PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Sejak Juni 2026, warga Dusun Majingklak, Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran meratapi krisis air bersih yang melanda wilayah mereka. Kondisi darurat ini mengubah total pola hidup harian masyarakat setempat.
Demi memenuhi kebutuhan dasar seperti mandi dan mencuci, warga rela menempuh perjalanan bolak-balik sejauh 3 kilometer menuju satu-satunya sumur yang masih mengalirkan air.
Baca Juga: Bukan Sekadar Main di Pantai, Warga Pangandaran Justru Berburu “Harta Karun”
Sumur yang berlokasi di wilayah Cilutung tersebut kini menjadi tumpuan tunggal warga Majingklak. Walau sumur itu milik pribadi, sang pemilik tetap mengizinkan warga mengambil air dengan imbalan sukarela.
“Udah dari bulan Juni kita kaya gini terus. Syukurnya di sini tarifnya gak mahal, seikhlasnya. Buat mandi atau nyuci bayar Rp5.000 ya daripada enggak dapat air,” kata seorang warga, Yuni (51), saat membagikan pengalamannya, Jumat (14/8/2026).
Rutinitas Menguras Tenaga Setiap Pagi dan Sore
Yuni mengaku sudah hampir tiga bulan menjalani pola hidup yang berat ini. Setiap hari, ia harus menyambangi sumur Cilutung saat pagi dan sore demi membawa pulang pasokan air ke rumah.
“Susah air. Dari Majingklak ke Cilutung ya tiga kilo ada. Setiap hari pagi dan sore pun angkat air. Nyuci dua hari sekali,” ujarnya.
Satu-satunya sumber air yang tersisa ini memicu antrean panjang setiap hari. Terlebih warga yang datang terlambat harus rela mengular di lokasi.
“Mandi di tempat bisa numpang. Nyuci juga di sini numpang sekalian dekat sumurnya. Kalau udah kesiangan ya harus sabar antre,” kata Yuni.
Pindahkan Aktivitas Mencuci ke Area Sumur
Masyarakat kini terpaksa memindahkan seluruh aktivitas mencuci dari rumah ke area sekitar sumur. Mereka kemudian mengangkut tumpukan pakaian kotor dan perlengkapan cuci dari rumah, lalu menuntaskan semuanya di tempat penampungan air tersebut.
Bagi warga Majingklak, kekeringan ini telah menguras banyak waktu dan energi harian mereka hanya demi mendapatkan akses air bersih.
(Sajidin)



