PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Aliansi Masyarakat Peduli Langkaplancar (AMPEL) membatalkan rencana aksi di tiga titik utama yakni Pendopo Bupati, Polres, dan DPRD Kabupaten Pangandaran, Rabu (28/10/2026).
Massa akhirnya memilih menggelar aksi terpusat di Lapang Bola Desa Bangunjaya, Kecamatan Langkaplancar.
Baca Juga: Krisis BBM hingga Jalan Rusak, AMPEL Pangandaran Desak Pemerintah Segera Benahi Langkaplancar
Koordinator Lapangan Aksi, Burhanudin, mengungkapkan bahwa panitia mengambil keputusan pembatalan tersebut setelah mengendus informasi kehadiran penumpang gelap yang berencana menyusup ke dalam barisan massa.
“Kalah dengan berbagai pertimbangan, ada informasi yang mana ada beberapa penumpang gelap lah yang ikut campur dalam kegiatan AMPEL kami. Jadi posisinya ini dalam rangka mencegah,” ujar Burhanudin kepada fokusjabar.id.
Endus Penyusup demi Jaga Kondusivitas Aksi
Burhanudin menyebutkan bahwa informasi mengenai pergerakan pihak luar tersebut mengalir dari tiga kecamatan dan panitia telah menelusuri kebenarannya. Sejumlah pedagang bensin eceran di sekitar Langkaplancar meraskan keresahan serupa, namun tidak berani bersuara secara terbuka.
“Pokoknya ada informasi dan ini sudah ditelusuri dan betul adanya. Tapi mungkin mereka tidak berani menyuarakan secara langsung. Akhirnya dengan antisipasi itu, kami bernegosiasi bagaimana yang penting kami minta dihadirkan di Langkaplancar,” katanya.
Ia menegaskan ketiadaan tekanan dari pihak manapun yang memaksa pemindahan lokasi aksi. Keputusan ini murni untuk menjaga kondusivitas serta nama baik AMPEL yang selama ini selalu menggelar demonstrasi secara damai.
“Kalau tekanan sih enggak ada, cuman kami di AMPEL ada tanggung jawab. Ada senior-senior kami yang melakukan pembacaan wilayah. Untuk kemaslahatan ya kita lakukan di sini,” tegasnya.
“Ini untuk antisipasi supaya kita mewakili AMPEL dari masyarakat di Langkaplancar yang tidak ingin terseret. Karena dari dulu juga AMPEL kalau melakukan aksi demonstrasi itu enggak ada yang rusuh,” sambungnya.
Jumlah Massa Menyusut dan Sayangkan Ketidakhadiran Bupati
Keputusan membatalkan longmarch ke tiga titik instansi pemerintah ini berimbas pada penurunan jumlah peserta aksi secara drastis. Dari estimasi awal sebanyak 7.500 orang, lokasi aksi hanya mencatat kehadiran sekitar 1.000 peserta.
“Awalnya kita estimasikan 7.500 orang. Ini juga menjadi PR di kami, adanya kekecewaan dari masyarakat ketika aksinya di Langkaplancar. Tadi kurang lebih 1.000-an ada,” ungkap Burhanudin.
Di samping perubahan lokasi, Burhanudin sangat menyayangkan sikap Bupati Pangandaran yang absen dari lokasi kegiatan. Menurutnya, aksi ini merupakan wadah penyampaian aspirasi resmi warga Langkaplancar.
“Sangat disayangkan tadi pagi pas kegiatan berlangsung, bupatinya tidak hadir malah diwakilkan ke Sekda sama Wakil Bupati. Padahal keresahan yang ada di Langkaplancar, aspirasi yang disampaikan tidak didengar langsung oleh Bupati,” ujarnya.
Kantongi Enam Tuntutan dan Desak Penindakan Oknum Kepolisian
Mengenai substansi gerakan, AMPEL membawa enam poin tuntutan dan berhasil memandu penandatanganan surat kesepakatan bersama pemerintah daerah serta pemangku kepentingan terkait.
“Di antaranya kita ingin memberhentikan kriminalisasi terhadap pemasok ataupun penjual dan pengecer BBM yang sejauh ini banyak menimpa korban oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Malah diperas dan dikriminalisasikan,” katanya.
Massa juga mendesak penerbitan izin pendirian SPBU di Langkaplancar sebagai solusi atas krisis pasokan BBM yang kerap melanda wilayah setempat.
Terkait dugaan pungli dan praktik pemerasan terhadap pengecer BBM, Burhanudin blak-blakan menyebut pelakunya memancar dari oknum kepolisian.
“Dari oknum-oknum kepolisian sih. Dan sejauh ini Kapolres juga menyatakan akan menindaklanjuti dan menelusuri secara serius terkait ini,” pungkasnya.
(Sajidin)



