MAJALENGKA, FOKUSJabar.id: Pengelolaan sampah dari rumah tangga menjadi salah satu upaya penting untuk mengurangi beban TPA di Kabupaten Majalengka Jawa Barat (Jabar).
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) mendorong seluruh desa mengaktifkan Bank Sampah agar masyarakat terbiasa memilah dan mengelola sampah sejak dari sumbernya.
BACA JUGA:
Balik Nama Sertifikat Tanah di Majalengka Ditargetkan Tuntas 10 Hari, Ini Skemanya
Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah pusat memperkuat pengelolaan sampah dari hulu ke hilir. Termasuk melalui pemilahan sampah rumah tangga dan pengembangan Bank Sampah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Majalengka, Wawan Sarwanto mengatakan, saat ini sudah di bentuk 343 Bank Sampah Unit (BSU) desa. Namun, baru sekitar 125 desa yang aktif melakukan penimbangan.
Pemkab Majalengka menargetkan seluruh desa mulai melakukan penimbangan sampah dan memiliki data aktivitas hingga akhir tahun ini.
“Target sebenarnya tahun ini harus sudah 343 desa mulai melakukan penimbangan. Minimal sampai akhir tahun ini sudah ada datanya,” ujar Wawan, Jumat (30/10/2026).
Menurutnya, pengembangan Bank Sampah di lakukan melalui inovasi Emas PKK.
Program tersebut mendorong setiap desa memiliki Bank Sampah dengan melibatkan kader PKK sebagai penggerak masyarakat.
DLH bersama Bank Sampah Induk juga menerapkan sistem jemput bola untuk menarik minat warga. Bahkan, Bank Sampah Induk di harapkan mampu bersaing dengan pengepul. Termasuk dalam menawarkan harga sampah.
Namun, upaya tersebut masih terkendala keterbatasan sarana dan tenaga pengelola. Saat ini, DLH baru memiliki satu kendaraan operasional untuk menjangkau 26 kecamatan.
“Kalau idealnya untuk menjangkau BSU desa di 26 kecamatan membutuhkan lebih dari 1 mobil operasional. Jadi, untuk 26 kecamatan di butuhkan operasional tambahan,” katanya kepada FOKUSJabar.
Selain armada, jumlah pengelola Bank Sampah dan petugas pendamping juga masih kurang dari 10 orang. Padahal, di butuhkan sedikitnya 5-10 orang untuk bekerja di lapangan.
BACA JUGA:
Viral Pengemudi Towing Diminta Pakai Dua Kartu di Tol Cipali, Pengelola Minta Maaf
Meski demikian, partisipasi masyarakat mulai tumbuh. Sejumlah desa bahkan memiliki puluhan nasabah Bank Sampah.
Bank Sampah Unit Desa Biyawak tercatat memiliki sekitar 90 nasabah, Bank Sampah Permata Labuan desa Pelabuhan, Sukahaji 40 orang nasabah, Desa Banjaran 40 orang, dan nasabah nasabah dari Bank Sampah Unit Desa lainnya.
Sampah yang di kumpulkan juga mulai memiliki nilai tambah. Selain botol dan gelas plastik yang di setorkan ke Bank Sampah Induk, sejumlah Bank Sampah Unit mengolah limbah kemasan menjadi kerajinan.
Di Kecamatan Cikijing, Bank Sampah Unit Desa Kasturi membuat bungkus kopi menjadi rompi dan topi. Sementara di Desa Banjaran, limbah kemasan diolah menjadi tikar. Galon bekas juga dimanfaatkan menjadi pot bunga.
Wawan menyebut, pengolahan sampah menjadi kerajinan tersebut sudah berjalan di sekitar 30 persen desa.
Sementara sampah organik didorong untuk diolah menjadi kompos atau dimanfaatkan bagi kebutuhan pertanian dan peternakan.
Menurut Wawan, tujuan utama program ini bukan sekadar memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat, tetapi membangun kebiasaan mengelola sampah agar tidak berakhir di lingkungan maupun TPA.
BACA JUGA:
Jadi Sorotan, Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Majalengka
“Tujuan sebenarnya yaitu untuk mengurangi sampah yang masuk ke TPA. Diharapkan sampah sudah beres di rumah masing-masing, sudah beres dari sumbernya langsung,” ungkapnya.
Ia berharap, Bank Sampah dapat memberikan dua manfaat sekaligus, yakni mengurangi pencemaran lingkungan dan menambah penghasilan masyarakat.
“Selain warga dapat uang, sampah berkurang dari lingkungan,” pungkasnya.
(Jilly Ortega)



