TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Jagat maya kembali gempar dengan beredarnya video kekerasan yang melibatkan pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya. Video tersebut memperlihatkan dua siswa kelas tujuh berduel sengit hingga tersungkur, sementara rekan-rekan mereka hanya menonton dan merekam aksi tersebut.
Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto, mengonfirmasi bahwa para pemeran dalam video tersebut merupakan siswa salah satu SMP Negeri di wilayahnya. Insiden yang terjadi, Selasa (28/4/2026) ini segera ditangani secara intensif oleh tim gabungan.
Baca Juga: Kabar Gembira! RSUD dr. Soekarjo Tasikmalaya Resmi Operasikan CT Scan Canggih Bantuan Kemenkes
“Hasil pendalaman kami menunjukkan perkelahian ini dipicu oleh ketersinggungan kata-kata saat bermain sepak bola. Perselisihan di lapangan hijau itu kemudian berlanjut menjadi perkelahian fisik di luar area bermain,” ungkap Ato Rinanto, Rabu (29/04/2026).
Kapolsek Leuwisari, Iptu Pramono, menjelaskan bahwa perkelahian pecah di area belakang sekolah. Fakta miris terungkap bahwa duel tersebut memanas akibat adanya provokasi dari kakak kelas mereka yang duduk di kelas delapan. Meski kedua pihak sempat berdamai, provokasi terus-menerus membuat emosi mereka kembali tersulut.
Akibat kejadian ini, salah satu siswa mengalami luka lebam dan tidak masuk sekolah pada Rabu pagi. Pihak kepolisian masih mendalami kondisi kesehatan siswa tersebut untuk memastikan dampak fisik yang siswa alami.
KPAID Kabupaten Tasikmalaya kini melakukan langkah-langkah strategis untuk menangani kasus ini, di antaranya:
- Penyelesaian Internal: Penanganan kasus secara kekeluargaan dengan pengawasan ketat dari KPAID dan Polres Tasikmalaya.
- Pendampingan Psikologis: KPAID berkomitmen memberikan pengawalan mental bagi siswa yang terlibat guna menangani trauma.
- Investigasi Lanjutan: Polisi terus mendalami motif lain serta peran para provokator dalam insiden tersebut.
Ato mengimbau para orang tua dan pendidik untuk memperketat pengawasan terhadap aktivitas anak. Ia juga meminta masyarakat berhenti menyebarluaskan video kekerasan tersebut demi melindungi masa depan dan identitas anak-anak yang terlibat.
(Abdul Latif)


