MAJALENGKA, FOKUSJabar.id: Keterbatasan armada dan personel pemadam kebakaran (Damkar) masih menjadi persoalan dalam penanganan kebakaran di daerah.
Di Kabupaten Majalengka, dari enam kendaraan Damkar yang tersedia, hanya dua unit yang dapat beroperasi.
BACA JUGA:
Pemkab Majalengka Kurangi Beban TPA, 343 Desa Kelola Sampah dari Rumah
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi petugas dalam menangani kebakaran. Terutama di wilayah dengan jarak tempuh yang jauh. Terlebih, jumlah personel Damkar Majalengka saat ini hanya 32 orang.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP dan Damkar Kabupaten Majalengka, Puja Gustian mengatakan, keterbatasan sarana dan personel membuat petugas harus bekerja ekstra ketika terjadi kebakaran di beberapa lokasi dalam waktu berdekatan.
Berdasarkan data Damkar, tercatat 244 kejadian kebakaran sejak Januari hingga September 2026. Jumlah tersebut meningkat tajam, terutama saat memasuki musim kemarau.
“Berdasarkan data yang kami miliki sejak Januari hingga September 2026, tercatat sebanyak 244 kejadian kebakaran. Angka tersebut menunjukkan tren peningkatan cukup tajam. Terutama sejak memasuki musim kemarau Agustus-September,” ujar Puja.
“Dari enam mobil Damkar yang bisa dipergunakan hanya dua unit. Sementara kasus kebakaran cukup tinggi dan wilayah Kabupaten Majalengka juga luas dengan jarak antardaerah yang berjauhan,” lanjutnya kepada FOKUSJabar.
Ia menjelaskan, peningkatan kasus mulai terlihat pada Juni dengan 14 kejadian. Sebelumnya, jumlah kebakaran berkisar 4-7 kejadian.
Pada Juli, jumlahnya meningkat menjadi 45 kejadian, kemudian 54 kejadian pada Agustus. Lonjakan tertinggi terjadi pada September dengan 99 kejadian kebakaran.
Menurut Puja, kondisi tersebut semakin menyulitkan pelayanan karena wilayah Majalengka memiliki cakupan geografis yang luas dan jarak antardaerah cukup berjauhan.
BACA JUGA:
Ngaku PNS saat Kenalan di Aplikasi Omi, Pria Ini Diduga Bawa Kabur Motor Perempuan di Majalengka
“Keterbatasan armada dan personel berdampak pada jangkauan pelayanan. Khususnya untuk wilayah selatan Kabupaten Majalengka. Dalam kondisi saat ini, penanganan kebakaran di wilayah tersebut belum dapat terlayani secara optimal,” katanya.
Untuk membantu pelayanan, Damkar Majalengka bahkan harus meminta tambahan personel melalui penugasan bawah kendali operasi (BKO) dari Satpol PP.
Persoalan jangkauan layanan ini juga menjadi perhatian masyarakat. Warga banjaran, Dikdik menilai pemerintah daerah perlu mengevaluasi ketersediaan armada. Terutama untuk wilayah selatan Majalengka.
Menurutnya, jarak yang jauh membuat bantuan Damkar berisiko datang terlambat saat kebakaran terjadi.
“Kalau terjadi kebakaran di sini (wilayah selatan) kan pasti jauh, mobil damkarnya butuh waktu yang cukup panjang untuk perjalanan” ujarnya.
Ia berharap, pemerintah daerah dapat menyiapkan kendaraan Damkar di wilayah selatan. Termasuk Banjaran Talaga dan sekitarnta agar penanganan kebakaran bisa lebih cepat.
(Jilly Ortega)



