spot_imgspot_img
Senin 31 Agustus 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Titik Panas Karhutla Naik, Lonjakan di Kalteng dan Kalbar

JAKARTA, FOKUSJabr.id: Jumlah titik panas (hotspot) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) secara nasional mencapai 20.378 titik per Sabtu (29/8/2026).

Angka tersebut meningkat di bandingkan 18.092 titik pada 28 Agustus 2026 dengan lonjakan signifikan terjadi di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Barat (Kalbar).

BACA JUGA:

Karhutla Mengancam 6 Provinsi, BMKG Kerahkan Operasi Modifikasi Cuaca

Kenaikan jumlah titik panas Karhutla di Kalteng dari 7.703 menjadi 8.488 dan di Kalbar dari 3.384 menjadi 6.526 hotspot.

“Kementerian Kehutanan dalam posisi siaga penuh. Terutama menyikapi peningkatan hotspot di Kalteng dan Kalbar,” kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri, Ristianto Pribadi di kutip katadata, Senin (31/8/2026).

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 pada tingkat kepercayaan high, medium dan low, jumlah hotspot nasional pada 29 Agustus 2026 tercatat 20.378 titik.

Mengalami peningkatan di bandingkan 18.092 titik pada 28 Agustus dan 14.788 titik pada 27 Agustus 2026. Data menggunakan cut off 29 Agustus pukul 23.59 WIB.

Di tengah peningkatan secara nasional tersebut, perkembangan pada enam provinsi prioritas menunjukkan kondisi yang beragam:

  • Kalimantan Selatan: turun dari 1.354 menjadi 867
  • Sumatera Selatan: turun dari 1.036 menjadi 808
  • Riau: turun tipis dari 265 menjadi 254
  • Jambi: turun dari 181 menjadi 159
  • Kalimantan Tengah: meningkat dari 7.703 menjadi 8.488
  • Kalimantan Barat: meningkat dari 3.384 menjadi 6.526.

Riastianto mengatakan, perkembangan positif juga terpantau di Riau. Pada Sabtu (29/8), hujan telah turun di sebagian wilayah dengan intensitas yang bervariasi. Bahkan mencapai hujan lebat di beberapa lokasi.

Namun, hujan belum merata karena masih terdapat wilayah yang belum mengalami hujan.

Kondisi ini mendukung upaya pengendalian karhutla, meskipun kewaspadaan tetap di jaga. Terutama pada area yang masih kering.

BACA JUGA:

Harga Telur tak Wajar jadi Sorotan Badan Gizi Nasional

Menurut dia, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa situasi karhutla masih dinamis. Penurunan hotspot di Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau dan Jambi serta mulai turunnya hujan di sebagian wilayah Riau menjadi perkembangan positif.

Namun, peningkatan hotspot di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat membuat penguatan kewaspadaan dan operasi di lapangan tetap menjadi prioritas.

Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus memperkuat pengendalian melalui patroli, groundcheck, pemadaman darat, penyekatan penjalaran api, mopping up, pendinginan serta pemantauan lokasi yang berpotensi mengalami penyalaan kembali.

Berdasarkan laporan operasi per 29 Agustus 2026 pukul 09.00 WIB, tercatat 112 laporan kejadian karhutla dan groundcheck firespot di 11 provinsi.

Dari jumlah tersebut, 47 kejadian telah di nyatakan padam. Sedangkan 65 lainnya masih dalam proses pemadaman.

Operasi pengendalian melibatkan Manggala Agni Kemenhut bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha dan para pihak lainnya.

Strategi penanganan disesuaikan dengan kondisi di masing-masing wilayah. Termasuk karakteristik lahan gambut, ketersediaan sumber air, kondisi bahan bakar, arah penjalaran api serta potensi dampaknya terhadap masyarakat dan fasilitas publik.

Jarak Pandang

Jarak pandang dan kualitas udara dapat berubah mengikuti konsentrasi asap, arah dan kecepatan angin, curah hujan serta kondisi atmosfer.

Karena itu, perkembangan hotspot, kondisi api di lapangan, kualitas udara, sebaran asap, cuaca dan jarak pandang terus di pantau secara terpadu sebagai dasar menentukan langkah operasi berikutnya.

Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat untuk tidak membuka ataupun membersihkan lahan dengan cara membakar.

Masyarakat di wilayah terdampak asap juga di minta terus mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara, cuaca dan jarak pandang serta menyesuaikan aktivitas apabila kondisi lingkungan memburuk.

Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran.

Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Sehingga setiap indikasi tetap memerlukan verifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi aktual di lapangan.

Masyarakat yang menemukan asap, titik api atau indikasi kebakaran di minta segera melapor agar dapat di tindaklanjuti petugas sedini mungkin melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan pada nomor 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email [email protected].

(Bambang Fouristian)

spot_img

Berita Terbaru