PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Di balik gemerlap sektor pariwisata Pangandaran, sepasang ibu dan anak penyandang disabilitas berjuang menyambung hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ukayesih (77) atau Ma Ukay bersama anaknya, Titi Mulyati (55), kini menempati gubuk sempit berukuran 4×5 meter di Dusun Kawarasan, Desa Sindangwangi, Kecamatan Padaherang, Minggu (26/4/2026).
Rumah mungil berdinding GRC dengan atap asbes tersebut jauh dari standar layak huni. Area dapur menyatu langsung dengan ruang tamu, sementara sekat sederhana menjadi satu-satunya pembatas kamar tidur. Fasilitas di dalamnya pun sangat terbatas dengan kasur yang sudah rusak dan barang-barang yang berserakan.
Baca Juga: Jaga Pesisir Pangandaran, Satpolairud Polres Gandeng Akademisi Riset Ekosistem Mangrove
Keterbatasan fisik semakin memperulit aktivitas harian mereka. Ma Ukay mengalami gangguan pendengaran serius dan kesulitan berjalan, sementara Titi merupakan seorang tunanetra. Sejak berhenti berjualan di lingkungan sekolah, mereka tidak lagi memiliki sumber penghasilan tetap untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
“Saya dan Ema menjalani hidup yang sangat sulit di sini. Kami hanya makan jika ada orang yang memberi. Dulu, saya sering bingung harus mencari makan ke mana jika tetangga tidak memberi beras. Rasanya sangat perih,” tutur Titi dengan nada lirih.
Bergantung pada Bantuan Tetangga dan Pemerintah
Untuk memenuhi kebutuhan pangan, ibu dan anak ini sangat mengandalkan kebaikan hati para tetangga, terutama saat musim panen tiba. Selain itu, mereka tercatat sebagai penerima bantuan sosial dari pemerintah.
Titi menerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sebesar Rp600.000, sedangkan Ma Ukay mendapatkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dengan nilai yang sama. Dana bantuan yang turun setiap tiga bulan sekali tersebut mereka gunakan dengan sangat hemat untuk membeli sayuran dan keperluan pokok lainnya di warung terdekat.
Harapan Kunjungan Bupati Pangandaran
Di tengah himpitan ekonomi, Titi memendam keinginan besar agar Bupati Pangandaran, Citra Pitriyami, berkenan datang dan melihat langsung realita kehidupan mereka. Ia merasa selama ini pihak pimpinan daerah belum mengetahui keberadaan warga yang sangat membutuhkan perhatian seperti dirinya.
“Saya sangat berharap Ibu Bupati bersedia berkunjung ke sini agar beliau tahu kondisi kami yang sebenarnya. Selama ini belum pernah ada Bupati yang datang menjenguk kami,” ujar Titi.
Titi berharap pemerintah daerah lebih peka dalam memantau kondisi warga miskin dan penyandang disabilitas di wilayah pelosok. Ia merindukan kehidupan yang lebih layak dan perhatian nyata yang melampaui sekadar urusan administrasi di kantor desa.
(Sajidin)


