spot_imgspot_img
Sabtu 18 Juli 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Anyaman Bambu Situ Beet Tasikmalaya Terancam Punah, DKKT Gelar Kibar Budaya 2026

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Kampung Situ Beet, Kelurahan Cipari, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya menyimpan jejak sejarah panjang tentang kerajinan anyaman bambu di balik suasana tenangnya.

Dahulu kala, masyarakat mengenal kampung ini sebagai sentra produksi anyaman bambu yang menghidupi ratusan kepala keluarga. Produk kreatif tersebut sekaligus menjadi identitas budaya lokal Tasikmalaya.

Baca Juga: Halaman Balekota Tasikmalaya Mendadak Jadi Arena GateBall, Dicky Candra Punya Harapan Besar

Namun kini, derasnya pertumbuhan pembangunan dan perubahan zaman mulai menggerus eksistensi kearifan lokal tersebut hingga terlupakan.

Kelangkaan bahan baku serta minimnya ketertarikan generasi muda membuat eksistensi Anyaman Bambu Situ Beet akhirnya terkubur perlahan.

Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT), Tatang Supriatna Sumpena membeberkan dua persoalan besar yang saat ini menghimpit para perajin di Kecamatan Mangkubumi.

Masalah pertama muncul dari kelangkaan bahan baku. Alih fungsi lahan menjadi area perumahan dan kawasan usaha mengikis keberadaan rumpun bambu di sekitar Situ Beet. Akibatnya, para pengrajin terpaksa mendatangkan bambu dari luar daerah dengan harga yang jauh lebih mahal.

“Kondisi ini membuat biaya produksi naik dan berdampak pada keberlanjutan volume usaha mereka,” ungkap Tatang Supriatna Sumpena, Sabtu (18/07/2026).

Kurangnya Minat Anak Muda Menekuni Kerajinan

Faktor kedua yang menjadi ganjalan serius adalah masalah regenerasi. Minat anak muda untuk menekuni kerajinan ini kian merosot tajam. Mereka lebih memilih pekerjaan lain karena menilai nilai ekonomi dari kerajinan lokal tersebut kurang menjanjikan keuntungan.

“Melestarikan budaya tidak cukup hanya dengan imbauan menjaga dan cinta tradisi, namun harus ada ekosistem yang membuat perajin bisa hidup layak dari hasil karyanya,” ujarnya.

Merespons persoalan pelik tersebut, DKKT Kota Tasikmalaya berinisiatif menggelar pagelaran bertajuk “Kibar Budaya 2026”. Pihak panitia akan melangsungkan festival ini di kawasan Situ Beet Mangkubumi pada 25 Juli 2026 mendatang.

Festival ini mengusung misi untuk mengembalikan perhatian bersama pada potensi daerah. Selain itu, agenda ini menjadi ruang untuk mencari solusi konkret bagi sentra anyaman bambu setempat.

Pria yang akrab dengan sapaan Tatang Pahat ini menilai pelestarian budaya baru akan bermakna jika berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi. Pemerintah dan masyarakat harus memberikan dukungan nyata mulai dari ketersediaan bahan baku, akses pembiayaan, perluasan pemasaran, inovasi produk, hingga pendidikan bagi perajin baru.

“Budaya tidak hanya hidup lewat panggung atau pameran. Ia akan bertahan kalau ada kebijakan strategis nyata yang memihak kepada para pelaku budaya dan lingkungan pendukungnya,” paparnya.

Ragam Acara Menarik pada Festival Budaya

Festival budaya tersebut akan menyuguhkan beragam acara menarik, mulai dari pertunjukan seni tradisi, musik, tari, teater, sastra, seni rupa, hingga kreasi seni dari masyarakat Mangkubumi. Ragam acara ini bertujuan memberikan ruang apresiasi, edukasi, sekaligus menghidupkan kembali Situ Beet sebagai sentra anyaman bambu.

DKKT mengemas Kibar Budaya 2026 sebagai agenda tahunan Kota Tasikmalaya. Event ini memegang peran sebagai pengingat bagi generasi muda agar mau merawat nilai-nilai kearifan lokal di tengah arus modernisasi yang terus menderu.

Tatang menegaskan bahwa Situ Beet bukan sekadar titik koordinat kerajinan lokal. Kampung ini merupakan simbol vital bahwa identitas budaya daerah memerlukan penjagaan demi masa depan generasi penerus.

“Menjaga anyaman bambu berarti menumbuhkan pengetahuan, keterampilan, dan ingatan kolektif warga Tasikmalaya. Kalau tradisi ini hilang, sebagian cerita kota kita juga ikut ditelan bumi,” ujarnya.

Melalui festival budaya tersebut, DKKT Kota Tasikmalaya berharap Situ Beet kembali memancarkan pesonanya sebagai pusat kreativitas yang terus hidup, sehingga tidak sekadar menjadi dongeng masa lalu.

(Seda)

spot_img

Berita Terbaru