spot_imgspot_img
Kamis 8 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Terpanjang di Indonesia, Yuk Intip Kondisi Terowongan Wilhelmina Pangandaran

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Terowongan Wilhelmina di Dusun Cimandala, Desa Pamotan Kecamatan Kalipucang Kabupaten Pangandaran Jawa Barat (Jabar) masih berdiri kokoh setelah lebih dari satu abad di bangun.

Bangunan peninggalan kolonial Belanda itu menjadi salah satu jejak sejarah jalur kereta api Banjar-Cijulang yang masih dapat di temui hingga kini.

‎BACA JUGA:

Bupati Pangandaran Luruskan Isu Pengumpulan Infak Milangkala Ke-14

‎Pantauan di lokasi, Kamis (8/10/2026), struktur beton terowongan masih terlihat utuh. Warna permukaannya memang telah memudar, tetapi bagian utama bangunan masih tampak kokoh.

‎Dari mulut terowongan, udara terasa sejuk. Semakin masuk ke dalam, suasana berubah menjadi gelap dan lembap.

‎Genangan air terlihat di sejumlah bagian lantai. Sementara itu, permukaan tanah dan beton mulai di tumbuhi lumut.

Di ujung lorong yang gelap, terlihat titik cahaya putih yang menandakan bagian akhir terowongan. Terowongan Wilhelmina memiliki panjang sekitar 1.127 meter.

‎Namun, rel kereta api yang dahulu membentang di dalam terowongan sudah tidak lagi terlihat. Yang tersisa hanyalah lantai tanah dan beton yang lembap.

‎Pada bagian kanan mulut terowongan, masih terdapat tulisan yang berkaitan dengan bangunan tersebut. Tulisan itu kini sulit di kenali karena tertutup lumut dan catnya telah memudar.

‎Pepohonan juga tumbuh di atas bebatuan di sekitar bagian atas terowongan. Akar-akar pohon menjuntai di sekitar mulut terowongan yang menyatu dengan alam.

‎Untuk mencapai lokasi, perjalanan dari permukiman warga sekitar 1 kilometer. Akses menuju terowongan harus di tempuh menggunakan sepeda motor. Kemudian di lanjutkan dengan berjalan kaki melewati kebun warga.

Warga sekitar, Wawan mengatakan, bagian dalam Terowongan Wilhelmina masih dapat di lalui. Namun, kondisi gelap dan adanya genangan air membuat warga harus berhati-hati.

‎”Sebenarnya bisa di lalui, tapi kita harus hati-hati soalnya ada genangan air dan gelap,” ujar Wawan.

BACA JUGA:

Bupati Pangandaran Bantah Anggaran Milangkala ke-14 Rp2 M

‎Menurutnya, kondisi tersebut membuat tidak banyak warga yang masuk hingga bagian dalam terowongan.

‎Terowongan Wilhelmina merupakan bagian dari jalur kereta api Banjar-Cijulang yang di bangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Pembangunan terowongan di mulai pada 1913 dan di perkirakan selesai sekitar 1916.

‎Dengan panjang mencapai 1.127 meter, Terowongan Wilhelmina di kenal sebagai terowongan kereta api terpanjang di Indonesia.

‎Pada masa operasionalnya, jalur kereta api Banjar-Cijulang memiliki peran penting bagi masyarakat. Kereta api tidak hanya di gunakan untuk mobilitas, tetapi juga mengangkut hasil bumi dari Pangandaran dan wilayah sekitarnya.

Namun, perjalanan kereta di jalur tersebut akhirnya berhenti pada 1982. Salah satu peristiwa yang kemudian berdampak terhadap jalur tersebut adalah erupsi Gunung Galunggung.

Sejak saat itu, jalur kereta api Banjar-Cijulang tidak lagi beroperasi. Rel yang dahulu menjadi bagian dari aktivitas transportasi masyarakat pun perlahan hilang.

‎Kini, Terowongan Wilhelmina menjadi salah satu peninggalan yang masih menyimpan jejak perjalanan panjang jalur kereta api Banjar-Cijulang.

Di tengah rencana reaktivasi jalur tersebut, terowongan sepanjang lebih dari satu kilometer ini kembali menjadi bagian penting dari pembicaraan mengenai masa depan jalur kereta api Banjar-Cijulang.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru