BANDUNG,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kota Bandung menegaskan pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya terus bergerak sesuai jadwal. Sejumlah tahapan proyek kini memasuki fase penting, mulai dari proses lelang hingga penerbitan kontrak rehabilitasi shelter.
Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain, menjelaskan Pemkot Bandung telah menggelar rapat koordinasi bersama pemerintah pusat guna mempercepat realisasi proyek transportasi massal tersebut. Dari pertemuan itu, beberapa kontrak kerja telah terbit, khususnya untuk rehabilitasi shelter BRT.
Baca Juga: Pemkot Bandung Gelar Bazar Murah Utama di 30 Kecamatan
“Sebagian kontrak shelter sudah terbit. Untuk pembangunan jalur khusus BRT masih berjalan dalam proses lelang,” ujar Iskandar di Balai Kota Bandung, Senin (2/2/2026).
Ia menyampaikan, perencanaan jalur BRT saat ini masih menunggu finalisasi dari pihak konsultan. Berdasarkan informasi terakhir, dokumen perencanaan tersebut diperkirakan rampung pada akhir Februari 2026.
“Dari konsultan, jalur BRT ditargetkan selesai akhir Februari. Sementara itu, proses lelang pelaksanaannya sudah berjalan,” jelasnya.
Pemkot Bandung merancang sebanyak 18 rute BRT yang akan menghubungkan berbagai kawasan strategis di wilayah Bandung Raya. Rute tersebut antara lain Cibiru–Kalapa, Lembang–Taman Tegallega, Leuwipanjang–Dipatiukur–Dago, Elang–Riau, Ciroyom–Pajajaran–Antapani, Dago–Leuwipanjang–Cibaduyut, hingga Padalarang–Alun-alun Bandung.
Sosialisasi Proyek BRT Bandung Raya Masuk Tahap Krusial
Selain itu, BRT juga akan melayani rute Cimahi–Cicaheum, Ledeng–Antapani, Cicaheum–Kalapa, Tegalluar Stasiun Hall, Soreang–Terminal Tegallega, Jatinangor–Leuwipanjang–Cibeureum, Majalaya–Baleendah–Leuwipanjang, Banjaran–Baleendah–BEC, Sarijadi–Antapani, Cicaheum–Sarijadi, serta Jatinangor–Dipatiukur melalui tol.
Iskandar menargetkan kontrak pembangunan jalur BRT dapat terbit pada Februari 2026. Sementara itu, kontrak rehabilitasi shelter sudah tersedia, meski detail teknisnya masih menunggu dokumen resmi.
“Februari ini kami harapkan kontrak jalur sudah keluar. Untuk shelter, kontraknya memang sudah ada, tetapi rincian teknisnya masih perlu konfirmasi,” katanya.
Seiring mulainya pengerjaan fisik, Pemkot Bandung juga menyiapkan langkah sosialisasi kepada masyarakat. Aparat kewilayahan bersama tim BRT akan terlibat untuk menyampaikan informasi, khususnya terkait rehabilitasi shelter yang segera memulai pembangunan.
“Kami akan melibatkan aparat wilayah dan tim BRT agar masyarakat mengetahui rencana pekerjaan. Detail seperti jumlah titik dan luas shelter masih menunggu dokumen kontrak resmi,” ucapnya.
Sementara terkait pengadaan armada BRT, Pemkot Bandung belum dapat memastikan waktunya. Iskandar menyebut pihaknya masih menunggu Detail Engineering Design (DED) dari pemerintah pusat sebagai acuan teknis.
“Untuk armada, informasinya belum lengkap karena kami masih menunggu DED. Dokumen ini penting, termasuk untuk melihat titik yang bersinggungan dengan kepentingan lain seperti area parkir,” pungkasnya.
(Yusuf Mugni)



