BANJAR,FOKUSJabar.id: Pemerintah dan pelaku usaha perlu membangun daya tarik wisata mandiri bagi Kota Banjar agar wilayah ini lepas dari predikat sekadar kota lintasan menuju Jawa Tengah maupun kawasan wisata Pangandaran. Pengembangan destinasi, penguatan budaya lokal, serta peningkatan fasilitas menjadi agenda penting untuk memikat wisatawan agar menginap lebih lama.
Ketua BPC Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Banjar, Metty Sulistyowati, menyampaikan gagasan tersebut dalam pengukuhan kepengurusan BPC PHRI Kota Banjar periode 2026–2031 di Pendopo Kota Banjar, Rabu (28/10/2026).
Baca Juga: Perumda Tirta Anom Banjar Perpanjang Promo Sambar
Mengusung tema “Sauyunan Nagawangun Pariwisata Banjar Nu Punjul, Mumpuni Tur Langeng”, PHRI memacu kolaborasi berbagai pihak demi menggali potensi daerah dan membangun sektor pariwisata yang berkelanjutan.
Maksimalkan Posisi Strategis Pintu Gerbang Jawa Barat
Menurut Metty, posisi geografis Kota Banjar yang strategis menjadi modal awal yang sangat berharga. Namun, status sebagai pintu gerbang Jawa Barat menuju Jawa Tengah belum cukup apabila pemerintah dan pengusaha tidak mengimbanginya dengan daya tarik serta fasilitas yang memadai.
Ia berharap Kota Banjar mampu menawarkan pengalaman unik yang membuat wisatawan sengaja datang untuk berkunjung.
“Saya ingin suatu hari nanti orang datang ke Kota Banjar bukan hanya karena sedang melintas, tetapi karena memang ingin berkunjung, menikmati, tinggal lebih lama, dan kemudian ingin kembali lagi,” ujar Metty.
Guna mencapai sasaran tersebut, pengembangan pariwisata harus berfokus pada penciptaan pengalaman wisata yang menyeluruh. Kenyamanan akomodasi penginapan, kualitas kuliner, keunikan budaya, serta keramahan masyarakat menjadi elemen penting daya tarik bagi pengunjung.
Tangkap Peluang Jalur Wisata Pangandaran dan Gaet UMKM
Metty memandang kedekatan Kota Banjar dengan objek wisata Pangandaran sebagai peluang emas untuk membangun konektivitas antarkawasan. Kota Banjar bisa menghadirkan layanan persinggahan, jasa transportasi, serta fasilitas istirahat bagi wisatawan yang melintas.
Selain membenahi infrastruktur, sektor pariwisata wajib memberi ruang lebih luas bagi potensi ekonomi lokal. Metty menekankan pentingnya penguatan sektor UMKM, terutama usaha kuliner dan produk oleh-oleh khas daerah.
“Ketika wisatawan pulang, mereka membawa kenangan indah tentang Kota Banjar. Saya percaya harapan itu bukan sesuatu yang mustahil apabila kita mau membangunnya bersama,” tuturnya.
Metty menegaskan bahwa PHRI siap berdiri sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam memajukan sektor perhotelan, restoran, kuliner, dan pariwisata.
BPD PHRI Jawa Barat Siapkan Pendampingan SDM
Pada kesempatan yang sama, Ketua BPD PHRI Provinsi Jawa Barat, Dodi Ahmad Sopiandi, menyuarakan dukungan penuh terhadap langkah BPC PHRI Kota Banjar. Pihaknya siap menerjunkan tenaga ahli untuk melatih dan mendampingi peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor perhotelan Kota Banjar.
Melalui kepengurusan baru periode 2026–2031 ini, PHRI Kota Banjar mengemban misi sebagai motor penggerak kolaborasi daerah. Tantangan utama organisasi ini bukan sekadar mendatangkan pengunjung, melainkan menciptakan alasan kuat agar wisatawan memilih Kota Banjar sebagai destinasi utama.
(Agus Purwadi)



