TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Di tengah dentuman meriam dan bayang-bayang ancaman Agresi Militer Belanda I pada tahun 1947, sepetak tanah tersembunyi di pelosok Tasikmalaya Selatan menjelma sebagai benteng terakhir pertahanan pemerintahan sipil Jawa Barat.
Gubernur Jawa Barat saat itu, Raden Mas Sewaka, memilih menembus lebatnya hutan perawan demi mempertahankan eksistensi serta nyawa Republik tanpa gemerlap Istana Pakuan.
Kisah heroik penuh peluh ini meninggalkan jejak sejarah yang membiru di sepanjang Kampung Lebaksiuh, Kampung Pojok, hingga Kampung Cisurupan. Pada masa itu, ketiga kawasan tersebut berada di bawah naungan Kecamatan Bantarkalong, sebelum dinamika pemekaran wilayah melahirkan Kecamatan Culamega dan Kecamatan Cipatujah.
Strategi Buronan dari Lebaksiuh dan Taktik Kampoeng Pojok
Suasana di Kampung Lebaksiuh, Desa Cipicung, mendadak mencekam pada pertengahan tahun 1947. Jaringan intelijen musuh mulai mencium keberadaan sang gubernur beserta jajaran pejuang sipil dan militer. Rombongan langsung mengemas perbekalan, meracik taktik baru, dan melangkahkan kaki lebih jauh ke dalam pelukan belantara.
Sebelum meneruskan rute evakuasi ke arah selatan, Gubernur Sewaka beserta rombongan berbelok meniti jalan setapak menuju Kampung Pojok—sebuah wilayah terisolasi yang berjarak sekitar dua kilometer dari Lebaksiuh. Di perkampungan sepi itulah, Sewaka menggelar konsolidasi rahasia selama satu minggu bersama pejabat sipil Jawa Barat, komando TNI, dan para pejuang garis depan.
Warga menyulap tiga rumah milik Sudinta, Sarnawi, dan Sapsah menjadi benteng kedap suara demi menjamin kerahasiaan rapat akbar tersebut. Hj. Darmi (80), saksi sejarah lokal, menuturkan kembali ingatan kolektif masyarakat Pojok dari almarhumah ibunya, Sapsah:
“Saat itu ibu saya untuk sementara pindah ke dekat sawah sebelah Barat. Rumah ibu saat itu dibalut lampit agar kedap suara, dibuat dari bahan bambu,” kenang Hj. Darmi.
Selain melapisi dinding bangunan dengan anyaman bambu rapat, Komandan Letkol R. Sutoko menginstruksikan Kopral Udis untuk merobohkan Jembatan Cijalu guna menahan laju penetrasi pasukan Belanda.
Menembus Hutan Perawan: Menandu Sang Istri Menuju Cisurupan
Ancaman yang mengintai memaksa rombongan Gubernur Sewaka kembali bergerak menembus hutan rimba sejauh enam kilometer menuju Kampung Cisurupan di Desa Nagrog, Kecamatan Cipatujah.
Rombongan tidak hanya bertarung menghadapi ganasnya vegetasi hutan, medan yang curam, dan bahaya binatang buas, tetapi juga menghadapi kepungan multipihak: pasukan Belanda, faksi Komunis, gerakan Negara Pasundan bentukan Kartalegawa, hingga milisi Darul Islam (DI) pimpinan Kartosuwiryo.
Kondisi jalur yang ekstrem membuat kaum perempuan tidak mampu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Berdasarkan kesaksian almarhum Uhri yang bertugas sebagai pemandu jalan kala itu, para pemuda lokal menandu istri Gubernur Sewaka, Ibu Ana Gartina, secara bergantian di sepanjang rute pengungsian.
Tiga Bulan di Cisurupan: Kehangatan Warga dan Tembakau Penyambung Rasa
Sekitar bulan Oktober 1947, rombongan pengungsi tiba di Kampung Cisurupan dan menerima sambutan hangat dari penduduk setempat. Sewaka bersama istrinya, putri mereka Juag Nani, dua orang sekretaris, serta sopir bernama Enoch dan Oyo menempati rumah sederhana milik Ki Murhasik.
Di Cisurupan, Ki Dain (menantu Ki Murhasik) mendampingi keluarga Gubernur secara setia selama tiga bulan masa pengungsian.
Sebuah kisah unik menggambarkan eratnya ikatan emosional antara keluarga Gubernur dan warga lokal. Suatu ketika saat waktu shalat berjamaah, Ki Dain berpura-pura pamit keluar rumah dengan alasan hendak membeli tembakau karena rindu Ingin bercengkerama dengan tetangga. Namun, Ibu Ana Gartina memergoki aksi cerdiknya lalu menyapa penuh kehangatan:
“Cicing di imah jeung aing, tuh bako mah loba di para imah!” seru Ibu Ana Gartina menahan langkah Ki Dain agar tetap berkumpul bersama keluarga.
Sejak teguran hangat berbahasa Sunda tersebut, Ki Dain tidak pernah lagi kekurangan pasokan tembakau dan terus mendampingi Sang Gubernur hingga akhir masa pengungsian.
Monumen Penjaga Ingatan: Prasasti Swadaya dan Masjid An-Nur Sawaka
Masyarakat mengabadikan jejak perjuangan Gubernur Sewaka di Cisurupan melalui dua peninggalan bersejarah: Masjid An-Nur Sawaka dan Prasasti Cisurupan.
Masyarakat setempat membangun Prasasti Cisurupan secara swadaya melalui dana rereongan di depan rumah Kodin tanpa campur tangan pemerintah pada masa itu.
“Jika saja ayahnya Kodin tidak membangun Prasasti Cisurupan dan Masjid An-Nur Sewaka, sepertinya sejarah perjuangan Gubernur Sewaka akan hilang lenyap begitu saja dari sejarah Jawa Barat,” ungkap Ruhiyat yang didampingi adiknya, Fathudin.
Ruhiyat beserta warga Cisurupan menyampaikan rasa syukur saat menerima kunjungan jurnalis. Sekaligus penulis buku Bergerilya Bersama Sewaka: Mengenang Jejak Sang Penyelamat Jawa Barat, Agung Ilham Setiadi (Kang Ais), yang telah mendokumentasikan penelusuran sejarah ini selama dua dekade.
“Terus terang saja kami kenal dengan Kang Ais. Hanya saja kami tidak tahu perjalanan sejarah dan pengungsian Gubernur sempat ditulis oleh seorang jurnalis. Padahal bukunya ada dan telah ditulis selama 20 tahun,” pungkas Ruhiyat.
(Abdul Latif)



