spot_imgspot_img
Kamis 30 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Kehadiran Prabowo di Hari Nasional Cina “Bantui” Jokowi

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Ketua Tim Pemenangan Jokowi-Ma’ruf Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut bahwa Prabowo sudah membantu Joko Widodo untuk menangkis stigma negatif.

Terlebih selama ini isu pro Cina menjadi bahan kampanye hitam lawan politik untuk mendeligitimasi presiden.

Prabowo Subianto ditemani Agus Harimurti Yudhoyono diketahui menghadiri Peringatan Hari Nasional Cina di Hotel Shangri-La, Jakarta, pada Kamis (27/9/2018) lalu.

“Kehadiran Pak Prabowo dalam acara Peringatan Hari Nasional Cina itu membuktikan bahwa sebenarnya tidak ada masalah. Jadi, tidak ada lagi tuduhan antek cina dan antek asing serta antek komunis,” kata Dedi di Kantor DPD Golkar Jawa Barat, Jalan Maskumambang, Kota Bandung, Jumat (28/9/2018).

Secara tidak langsung, kata Dedi, Prabowo menegaskan bahwa jalinan ekonomi antara Indonesia dengan Cina memang diperlukan. Bahkan, lanjut dia, Prabowo menjelaskan aspek penting hubungan ekonomi tersebut.

“Pak Prabowo sendiri menjelaskan Cina itu penting kan. Ada pernyataannya saya baca. Artinya, segala tuduhan yang dialamatkan kepada Pak Jokowi itu sudah tidak relevan lagi,” tegas dia.

Ketua DPD Golkar Jabar itu pun meminta semua pihak untuk mengakhiri upaya framing negatif kerjasama ekonomi. Terlebih, kata dia, mitra dagang Cina bukan hanya Indonesia, tetapi Arab Saudi, Turki bahkan Iran pun mendapatkan porsi bisnis yang sama.

Kaitannya dengan Arab Saudi, Dedi mengomentari bahwa investasi negara petro dollar itu lebih besar ketimbang di Indonesia. Apalagi nilai investasi Saudi di Cina lebih besar. Kemudian ekonomi Turki yang tengah karut-marut kan dibantu Cina. Artinya, hubungan itu normal.

Menurut Dedi, semua pihak lebih baik meningkatkan nilai tawar sumber daya manusia. Hal ini terkait dengan ikhtiar diplomatik dalam berbisnis.

Cina kata dia, memiliki etos bisnis yang kuat. Ditambah, kekayaan alam yang langsung dikelola oleh negara menyebabkan laju pembangunan di negara tersebut semakin cepat.

Sehingga, banyak proyek dalam negeri yang dikerjakan dalam waktu singkat. Negara pun mengalami surplus baik dari aspek penerimaan maupun aspek tenaga kerja. Implikasi lanjutannya adalah Cina melakukan ekspansi bisnis ke negara lain termasuk ke Indonesia.

“Misal nanti saat negosiasi investasi itu disepakati contohnya seperti Korea Selatan dan Jepang. Per 2 ribu orang karyawan lokal Indonesia itu hanya 70 ekspatriat dari negara pemilik investasi. Saya kira bisa seperti itu,” jelas dia.

(LIN)

spot_img

Berita Terbaru