragam tersebut ke badan masing-masing agar pakaian itu tidak kesempitan ataupun kelonggaran saat mereka gunakan ke sekolah nanti.

“Anak saya naik kelas dan ingin ganti seragam karena yang tahun kemarin sudah sempit,” kata salah seorang orang tua siswa, Neneng, Rabu (8/7/2026).

Neneng menambahkan, ia sengaja meluangkan waktu khusus untuk berburu pakaian sekolah. Di samping membelikan seragam baru untuk buah hatinya, ia juga memanfaatkan momen tersebut untuk melengkapi seluruh kebutuhan belajar sang anak.

“Selain membeli seragam sekalian juga membeli peralatan sekolah lainnya seperti buku, pencil dan balpoint serta sepatu,” ucap Neneng.

Pedagang Bersyukur Omzet Penjualan Meningkat

Momen pergantian tahun ajaran baru ini tentu menjadi angin segar bagi para pelaku usaha pakaian. Salah seorang pedagang seragam sekolah di Pasar Manis Ciamis, Heri, mengaku sangat bersyukur atas kehadiran musim panen pembeli ini.

Kedatangan tahun ajaran baru secara otomatis mendongkrak omzet penjualan harian di tokonya secara signifikan jika kita bandingkan dengan hari-hari biasa.

“Alhamdulillah dalam beberapa waktu terakhir ini dagangan kami cukup banyak pembeli nya,” ungkap Heri.

(Husen Maharaja)

Sejak 1996, Cicih Sukarsih Wujudkan Mimpi Pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Pangandaran

0
Pangandaran, FOKUSJabar.id
Poto: Cicih Sukarsih (64)

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Rasa prihatin mendalam saat melihat anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak memiliki akses pendidikan mendorong Cicih Sukarsih (64) untuk merintis Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Widiasih di Desa Bojong, Kecamatan Parigi. Sekolah tersebut kini masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Pangandaran.

Mengawali perjuangan dengan 11 orang siswa dan mengajar seorang diri pada tahun 1996, lembaga pendidikan tersebut kini berkembang pesat menjadi SLB Negeri Widiasih. Hingga saat ini, sekolah ini masih menjadi satu-satunya penyedia layanan pendidikan khusus di wilayah pesisir selatan Pangandaran.

Baca Juga: Absensi ASN Pangandaran Kini Pakai Geofencing, Fake GPS Berhasil Diblokir

Cicih menuturkan, gagasan mulia untuk mendirikan sekolah ini muncul saat ia masih bertugas aktif sebagai guru di SDLB Negeri Soreang, Kabupaten Bandung. Setiap kali pulang ke kampung halaman suaminya di Desa Bojong, ia kerap menyaksikan anak-anak berkebutuhan khusus berkeliaran di jalanan tanpa mengenyam bangku sekolah.

“Kalau pulang kampung saya sering melihat anak-anak luar biasa masih berkeliaran. Dari Banjar sampai sini belum ada sekolah luar biasa,” ujarnya mengenang situasi masa lalu, Rabu (8/7/2026).

Keinginan kuat untuk menolong anak-anak tersebut membuat Cicih bergerak cepat. Ia langsung berkonsultasi dengan kepala sekolah tempatnya mengajar, lalu mencatat seluruh tahapan dan persyaratan administratif untuk mendirikan sebuah sekolah baru.

Pada tahun 1995, Cicih bersama rekan sejawatnya mendirikan Yayasan Widiasih melalui akta notaris resmi di Kabupaten Ciamis. Saat itu, layanan jasa notaris belum tersedia di wilayah Banjar maupun Pangandaran.

Setelah melengkapi seluruh berkas persyaratan dan mengantongi rekomendasi dari sejumlah instansi terkait, SDLB Widiasih resmi menerima Surat Keputusan (SK) operasional sebagai sekolah swasta pada tahun 1996. Pemerintah desa setempat kemudian memberikan bantuan berupa satu ruang kelas untuk memfasilitasi kegiatan belajar mengajar.

Sebanyak 11 siswa dengan berbagai variasi kebutuhan khusus mulai aktif belajar di sana. Mereka terdiri dari penyandang tunanetra, tunarungu, tunagrahita, hingga tunalaras.

Urus Makan, Pakaian, hingga Mandikan Murid Seorang Diri

Di tengah keterbatasan jumlah guru dan fasilitas penunjang, Cicih harus memikul semua beban kegiatan operasional seorang diri. Ia bertindak sebagai pengajar sekaligus pengasuh yang merawat, memandikan, mencuci pakaian, hingga menyiapkan makanan bagi para murid yang tinggal menumpang di rumah pribadinya.

“Saya yang mengurus semuanya. Anak-anak tinggal di rumah, saya mandikan, saya siapkan makan, saya cuci pakaiannya, kemudian saya ajar di sekolah,” tutur Cicih menggambarkan keikhlasannya.

Cicih menjalani rutinitas melelahkan tersebut selama bertahun-tahun. Ia biasanya baru bisa menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga sekitar pukul 12 malam. Kemudian, saat subuh tiba, ia sudah harus terbangun kembali demi menyiapkan sarapan bagi anak-anak asuhnya.

Perjuangan tanpa lelah Cicih akhirnya memantik perhatian besar dari Pemerintah Kabupaten Ciamis. Melihat kebutuhan masyarakat yang terus melonjak, Pemkab Ciamis mengajukan usulan agar SDLB Widiasih berubah status dari sekolah swasta menjadi sekolah negeri. Pemerintah Provinsi Jawa Barat kemudian menyetujui usulan tersebut.

Pasca-berubah status menjadi sekolah negeri, lembaga ini mulai menerima kucuran dukungan anggaran untuk pembangunan gedung baru serta penambahan tenaga pendidik. Cicih juga proaktif mengusulkan pemenuhan kebutuhan guru, hingga akhirnya sejumlah lulusan SGPLB menempati pos baru di SDLB Widiasih.

Pada tahun 2003, dinas terkait melakukan penataan kelembagaan secara massal. Otoritas mengubah seluruh nomenklatur SDLB negeri di Jawa Barat menjadi SLB. Sejak momen transformasi tersebut, SDLB Negeri Widiasih resmi berganti nama menjadi SLB Negeri Widiasih.

“Bagi saya, perubahan status itu bagian dari perkembangan layanan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang sejak awal menjadi cita-cita,” pungkas Cicih.

(Sajidin)