spot_img
Senin 2 Februari 2026
spot_img
Beranda blog Halaman 27

Pemkot Bandung Tahan Operasional Insinerator, Masih Tunggu Hasil Uji Emisi

0
Bandung, FOKUSJabar.id
Sebanyak 15 insinerator di Kota Bandung belum bisa dioperasikan, Tunggu Hasil Penelitian Uji Emisi

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kota Bandung menegaskan bahwa seluruh insinerator yang dimiliki saat ini belum dapat dioperasikan, lantaran masih berstatus sebagai objek penelitian dan menunggu hasil uji emisi. Langkah ini sebagai bentuk kehati-hatian agar pengelolaan sampah tidak menimbulkan dampak lingkungan baru.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan bahwa hingga kini belum ada hasil uji emisi yang dapat menjadi dasar pengoperasian insinerator. Proses pengujian masih berlangsung dan membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Baca Juga: Pemkot Bandung Turunkan Bantuan Tanggap Bencana ke Bandung Barat

“Belum ada pembaruan hasil uji emisi karena penelitiannya masih berjalan. Uji emisi itu sendiri memerlukan waktu minimal sekitar 18 hari kerja,” ujar Farhan di Alun-Alun Ujungberung, Senin (26/1/2026).

Farhan menekankan, seluruh insinerator yang ada saat ini belum diperbolehkan digunakan dan difokuskan sebagai bahan kajian ilmiah. Penelitian melibatkan sejumlah pihak independen, termasuk perguruan tinggi seperti ITB dan Unisba, serta lembaga penguji terkait.

“Statusnya masih objek penelitian. Kalau nanti menemukan teknologi yang benar-benar ramah lingkungan, insinerator bisa berkembang sebagai bagian dari teknologi thermal,” jelasnya.

Menurut Farhan, proses pengujian tidak bisa secara bersamaan oleh seluruh pihak karena keterbatasan jadwal, baik dari institusi akademik maupun lembaga penguji seperti Sucofindo yang saat ini juga memiliki tingkat aktivitas tinggi.

15 Unit insinerator Belum Beroperasi

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Darto, mengungkapkan bahwa Pemkot Bandung memiliki 15 unit insinerator. Seluruhnya belum beroperasi karena tengah persiapan pemasangan modul Air Pollution Control (APC) sebagai sistem pengendali emisi.

“Modul APC ini bersifat plug and play. Tinggal pemasangannya di alat yang sudah ada, kemudian kita ukur bersama, termasuk dengan Kementerian Lingkungan Hidup,” ujar Darto.

Ia menjelaskan, apabila hasil uji emisi nantinya memenuhi standar baku mutu lingkungan, maka 15 insinerator tersebut akan beroperasi tanpa penambahan unit baru. Namun, jika hasilnya tidak sesuai ketentuan, operasional insinerator akan berhenti beroprasi.

“Kalau hasilnya tidak baik, ya berhenti. Jangan memaksakan,” tegasnya.

Saat ini, satu unit insinerator tengah dalam kajian proyek percontohan pemasangan modul APC. Uji coba tersebut kepada insinerator yang berada di sekitar Jalan Sukabumi. Jika penerapannya berjalan lancar, teknologi serupa akan direplikasi ke 14 unit lainnya.

“Satu alat sedang dalam pengembangan. Kalau proses plug and play-nya berjalan mulus, akan kita replikasi ke 14 insinerator lainnya,” pungkas Darto.


(Yusuf Mugni)

Ormas GAS Tuding Ada Mafia Tanah Berkedok “Koperasi Siluman”

0
Ormas Gas Mafia Tanah fokusjabar.id
Sekjen Ormas GAS, Mulyono Khaddafi

GARUT, FOKUSJabar.id: Organisasi Kemasyarakatan Gerakan Anak Sunda (Ormas GAS) memenuhi undangan Kejaksaan Negeri (Kejari) Garut Jawa Barat (Jabar) terkait laporan dugaan “mafia tanah” di wilayah Desa Gandamekar Kecamatan Kadungora, Senin (26/1/2026).

Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Ormas GAS, Mulyono Khaddafi, sebelumnya Dia telah melaporkan dugaan penyalahgunaan wewenang dan praktik tidak etis dalam urusan pertanahan per tanggal 26 Desember 2025 lalu.

BACA JUGA:

Ormas GAS ‘Ngamuk’ Dinas Koperasi dan UKM Garut Menyerah?

“Alhamdulillah pihak Kejari Garut sangat merespons laporan masyarakat. Khususnya terkait dugaan mafia tanah di wilayah Desa Gandamekar Kecamatan Kadungora,” kata Mulyono.

Dia menyebut, laporan tersebut terkait tanah milik orang lain yang di klaim oleh seseorang dengan surat-surat yang di anggap palsu.

Di mana pada 12 November 2021 telah terbit Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) No00077 atas nama pemegang hak Koperasi Kiaradodot dengan akta pendirian no48 tertanggal 15 Februari 2016 dengan dasar pendaftaran Surat Keputusan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Garut tanggal 30 September 2021 No 00098/SKHGB/BPN-10,17/IX/2021 Surat Ukur tanggal 05 November 2021 No01182/Gandamekar/2021 Luas 801m2 di duga kental dengan praktik mafia tanah.

“Kepala Sub Seksi Penyidikan dan Pengendalian Operasi Seksi Tindak Pidana Khusus Kejari Garut, Cik Muhamad Syahrul mengundang untuk kroscek tentang dugaan mafia tanah,” ungkapnya.

Pihaknya mengutarakan adanya sebuah kejanggalan yang di mohonkan oleh seseorang bernisial AD untuk di keluarkan SHGB.

BACA JUGA:

Diduga Ada Mafia Tanah, Ormas GAS Lapor Kejari Garut

“Petunjuk di SHGB menyatakan, tanah negara bekas milik adat Kohir Nomor 583, Kelas D III tercatat atas nama Koperasi Rakyat. Kemudian pada tahun 2019 di lepaskan haknya kepada negara untuk kepentingan pemohon (Koperasi Kiaradodot),” imbuhnya.

Koperasi Kiaradodot yang didirikan pada tahun 2016 hingga kini tidak aktif. Bahkan, Pemda Garut melalui Dinas Koperasi dan UKM telah dua kali melayangkan surat yang menerangkan bahwa Koperasi tersebut tidak aktif.

“Karena tidak ada kantor, anggota dan aktivitas, Kiaradodot bisa dikatakan ‘koperasi siluman’,” tegas Mulyono.

Untuk itu, pihaknya berharap Alat Penegak Hukum (APH) segera mengusut tuntas kejadian tersebut dengan memanggil pihak-pihak terkait dan proses penegakan hukum berjalan. Sehingga praktik-praktik mafia tanah yang merugikan masyarakat tidak terulang kembali.

“Kami akan bongkar semua mafia tanah,” pungkas Mulyono.

(Bambang Fouristian)

Pemkot Bandung Turunkan Bantuan Tanggap Bencana ke Bandung Barat

0
Bandung, FOKUSJabar.id
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengerahkan bantuan tanggap bencana ke Kabupaten Bandung Barat (KBB) dengan fokus pada proses evakuasi korban serta operasional dapur umum bagi warga terdampak bencana -Ist-

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menunjukkan respons cepat dalam penanganan bencana di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Sejumlah bantuan tanggap darurat dikerahkan, dengan fokus utama pada evakuasi korban serta penyelenggaraan dapur umum bagi warga terdampak.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa dukungan tersebut merupakan bentuk solidaritas antardaerah dalam menghadapi situasi darurat. Seluruh bantuan yang disalurkan bersifat darurat dan disesuaikan dengan sumber daya yang telah tersedia di Kota Bandung.

Baca Juga: Tanpa Insinerator, Bandung Andalkan Gaslah untuk Pangkas 40 Ton Sampah per Hari

“Bantuan ke Bandung Barat ini murni tanggap bencana. Fokusnya pengerahan personel dan pemanfaatan bantuan yang memang sudah siap,” ujar Farhan di Alun-Alun Ujungberung, Senin (26/1/2026).

Sebagai bagian dari upaya evakuasi, Pemkot Bandung mengerahkan personel Dinas Kebakaran dan Penyelamatan ke lokasi terdampak. Hingga kini, dua unit pemadam kebakaran masih siaga untuk membantu proses pencarian dan evakuasi korban, terutama di kawasan berlumpur yang sulit terjangkau alat berat.

Farhan menjelaskan, kondisi medan di lokasi bencana membuat penggunaan alat berat seperti ekskavator tidak selalu memungkinkan. Oleh sebab itu, melakukan penyemprotan air untuk melunakkan lumpur agar proses evakuasi secara manual bisa berlangsung dengan aman.

“Kami menurunkan dua satuan pemadam, khususnya untuk menyemprotkan air di area berlumpur karena pengangkatan korban tidak bisa menggunakan beko,” jelasnya.

Dapur Umum Untuk Warga Terdampak

Selain mendukung evakuasi, Pemkot Bandung juga terlibat dalam penyediaan dapur umum bagi warga terdampak. Operasional dapur umum ini melalui koordinasi lintas instansi, dengan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat bertindak sebagai koordinator utama.

“Untuk dapur umum, kami bekerja bersama banyak pihak. Koordinator tetap Kabupaten Bandung Barat, sedangkan kami mendukung bersama TNI dan kepolisian,” ungkap Farhan.

Dari sisi anggaran, penyaluran bantuan dari Pemkot Bandung dalam perkiraan mencapai sekitar Rp3 miliar. Dana tersebut untuk pengerahan personel, operasional lapangan, serta distribusi bantuan logistik yang tersedia di gudang pemerintah.

Farhan menegaskan, bantuan kepada Kabupaten Bandung Barat merupakan wujud komitmen Pemkot Bandung dalam memperkuat kerja sama regional, khususnya dalam penanganan bencana.

“Bencana tidak mengenal batas administrasi. Karena itu, penanganannya harus bersama dan saling mendukung antarwilayah,” pungkasnya.


(Yusuf Mugni)

Tanpa Insinerator, Bandung Andalkan Gaslah untuk Pangkas 40 Ton Sampah per Hari

0
Bandung, FOKUSJabar.id
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan Saat Meresmikan Program Gaslah di Alun-Alun Ujungberung Kota Bandung Senin (26/1/2026)

BANDUNG,FOKUSJabar.id Pemerintah Kota Bandung mengambil langkah tegas menghadapi krisis pengelolaan sampah pasca penghentian operasional insinerator. Salah satu terobosan yang diluncurkan adalah program Petugas Pemilah Pengolah (Gaslah), yang difokuskan pada pengurangan sampah langsung dari sumbernya, yakni rumah tangga.

Program ini ditargetkan mampu menekan hingga 40 ton sampah organik per hari, dengan melibatkan ribuan petugas yang ditempatkan di tingkat rukun warga (RW).

Baca Juga: Soal Pencarian Korban Longsor Cisarua KBB, Ini Kata Wagub Jabar

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menjelaskan dalam rancangannya Gaslah sebagai sistem pengelolaan sampah berbasis wilayah terkecil. Sebanyak 1.596 petugas direkrut dengan skema satu petugas satu RW, yang bertugas memastikan warga memilah sampah sejak dari rumah.

“Setiap pagi petugas akan mendatangi rumah warga untuk memastikan pemilahan sampah berjalan. Sampah organik pengolahannya langsung di kelurahan, sementara nonorganik diangkut oleh armada,” ujar Farhan usai peresmian program Gaslah di Alun-Alun Ujungberung, Senin (26/1/2026).

Menurut Farhan, setiap kelurahan dalam target mampu mengolah 25 kilogram sampah organik per RW per hari. Dengan rata-rata 10 RW per kelurahan, jumlah sampah yang bisa diolah mencapai 250 kilogram per hari di setiap wilayah.

“Tugas lurah memang berat, karena setiap kelurahan wajib memiliki fasilitas pengolahan sampah organik,” katanya.

Pengolahan sampah organik melalui berbagai metode, seperti budidaya maggot dan komposter. Manfaat dari hasilnya untuk mendukung program Buruan Sae di masing-masing kelurahan.

TPA Sarimukti Berada pada Tahap Kritis

Farhan menegaskan, memilih pendekatan ini karena kondisi TPA Sarimukti yang sudah berada pada tahap kritis. Oleh sebab itu, pengolahan sampah tidak lagi bertumpu pada tempat pembuangan akhir maupun TPS.

“Fokus kita sekarang adalah pengolahan di sumber. Gaslah bukan sekadar petugas angkut, tetapi juga edukator agar pengelolaan sampah berhenti di level RW,” tegasnya.

Untuk sampah nonorganik, pengelolaannya di tingkat kecamatan melalui optimalisasi TPS agar proses pengangkutan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) berjalan lebih tertib.

“Saya sudah mendapat peringatan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Pemprov bahwa Sarimukti benar-benar kritis. Maka tidak ada pilihan lain selain mengelola sampah dari sumbernya,” ungkap Farhan.

Dari sisi anggaran, setiap petugas Gaslah menerima gaji Rp1.250.000 per bulan, dengan total kebutuhan anggaran sekitar Rp27 miliar per tahun.

“Dari 1.596 pendaftar, sekitar 900 sudah direkrut, 300-an masih proses, dan sekitar 400 gugur dalam seleksi,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala DLH Kota Bandung, Darto, menyampaikan program Gaslah akan terus meluas hingga seluruh RW terisi penuh. Jam kerja petugas bersifat fleksibel dan menyesuaikan dengan kebutuhan wilayah, di bawah koordinasi lurah dan ketua RW.

“Targetnya satu petugas bisa mengolah 25 kilogram sampah organik per hari. Kalau konsisten, satu kota bisa mengurangi sekitar 40 ton per hari,” kata Darto.

DLH juga menyiapkan sistem pelaporan berbasis dashboard untuk memantau kinerja petugas secara real time. Adapun penanganan sampah pasar akan melalui mekanisme tersendiri di luar skema Gaslah.

“Begitu petugas mulai bekerja, target harus berjalan. Sistem pelaporan sudah kami siapkan dan bisa dipantau,” jelasnya.

Meski demikian, Darto menekankan peran aktif masyarakat tetap menjadi kunci keberhasilan program ini.

“Petugas ada bukan berarti warga lepas tangan. Pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama,” pungkasnya.


(Yusuf Mugni)

Seni, Budaya, dan Kuliner Priangan Bertemu di EXSIS Niskala X SMAN 1 Ciamis

0
CIAMIS, FOKUSJabar.id
Ketpot: Kegiatan Exsis niskala SMAN 1 Ciamis

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Halaman SMAN 1 Ciamis selama dua hari berubah menjadi panggung ekspresi seni dan budaya. Ratusan siswa tumpah ruah dalam EXSIS (Extensive Memory Festival) Niskala X 2026, sebuah festival seni-budaya yang menjadi ruang eksplorasi kreativitas sekaligus pengenalan kekayaan budaya Priangan.

Kegiatan yang berlangsung di kampus SMAN 1 Ciamis, Jalan Gununggaluh, Kabupaten Ciamis itu melibatkan seluruh siswa kelas X, XI, dan XII. Rancangan festival ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan wadah pembelajaran kontekstual bagi pelajar.

Baca Juga: Bupati Ciamis: Penting Jaga Kebersihan untuk Kenyamanan Masyarakat

Wakasek Kesiswaan SMAN 1 Ciamis, Zaen, menjelaskan bahwa EXSIS Niskala merupakan agenda tahunan sekolah yang fokus menggali potensi siswa di bidang seni dan budaya.

“Festival ini berlangsung selama dua hari dan seluruh siswa mengikuti. Tujuannya agar mereka bisa mengekspresikan sekaligus mengenal lebih dalam seni dan budaya daerah,” ujar Zaen, Senin (26/1/2026).

Pada puncak acara, suasana semakin semarak dengan pagelaran kesenian tradisional dari berbagai daerah serta pameran kuliner khas Priangan. Setiap stan menampilkan identitas daerah yang berbeda, mulai dari seni pertunjukan hingga sajian makanan dan minuman tradisional.

“Budaya, kesenian, dan kuliner dari berbagai wilayah Priangan kami tampilkan. Setiap stan wajib mengangkat daerah yang berbeda, sehingga tidak ada yang sama antara satu dengan lainnya,” jelasnya.

Menurut Zaen, penerapan konsep ini agar para pelajar tidak hanya mengenal budaya daerahnya sendiri, tetapi juga memahami keberagaman budaya di wilayah Priangan secara utuh.

Antusiasme peserta pun terasa kuat. Salah satunya Raesyia, siswi SMAN 1 Ciamis, mengaku senang bisa terlibat langsung dalam EXSIS Niskala X.

“Stan kami menampilkan makanan khas Kota Bogor. Kegiatan ini seru karena menambah wawasan budaya sekaligus menjadi ajang penerapan kegiatan ekstrakurikuler,” ungkapnya.

Melalui EXSIS Niskala X 2026, SMAN 1 Ciamis menegaskan komitmennya menjadikan sekolah sebagai ruang pelestarian budaya sekaligus laboratorium kreativitas generasi muda.


(Husen Maharaja)

Bupati Ciamis: Penting Jaga Kebersihan untuk Kenyamanan Masyarakat

0
Bupati Ciamis fokusjabar.id
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya saat memimpin Rakor

CIAMIS, FOKUSJabar.id: Bupati Ciamis Jawa Barat (Jabar), Herdiat Sunarya memimpun Rapat Koordinasi (Rakor) menjelang kunjungan Menteri Lingkungan Hidup.

Menurut Herdiat, tujuan rakor untuk  menindaklanjuti temuan tim pengecekan kebersihan pusat serta mengimplementasikan Surat Edaran Bupati mengenai imbauan menjaga kebersihan lingkungan yang melibatkan seluruh jajaran camat dan kepala desa.

BACA JUGA:

Keluarga Besar Iluni SMEAN/SMKN 1 Ciamis Gelar Jalan Sehat

“Kunjungan Pak Menteri itu merupakan respons atas prestasi Ciamis sebagai kota kecil terbersih se-Asia Tenggara. Meski di nilai bersih, tim pemantau pusat memberikan catatan khusus terkait kurangnya perawatan di sepanjang jalan provinsi dan jalan nasional yang melintasi wilayah Ciamis,” katanya, Senin (26/1/2026).

Bupati Ciamis mengatakan, meski jalan tersebut merupakan kewenangan pemerintah pusat dan provinsi. Namun Pemkab Ciamis serta masyarakat harus tetap mengambil peran aktif dalam merawat kebersihan dan drainase demi kenyamanan bersama.

“Beberapa temuan krusial yang perlu segera di benahi. Antara lain, bekas pembakaran sampah di pinggir jalan, kondisi 45 pasar yang masih di kelola secara tradisional serta masalah kebersihan di pasar hewan. Selain itu, rumah-rumah kosong di sepanjang jalan protokol yang tidak terawat juga harus  menjadi sasaran pembersihan guna menjaga estetika kota,” ucapnya.

Herdiat meminta, sinergi penuh dari camat dan kepala desa untuk mengondisikan wilayah masing-masing.

Dia juga menyampaikan belasungkawa atas bencana longsor di Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Bencana tersebut sebagai pengingat pentingnya menjaga kelestarian alam untuk mencegah bencana serupa.

BACA JUGA:

Dukung MBG, Kandang Ayam Petelur Merah Putih Ciamis Diresmikan

“Kita harus benar-benar menjaga lingkungan agar tetap hijau untuk mencegah terjadinya bencana alam yang di sebakan hutan gundul,” jelasnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ciamis, Giatno menjelaskan, langkah konkret yang harus di mulai dari sumbernya yaitu melalui pengurangan dan pemilahan sampah.

“Masyarakat di dorong untuk memanfaatkan bank sampah untuk sampah bernilai ekonomi serta mengelola sampah organik menjadi komposter atau pakan ternak agar tidak menumpuk di tempat pembuangan,” ungkapnya.

(Husen Maharaja)

Bupati Garut Ajak Masyarakat Jaga Lingkungan

0
Bupati Garut fokusjabar.id
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin

GARUT, FOKUSJabar.id: Bupati Garut Jawa Barat (Jabar), Abdusy Syakur Amin mengajak seluruh jajaran aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana alam.

Dia juga mengajak mendoakan para korban bencana longsor yang melanda wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang mengakibatkan lebih dari 100 orang hilang.

BACA JUGA:

Cuaca Ekstrem Terjang Pangatikan Garut, 1 Rumah di Sukamulya Roboh

Bupati menekankan bahwa bencana tersebut harus menjadi pelajaran berharga bagi warga Garut.

Soroti Dampak Alih Fungsi Lahan

Menuurt Syakur, salah satu pemicu utama bencana longsor diduga kuat adalah alih fungsi lahan yang tidak terkendali.

Dia menyatakan keprihatinannya saat menemukan hutan yang dulunya rimbun dengan pepohonan tegakan tinggi kini berubah menjadi ladang musiman.

“Saya melihat ada hal yang cukup memprihatinkan. Lahan yang tadinya hutan dengan pohon tinggi dan kuat, kini berubah menjadi ladang tanaman semusim yang tidak memiliki akar kuat untuk menahan tanah,” kata Bupati Garut.

Instruksi kepada Camat dan Kepala Desa

Guna mengantisipasi terjadinya bencana serupa di Garut, Dia memberikan instruksi tegas kepada para camat dan kepala desa untuk menyosialisasikan dengan masif dan  tidak bosan mengimbau dan mengajak masyarakat menjaga lingkungan.

Selain itu, camat dan kades memberikan edukasi untuk tidak ada lagi perusakan hutan atau lingkungan di wilayah masing-masing.

BACA JUGA:

Bendungan Leuwi Halang Jebol, Ganggu Irigasi 103 Hektar Sawah di Pameungpeuk Garut

Camat dan kades juga diingatkan  agar memprioritaskan dana dan tenaga untuk mitigasi serta pencegahan bencana daripada harus menanggung kerugian besar saat bencana terjadi.

“Jangan menunggu ada bencana, jangan menunggu ada korban. Lebih baik dana dan upaya dikonsentrasikan untuk mitigasi,” tegasnya.

Rencana Gerakan Penanaman Pohon

Sebagai langkah konkret, Pemerintah Kabupaten Garut berencana menggelar gerakan penanaman pohon keras secara luas.

Bupati menyatakan, pihaknya tengah menjalin komunikasi dengan lembaga terkait untuk penyediaan bibit pohon.

(Y. A. Supianto)