spot_imgspot_img
Sabtu 15 Agustus 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ketika Fiksi Rapijali Jadi Nyata, Pirman Menyusuri Batukaras hingga Sungai Cijulang Pangandaran

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Masyarakat kini tidak hanya menikmati Batukaras lewat pesona pantai dan ombaknya, tetapi juga melalui untaian kata dalam buku.

Pirman, seorang warga Kalipucang, membawa novel Rapijali karya Dee Lestari dan membacanya di sebuah kedai kopi pinggir Pantai Batukaras, Kabupaten Pangandaran, Sabtu (15/8/2026). Bagi Pirman, Batukaras di dalam novel bukan sekadar kisah fiksi, melainkan tempat nyata yang ingin ia jelajahi langsung.

Baca Juga: Bikin Candu! Keindahan Senja di Pantai Barat Pangandaran

Napak Tilas Jejak Ping dari Kalipucang ke Sungai Cijulang

Awal perjalanan Pirman bermula saat ia meminjam trilogi Rapijali dari Perpustakaan Daerah Pangandaran. Keterangan lokasi yang ditulis Dee Lestari memicu rasa penasarannya hingga ia memutuskan menyusuri jalan dari Kalipucang menuju Batukaras dan Sungai Cijulang.

Setibanya di lokasi, ia menemukan novel Rapijali terpajang di kedai kopi setempat.

“Rasanya beda. Yang tadinya cuma dibayangin dari tulisan, sekarang bisa lihat langsung sungainya, pantainya,” kata Pirman.

Menjelajah Lokasi Fiksi hingga Bertemu Pegiat Lokal

Petualangan Pirman berlanjut dengan mencocokkan berbagai lokasi lain dalam novel, seperti SMAN 1 Parigi hingga Hotel Kinari yang menjadi tempat usaha keluarga tokoh Ping.

Saat berada di Batukaras, Pirman menyempatkan diri berdiskusi dengan pegiat Batukaras Surf Festival untuk mengonfirmasi karakter dalam buku.

“Katanya ya bisa jadi memang nyata tokohnya, hanya diceritakan jadi fiksi. Tapi tempat-tempat lain dipastikan memang ada,” ujarnya.

Penelusuran tersebut mengungkapkan fakta bahwa Dee Lestari pernah menetap cukup lama di Batukaras, sehingga membangun ikatan emosional yang kuat antara penulis dan latar ceritanya.

Sejarah Panjang Manuskrip Rapijali hingga Adaptasi Netflix

Dee Lestari mengawali cikal bakal Rapijali lewat naskah berjudul Planet Ping saat berusia 17 tahun. Setelah mengendap selama 27 tahun, manuskrip tersebut akhirnya berkembang menjadi karya trilogi popular.

Kisah ini menyoroti kehidupan Lovinka Alexander alias Ping, remaja pesisir Batukaras yang bermusik sebelum merantau ke Jakarta. Sungai Cijulang dan Batukaras memegang peranan kunci dalam membentuk karakter utama tersebut.

Kini cerita Rapijali siap melangkah ke ranah audio-visual melalui adaptasi serial orisinal Netflix dengan Batukaras sebagai latar utamanya.

Kehadiran novel dan serial ini menawarkan cara baru bagi publik untuk mengenal Batukaras. Tempat ini tidak lagi sekadar terkenal lewat destinasi selancar, tetapi juga sebagai ruang tumbuh bagi seorang remaja yang mengejar mimpi musiknya.

Pirman menilai pengalaman mendatangi lokasi fisik memberikan cara pandang baru dalam menikmati karya sastra.

“Fiksi jadi terasa nyata. Batukaras yang di buku, sekarang ada di depan mata,” katanya.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru