spot_imgspot_img
Kamis 8 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

‎Kenangan Indah Jejak Kejayaan Terowongan Wilhelmin Pangandaran

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Suara kereta yang melintas kini hanya tinggal kenangan bagi warga di sekitar Terowongan Wilhelmina, Dusun Cimandala, Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

‎Bagi warga yang pernah tumbuh di sekitar jalur kereta api Banjar-Cijulang, terowongan sepanjang 1.127 meter itu bukan sekadar bangunan tua melainkan peninggalan masa lalu.

‎BACA JUGA:

Terpanjang di Indonesia, Yuk Intip Kondisi Terowongan Wilhelmina Pangandaran

‎Di tempat itulah mereka pernah melihat kereta melintas, bermain bersama teman saat masih sekolah hingga menyaksikan aktivitas masyarakat yang bergantung pada jalur kereta api.

Warga sekitar, Wawan masih mengingat masa ketika kereta api menjadi bagian dari kesehariannya.

‎Ia mengaku, beberapa kali di ajak orang tuanya melihat kereta melintas. Ingatan tentang kereta diesel yang menjadi bagian dari masa akhir operasional jalur tersebut pun masih tersimpan.

‎”Saya masih ingat. Sering di ajak orang tua lihat kereta lewat,” ujar Wawan di temui di sekitar Terowongan Wilhelmina, Kamis (8/10/2026).

‎Kini, pemandangan itu sudah tidak ada. Rel kereta api yang dahulu membentang di dalam terowongan telah hilang. Yang tersisa hanya lorong beton sepanjang lebih dari satu kilometer.

‎Warga masih bisa masuk ke dalam terowongan. Namun, kondisi saat ini membuat mereka harus berhati-hati.

‎Genangan air memenuhi sebagian jalur di dalam terowongan. Dalam kondisi seperti sekarang, kendaraan tidak bisa melintas.

‎”Untuk sementara tidak bisa. Ada genangan air. Menunggu air surut mungkin,” katanya.

‎Bagi warga, Terowongan Wilhelmina juga menyimpan kenangan masa kanak-kanak.

‎Dulu, kawasan terowongan kerap menjadi tempat bermain bersama teman-teman. Terutama ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.

‎Kini, suasananya jauh berbeda. Tidak ada lagi kereta yang keluar-masuk terowongan. Tidak ada suara roda besi yang bergesekan dengan rel.

‎BACA JUGA:

Jalan Pasirgeulis Akses Pangandaran-Ciamis Belasan Tahun Rusak

‎Hanya ada udara lembap, genangan air, lumut dan lorong gelap yang mengarah ke titik cahaya di kejauhan.

‎Meski begitu, warga masih menganggap bangunan tersebut memiliki nilai sejarah yang kuat.

‎Struktur beton terowongan di nilai masih kokoh meski telah berusia lebih dari satu abad.

‎”Menurut saya masih bagus, kokoh,” ujarnya.

‎Kenangan warga tidak hanya tertuju pada kereta. Setiap stasiun di sepanjang jalur Banjar-Cijulang dahulu memiliki cerita dan makanan khas yang melekat di ingatan masyarakat.

‎Di Stasiun Kalipucang misalnya, warga masih mengingat pedagang yang menjajakan rempeyek udang dan sate totok kepada penumpang.

‎Sementara kawasan Padaherang juga memiliki panganan yang di kenang warga, seperti sale pisang.

‎Bagi masyarakat, keberadaan kereta api dahulu ikut menghidupkan aktivitas ekonomi di sekitar stasiun.

‎Kereta bukan hanya alat transportasi. Kedatangannya juga membawa keramaian dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga.

‎Kereta api akhirnya berhenti beroperasi sekitar tahun 1982 setelah Gunung Galunggung meletus.

‎Puluhan tahun kemudian, kenangan itu masih hidup di tengah masyarakat.

‎Warga berharap, jalur kereta api Banjar-Pangandaran-Cijulang suatu hari dapat kembali di aktifkan.

‎Harapan itu bukan semata karena ingin melihat kereta kembali melintas. Bagi warga, reaktivasi juga dapat menghidupkan kembali kawasan yang selama ini hanya menjadi jejak sejarah.

Terowongan Wilhelmina sendiri masih berdiri. Relnya memang telah hilang. Namun bagi warga yang pernah melihat kereta melintas di sana, suara dan kenangannya seolah belum benar-benar pergi.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru