GARUT, FOKUSJabar.id: Ketua Bidang Humas dan Informasi Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra), Leli Permata mengaku banyak belajar dari nelayan yang begitu gigih menghadapi terjangan ombak dan badai.
Menurutnya, nelayan tidak berangkat melaut karena ombak sedang tenang, tetapi karena ia tahu ke mana harus berlayar. Dia memahami, badai, gelombang dan angin kencang adalah bagian dari perjalanan, bukan alasan untuk membatalkan ikhtiar.
BACA JUGA:
Garut Utara Layak Dimekarkan, Tapi Moratorium DOB Masih Digembok
Begitu pula dalam perjuangan mewujudkan Calon Daerah Otonom Baru (CDOB) Kabupaten Garut Utara. Moratorium pemekaran dan belum di sahkannya Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) sebagai turunan UU Nomor 23 Tahun 2014 menjadi ombak besar yang harus di hadapi. Namun, keduanya bukan akhir dari perjuangan, melainkan ujian kesabaran dan konsistensi.
Leli menyebut, seorang nelayan yang bijak tidak menghabiskan waktu mengeluh tentang badai. Saat cuaca belum bersahabat, mereka memperbaiki perahu, menyiapkan jaring, merawat mesin dan mempelajari arah angin.
Demikian juga dengan perjuangan Garut Utara. Selama moratorium masih berlaku dan RPP belum di tetapkan menjadi PP, waktu yang ada harus di manfaatkan untuk memperkuat kesiapan teknis dan perencanaan.
“Melalui Komite Persiapan Pembentukan Pemerintahan (KPP) PM Gatra, saat ini tengah menyiapkan berbagai dokumen strategis. Di antaranya, penyusunan RTRW Pemekaran, RDTR, Masterplan Kawasan Calon Ibu Kota Kabupaten Garut Utara serta konsep penataan dan kesiapan kawasan ibu kota sesuai kaidah akademik dan ketentuan peraturan perundang-undangan,” ungkap Leli..
BACA JUGA:
Ketum Paguyuban Masyarakat Garut Utara Ketuk Pintu Sila ke-5 Pancasila
Langkah tersebut merupakan ikhtiar agar ketika pemerintah pusat membuka moratorium dan RPP di tetapkan menjadi PP, Garut Utara telah siap dengan perangkat perencanaan dan arah pembangunan yang jelas.
Dengan demikian, perjuangan tidak hanya berhenti pada tuntutan politik. Tetapi juga di wujudkan dalam kerja nyata dan kesiapan teknokratis.
Karena itu, jangan terlalu sibuk menghitung besarnya ombak. Fokuslah pada tujuan dan terus bekerja. Sebab yang sampai ke pelabuhan bukanlah mereka yang menunggu laut tenang, melainkan mereka yang tetap menyiapkan perahu dan menjaga arah di tengah badai.
(Bambang Fouristian)



