GARUT, FOKUSJabar.id: Wakil Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra) Bidang Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan (OKK), Ade Husna mengatakan, perjuangan pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Garut Utara telah memasuki fase strategis.
Setelah melalui perjalanan panjang sejak tahun 2012, berbagai tahapan yang selama ini di anggap paling mendasar dan paling sulit telah berhasil di lalui melalui konsistensi PM Gatra bersama seluruh elemen masyarakat.
BACA JUGA:
Deden Sopian: Garut Utara Jangan jadi Penonton di Rumah Sendiri
Menurutnya, dukungan politik melalui keputusan DPRD dan Pemerintah Kabupaten Garut, DPRD dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, hasil Musyawarah Desa serta hasil kajian Kapasitas Daerah (Kapasda) yang menyatakan sangat layak DOB merupakan capaian besar yang tidak dapat di pandang ringan. Bagaimana tidak, perjuangan konstitusional telah berhasil mengantarkan Garut Utara sampai pada gerbang nasional.
Memasuki tahapan berikutnya, perjuangan tidak lagi hanya berbicara mengenai pemenuhan aspek legal dan administratif semata.
Fase sekarang menuntut penguatan dari berbagai aspek. Terutama aspek politik, ekonomi, kesiapan daerah serta pembangunan kepercayaan pemerintah pusat terhadap kesiapan Garut Utara sebagai CDOB
Pada titik inilah dunia politik dan dunia usaha menjadi dua kekuatan yang sangat strategis.
“Para anggota DPRD dan tokoh-tokoh politik memiliki kewenangan, akses, jaringan serta pengaruh politik. Sementara para pengusaha memiliki kemampuan, sumber daya, relasi dan kekuatan ekonomi yang dapat menjadi modal penting dalam mempersiapkan masa depan Garut Utara. Kewenangan melahirkan tanggung jawab politik, sedangkan kemampuan melahirkan tanggung jawab sosial dan ekonomi,” kata Ade Husna.
BACA JUGA:
Uus Sumirat Bicara Soal Buku Putih Potensi Daerah Garut Utara
“Jika selama ini PM Gatra bersama masyarakat dan para aktivis lebih banyak memikul perjuangan pada aspek legal, administratif serta konsolidasi sosial politik dasar, maka pada tahapan sekarang sudah saatnya para pemegang kewenangan dan para pemilik kemampuan mengambil peran yang lebih nyata sesuai kapasitas masing-masing,” Dia menambahkan.
Menurut Ade Husna, perjuangan Garut Utara tidak dapat di pisahkan dari dukungan politik. Sejarah pembentukan daerah-daerah otonom baru di Indonesia menunjukkan bahwa keputusan politik merupakan faktor penting dalam menentukan arah dan keberhasilan sebuah perjuangan.
Demikian pula dunia usaha. Kabupaten Garut Utara yang akan lahir nanti membutuhkan investasi, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, perdagangan, jasa, industri serta berbagai sektor produktif lainnya.
Dengan kata lain, para pengusaha sesungguhnya sedang mempersiapkan ruang pertumbuhan yang pada akhirnya juga akan menjadi ruang berkembang bagi dunia usaha itu sendiri.
Karena itu, tidak adil apabila perjuangan yang telah mencapai tahapan strategis ini hanya di bebankan kepada PM Gatra dan segelintir aktivis semata.
Harus di sadari, ketika Kabupaten Garut Utara terbentuk nanti, dunia politik dan dunia usaha akan menjadi salah satu pelaku utama yang paling merasakan multiplier effect dari hadirnya daerah baru. Akan lahir ruang kepemimpinan baru, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, peluang investasi baru serta berbagai aktivitas pembangunan yang membawa manfaat bagi masyarakat secara luas.
Oleh karena itu, Dia mengimbau para anggota DPRD, tokoh politik, para pengusaha serta seluruh putra-putri Garut Utara yang hari ini memiliki kewenangan, kemampuan, jaringan dan pengaruh agar tidak hanya menjadi penonton dan menunggu hasil perjuangan.
Jangan sampai rakyat dan para aktivis terus memikul beban perjuangan. Sementara mereka yang memiliki kewenangan politik dan kemampuan ekonomi memilih menunggu.
“Ketika Kabupaten Garut Utara berdiri nanti, sejarah akan membedakan antara mereka yang ikut memperjuangkan dengan mereka yang sekadar menikmati hasil perjuangan,” ungkapnya.
BACA JUGA:
Bupati Garut Ajak Generasi Muda Teladani Ulama
“Kabupaten Garut Utara adalah cita-cita bersama. Karena itu, tidak boleh ada pihak yang hanya menunggu dan menikmati hasilnya. Mereka yang hari ini memiliki kewenangan politik dan kemampuan ekonomi sudah sewajarnya hadir memikul tanggung jawab yang lebih besar.”
“Sejarah tidak hanya mengingat siapa yang hadir saat peresmian. Tetapi juga siapa yang tetap berdiri di barisan perjuangan sebelum kemenangan itu datang,” pungkas Ade Husna.
(Bambang Fouristian)



