PURWOKERTO,FOKUSJabar.id: Denyut ekonomi di wilayah Priangan Timur, Jawa Barat, mencatatkan tren performa yang sangat impresif. Meski dinamika geopolitik di Timur Tengah tengah mengguncang stabilitas pasar global, neraca pertumbuhan ekonomi di kawasan penopang Jawa Barat ini justru melesat naik secara meyakinkan.
Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tasikmalaya merilis data terbaru yang menunjukkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi di wilayah Priangan Timur sukses menyentuh angka positif 5,56 persen pada awal tahun 2026.
Baca Juga: Sekolah MAUNG Hadir di SMAN 1 Singaparna Tasikmalaya, Ketua OSIS dan Hafiz Jadi Prioritas
Bahkan, jika berkaca pada rapor evaluasi tahun sebelumnya, performa finansial kawasan ini terbukti mampu mempecundangi pertumbuhan ekonomi nasional maupun tingkat provinsi.
“Tren neraca ekonomi di wilayah Priangan Timur tumbuh positif di angka 5,57 persen pada tahun 2025. Pertumbuhan ini bahkan melampaui pertumbuhan ekonomi secara nasional sebesar 5,11 persen maupun pertumbuhan regional Jawa Barat di angka 5,32 persen,” ungkap Kepala OJK Tasikmalaya, Nofa Hermawati, dalam acara Media Gathering di Purwokerto, Jawa Tengah, Jumat (22/5/2026).
Nofa menegaskan, ketahanan ekonomi lokal ini menjadi sinyal hijau yang kuat bagi para pemegang modal. Iklim bisnis yang kokoh otomatis akan mempercepat penetrasi investasi baru, yang pada gilirannya bakal mendongkrak kesejahteraan hidup masyarakat akar rumput.
Kredit Investasi Melesat 14,97 Persen, Pengusaha Garap Ekspansi Pasar
Selain membedah pertumbuhan ekonomi makro, OJK juga membongkar rapor kinerja sektor perbankan di Priangan Timur yang mencatatkan pertumbuhan tebal pada instrumen aset serta Dana Pihak Ketiga (DPK).
Hingga akhir Maret 2026, total aset perbankan di wilayah ini mengembang sebesar 3,78 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) hingga menyentuh angka Rp3,27 triliun. Masyarakat juga semakin percaya menempatkan modalnya di bank, terbukti dari nilai DPK yang terkerek naik 6,91 persen (yoy) menjadi Rp2,37 triliun. Sementara itu, sektor penyaluran kredit merangkak naik 1,89 persen (yoy) di angka Rp1,06 triliun.
Geliat ekspansi para pelaku usaha tercermin jelas dari lonjakan tajam pada instrumen kredit investasi yang melesat hingga 14,97 persen (yoy). Sebaliknya, kredit konsumsi tumbuh moderat sebesar 5,35 persen (yoy), dan alokasi modal kerja mengalami kontraksi sedalam 7,42 persen (yoy).
“Peningkatan kredit investasi ini akan mendorong permintaan terhadap pembiayaan, khususnya untuk pengadaan barang modal serta pengembangan kapasitas dan sektor usaha,” jelas Nofa.
Hingga awal tahun 2026, perbankan paling banyak mengalirkan pinjaman ke sektor rumah tangga dengan porsi dominan mencapai 44,67 persen. Posisi kedua ditempati oleh sektor pedagang besar dan eceran sebesar 23,71 persen, menyusul sektor bukan lapangan usaha lainnya 8,55 persen, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan 6,17 persen, serta industri pengolahan sebesar 5,85 persen.
Kucuran KUR Rp9,43 Triliun: Intip Rincian Pembagian Uang Modal di Tiap Daerah
Sebagai motor penggerak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), OJK mencatat penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Priangan Timur hingga Maret 2026 telah menembus angka fantastis, yakni sebesar Rp9,43 triliun. Stimulus finansial ini mengalir langsung ke tangan 11.670 debitur produktif.
Berikut adalah peta rincian penyaluran dana KUR di berbagai kota dan kabupaten sewilayah kerja OJK Tasikmalaya:
| Wilayah Kabupaten / Kota | Total Nilai Penyaluran KUR | Jumlah Penerima (Debitur) |
| Kabupaten Garut | Rp541 Miliar | 9.759 Debitur |
| Kabupaten Tasikmalaya | Rp430 Miliar | 8.097 Debitur |
| Kabupaten Sumedang | Rp324 Miliar | 5.883 Debitur |
| Kabupaten Ciamis | Rp321 Miliar | 5.684 Debitur |
| Kota Tasikmalaya | Rp202 Miliar | 2.756 Debitur |
| Kota Banjar | Rp43 Miliar | 711 Debitur |
OJK berharap intervensi modal kerja melalui skema KUR ini mampu menjadi bantalan ekonomi yang kuat, menstimulus pembukaan lapangan pekerjaan baru, sekaligus menjaga daya beli masyarakat di tengah hantaman ketidakpastian global.
(Seda)



