spot_imgspot_img
Rabu 14 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 338

Gali Potensi Sumber PAD Kunci Kemandirian DOB

0
Potensi Sumber PAD Kemandirian DOB fokusjabar.id
Wakil Ketua Umum Bidang Hukum dan Advokasi Paguyuban Masyrakat Garut Utara (PM Gatra), Uus Sumirat

GARUT, FOKUSJabar.id: Wakil Ketua Umum Bidang Hukum dan Advokasi Paguyuban Masyrakat Garut Utara (PM Gatra), Uus Sumirat menyebut, pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) merupakan salah satu instrumen kebijakan desentralisasi untuk mendekatkan pelayanan publik, mempercepat pemerataan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Harapan yang menyertai lahirnya DOB sangat besar. Masyarakat berharap, pemerintahan menjadi lebih responsif terhadap kebutuhan lokal, investasi semakin berkembang dan peluang ekonomi terbuka lebih luas.

BACA JUGA:

5 Pilar Rancangan Fondasi Pemerintahan DOB Garut Utara

Namun berdasarkan pengalaman, pelaksanaan otonomi daerah menunjukkan bahwa tidak semua daerah hasil pemekaran mampu mencapai tujuan.

Salah satu tantangan terbesar yang di hadapi adalah rendahnya kemampuan fiskal daerah dalam membiayai pembangunan secara mandiri.

Banyak daerah baru masih sangat bergantung pada dana transfer pemerintah pusat, sementara kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap APBD relatif kecil.

Akibatnya, ruang fiskal daerah menjadi terbatas dan pembangunan sering kali berjalan lebih lambat dari yang di harapkan.

Persoalan tersebut mengisyaratkan bahwa keberhasilan DOB tidak hanya di tentukan oleh terbentuknya struktur pemerintahan baru. Namun juga oleh kemampuan daerah dalam menggali, mengembangkan dan mengelola potensi ekonomi yang di milikinya.

Artinya, keberlanjutan otonomi daerah sangat bergantung pada kekuatan PAD sebagai sumber pembiayaan pembangunan.

PAD Bukan Sekadar Pajak dan Retribusi

Menurut Uus, saat ini masih terdapat pandangan bahwa PAD identik dengan pajak dan retribusi. Padahal dalam perspektif pembangunan daerah modern, PAD harus di pahami sebagai hasil dari kemampuan Pemda dalam mengelola seluruh potensi ekonomi wilayah secara produktif dan berkelanjutan.

Daerah yang memiliki sektor pertanian unggulan harus mampu membangun industri pengolahan. Sehingga nilai tambah tidak di nikmati daerah lain.

Daerah pesisir perlu mengembangkan ekonomi kelautan, perikanan dan logistik. Wilayah yang kaya akan potensi wisata harus mengubah kekayaan alam dan budaya menjadi destinasi yang mampu menarik investasi dan kunjungan wisatawan.

Demikian pula daerah yang memiliki sumber daya mineral, energi atau hasil hutan harus memastikan bahwa pemanfaatannya memberikan manfaat ekonomi yang adil bagi masyarakat setempat.

Dengan begitu, PAD tidak tumbuh dari kebijakan memungut lebih banyak pajak. Tetapi dari keberhasilan menciptakan aktivitas ekonomi yang produktif, kompetitif dan bernilai tambah.

Membangun Ekosistem Ekonomi Daerah

“Salah satu kelemahan dalam pembentukan DOB selama ini adalah perhatian yang lebih besar pada pembangunan birokrasi di bandingkan pembangunan ekonomi.”

“Setelah daerah baru terbentuk, fokus pemerintah sering kali tertuju pada pembangunan kantor pemerintahan, pengisian struktur organisasi dan penyelenggaraan administrasi. Sementara itu, pengembangan sektor-sektor ekonomi produktif berjalan lebih lambat,” ungkapnya.

BACA JUGA:

TPU Eureunsono Dipagar Pemdes Sukaluyu, Ini Harapan Warga

Paradigma tersebut perlu di ubah. DOB harus di bangun di atas fondasi ekonomi yang kuat. Pemda perlu mengidentifikasi sektor unggulan melalui pemetaan potensi wilayah. Selanjutnya menyusun strategi hilirisasi agar sumber daya lokal menghasilkan nilai tambah di daerah sendiri.

Pertanian misalnya, tidak cukup berhenti pada produksi bahan mentah. Hasil perkebunan perlu di olah menjadi produk industri. Potensi perikanan juga harus di dukung dengan fasilitas rantai dingin (cold chain) dan industri pengolahan.

Peternakan bisa di padukan antara produksi pakan, pupuk, pembenihan (breeding) dan pengolahan daging atau susu.

Kawasan wisata harus di lengkapi infrastruktur, promosi serta pemberdayaan masyarakat lokal agar manfaat ekonominya di rasakan secara luas.

Kapasda bagi Pembentukan DOB

Uus mengatakan, Kapasitas Daerah (Kapasda) merupakan salah satu aspek penting yang menjadi dasar dalam pembentukan DOB.

Kapasitas tersebut mencerminkan kemampuan suatu wilayah untuk menyelenggarakan pemerintahan secara mandiri, memberikan pelayanan publik yang berkualitas serta mendorong pembangunan yang berkelanjutan.

“Penilaian Kapasda tidak hanya di dasarkan pada luas wilayah atau jumlah penduduk. Tetapi juga mempertimbangkan kemampuan SDM, kondisi keuangan daerah, potensi ekonomi serta kesiapan kelembagaan pemerintahan,” katanya.

Dari aspek keuangan, daerah yang akan menjadi DOB harus memiliki potensi pendapatan yang memadai untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan tanpa bergantung secara berlebihan pada bantuan pemerintah pusat.

Sumber tersebut berasal dari PAD, potensi investasi, sektor unggulan maupun Sumber Daya Alam (SDA) yang dapat di kelola secara berkelanjutan.

Menurutnya, kapasitas SDM juga menjadi faktor yang sangat menentukan. Daerah perlu memiliki aparatur pemerintahan yang kompeten, profesional dan mampu menjalankan fungsi administrasi, pelayanan publik secara baik serta pengelolaan pembangunan.

Selain itu, kesiapan infrastruktur dasar. Seperti jaringan transportasi, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan dan teknologi informasi menjadi indikator penting dalam mendukung efektivitas penyelenggaraan pemerintahan.

Di sisi lain, aspek sosial dan politik turut memengaruhi keberhasilan pembentukan DOB. Dukungan masyarakat, stabilitas keamanan serta hubungan yang harmonis antarkelompok sosial menjadi modal utama dalam menciptakan pemerintahan yang kondusif.

“Pembentukan DOB yang tidak di dukung oleh kondisi sosial politik yang stabil berpotensi menimbulkan konflik. Sehingga menghambat proses pembangunan,” jelas Uus.

Oleh karena itu, Kapasda harus di nilai secara komprehensif bahkan terukur melalui indikator yang objektif dan terukur.

Daerah yang memiliki kapasitas memadai akan lebih siap menjalankan fungsi otonomi, meningkatkan kualitas pelayanan publik, mempercepat pembangunan daerah serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Karenanya, kajian mengenai kapasitas daerah menjadi salah satu prasyarat utama dalam proses pembentukan DOB. Dengan begitu, tujuan desentralisasi dan pemerataan pembangunan dapat tercapai secara optimal.

BUMD sebagai Motor Penggerak Ekonomi

Pengelolaan potensi dan aset daerah merupakan salah satu aspek strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pasalnya, aset tidak hanya berfungsi sebagai sarana pendukung pelayanan publik, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang dapat memberikan nilai tambah bagi daerah.

Dalam praktiknya, pengelolaan potensi dan aset daerah sering kali masih melekat pada mekanisme administrasi pemerintahan yang berorientasi pada kepatuhan terhadap prosedur birokrasi.

Kondisi tersebut menyebabkan pemanfaatan potensi dan aset daerah belum optimal. Terutama dalam menghasilkan manfaat ekonomi maupun peningkatan PAD.

BACA JUGA:

Sungai Bukan Tempat Sampah, SSC Garut Ajak Warga Jaga Lingkungan

Seiring dengan berkembangnya tuntutan terhadap tata kelola pemerintahan yang lebih efektif, efisien dan profesional, muncul kebutuhan untuk memisahkan fungsi administrasi pemerintahan dari fungsi pengelolaan aset yang bersifat komersial.

Pemisahan tersebut bertujuan agar aset daerah dapat di kelola berdasarkan prinsip-prinsip bisnis yang sehat tanpa mengabaikan akuntabilitas, transparansi dan kepentingan publik.

Menurutnya, salah satu bentuk kelembagaan yang dapat mengakomodasi kebutuhan tersebut adalah pendirian Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Melalui BUMD, Pemda dapat mengelola dan mengembangkan aset yang memiliki nilai ekonomis secara lebih profesional, fleksibel dan berorientasi pada penciptaan nilai (value creation).

Dengan tata kelola korporasi yang baik (good corporate governance), BUMD di harapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatan potensi dan aset daerah, meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan daerah, sekaligus tetap menjalankan fungsi pelayanan publik sesuai dengan tujuan pendiriannya.

Di banyak daerah, BUMD tidak atau kurang di kembangkan. Sehingga kegiatannya sangat minim bahkan banyak yang merugi.

Selain itu, BUMD masih di pandang sebagai pelengkap administrasi. Padahal seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi lokal.

BACA JUGA:

Pemkab Garut-Kemenkes Percepat Pengembangan Klinik Rotinsulu jadi Rumah Sakit

“BUMD yang di kelola secara profesional dapat berperan dalam penyediaan air minum, energi, pengelolaan kawasan industri, perdagangan hasil pertanian, pengelolaan pelabuhan hingga pengembangan pariwisata.”

“Keuntungan yang di peroleh BUMD akan kembali menjadi sumber PAD yang dapat di gunakan untuk membiayai pelayanan publik dan pembangunan,” imbuhnya.

Karena itu, pembentukan dan pengelolaan BUMD harus di dasarkan pada prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance), profesionalisme serta orientasi bisnis yang sehat (bukan sekadar pertimbangan politik).

Digitalisasi Sumber PAD Masa Depan

Kata Uus, transformasi digital menghadirkan peluang baru bagi peningkatan PAD.

Digitalisasi pelayanan perizinan, sistem perpajakan daerah, transaksi non-tunai dan pemanfaatan data ekonomi mampu meningkatkan efisiensi pemungutan pendapatan sekaligus mengurangi potensi kebocoran penerimaan daerah.

Selain itu, Pemda dapat mengembangkan ekonomi digital melalui pemberdayaan UMKM, promosi produk lokal di platform digital serta pengembangan ekonomi kreatif berbasis teknologi.

“Daerah yang mampu beradaptasi dengan perkembangan digital akan memiliki sumber pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan,” katanya.

Meningkatkan PAD tidak identik dengan menaikkan tarif pajak atau menciptakan jenis retribusi baru. Pendekatan seperti itu justru berpotensi menurunkan daya saing daerah apabila tidak di sertai perbaikan iklim investasi.

Strategi yang lebih efektif adalah menciptakan lingkungan usaha yang kondusif melalui penyederhanaan perizinan, kepastian hukum, pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik yang profesional.

BACA JUGA:

HAN 2026, Ketum PM Gatra: Keselamatan Anak Harga Mati

“Ketika investasi tumbuh, kegiatan ekonomi meningkat, lapangan kerja bertambah dan penerimaan daerah akan meningkat secara alami melalui aktivitas ekonomi yang berkembang,” ucap Uus.

Membangun Kemandirian Fiskal Sejak Awal

Eksistensi DOB jangan sampai tergantung pada  transfer dana dari pusat. Akan tetapi hidup dari kemampuan daerah membangun kemandirian fiskal.

Daerah yang mandiri memiliki keleluasaan dalam menentukan prioritas pembangunan sesuai kebutuhan masyarakat tanpa terlalu bergantung pada kebijakan fiskal pemerintah pusat.

Karena itu, setiap usulan pembentukan DOB seharusnya telah di lengkapi dengan peta potensi ekonomi daerah, strategi pengembangan sektor unggulan serta roadmap peningkatan PAD  jangka menengah dan panjang.

Dengan pendekatan tersebut, pemekaran wilayah tidak hanya menghasilkan pemerintahan baru. Tetapi juga melahirkan daerah yang memiliki fondasi ekonomi yang kuat.

Kepala daerah memiliki peran strategis dalam mengoptimalkan potensi daerah sebagai sumber PAD.

Di era otonomi daerah, kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai pembangunan sangat di pengaruhi oleh besarnya PAD yang di peroleh.

Oleh karena itu, kepala daerah di tuntut memiliki kreativitas, inovasi dan jiwa kewirausahaan dalam menggali serta mengembangkan potensi ekonomi daerah. Dengan begitu, mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan meningkatkan penerimaan daerah.

Kreativitas kepala daerah tercermin dalam kemampuannya mengidentifikasi potensi unggulan yang di miliki. Seperti sektor pertanian, perkebunan, perikanan, pertambangan, pariwisata, ekonomi kreatif maupun UMKM.

Potensi tersebut tidak cukup hanya di manfaatkan sebagai sumber produksi, tetapi perlu di kembangkan melalui inovasi kebijakan, peningkatan kualitas produk, hilirisasi, promosi serta perluasan akses pasar. Sehingga menghasilkan aktivitas ekonomi yang lebih produktif dan berkontribusi terhadap peningkatan PAD.

Selain itu, kepala daerah perlu menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui penyederhanaan perizinan, kepastian hukum, peningkatan kualitas infrastruktur dan pelayanan publik yang efisien.

Kemudahan berusaha akan menarik investasi yang mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan aktivitas ekonomi serta memperluas basis penerimaan daerah dari pajak dan retribusi.

Dalam konteks ini, peningkatan PAD tidak hanya bergantung pada kenaikan tarif pajak atau retribusi. Tetapi pada bertambahnya kegiatan ekonomi yang menjadi objek penerimaan daerah.

Pemanfaatan teknologi digital juga merupakan bentuk kreativitas yang dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan PAD.

Penerapan sistem pembayaran pajak dan retribusi secara elektronik, integrasi basis data wajib pajak serta pemanfaatan analisis data dapat meningkatkan akurasi pendataan, memperkuat transparansi, mengurangi kebocoran penerimaan dan meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

Kepala daerah juga perlu membangun kolaborasi dengan pemerintah pusat, sektor swasta, perguruan tinggi, lembaga keuangan dan masyarakat dalam mengembangkan potensi daerah.

Kemitraan tersebut dapat mendorong lahirnya inovasi, meningkatkan kapasitas SDM, memperluas akses pembiayaan serta mempercepat pengembangan sektor-sektor unggulan yang memiliki prospek meningkatkan PAD.

Namun demikian, upaya peningkatan PAD harus tetap berpedoman pada prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Yakni, transparansi, akuntabilitas, efisiensi, efektivitas dan keadilan.

Optimalisasi PAD hendaknya di lakukan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber pendapatan secara berkelanjutan tanpa membebani masyarakat atau menghambat iklim usaha.

Dengan demikian, peningkatan PAD dapat menjadi instrumen untuk memperkuat kemandirian fiskal daerah sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat.

BACA JUGA:

Bupati Garut Dorong Percepatan Tindak Lanjut Rekomendasi BPK RI

Kreativitas kepala daerah menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan pembangunan daerah.

“Kepala daerah yang mampu mengelola potensi lokal secara inovatif, membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dan menciptakan kebijakan yang adaptif akan memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan PAD, mengurangi ketergantungan pada transfer pemerintah pusat serta mewujudkan daerah yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan,” tutup Uus Sumirat.

(Bambang Fouristian)

Seminar PKK Garut Perkuat Perempuan Bangun Keluarga Tangguh

0
seminar pkk garut fokusjabar.id
Seminar PKK Garut Perkuat Perempuan Bangun Keluarga Tangguh

GARUT, FOKUSJabar.id: Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Garut Jawa Barat (Jabar) menyelenggarakan Seminar Inspiratif Perempuan Garut bertema “Dari Hati yang Teduh Tumbuh Keluarga yang Tangguh” di Gedung Pendopo Jalan Kiansantang, Kecamatan Garut Kota, Selasa (28/7/2026).

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Garut, Ahmad Ramdani mengapresiasi jajaran TP PKK atas penyelenggaraan seminar tersebut.

BACA JUGA:

Pemkab Garut-Kemenkes Percepat Pengembangan Klinik Rotinsulu jadi Rumah Sakit

Menurutnya, tema yang di angkat sangat relevan dalam memperkuat peran perempuan sebagai fondasi utama terwujudnya keluarga yang harmonis dan berkualitas.

“Tema yang di angkat sangat luar biasa dan tepat. Ini sangat menyentuh akar kehidupan kita dalam membangun perempuan berdaya untuk mewujudkan keluarga yang harmonis dan berkualitas,” kata Ahmad Ramdani.

Ia menegaskan, keharmonisan dan kualitas sebuah keluarga tidak akan terwujud tanpa kehadiran perempuan yang berdaya.

Peran aktif kaum perempuan menjadi salah satu kunci keberhasilan berbagai program pembangunan yang dijalankan pemerintah daerah.

“Saya berharap, kegiatan ini dapat memberikan inspirasi nyata dan menjadi bekal berharga bagi ibu-ibu dalam mengemban tugas mulia sebagai pendidik pertama, menyejuk rumah tangga dan mitra setia dalam membangun daerah,” ungkapnya.

Ketua TP PKK Kabupaten Garut, Tinneke Hermina menuturkan, perempuan memiliki peran strategis. yakni, bukan hanya sebagai ibu dan istri, tetapi juga sebagai pendidik utama anak, penggerak masyarakat sekaligus mitra pembangunan.

“Oleh karenanya, perempuan perlu terus perkuat kapasitas dirinya dengan cara memperluas wawasan, menjaga kesehatan fisik dan mental serta terus membangun jejaring yang baik agar mempu menghadapi perkembangan tantangan zaman,” tegas Tinneke.

Ia juga mengapresiasi kehadiran berbagai organisasi perempuan di Kabupaten Garut yang bersatu dalam seminar tersebut.

Menurutnya, kolaborasi lintas organisasi menjadi modal penting untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas, sehat, mandiri dan sejahtera.

Dia berharap, ilmu yang di peroleh peserta dapat di terapkan di lingkungan keluarga maupun organisasi masing-masing.

BACA JUGA:

Bupati Minta Pramuka Garut Tunjukan Prestasi di Jamnas 2026

Ketua Pelaksana, Ida Widari melaporkan, seminar di ikuti 210 peserta. Kegiatan tersebut di rancang untuk menguatkan, menginspirasi dan menggerakkan perempuan Garut agar mampu membangun ketangguhan keluarga dari lingkungan terkecil.

“Kami berharap, seminar ini bukan hanya menjadi tempat mendengar cerita inspiratif. Tapi menjadi titik awal kita semua untuk menjadi perempuan yang tangguh dari hati yang teduh,” tutup Ida Widari.

Kegiatan di lanjutkan dengan talkshow bersama Hj. Indri Wulandari yang merupakan Professional Speaker, Human Development Practitioner, Islamic Hypnotherapy and Entrepreneur.

(Bambang Fouristian)

Pemkab Garut-Kemenkes Percepat Pengembangan Klinik Rotinsulu jadi Rumah Sakit

0
Pemkab Garut rumah sakit fokusjabar.id
Peninjauan lokasi

GARUT, FOKUSJabar.id: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut Jawa Barat (Jabar) terus berupaya meningkatkan kualitas dan jangkauan layanan kesehatan bagi masyarakat.

Langkah tersebut di bahas dalam agenda kunjungan kerja Direktur Utama Rumah Sakit Paru A. Rotinsulu yang di terima langsung oleh Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, Selasa (28/7/2026).

BACA JUGA:

Bupati Minta Pramuka Garut Tunjukan Prestasi di Jamnas 2026

Pertemuan tersebut membahas rencana strategis pengembangan fasilitas kesehatan yang saat ini masih berstatus klinik agar dapat di tingkatkan menjadi rumah sakit.

Pengembangan ini di rencanakan melalui perluasan lahan operasional guna menampung kapasitas pelayanan yang lebih besar bagi masyarakat.

Rombongan meninjau langsung lokasi yang di proyeksikan sebagai area perluasan Klinik Utama Rotinsulu Garut.

Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menyampaikan, rencana peningkatan status Klinik Utama Rotinsulu menjadi rumah sakit mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia.

Sebagai bentuk komitmen, Pemkab Garut siap memfasilitasi kebutuhan lahan untuk mendukung pengembangan tersebut.

“Rencana ada rumah sakit di sini. (Lahan yang baru di cek) rencana perluasan, kita cari kemungkinan perluasan, supaya bisa lebih melayani lebih banyak lagi masyarakat Garut. Kalau tanah (kepemilikan) akan di hibahkan ke Kemenkes,” kata Bupati Garut.

Untuk mendukung percepatan realisasi proyek tersebut, Pemkab Garut menargetkan proses pengadaan lahan dapat di selesaikan tahun 2026.

Selanjutnya, lahan yang telah di siapkan akan di hibahkan kepada Kementerian Kesehatan sebagai bagian dari pengembangan rumah sakit.

BACA JUGA:

Bupati Garut Minta ASN Tingkatkan Disiplin

Direktur Utama Rumah Sakit Paru, Dr. H. A. Rotinsulu Bandung, Dijah Rochmad menyatakan kesiapannya berkolaborasi dengan Pemkab Garut dalam memperluas layanan kesehatan bagi masyarakat.

“Kami siap membantu Pemerintah Kabupaten Garut untuk memperluas layanan kesehatan. Khususnya masyarakat dengan perluasan luas area pelayanan,” singkat Dijah Rochmad.

(Bambang Foutistian)

Pemkab Ciamis Apresiasi Program Rutilahu BKMM-DMI 

0
Pemkab Ciamis Rutilahu fokusjabar.id
Pemkab Ciamis Apresiasi Program Rutilahu BKMM-DMI

CIAMIS, FOKUSJabar.id: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ciamis Jawa Barat (Jabar) menilai, program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) UPZ PD BKMM-DMI menjadi contoh nyata kolaborasi antara organisasi keagamaan dan masyarakat dalam membantu percepatan pengentasan kemiskinan.

Apresiasi tersebut di sampaikan Bupati Ciamis melalui Asisten Daerah (Asda) III Setda Ciamis, Wawah Rukhyat saat menghadiri pengajian bulanan BKMM sekaligus penyerahan bantuan Rutilahu Tahun 2026 di Masjid Agung Ciamis, Selasa (28/7/2026).

BACA JUGA:

Infak Jamaah BKMM-DMI Ciamis Wujudkan 3 Rumah Layak Huni

Dalam kesempatan itu, bantuan di serahkan kepada tiga penerima. Yakni, Acah warga Dusun Susuru, Desa Kertajaya, Kecamatan Panawangan, Risma Uli Silalahi warga Desa Sukamantri, Kecamatan Sukamantri serta Inah Nur Hasanah warga Desa Tanjungmulya, Kecamatan Panumbangan. Masing-masing menerima bantuan sebesar Rp15 juta.

Asda III Setda Ciamis, Wawan Ruhyat menyampaikan penghargaan kepada BKMM dan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Bagaimana tidak, mereka tidak hanya aktif membina kehidupan keagamaan melalui majelis taklim. Tetapi juga menghadirkan program sosial yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Pengajian rutin seperti ini bukan hanya menjadi sarana memperkuat iman dan takwa. Tetapi juga mempererat silaturahmi serta membangun kepedulian sosial. Program Rutilahu menjadi bukti bahwa nilai-nilai keagamaan dapat di wujudkan dalam aksi nyata membantu masyarakat,” katanya.

Menurutnya, penyediaan rumah yang layak merupakan bagian dari pemenuhan hak dasar masyarakat. Karena itu, keterlibatan organisasi kemasyarakatan dan lembaga keagamaan sangat penting dalam mendukung program pemerintah.

Ia berharap, bantuan yang di terima dapat di manfaatkan sebaik-baiknya. Sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup para penerima beserta keluarganya.

“Semoga rumah yang di perbaiki menjadi tempat tinggal yang lebih aman, sehat dan nyaman. Kami juga berharap, proses pembangunannya di laksanakan dengan semangat gotong royong yang selama ini menjadi budaya masyarakat Ciamis,” ujarnya.

Wawan menambahkan, Pemkab Ciamis terus berkomitmen mengurangi jumlah rumah tidak layak huni. Namun, keberhasilan program tersebut membutuhkan sinergi berbagai pihak. Mulai dari pemerintah desa, lembaga keagamaan hingga masyarakat.

BACA JUGA:

Pemkab Ciamis Salurkan Air Bersih di Kelurahan Benteng

“Kolaborasi seperti yang di lakukan BKMM-DMI ini patut di apresiasi. Dengan kebersamaan, upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat akan lebih cepat terwujud,” katanya.

Wawan Rukhyat mengajak masyarakat untuk terus menjaga keimanan dan ketakwaan, membina generasi muda sejak usia dini serta menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama dalam mewujudkan Kabupaten Ciamis yang religius, maju dan sejahtera.

Ketua BKMM Kabupaten Ciamis, Talbiyah Munadi mengatakan, penyaluran bantuan Rutilahu merupakan agenda sosial yang telah menjadi program rutin selama lebih dari satu dekade.

Ia menjelaskan, calon penerima di pilih berdasarkan usulan pengurus BKMM tingkat kecamatan dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi, kelayakan rumah serta keaktifan mengikuti kegiatan majelis taklim.

“Seluruh penerima telah melalui proses verifikasi. Kami memastikan bantuan benar-benar di berikan kepada anggota yang membutuhkan dan kondisi rumahnya memang tidak layak huni,” ujar Talbiyah.

Selain bantuan dana, proses pembangunan rumah juga di dukung semangat gotong royong masyarakat. Banyak warga yang turut menyumbangkan tenaga maupun material. Sehingga hasil pembangunan menjadi lebih maksimal.

“Kami berharap semangat saling membantu ini terus terjaga. Apa yang di lakukan BKMM bukan sekadar membangun rumah. Tetapi juga memperkuat kepedulian sosial dan kebersamaan di tengah masyarakat,” pungkasnya.

(Mia)

Infak Jamaah BKMM-DMI Ciamis Wujudkan 3 Rumah Layak Huni

0
Jamaah BKMM-DMI Ciamis fokusjabar.id
Infak Jamaah BKMM-DMI Ciamis Wujudkan Tiga Rumah Layak Huni

CIAMIS, FOKUSJabar.id: Kepedulian jamaah majelis taklim di Kabupaten Ciamis kembali membuahkan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui dana infak yang di himpun secara rutin, UPZ PD BKMM-DMI Kabupaten Ciamis menyalurkan bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) Tahun 2026 kepada tiga penerima dengan total bantuan sebesar Rp45 juta.

Penyerahan bantuan berlangsung dalam rangkaian pengajian bulanan BKMM di Masjid Agung Ciamis, Selasa (28/7/2026).

BACA JUGA:

Pemkab Ciamis Salurkan Air Bersih di Kelurahan Benteng

Kegiatan tersebut di hadiri Perwakilan DMI Kabupaten Ciamis, Perwakilan Baznas Kabupaten Ciamis, Perwakilan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ciamis, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda, Ketua TP PKK Kabupaten Ciamis, Kania Ernawati Herdiat serta ribuan jamaah majelis taklim dari 27 kecamatan.

Tiga penerima bantuan masing-masing memperoleh dana sebesar Rp15 juta. Takni, Acah dari Dusun Susuru, Desa Kertajaya, Kecamatan Panawangan, Risma Uli Silalahi dari Desa Sukamantri, Kecamatan Sukamantri serta Inah Nur Hasanah dari Desa Tanjungmulya, Kecamatan Panumbangan.

Ketua BKMM Kabupaten Ciamis, Talbiyah Munadi mengatakan, program Rutilahu merupakan wujud kepedulian anggota majelis taklim yang secara konsisten menyisihkan sebagian rezekinya melalui infak setiap kegiatan pengajian.

“Alhamdulillah hari ini kami kembali menyerahkan bantuan Rutilahu. Dana ini berasal dari infak anggota BKMM yang di kumpulkan setiap pengajian. Mulai dari Rp2 hingga 10 ribu. Dari kebersamaan itu terkumpul Rp45 juta. Alhasil, masing-masing penerima memperoleh bantuan sebesar Rp15 juta,” ujarnya.

Ia menyebutkan, pengajian rutin Selasa keempat yang kali ini di pusatkan di Masjid Agung Ciamis di hadiri perwakilan jamaah dari seluruh kecamatan.

“Alhamdulillah hadir perwakilan dari 27 kecamatan. Jamaah yang datang ribuan. Ini menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan dan kepedulian sosial di lingkungan majelis taklim terus tumbuh,” katanya.

Menurut Talbiyah, program Rutilahu tahun ini merupakan pelaksanaan yang ke-12 sejak pertama kali di gulirkan. Setiap kecamatan di minta mengusulkan anggota yang aktif mengikuti pengajian sekaligus benar-benar membutuhkan bantuan perbaikan rumah.

BACA JUGA:

Pemkab Ciamis Perkuat Sinergi Perangkat Daerah Tingkatkan IPS

“Kami meminta ketua BKMM kecamatan memilih anggota yang rajin mengikuti pengajian dan memang membutuhkan bantuan. Semua usulan harus di lengkapi surat keterangan tidak mampu dari desa, surat domisili serta dokumentasi kondisi rumah agar tepat sasaran,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, salah satu penerima bantuan merupakan seorang mualaf yang telah puluhan tahun istiqamah mengikuti pengajian BKMM.

“Di antara penerima ada yang dulunya non-muslim dan sudah sekitar 30-35 tahun memeluk Islam. Alhamdulillah Dia rajin mengikuti pengajian. Ini menjadi kebahagiaan bagi kami,” tuturnya.

Talbiyah menambahkan, BKMM juga menerapkan sistem pengawasan terhadap pelaksanaan pembangunan rumah.

Selain melakukan survei sebelum bantuan di berikan, pengurus bersama pemerintah desa dan BKMM tingkat kecamatan akan memantau proses pembangunan hingga selesai.

“Setelah pembangunan selesai, kami turun langsung melakukan pengecekan. Bahkan banyak masyarakat yang ikut gotong royong menyumbangkan tenaga, makanan dan biaya tambahan. Sehingga nilai pembangunan rumah bisa jauh melebihi bantuan yang di berikan,” ungkapnya.

Ia berharap, semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang tumbuh dari jamaah majelis taklim dapat terus di pertahankan. Sehingga program Rutilahu bisa menjangkau lebih banyak masyarakat di tahun-tahun mendatang.

“Kami berharap tahun depan minimal kembali bisa membantu tiga rumah atau lebih. Prinsipnya, dari kita, oleh kita dan untuk kita. Mudah-mudahan ikhtiar ini menjadi bagian dari upaya membantu umat sekaligus mendukung program pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan,” harapnya.

Salah seorang penerima bantuan, Acah warga Dusun Susuru, Desa Kertajaya Kecamatan Panawangan tidak mampu menyembunyikan rasa haru saat menerima bantuan tersebut.

BACA JUGA:

Koordinator BGN Ciamis Pastikan Tak Ada SPPG Ditutup, Operasional MBG Tetap Berjalan Normal

Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pengurus BKMM, DMI dan para jamaah majelis taklim yang telah menyisihkan sebagian rezekinya.

Dengan mata berkaca-kaca, Acah mengaku bantuan tersebut menjadi harapan baru bagi keluarganya untuk memiliki rumah yang lebih layak di huni.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan terharu. Terima kasih kepada Ibu Ketua BKMM beserta seluruh pengurus, para donatur dan jamaah majelis taklim yang sudah peduli kepada kami,” ungkapnya.

Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan Bapak dan Ibu dengan pahala yang berlipat, di berikan kesehatan, umur yang berkah serta rezeki yang semakin luas,” tambah Acah.

Ia berharap, program sosial seperti ini dapat terus berlanjut. Sehingga semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya.

“Semoga BKMM semakin maju dan terus bisa membantu masyarakat yang membutuhkan seperti kami. Bantuan ini sangat berarti untuk memperbaiki rumah agar keluarga kami bisa tinggal dengan lebih nyaman dan aman,” pungkasnya.

(Mia)

Pemkab Ciamis Salurkan Air Bersih di Kelurahan Benteng

0
Pemkab Ciamis air bersih fokusjabar.id
BPBD Kabupaten Ciamis saat mendistribusikan air bersih untuk warga Lingkungan Cimandala Kelurahan Benteng

CIAMIS, FOKUSJabar.id: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ciamis Jawa Barat (Jabar) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mendistribusikan air bersih kepada puluhan Kepala Keluarga (KK) di RW04  Lingkungan Cimandala, Kelurahan Benteng Kecamatan Ciamis.

Wilayah tersebut mengalami kekeringan karena milik warga sudah mengering.

BACA JUGA:

Pemkab Ciamis Perkuat Sinergi Perangkat Daerah Tingkatkan IPS

“Air yang di distribusikan untuk warga di Lingkungan Cimandala Kelurahan Benteng sebanyak 5000 leter,” kata Kepala BPBD Kabupaten Ciamis, Ani Supiani, Selasa (28/7/2026).

Ani mengaku, saat ini pihaknya banyak mendapatkan laporan di sejumlah wilayah masuk dalam kategori rawan air bersih.

“Kami menindaklanjuti permintaan bantuan air bersih setelah dari pihak pemerintahan setempat mengajukan permohonan,” katanya.

Lurah Benteng, Salim mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Ciamis melalui BPBD yang telah membantu warga yang saat ini mengalami kesulitan air bersih.

“Atas nama pribadi dan masyarakat mengucapkan terima kasih atas bantuan air bersih,” ucapnya.

BACA JUGA:

Koordinator BGN Ciamis Pastikan Tak Ada SPPG Ditutup, Operasional MBG Tetap Berjalan Normal

Ketua RW04 Lingkungan Cimandala, Nanang berharap, Pemkab Ciamis mengalokasikan anggaran pembangunan sumur bor.

“Wilayah ini setiap musim kemarau selalu kekeringan. Karena itu, Kami berharap Pemkab Ciamis membangun sumur bor,” pungkasnya.

(Husen Maharaja)

30 Tahun Kudatuli, Momentum Mengingat Luka Demokrasi dan Menjaga Semangat Reformasi

0
Kudatuli fokusjabar.id
DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tasikmalaya memperingati 30 tahun Peristiwa Kudatuli

TASIKMALAYA, FOKUSJabar.id: Tiga dekade setelah Peristiwa Kudatuli mengguncang perjalanan demokrasi Indonesia, peringatan tragedi 27 Juli 1996 kembali menjadi pengingat bahwa kebebasan, keadilan dan demokrasi bukanlah sesuatu yang hadir begitu saja.

Di tengah dinamika politik nasional saat ini, refleksi atas peristiwa tersebut di nilai penting agar generasi muda memahami harga mahal yang harus di bayar bangsa dalam memperjuangkan demokrasi.

BACA JUGA:

Musik Karaoke Liar di Situ Cibeureum Tasikmalaya Tuai Protes Warga, Kelurahan Siapkan Aturan Tegas

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tasikmalaya, Ade Sugianto menegaskan, Kudatuli bukan sekadar catatan sejarah politik. Melainkan sebuah simbol dari upaya membungkam demokrasi melalui tindakan represif yang benar-benar terjadi dalam perjalanan bangsa.

Menurutnya, generasi muda tidak boleh kehilangan ingatan sejarah. Demokrasi yang di nikmati saat ini merupakan hasil perjuangan panjang yang di penuhi pengorbanan. Bahkan darah dan nyawa para pejuang reformasi.

“Kudatuli bukan dongeng ataupun sekadar cerita politik. Itu adalah kenyataan sejarah yang harus menjadi pelajaran bagi bangsa agar demokrasi tidak lagi mengalami kemunduran,” ujar Ade, Selasa (28/7/2026).

Ia menilai, salah satu tantangan terbesar setelah reformasi adalah semakin memudarnya pemahaman generasi muda terhadap kondisi Indonesia pada masa Orde Baru.

Menurut Ade, bangsa ini memiliki potret kelam mengenai praktik demokrasi di masa lalu. Namun pengalaman tersebut belum sepenuhnya di wariskan kepada generasi penerus.

“Kita punya potret buram tentang Orde Baru. Tetapi lupa menyampaikannya kepada generasi muda ketika reformasi berjalan. Akibatnya, banyak anak muda hari ini tidak mengetahui bagaimana situasi politik 25-30 tahun lalu. Mereka menganggapnya hanya cerita sebelum tidur,” katanya.

Ade menambahkan, pemahaman sejarah menjadi fondasi penting agar masyarakat mampu menjaga kualitas kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat secara lebih demokratis.

BACA JUGA:

Gotong Royong Warga Parungponteng dan Satgas TMMD ke-129

Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tasikmalaya, Aef Syaripudin menambahkan, peringatan 30 tahun Kudatuli tidak hanya menjadi momentum mengenang tragedi masa lalu. Namun juga memperkuat komitmen menjaga demokrasi Indonesia.

Ia menjelaskan, sebagaimana di sampaikan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, peringatan tahun ini melahirkan empat seruan nasional strategis.

Keempat poin tersebut meliputi dorongan penyelesaian berbagai kasus pelanggaran hukum dan hak asasi manusia masa lalu, pengawalan terhadap cita-cita Reformasi 1998, penguatan konsolidasi gerakan demokrasi sipil serta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk ancaman yang dapat melemahkan demokrasi modern.

“Kami mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus mengawal amanat tersebut demi masa depan demokrasi Indonesia yang lebih sehat, adil dan bermartabat,” kata Aef.

Peringatan tiga dekade Kudatuli, di harapkan tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Melainkan menjadi ruang refleksi bersama agar perjalanan demokrasi Indonesia tetap berada di jalur konstitusi serta menghormati hak-hak sipil seluruh warga negara.

(Farhan K)