spot_imgspot_img
Selasa 14 Juli 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 6

Hanya Tiga Hari, Operasi Pajak Kendaraan di Pangandaran Raup Rp199 Juta dan Jaring 2.023 Kendaraan

0
Pangandaran, FOKUSJabar.id
Poto: operasi pajak kendaraan di wilayah Emplak, kecamatan Kalipucang Pangandaran

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Pangandaran membukukan pendapatan sebesar Rp199.063.900 dari kegiatan pemeriksaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Angka tersebut merupakan akumulasi hasil operasi selama tiga hari di awal bulan Juli 2026.

Berdasarkan data rekapitulasi operasi PKB sepanjang 7 hingga 9 Juli 2026, petugas gabungan berhasil menjaring sebanyak 2.023 unit kendaraan. Jumlah tersebut meliputi 928 unit kendaraan roda dua serta 1.095 unit kendaraan roda empat.

Baca Juga: Pantai Lembah Putri Pangandaran Simpan Potensi Wisata Besar, Terkendala Fasilitas dan Pendanaan

Kepala Bidang Pajak Daerah Lainnya Bapenda Pangandaran, Jumsa, menjelaskan bahwa pihaknya menggelar operasi rutin ini demi mendongkrak tingkat kepatuhan para wajib pajak di wilayah Pangandaran.

“Selama tiga hari pelaksanaan, total kendaraan yang ditilang atau dititipkan STNK karena belum membayar PKB sebanyak 83 unit. Sementara wajib pajak yang langsung membayar di tempat mencapai 107 orang,” ujar Jumsa saat memberikan keterangan di ruang kerjanya, Senin (13/7/2026).

Jumsa membeberkan performa operasi harian secara terperinci. Pada hari pertama, Selasa (7/7/2026), petugas memeriksa sebanyak 548 kendaraan. Dari jumlah tersebut, petugas menahan 18 STNK penunggak pajak dan melayani 41 wajib pajak yang langsung membayar di tempat, sehingga mendatangkan pemasukan sebesar Rp97.792.400.

Selanjutnya pada Rabu (8/7/2026), angka kendaraan yang terjaring meningkat menjadi 950 unit. Petugas terpaksa mengamankan 36 STNK serta menerima pembayaran di tempat dari 33 wajib pajak dengan total perolehan dana Rp46.556.700.

Papenda Pangandaran Terus Mengetuk Kesadaran Masyarakat Terkait Pajak Kendaraan

Pada hari terakhir, Kamis (9/7/2026), petugas memeriksa sebanyak 525 kendaraan. Operasi hari ketiga ini membukukan titipan 29 STNK dan memfasilitasi 33 wajib pajak untuk membayar langsung di lokasi razia dengan raihan omzet Rp54.714.800.

Dari total pendapatan Rp199.063.900 tersebut, kelompok kendaraan roda empat mendominasi suntikan dana terbesar dengan sumbangan mencapai Rp181.764.000. Sementara itu, kelompok kendaraan roda dua menyumbang sisanya sebesar Rp17.299.900.

Pihak Bapenda Pangandaran terus mengetuk kesadaran masyarakat agar segera melunasi kewajiban pajak kendaraan mereka sebelum memasuki masa jatuh tempo. Langkah antisipasi ini penting agar warga terhindar dari sanksi denda maupun penyitaan dokumen saat razia berlangsung.

“Kami akan terus melakukan operasi rutin. Tujuannya bukan menilang, tapi mengajak masyarakat tertib administrasi dan meningkatkan PAD dari sektor pajak kendaraan,” pungkas Jumsa.

(Sajidin)

Ironi Kota Kelahiran Koperasi Indonesia, 411 Koperasi di Tasikmalaya Kini Mati Suri

0
Tasikmalay, FOKUSJabar.id
Caption foto: Kondisi terkini Tugu Koperasi di Kota Tasikmalaya yang menyimpan nilai historis Kongres Koperasi Pertama pada tahun 1947.

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Masyarakat Kota Tasikmalaya merasakan getaran sejarah yang kuat setiap memasuki tanggal 12 Juli. Tepat 79 tahun silam, pada tahun 1947, Bung Hatta berdiri membakar semangat rakyat dalam gelaran Kongres Koperasi Pertama.

Tanah Kota Tasikmalaya mengukir sejarah sebagai tempat peletakan batu penjuru sistem ekonomi berasalkan asas kekeluargaan, sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945. Momentum tersebut mendaulat koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia.

Baca Juga: Briptu Dhiva Satlantas Polres Tasikmalaya Raih Emas Kapolri Cup Taekwondo 2026

Namun, setelah hampir delapan dekade berlalu, sebuah pertanyaan besar mengusik publik mengenai eksistensi ruh gotong royong tersebut. Masyarakat mempertanyakan apakah nilai tersebut masih hidup atau justru menyusut menjadi sekadar komoditas politik dan proyek fisik belaka.

Momentum Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 tahun 2026 ini meniupkan optimisme sekaligus riak polemik di Kota Tasikmalaya. Pihak Bale Kota menyuarakan keyakinan besar, sementara sudut-sudut ruang akademis dan sosial melontarkan kritik tajam mengenai arah masa depan ekonomi rakyat kecil.

KDKMP: Solusi Ekonomi atau Proyek Salah Sasaran?

Di bawah nakhoda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah meluncurkan program ambisius untuk menghidupkan kembali koperasi desa melalui wadah Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadan, menyampaikan rasa bangganya usai memimpin apel gabungan Harkopnas di Bale Kota, Senin (13/7/2026). Ia menyebut instrumen pendukung program prioritas pusat tersebut kini mulai menjamur di wilayahnya.

“Hingga saat ini telah terbentuk 15 Koperasi Merah Putih serta struktur koperasi di 69 kelurahan yang siap mendukung penguatan ekonomi masyarakat. Koperasi yang sudah eksis harus berkolaborasi dengan Koperasi Merah Putih agar saling menguatkan,” ujar Viman penuh optimisme.

Sorotan Tajam dari Akar Rumput

Namun, realitas di lapangan menyuguhkan pemandangan berbeda dari narasi podium. Tokoh Masyarakat Tasikmalaya, Dr. HN Suryana, SH., MH., mengingatkan dengan lantang bahwa kehadiran KDKMP belum menjadi jaminan tegaknya ekonomi kerakyatan. Ia menyoroti tiga masalah utama sejak awal pembentukan lembaga tersebut.

Pertama, proses berdirinya KDKMP memicu kontroversi karena dinilai minim transparansi anggaran dan operasional. Kedua, kehadiran lembaga baru ini rawan memicu benturan regulasi dan ego sektoral dengan Koperasi Unit Desa (KUD) serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang selama ini sudah berjuang menghidupi warga.

Ketiga, Suryana menilai lokasi pendirian KDKMP tidak masuk akal dari kacamata bisnis dan zonasi perdagangan.

“Bagaimana ekonomi rakyat mau maju kalau lokasi tempat berdirinya KDKMP banyak di tempat yang kurang strategis ditinjau dari aspek bisnis? Ada yang dibangun di kawasan pesawahan, di pinggir hutan, bahkan di dekat tempat pemakaman. Ini mau berbisnis dengan siapa?” kritik HN Suryana retoris.

Kondisi tersebut semakin menjepit ruang gerak koperasi kecil karena gurita ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret sudah terlanjur mengepung hingga ke pelosok gang kampung.

Rencana Revitalisasi Tugu Koperasi

Kabar besar lain dalam Harkopnas 2026 yakni rencana Pemerintah Kota Tasikmalaya bersama Pemerintah Pusat untuk merombak total kawasan bersejarah Kongres Koperasi Pertama, termasuk Tugu Koperasi. Pihak panitia menjadwalkan peletakan batu pertama pada 26 Juli 2026.

Viman Alfarizi Ramadan menjelaskan bahwa proyek tersebut akan menyulap monumen bersejarah menjadi museum interaktif sekaligus pusat inkubasi koperasi modern digital bagi generasi muda.

Menanggapi rencana megah ini, HN Suryana memberikan pesan mendalam. Baginya, tugu tersebut memuat nilai prasasti air mata dan keringat para pendiri bangsa, bukan sekadar tumpukan semen.

“Tugu koperasi yang akan dipugar itu harus jelas dulu apa maksud dan tujuannya. Jangan sampai atas nama modernisasi, kita malah menghapus dan merusak nilai-nilai sejarah asli dari proses perkembangan perkoperasian di Indonesia. Jangan hilangkan identitas aslinya!” tutur HN Suryana mengingatkan.

Memetakan Kesehatan 411 Koperasi yang ‘Tidur’

Langkah Wali Kota Viman untuk melakukan audit total terhadap dunia perkoperasian di Tasikmalaya tetap mengundang apresiasi. Berdasarkan basis data dinas, dari 905 koperasi yang terdaftar di Kota Tasikmalaya, hanya 494 koperasi yang masih aktif beroperasi. Sisanya, sebanyak 411 koperasi kini berstatus mati suri atau sekadar menjadi papan nama.

Pemerintah berjanji akan mengidentifikasi, memetakan kesehatan keuangan, hingga menyuntikkan program digitalisasi agar koperasi lokal mampu kembali berdaya saing tinggi.

Hari Koperasi ke-79 tahun 2026 menjadi cermin besar bagi Kota Tasikmalaya. Upaya menghidupkan ekonomi rakyat memerlukan ketepatan strategi bisnis dan kejujuran anggaran, bukan sekadar menancapkan plang baru di pinggir hutan atau merombak tugu sejarah agar tampak mewah.

(Abdul Latif)

Farhan Ungkap Penyebab Vertigo yang Membuatnya Tumbang di Tengah Kesibukan

0
BANDUNG, FOKUSJabar.id
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkap penyebab dirinya sempat mengalami gangguan kesehatan hingga harus menjalani istirahat total. (Fokusajabar.id/Yusuf Mugni)

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, membeberkan penyebab utama gangguan kesehatan yang sempat memaksanya menjalani istirahat total beberapa waktu lalu.

Farhan menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan ia mengalami infeksi pada saluran pencernaan. Masalah kesehatan tersebut kemudian memicu sakit maag akut yang berlanjut menjadi serangan vertigo.

Baca Juga: Tak Ada Perpeloncoan, 318 Siswa Baru Ikuti MPLS Ramah Anak di SMPN 43 Bandung

“Alhamdulillah, kemarin itu rupanya kondisi saya memang kurang sehat. Setelah pemeriksaan lab, ada infeksi pencernaan yang memicu maag, dan maag-nya itu yang memicu vertigo, makanya sampai digotong. Vertigo mah tidak bisa apa-apa, bola mata bergerak terus jadi terasa berputar-putar. Dan terpaksa digotong,” kata Farhan di SMP Negeri 34 Bandung, Senin (13/7/2026).

Farhan mengungkapkan, ia menghabiskan waktu akhir pekan kemarin untuk beristirahat total. Langkah tersebut mengikuti saran tim medis agar proses pemulihan fisiknya berjalan optimal. Ia bahkan mengaku hanya bersantai di rumah sembari menonton pertandingan sepak bola.

“Dua hari saya istirahat total pas weekend, cuma boleh nonton bola. Hanjakal (sayang) Norwegia eleh (kalah) ya. Tapi sekarang sudah mendingan, terima kasih atas doanya,” ucap Farhan.

Meski energinya terus menunjukkan tren membaik, tim dokter sejauh ini masih membatasi aktivitas fisiknya secara ketat. Untuk sementara waktu, Farhan hanya menerima agenda kedinasan yang berlangsung di sekitar area Pendopo Kota Bandung saja.

“Namun masih menerima pengawasan, jadi kegiatan saya belum boleh jauh-jauh dari pendopo,” pungkas Farhan.

(Yusuf Mugni)

Tak Ada Perpeloncoan, 318 Siswa Baru Ikuti MPLS Ramah Anak di SMPN 43 Bandung

0
BANDUNG, FOKUSJabar.id
Sebanyak 318 peserta didik baru di SMP Negeri 43 Bandung mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 dengan konsep edukatif tanpa praktik perpeloncoan. (FokusJabar.id/Yusuf Mugni)

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Sebanyak 318 peserta didik baru di SMP Negeri 43 Bandung mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027. Pihak sekolah mengusung konsep edukatif sepenuhnya dan membuang jauh-jauh praktik perpeloncoan lama.

Sepanjang kegiatan bergulir, para siswa menyerap berbagai bekal penting mulai dari pendidikan karakter, etika bermedia sosial, hingga kesiapsiagaan menghadapi bencana alam sebelum resmi memasuki rutinitas belajar.

Baca Juga: Farhan Pastikan Tak Ada Satu Pun Anak di Bandung yang Gagal Masuk Sekolah pada SPMB 2026

Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 43 Bandung, Elis Rahmawati, menjelaskan bahwa pihaknya menggelar agenda MPLS ini selama lima hari berturut-turut. Seluruh materi mengacu pada ketentuan resmi Kementerian Pendidikan serta menjawab kebutuhan peserta didik baru agar lebih cepat beradaptasi.

“Selama lima hari. Untuk hari ini pematerinya berasal dari narasumber internal, yaitu guru-guru di sekolah. Besok akan ada materi wajib dan juga materi pilihan. Materi wajib sesuai arahan Kementerian, seperti Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, Sapa Pagi Ceria, Etika Bermedia Sosial, serta Budaya Salam Sapa 5S. Semua itu sudah kami laksanakan,” kata Elis di SMPN 43 Bandung, Senin (13/7/2026).

Selain memberikan materi wajib, pihak sekolah juga menyuguhkan materi pilihan yang relevan dengan kebutuhan siswa melalui kolaborasi bersama sejumlah instansi eksternal.

“Untuk materi pilihan kami sesuaikan dengan kebutuhan sekolah. Misalnya materi tanggap bencana kami mengundang BPBD. Kemudian untuk edukasi kesehatan dan gizi kami bekerja sama dengan Puskesmas setempat. Jadi anak-anak mendapatkan bekal yang lebih lengkap,” tuturnya.

Pada tahun ajaran 2026/2027 ini, SMPN 43 Bandung menampung total 318 peserta didik baru. Pihak manajemen sekolah membagi ratusan siswa tersebut ke dalam sembilan rombongan belajar (rombel).

“Untuk siswa baru saat ini berjumlah 318 orang yang terbagi dalam sembilan rombongan belajar. Mudah-mudahan tidak ada penambahan lagi,” ucap Elis.

Tidak Ada Toleransi Terhadap Tindakan Senioritas Maupun Perpeloncoan Fisik dan Mental

Elis menegaskan bahwa sekolah menerapkan kebijakan nol toleransi terhadap tindakan senioritas maupun perpeloncoan fisik dan mental. Selama MPLS berlangsung, para pengurus OSIS hanya memegang mandat sebagai pendamping ramah yang membantu adik kelas mereka mengenali lingkungan sekolah.

“Untuk senioritas tidak ada, apalagi perpeloncoan. Kami justru meminta bantuan pengurus OSIS untuk menjadi pendamping bagi adik-adik kelasnya selama kegiatan berlangsung,” jelasnya tegas.

Di sisi lain, salah seorang peserta didik baru, Aqilah, mengaku sangat gembira karena berhasil menembus sekolah impiannya sejak lama. Ia menaruh harapan besar agar bisa memanen prestasi akademik sekaligus mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pelukis profesional.

“Saya memang ingin sekolah di sini. Cita-cita saya ingin menjadi pelukis. Semoga bisa berprestasi dan mendapat nilai yang tinggi,” ungkap Aqilah penuh semangat.

Aqilah membeberkan bahwa hari pertama MPLS berjalan sangat menyenangkan lantaran ia bisa langsung berinteraksi dengan guru-guru serta kawan baru. Bahkan, ia mengaku sudah mengantongi teman sebangku yang asyik.

“Seru. Tadi upacara, terus banyak kegiatan. Sudah kenal dengan guru dan teman-teman, bahkan sudah punya teman sebangku,” ucapnya riang.

Pengalaman positif serupa juga meluncur dari bibir Ferjian, siswa baru lainnya. Menurut Ferjian, atmosfer MPLS di SMPN 43 Bandung terasa sangat bersahabat dan membuat siswa baru merasa nyaman tanpa ada rasa takut terhadap intimidasi dari senior.

“Senang bisa dapat teman baru. Hari pertama seru. Tidak takut karena tidak ada yang menyuruh macam-macam atau perpeloncoan,” pungkas Ferjian.

(Yusuf Mugni)

Farhan Pastikan Tak Ada Satu Pun Anak di Bandung yang Gagal Masuk Sekolah pada SPMB 2026

0
BANDUNG, FOKUSJabar.id
Para Siswa SMPN 43 Bandung Tegah Mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) (FokusJabar.id/Yusuf Mugni)

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menjamin seluruh anak usia sekolah yang mengikuti Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027 telah mengantongi tempat belajar.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan hal tersebut saat meninjau langsung pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMPN 43 Bandung, Senin (13/7/2026).

Baca Juga: HKP ke-54, 1.500 Petani Ciamis Ikut Penguatan Inovasi Pertanian

Farhan menjelaskan bahwa seluruh satuan pendidikan mulai dari SD Negeri, SMP Negeri, hingga sekolah swasta di Kota Bandung telah memulai agenda MPLS secara serentak.

“Alhamdulillah hari ini kita memulai MPLS untuk anak-anak SD Negeri dan SMP Negeri, serta sekolah swasta lainnya,” kata Farhan.

Farhan membeberkan, sebanyak kurang lebih 22 ribu siswa baru berhasil masuk ke SD Negeri dan sekitar 19 ribu siswa menembus SMP Negeri. Sementara itu, sekitar 10 ribu siswa lainnya memilih melanjutkan jenjang pendidikan di berbagai sekolah swasta.

Menurut Farhan, seluruh anak yang masuk dalam basis data pendataan kini telah mendapatkan kepastian kursi belajar.

“Dari sekian banyak itu, yang desil 1 sampai desil 5 sudah masuk ke semua sekolah, baik negeri maupun swasta. Jadi Alhamdulillah hari ini tidak ada satu pun anak di Kota Bandung yang tidak mendapatkan kursi di sekolah masing-masing,” ucapnya.

Sekitar 43 Ribu Siswa Berhasil Mengisi Bangku Sekolah Negeri

Farhan menyebut total siswa yang mengikuti pendataan SPMB di Kota Bandung menyentuh angka 51 hingga 52 ribu orang. Dari akumulasi data tersebut, sekitar 43 ribu siswa berhasil mengisi bangku sekolah negeri, sedangkan sisanya tersebar di lembaga pendidikan swasta.

Farhan memastikan Pemkot Bandung tetap menyalurkan bantuan dana bagi siswa yang menempuh pendidikan di sekolah swasta melalui Program Rawan Melanjutkan Pendidikan (RMP). Langkah ini bertujuan agar keterbatasan ekonomi tidak memadamkan semangat anak untuk melanjutkan sekolah.

“Sekolah SD dan SMP swasta juga kita bantu melalui program RMP, untuk mereka yang masuk SD dan SMP,” tuturnya.

Meski tahun ajaran baru ini sukses menampung seluruh siswa, Farhan jujur mengakui bahwa pekerjaan rumah terkait pemerataan akses pendidikan di Kota Bandung belum sepenuhnya tuntas.

Farhan mengungkapkan Kota Kembang masih memiliki sejumlah wilayah yang masuk kategori blind spot. Yaitu kawasan padat penduduk yang belum memiliki fasilitas sekolah negeri dengan akses terjangkau. Kondisi ini menjadi fokus perhatian Pemkot Bandung dalam menyusun cetak biru pengembangan fasilitas pendidikan ke depan.

“Kalau sekolah baru, itu harus ada penambahan, terutama bukan karena masalah jumlah daya tampungnya. Tetapi masalah lokasi dan terutama untuk blind spot. Karena ada beberapa titik yang memang kita akui masih blind spot. Bahkan di Bandung Wetan saja masih ada yang blind spot,” jelas Farhan.

Farhan memaparkan, bagi anak-anak yang terpaksa tidak bisa mengakses jalur formal, Pemkot Bandung telah menyediakan jalur alternatif melalui Sekolah Rakyat maupun Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Pihaknya bahkan masih menemukan kasus anak usia sekolah yang sama sekali belum pernah mengecap bangku pendidikan. Sehingga petugas di lapangan langsung mengarahkannya ke program pendidikan kesetaraan.

“Bagi yang tidak melanjutkan, kita arahkan ke Sekolah Rakyat atau ke PKBM kesetaraan. Ada beberapa kasus anak seperti itu, contohnya di Pagarsih ada anak umur 10 tahun yang tidak pernah sekolah, jadi akhirnya kita arahkan ke PKBM,” pungkasnya.

(Yusuf Mugni)

Tak Ada Bongkar Paksa, Satpol PP Ciamis Bantu PKL Pindahkan Lapak di Jalan Mr Iwa Kusumasumantri

0
CIAMIS, FOKUSJabar.id
Ketpot: Personel Satpol PP Kabupaten Ciamis saat membantu PKL Permata Bunda untuk berpindah tempat berjualan ke lokasi yang tidak dilarang

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Ciamis merealisasikan program penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Jalan Mr. Iwa Kusumasumantri. Aksi penataan ini menyasar lapak pedagang yang berada di pinggir jalan depan RS Permata Bunda, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Senin (13/7/2026).

Langkah penertiban kali ini menyuguhkan pemandangan berbeda dari operasi pada umumnya. Petugas mengedepankan pendekatan persuasif melalui aksi pendampingan langsung untuk membantu para pedagang saat memindahkan lapak jualan mereka.

Baca Juga: Ratusan Bibit Pohon Gratis Dibagikan di HKP Ciamis, Warga Diajak Hijaukan Lingkungan

Kasat Pol PP Kabupaten Ciamis, Rd. Ega Anggara Al Kautsar, melalui Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat (Tibumtranmas), Yudi Brata, memaparkan bahwa kegiatan penataan ini merupakan tindak lanjut nyata dari hasil sosialisasi bersama para PKL beberapa hari sebelumnya.

“Dalam pertemuan itu para pedagang telah menerima pemahaman mendalam mengenai Peraturan Daerah tentang Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan (K3),” kata Yudi.

Yudi menuturkan, usai membuka ruang dialog yang sehat antara Satpol PP dan komunitas PKL, kedua belah pihak akhirnya menyepakati pemindahan tempat berjualan ke area yang sesuai dengan regulasi resmi.

“Hari ini kami melaksanakan kesepakatan yang sudah dibuat bersama. Kami tidak hanya mengawasi, tetapi juga membantu rekan-rekan PKL bergeser ke lokasi yang memang diperbolehkan untuk berjualan,” ucapnya tegas.

Ruang Publik yang Harus Tetapn Steril

Yudi melanjutkan, pihak pemerintah daerah sebenarnya masih memperbolehkan aktivitas perdagangan di kawasan Jalan Mr. Iwa Kusumasumantri. Namun demikian, petugas meminta para pedagang untuk tidak mencaplok fasilitas trotoar maupun taman kota. Sebab, kedua fasilitas umum tersebut memikul fungsi krusial sebagai ruang publik yang harus tetap steril.

“Penataan yang kami lakukan ini bukan melarang kegiatan jual belinya, melainkan menata penempatan lapaknya. Kami mengarahkan agar pedagang tidak menempati trotoar ataupun taman sehingga hak pejalan kaki dan fungsi ruang terbuka tetap terpelihara,” jelas Yudi.

Yudi membeberkan bahwa penataan di Jalan Mr. Iwa Kusumasumantri ini merupakan langkah awal. Ke depan, Satpol PP bersama dinas terkait akan terus menggulirkan program serupa di lokasi lain. Tentu dengan pola yang sama, yaitu mengunci kesepakatan bersama melalui komunikasi dua arah.

“Kami pun akan melakukan hal serupa bagi penertiban para pedagang di lokasi lain. Tentunya yang kami nilai masih melanggar aturan karena berjualan bukan pada tempatnya,” pungkasnya.

(Husen Maharaja)

Ratusan Bibit Pohon Gratis Dibagikan di HKP Ciamis, Warga Diajak Hijaukan Lingkungan

0
CIAMIS, FOKUSJabar.id
Ketfot: CDK Wilayah VII Bagikan Bibit Gratis

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah VII Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat memanfaatkan momentum Hari Krida Pertanian (HKP) ke-54 Kabupaten Ciamis untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam. Salah satu aksi nyata mereka yakni membagikan ratusan bibit tanaman secara gratis di Desa Sumberjaya, Kecamatan Cihaurbeuti, Senin (13/7/2026).

Petugas tidak sekadar membagikan bibit secara cuma-cuma, melainkan menjadikan kegiatan tersebut sebagai media kampanye penghijauan dan konservasi lingkungan yang masif. Mereka mengajak masyarakat memahami pentingnya menanam pohon guna menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus menekan luas lahan kritis di daerah.

Baca Juga: Ketua KTNA Jabar Ingatkan Petani Ciamis Antisipasi Dampak Fenomena El Nino

Penyuluh Kehutanan CDK Wilayah VII Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Amin Budiman, mengungkapkan bahwa aksi pembagian tanaman ini merupakan bagian dari program rutin bernama Jumat Menanam yang selama ini bergulir di tengah masyarakat.

“Melalui program Jumat Menanam, kami rutin membagikan bibit kepada masyarakat secara gratis sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan penghijauan dan pelestarian lingkungan,” ujarnya.

Menurut Amin, kehadiran CDK Wilayah VII dalam gelaran HKP Ciamis menjadi kesempatan emas untuk memperluas jangkauan edukasi ke khalayak luas. Ratusan bibit yang mengalir ke tangan warga ini bersumber dari Gerakan Tanam dan Pelihara Pohon, yang menghimpun kepedulian dari berbagai pihak sebagai donatur tanaman.

“Bibit tersebut kami tampung dari para penyumbang, kemudian kami salurkan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan. Ini menjadi bentuk kolaborasi untuk mendukung pelestarian lingkungan,” katanya.

Mempercepat Rehabilitasi Lahan

Ia menjelaskan, selama ini pihak dinas lebih memprioritaskan penyaluran bantuan pohon kepada kelompok masyarakat yang mengelola lahan kritis agar dapat mempercepat rehabilitasi lahan. Namun khusus pada momentum HKP ini, mereka menyerahkan bibit langsung kepada para pengunjung demi menumbuhkan budaya menanam sejak dari pekarangan rumah.

Pihak kehutanan menyediakan berbagai jenis varietas pohon menarik, mulai dari durian, nangka, petai, picung, hingga matoa. Khusus untuk bibit picung dan matoa, petugas menganjurkan warga agar menanamnya di sekitar kawasan sumber mata air. Karena kedua pohon tersebut mengantongi fungsi ekologis yang kuat dalam mengikat dan menjaga ketersediaan air tanah.

Demi mendongkrak daya tarik stan sekaligus menambah wawasan pengunjung, CDK Wilayah VII juga menggelar kuis interaktif berhadiah sebelum menyerahkan bibit. Para peserta harus menjawab pertanyaan seputar tugas pokok Cabang Dinas Kehutanan, langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta urgensi menjaga kelestarian hutan.

“Semua bibit diberikan secara gratis. Sebelum menerima bibit, masyarakat kami ajak mengikuti kuis ringan. Sekaligus mendapatkan edukasi mengenai pencegahan kebakaran hutan dan pentingnya menjaga lingkungan,” tutur Amin.

Amin menaruh harapan besar agar aksi ini mampu memantik kesadaran kolektif masyarakat untuk lebih aktif menghijaukan lingkungan masing-masing. Langkah kecil ini harapannya dapat membantu memulihkan lahan kritis. Serta mengamankan pasokan sumber daya air di Kabupaten Ciamis dan Jawa Barat.

Salah seorang warga asal Kecamatan Panumbangan, Acep, mengaku sangat senang dan mengapresiasi langkah inovatif dari dinas kehutanan tersebut.

Menurut Acep, program semacam ini memberikan dampak manfaat yang nyata karena mampu memotivasi warga untuk lebih peduli terhadap masa depan lingkungan sekaligus menambah koleksi tanaman produktif di lahan milik mereka.

“Alhamdulillah, terima kasih kepada Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VII yang sudah membagikan bibit secara gratis. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut karena sangat membantu masyarakat. Terlebih memberi memotivasi kami untuk menanam pohon serta menjaga lingkungan,” pungkas Acep sumringah.

(Mia)