spot_img
Senin 19 April 2021
spot_img
spot_img

22 Rahasia Paria untuk Kesehatan Anda

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Paria (Peria) atau pare adalah tumbuhan merambat berasal dari wilayah Asia Tropis. Yakni daerah India bagian barat (Assam dan Burma).

Anggota suku labu-labuan (Cucurbitaceae) biasa dibudidayakan untuk dimanfaatkan sebagai sayuran maupun bahan pengobatan. Nama Momordica yang melekat pada nama binomialnya berarti “gigitan” yang menunjukkan pemerian tepi daunnya yang bergerigi menyerupai bekas gigitan.

Peria memiliki banyak nama lokal. Di daerah Jawa di sebut sebagai pariaparepare pahitpepareh. Di Sumatra, dikenal dengan nama prieuforipeparekambehparia.

Sementara orang Nusa Tenggara menyebutnya payatruwukpaitappaliakpariakpania, dan pepule dan di Sulawesi disebut poyapudupentuparia belenggede serta palia.

paria fokusjabar.id
Sayur Peria (foto web)

Paria adalah sejenis tumbuhan merambat dengan buah yang panjang dan runcing pada ujungnya serta permukaan bergerigi. Dapat tumbuh baik di dataran rendah dan tumbuh liar di tanah telantar, tegalan, dibudidayakan atau ditanam di pekarangan dengan dirambatkan.

BACA JUGA: Atasi Penyakit Lambung Anda dengan 7 Obat Alami Ini

Tanaman ini tumbuh merambat atau memanjat dengan sulur berbentuk spriral, banyak bercabang, berbau tidak enak serta batangnya berusuk isma. Daun tunggal, bertangkai dan letaknya berseling, berbentuk bulat panjang, dengan panjang 3,5 – 8,5 cm, lebar 4 cm, berbagi menjari 5-7, pangkalnya berbentuk jantung serta warnanya hijau tua.

Bunga merupakan bunga tunggal, berkelamin dua dalam satu pohon, bertangkai panjang, mahkotanya berwarna kuning. Buahnya bulat memanjang, dengan 8-10 rusuk memanjang, berbintil-bintil tidak beraturan, panjangnya 8–30 cm, rasanya pahit, warna buah hijau, bila masak menjadi oranye yang pecah dengan tiga daun buah.

Paria tidak perlu cahaya matahari yang terlalu banyak sehingga dapat tumbuh subur di tempat-tempat yang agak terlindung. Benihnya diambil dari buah yang sudah cukup matang. Semai dalam polypot dengan ukuran 8–12 cm, isi dengan tanah yang baik.

Tanah harus selalu lembap, hingga tumbuh tunas. Jika daun sudah muncul sebanyak 2-4 lembar, sisakan satu dan cabut yang lainnya. Pidahkan ke tanah, dan siram dengan air yang cukup, dan tutup dengan sekam.

paria fokusjabar.id
Paria (foto web)

Akan tetapi, Paria yang berjenis peria gajih lebih baik ditanam di dataran rendah dengan tanah yang gembur. Biasanya ditanam di pekarangan, dan harus ada sedikit naungan agar buahnya dapat berwarna putih.

Cara lain menanam tanaman pare adalah tanam langsung dengan memasukan 2 biji ke dalam lubang sedalam 1– 2 cm kemudian ditimbun tanah.

Panen mulai usia 2 bulan dan diulangi setiap seminggu sekali. Peria gajih ditanam lewat bijinya. Saat menugal biji, sebaiknya diberi abu dapur dahulu. Sebab, menanam peria gajih tidak boleh sembarangan.

Sulurnya harus dibantu merambat ke tiang rambatan. Adapun, jika sulur induk sudah berdaun lebih dari 10 lembar, gunting ujungnya agar bunga betina tidak muncul dari sulur induk. Setelah sulur dipotong, kelak akan ada muncul sulur yang baru.

Jika hujan tidak juga turun, siram peria dengan teratur. Setelah bunga betina muncul, baru dilakukan pemupukan. Jangan berlebihan, sebab akan mengakibatkan daun menjadi lebab, akan tetapi buahnya tetap kecil saja.

Pemupukan dilakukan dua minggu sekali, dengan pupuk kimia atau organik. Kalau buahnya sudah terbentuk, harus dilapis kertas 2 rangkap untuk menghindarkan dari serangan lalat buah. Setelah 3 bulan, sudah bisa dipanen.

Buahnya sudah bisa dipanen jika permukaan buah sudah menggembung dan berair. Tekan bagian tengah buah, apabila masih keras, tunggu hingga sudah agak kenyal. Segerakanlah memetik buah sebelum menjadi kuning, karena itu pertanda buah sudah menua.

Buah yang menguning, sudah boleh diambil bijinya sebagai bibit. Apabila daun sudah menguning, cabutlah pohon peria tersebut, karena pertanda sudah tak produktif

Di negara-negara Asia Timur (Jepang, Korea dan Cina), Paria dimanfaatkan untuk pengobatan. Antara lain, obat gangguan pencernaan, minuman penambah semangat, obat pencahar dan perangsang muntah, bahkan telah diekstrak dan dikemas dalam kapsul sebagai obat herbal/jamu.

Buah Paria mengandung albuminoid, karbohidrat dan pigmen. Daunnya mengandung momordisina, momordina, carantina, resin dan minyak. Sementara akarnya mengandung asam momordial dan asam oleanolat dan bijinya mengandung saponin, alkaloid, triterprenoid serta asam momordia.

Buahnya yang berasa pahit biasa diolah sebagai sayur. Semisal gado-gado, pecel, rending atau gulai. Di Cina diolah dengan tausi, tauco, daging sapid an cabai sehingga rasanya makin enak atau diisi dengan adonan daging dan tofu.

Di Jepang, Paria dijadikan primadona makanan sehat karena diolah menjadi sup, tempura atau asinan sayuran.

Ekstrak biji peria selain digunakan sebagai bahan obat, ternyata juga dapat digunakan sebagai pembasmi larva alami yang merugikan (Aedes aegypti) yang menyebarkan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Sejak zaman pruba, Paria digunakan untuk merawat penderita kemcing manis karena terbukti berkhasiat hipoglikemik melalui insulin nabati yang mengurangi kandungan gula dalam darah dan air kencing.

Penelitian mengenai khasiat hipoglikemik ini dilakukan oleh William D.Torres pada tahun 2004 baik secara in vitro maupun in vivo.

Obat jenis ini menstimulasi sel beta kelenjar pankreas tubuh memproduksi insulin lebih banyak. Selain meningkatkan deposit cadangan gula glikogen di hati.

Momordisin, sejenis glukosida yang terkandung dalam peria juga mampu menurunkan kadar gula dalam darah dan membantu pankreas menghasilkan insulin.

Pare terkenal dengan rasa pahitnya sehingga masih ada orang yang enggan mengonsumsi sayuran ini.

Meski pahit, Paria ternyata memiliki segudang manfaat bagi kesehatan tubuh hingga kecantikan. Berikut beberapa manfaat bagi kesehatan dan kecantikan:

  1. Melancarkan pencernaan
  2. Mengatasi sembelit
  3. Menjaga berat badan dan mencegah obesitas
  4. Mengatasi diabetes
  5. Bantu memerangi virus HIV/AIDS
  6. Meningkatkan kesehatan mata
  7. Mengobati panas dalam
  8. Mengatasi jerawat
  9. Meningkatkan kekebalan tubuh
  10. Mencegah stroke dan penyakit jantung
  11. Menurunkan tekanan darah tinggi
  12. Membersihkan sirkulasi darah
  13. Mencegah kanker
  14. Cegah penuaan dini dan membuat awet muda
  15. Membantu mengatasi asma
  16. Mengobati peradangan kulit
  17. Menyembuhkan luka dengan cepat
  18. Mengatasi rambut rontok
  19. Mengatasi rambut berminyak
  20. Melembutkan rambut
  21. Mengatasi kulit kepala kering dan gatal akibat ketombe
  22. Mengatasi rambut bercabang dan kusut

Saking banyaknya manfaat pare, sehingga sangat disayangkan apabila terlewatkan. Anda bisa mengambil khasiat dari sayur pare tanpa merasakah pahitnya.

paria fokusjabar.id
Peria (foto web)

Untuk dijadikan sebagai perawatan kecantikan kulit dan rambut, Anda bisa menghaluskan pare mentah dan menjadikan masker secara rutin. 

Sedangkan untuk menutrisi tubuh dari dalam, Anda bisa mengolah pare menjadi berbagai masakan.

Namun, sebelum memasaknya, Anda bisa melakukan cara berikut ini untuk menghilangkan rasa pahit:

  1. Pilih pare berukuran sedang, karena semakin besar ukuran pare, maka akan semakin pahit rasanya. Jadi, Anda sebaiknya memilih pare berukuran kecil atau sedang dan tidak terlalu besar.

Pilih paria yang berwarna hijau tua, karena pare yang berwarna lebih muda biasanya sudah hampir matang atau tua dan biasanya rasanya lebih getir.

  1. Setelah memilih paria, Anda tentu perlu mencucinya terlebih dahulu supaya membuang kotoran, bakteri atau zat pestisida pada bagian luarnya.

Setelah dicuci bersih, Anda bisa membelah pare menjadi dua bagian. Lalu, buang biji pare dan selaput putih yang menempel pada dagingnya.

Anda bisa mengiris daging paria tipis-tipis, dan taburi garam. Setelah itu, Anda harus meremas-remas pare yang telah dilumuri garam, kemudian bilas dengan air mengalir. Cara ini terkenal ampuh untuk membuang rasa pahit pada pare.

  1. Setelah meremas paria dengan garam, Anda bisa merebus pare dengan daun jambu biji selama lima menit. Metode ini mampu membuang sari pahit sayur pare. Rasa sepat pada daun jambu biji akan menetralisir rasa getir pada pare.
  2. Paria yang sudah direbus dan diremas-remas sampai layu akan lebih lezat jika dimasak dengan makanan yang rasa asinnya kuat. Misalnya kecap asin, ikan, atau kacang yang telah direndam dengan garam.
  3. Tumir paria akan lebih lezat jika dicampur dengan telur kocok atau telur orak-arik. Telur dapat membantu mentralkan rasa yang terlalu tajam seperti pare. Selain itu, telur juga memiliki ragam manfaat untuk kesehatan dan kecantikan. Sehingga manfaatnya akan lebih optimal jika dipadukan dengan sayur pare.

(Bambang Fouristian/berbagai sumber)

Artikel Lainnya

spot_img