spot_img
Minggu 5 Februari 2023
spot_img
More

    Tepung Kanjut, Kampung Unik di Kota Banjar

    BANJAR,FOKUSJabar.id: Tepung Kanjut, kota Banjar merupakan salah satu daerah yang banyak menyimpan hal unik dan menarik.

    Salah satu keunikan di Kota Banjar yaitu terkait nama wilayah. Kota Banjar memiliki kampung bernama Tepung Kanjut. 

    Kampung itu berada di Desa Sukamukti, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, Jawa Barat. 

    Kampung Tepung Kanjut mungkin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat asli Kota Banjar. 

    Namun tak sedikit pula orang yang tidak mengetahuinya lantaran namanya itu kini berubah menjadi Tembungkerta. 

    Wilayah ini menyimpan kisah unik yang cukup menarik untuk diketahui, salah satunya asal mula kampung bernama Tepung Kanjut. 

    Dalam bahasa Sunda tepung artinya bertemu dan kanjut adalah kelamin laki-laki. “Jadi nama Kampung Tepung Kanjut itu artinya tempat bertemunya dua orang laki-laki,” kata Shaleh (83) warga Hegarsari Kota Banjar. 

    Baca Juga: Pasir Heunceut Ciamis Bakal Jadi Tempat Wisata Alam

    Shaleh menceritakan, berdasarkan cerita dulu pada zaman kerajaan di kampung ini ada seorang pemuda tampan dari Mataram bernama Adananya.

    Adananya berkelana ke sebuah kampung bernama Pataruman dan di kampung itu dia kepincut sama seorang gadis cantik. 

    Ia pun tidak menyia-nyiakan perasaannya itu hingga akhirnya melamar gadis tersebut ke ibunya. Akan tetapi sang ibu menolak karena tau Adananya adalah raja dari Mataram. 

    Sedangkan gadis cantik itu terlahir dari kalangan masyarakat biasa sehingga sang ibu gadis itu merasa malu dan tidak merestui Adananya. 

    Sang gadis pun memutuskan untuk melarikan diri dari rumahnya ke arah barat dan di sana Adananya mengejarnya. 

    Ketika itu sang gadis memasuki hutan belantara dan terjerat oleh ‘tanaman areuy’ hingga kakinya terluka dan berdarah. 

    Adananya yang mengejar akhirnya menemukan darah sang gadis yang menempel di areuy hingga akhirnya dia terus mengikuti jejak darah yang berceceran dan kini lokasi tersebut bernama Cibereum karena ada darah bercak di tanaman areuy. 

    Ketika mengejar sang Gadis, Adananya tiba-tiba dihampiri seorang pemuda tampan yang hendak menolong sang gadis. Pemuda itu menghentikan langkah sang raja di sebuah bukit yang mana bukit tersebut kini bernama Tepung Kanjut. 

    “Bukit itu tempat pertemuan Adananya dan pemuda tampan yang kini bernama Tepung Kanjut,” kata Shaleh.

    Baca Juga: Ular Raksasa di Banjar Berhasil Ditangkap Damkar

    Di sana sang raja beradu kesaktian dengan pemuda tampan yang bernama Raden Singaperbangsa atau Dalem Tambakbaya yang gelarnya Adipati Kertabumi III. 

    Raden Singaperbangsa adalah Raja Galuh Kertabumi yang waktu itu pusat kota kerajaannya ada di Lingkungan Gunung yang kini menjadi sebuah desa di Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya. 

    Adananya sebetulnya mengetahui sosok pemuda tampan itu. Adananya sendiri merupakan ulama yang menyebar agama Islam dari Mataram. 

    Ia memiliki nama asli yaitu Pandasuka Sarikusumah yang kemudian dipusarkan di situs Pandasuka Batulawang. 

    Dalam petarungan itu para raja tidak ada yang menang dan kalah karena kesaktian keduanya seimbang. 

    Hingga akhirnya mereka sepakat untuk kembali mengejar sang gadis yang terus berlari ke arah Tenggara. 

    Ketika Adananya sampai di sebuah tempat dia berdiri atau dalam bahasa sundanya itu “ngadeg” dan terkejar oleh Dalem Tambakbaya. 

    “Sejak saat itu nama tempatnya diberi nama ‘Pangadegan’, mungkin mengambil namanya dari pangudagan atau pengejaran,” jelasnya. 

    Di tempat itu sang gadis pun beristirahat karena kelelahan. Adananya berusaha menangkapnya tapi dengan cepat Dalem Tambakbaya menghalangi hingga akhirnya mereka berkelahi kembali. 

    Dalam pertarungan, Adananya mengeluarkan ilmu terakhirnya yakni pukulan Saketi. Namun Dalem Tambakbaya berhasil menghindar dengan ilmu halimunan atau ilmu menghilang yang terlihat hanya sekejap atau dalam bahasa Sunda “Sajorelat”.

    Baca Juga: Viral Video Mesum Kebaya Hijau, Mabes Polri Turun Tangan

    Di tempat sosok Dalem Tambakbaya menghilang sekarang bernama Kampung Jelat. Nama itu berasal dari kata “Sajorelat” yang artinya hilang sekejap mata.

    Kedua pemuda tampan itu terus mengejar sang gadis hingga akhirnya sang gadis berlari menuju rumahnya. 

    Akan tetapi saat tiba di rumah sang ibu sudah tidak ada karena ibunya pun juga ikut mengejarnya. 

    Saat pengejaran sang ibu sempat bertemu dengan Adananya di sebuah kampung dan menanyakan keberadaan anaknya dengan bahasa Jawa “mana lare” yang artinya ke arah mana anaknya lari. 

    “Kini tempat pertemuan itu bernama Dusun Mandalare mengambil dari kata mana lare ucapan sang ibu,” katanya. 

    Sang gadis tidak dapat terkejar oleh keduanya karena Ia memiliki kesaktian yang lebih tinggi lantaran sebetulnya sang gadis bukan anak sang ibu tersebut melainkan putri kerajaan Galuh bernama Ni Nursari. 

    Karena kelelahan Adananya kemudian “ngarandeg” yang artinya berhenti istirahat begitu pula Dalem Tambakbaya. Kini tempat peristirahatan kedua raja itu bernama Randegan sampai sekarang. 

    Kedua raja itu beristirahat cukup lama hingga akhirnya kembali mengejar Ni Nursari. Sepanjang perjalanan mereka adu mulut Adananya ingin menjadikan Ni Nursari sebagai istri begitu pula Dalem Tambakbaya yang ingin menolong sang gadis. 

    Jalan itu kini bernama nama Cikadu hingga sekarang mengambil dari kata “papaduan” artinya adu mulut atau adu omongan. 

    Baca Juga: 5 Manfaat Minyak Kelapa untuk Kulit

    Sementara itu Ni Nursari terus berlari ke arah Timur lalu menyebrang ke Sungai Citanduy. Adananya dan Dalem Tambakbaya pun terus mengejar akan tetapi sang gadis larinya lebih cepat. 

    Di sebrang sungai akhirnya mereka bertiga menghilang. Semakin lama Sungai Citanduy pun menjadi ramai ditempati oleh bandar dari Kerajaan Galuh dan Mataram. 

    Di tepi sungai tersebut dulu terkenal dengan nama desa Bandar. Bandar-bandar dari Kerajaan Mataram menempati desa itu.

    Penggunaan bahasa di desa itu adalah Bahasa Sunda dan Jawa yakni “Jawa Reong”, Sedangkan desa tempat Ni Nursari dan Ibu tirinya bernama desa Bandar Pataruman. 

    Dulu kata Pataruman mengambil dari kata ” Patarungan” atau pertarungan. Pemakaian nama itu mengingat pertarungan Raja Adananya dan Dalem Tambakbaya yang merebutkan Ni Nursari kala itu. 

    Kisah tersebut yang dulunya Desa Bandar Pataruman karena banyak tanaman pohon tarum semacam pohon nila. 

    Kemudian mengganti nama Bandar Pataruman menjadi Banjar Patroman karena kala itu banyak orang yang salah menyebutkannya.

    (BudianaMartin/Erwin)

    Berita Terbaru

    spot_img