spot_imgspot_img
Rabu 8 Juli 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sejak 1996, Cicih Sukarsih Wujudkan Mimpi Pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Pangandaran

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Rasa prihatin mendalam saat melihat anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak memiliki akses pendidikan mendorong Cicih Sukarsih (64) untuk merintis Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Widiasih di Desa Bojong, Kecamatan Parigi. Sekolah tersebut kini masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Pangandaran.

Mengawali perjuangan dengan 11 orang siswa dan mengajar seorang diri pada tahun 1996, lembaga pendidikan tersebut kini berkembang pesat menjadi SLB Negeri Widiasih. Hingga saat ini, sekolah ini masih menjadi satu-satunya penyedia layanan pendidikan khusus di wilayah pesisir selatan Pangandaran.

Baca Juga: Absensi ASN Pangandaran Kini Pakai Geofencing, Fake GPS Berhasil Diblokir

Cicih menuturkan, gagasan mulia untuk mendirikan sekolah ini muncul saat ia masih bertugas aktif sebagai guru di SDLB Negeri Soreang, Kabupaten Bandung. Setiap kali pulang ke kampung halaman suaminya di Desa Bojong, ia kerap menyaksikan anak-anak berkebutuhan khusus berkeliaran di jalanan tanpa mengenyam bangku sekolah.

“Kalau pulang kampung saya sering melihat anak-anak luar biasa masih berkeliaran. Dari Banjar sampai sini belum ada sekolah luar biasa,” ujarnya mengenang situasi masa lalu, Rabu (8/7/2026).

Keinginan kuat untuk menolong anak-anak tersebut membuat Cicih bergerak cepat. Ia langsung berkonsultasi dengan kepala sekolah tempatnya mengajar, lalu mencatat seluruh tahapan dan persyaratan administratif untuk mendirikan sebuah sekolah baru.

Pada tahun 1995, Cicih bersama rekan sejawatnya mendirikan Yayasan Widiasih melalui akta notaris resmi di Kabupaten Ciamis. Saat itu, layanan jasa notaris belum tersedia di wilayah Banjar maupun Pangandaran.

Setelah melengkapi seluruh berkas persyaratan dan mengantongi rekomendasi dari sejumlah instansi terkait, SDLB Widiasih resmi menerima Surat Keputusan (SK) operasional sebagai sekolah swasta pada tahun 1996. Pemerintah desa setempat kemudian memberikan bantuan berupa satu ruang kelas untuk memfasilitasi kegiatan belajar mengajar.

Sebanyak 11 siswa dengan berbagai variasi kebutuhan khusus mulai aktif belajar di sana. Mereka terdiri dari penyandang tunanetra, tunarungu, tunagrahita, hingga tunalaras.

Urus Makan, Pakaian, hingga Mandikan Murid Seorang Diri

Di tengah keterbatasan jumlah guru dan fasilitas penunjang, Cicih harus memikul semua beban kegiatan operasional seorang diri. Ia bertindak sebagai pengajar sekaligus pengasuh yang merawat, memandikan, mencuci pakaian, hingga menyiapkan makanan bagi para murid yang tinggal menumpang di rumah pribadinya.

“Saya yang mengurus semuanya. Anak-anak tinggal di rumah, saya mandikan, saya siapkan makan, saya cuci pakaiannya, kemudian saya ajar di sekolah,” tutur Cicih menggambarkan keikhlasannya.

Cicih menjalani rutinitas melelahkan tersebut selama bertahun-tahun. Ia biasanya baru bisa menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga sekitar pukul 12 malam. Kemudian, saat subuh tiba, ia sudah harus terbangun kembali demi menyiapkan sarapan bagi anak-anak asuhnya.

Perjuangan tanpa lelah Cicih akhirnya memantik perhatian besar dari Pemerintah Kabupaten Ciamis. Melihat kebutuhan masyarakat yang terus melonjak, Pemkab Ciamis mengajukan usulan agar SDLB Widiasih berubah status dari sekolah swasta menjadi sekolah negeri. Pemerintah Provinsi Jawa Barat kemudian menyetujui usulan tersebut.

Pasca-berubah status menjadi sekolah negeri, lembaga ini mulai menerima kucuran dukungan anggaran untuk pembangunan gedung baru serta penambahan tenaga pendidik. Cicih juga proaktif mengusulkan pemenuhan kebutuhan guru, hingga akhirnya sejumlah lulusan SGPLB menempati pos baru di SDLB Widiasih.

Pada tahun 2003, dinas terkait melakukan penataan kelembagaan secara massal. Otoritas mengubah seluruh nomenklatur SDLB negeri di Jawa Barat menjadi SLB. Sejak momen transformasi tersebut, SDLB Negeri Widiasih resmi berganti nama menjadi SLB Negeri Widiasih.

“Bagi saya, perubahan status itu bagian dari perkembangan layanan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang sejak awal menjadi cita-cita,” pungkas Cicih.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru