GARUT, FOKUSJabar.id: SPPG Garut Sukawening Sukasono di bawah Yayasan Pondok Pesantren Annajaat setiap hari melayani lebih dari 2.100 penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam pelaksanaannya berupaya memastikan seluruh proses berjalan secara terencana, tertib, higienis serta memperhatikan aspek kualitas dan keamanan pangan.
BACA JUGA:
BGN Dorong Pengadaan Bahan Baku MBG dari Wilayah Setempat
Proses di awali dari perencanaan menu yang di lakukan sekitar dua hari sebelum pendistribusian. Chef bersama Pengawas Gizi menyusun dan menyiapkan menu dengan mempertimbangkan kebutuhan gizi penerima manfaat.
Menu tersebut kemudian di koordinasikan dan di konfirmasi bersama Kepala SPPG serta Pengawas Keuangan sebelum masuk ke tahap pengadaan bahan baku.
Kepala SPPG Garut Sukawening Sukasono, Rian Fadrian Rizki mengatakan, pihaknya tidak bergantung pada satu pemasok atau sistem satu pintu.
Bahan baku di peroleh dari sekitar 15 supplier yang berbeda, di sesuaikan dengan jenis dan kebutuhan bahan.
Diversifikasi supplier di lakukan untuk menjaga ketersediaan bahan, mengurangi risiko gangguan pasokan serta memberikan fleksibilitas dalam memperoleh bahan baku yang memenuhi standar kualitas.
“Khusus bahan tertentu yang sangat memperhatikan kesegaran. Daging Ayam misalnya, pemesanan di lakukan lebih dekat dengan waktu pengolahan. Dengan begitu, kualitas bahan tetap optimal,” ungkap Rian, Senin (14/9/2026).
Dia menyebut, sebagian besar bahan baku di terima satu hari sebelum proses produksi pada pukul 17.00–21.00 WIB.
Pada tahap penerimaan, bahan di periksa oleh Penanggung Jawab Gudang, Pengawas Gizi dan Asisten Lapangan. Bahan yang tidak memenuhi standar kualitas akan di pisahkan untuk di kembalikan atau tidak di gunakan dalam proses produksi.
Langkah tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pengendalian mutu bahan baku sebelum masuk ke dapur.
Setelah bahan tersedia, tim persiapan mulai bekerja yang di sesuaikan dengan menu yang akan di produksi. Kegiatan meliputi pencucian, pemotongan dan persiapan bahan lainnya sesuai arahan Chef.
Selanjutnya, tim pengolahan mulai bekerja sekitar pukul 02.30 WIB. Chef bertanggung jawab mengarahkan proses pengolahan.
“Saya memantau untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai prosedur. Proses memasak di lakukan dalam beberapa batch. Umumnya dua hingga tiga batch, menyesuaikan kebutuhan produksi,” imbuhnya.
Setelah makanan matang dan berada pada kondisi yang aman untuk di porsikan, tim pemorsian mulai bekerja sekitar pukul 05.00 WIB.
Gramasi porsi di tentukan berdasarkan arahan Pengawas Gizi agar setiap porsi memenuhi kebutuhan gizi yang telah di rencanakan.
“Proses ini di lakukan dengan memperhatikan konsistensi jumlah dan kesesuaian porsi. Sehingga makanan yang di terima oleh penerima manfaat memiliki standar yang relatif seragam,” tegas Rian.
BACA JUGA:
BGN Perluas MBG ke Sekolah Wilayah 3T dan Stunting Tinggi
Pendistribusian batch pertama di targetkan mulai sekitar pukul 07.00 WIB. Pengiriman di lakukan secara bertahap sesuai jadwal masing-masing penerima manfaat. Dengan begitu, makanan dapat di terima dalam kondisi optimal atau dalam rentang waktu yang baik untuk di konsumsi.
“Distribusi berikutnya dapat berlangsung hingga sekitar pukul 11.00–12.00 WIB, bergantung pada jadwal penerima manfaat dan kondisi operasional pada hari tersebut,” katanya.
Dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM), operasional SPPG di dukung oleh berbagai bagian yang memiliki tugas masing-masing.
Tim Pengolahan terdiri dari 9 orang, Tim Persiapan 9 orang serta 1 Chef sebagai penanggung jawab proses pengolahan.
Selain itu, Pengawas Gizi, Pengawas Keuangan, Asisten Lapangan serta personel yang mendukung kegiatan gudang, pemorsian, distribusi, dan kebersihan atau sanitasi.
Seluruh pekerja telah memiliki sertifikat Penyuluhan Keamanan Pangan (PKP) sebagai bagian dari upaya peningkatan kompetensi dalam penyelenggaraan makanan.
SPPG Garut Sukawening Sukasono telah di lengkapi dengan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), Sertifikat Halal serta Penyelia Halal.
“Kelengkapan tersebut menjadi bagian dari komitmen dalam menjaga standar kebersihan, keamanan pangan dan aspek kehalalan dalam setiap proses penyelenggaraan makanan,” ucap Rian.
Dalam perjalanan operasional selama kurang lebih tiga bulan, tantangan utama lebih banyak berada pada tahap adaptasi dan penyempurnaan sistem.
BACA JUGA:
Wamenko Pangan: Penutupan SPPG tak Kantongi SLHS Berlanjut
Pada masa awal, pihaknya perlu menyesuaikan pelayanan dengan kebutuhan penerima manfaat, membangun pola kerja dengan berbagai supplier untuk menemukan bahan baku yang paling sesuai serta membantu relawan beradaptasi dengan ritme dan standar kerja di dapur produksi.
Di sisi manajemen, Dia juga terus menyelaraskan aturan dan ketentuan dari pusat dengan kondisi lapangan serta kebutuhan penerima manfaat.
Seiring berjalannya waktu, berbagai proses tersebut terus di evaluasi dan di perbaiki.
Bagi SPPG Garut Sukawening Sukasono, keberhasilan penyelenggaraan MBG bukan hanya mengenai terpenuhinya jumlah porsi. Tetapi juga bagaimana makanan di produksi dengan proses yang terencana, bahan baku yang terkontrol, pengolahan yang tertib, porsi yang sesuai serta distribusi yang tepat waktu.
Dengan kolaborasi seluruh tim, SPPG Garut Sukawening Sukasono berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan memastikan makanan yang di berikan kepada penerima manfaat aman, layak, bergizi dan dapat di terima dengan baik.
(Bambang Fouristian)



