spot_imgspot_img
Kamis 17 September 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Bikin Haru! Kisah Mansur Penyintas Tumor Ganas di Pangandaran

‎PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Tumpukan batang daun kelapa berserakan di depan rumah sederhana di Blok Warung Bungur, RT 1/6, Dusun Empangsari, Desa/Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran.

‎Di atas kursi roda, Mansur (65) duduk membungkuk. Tangannya tak berhenti meraut batang daun kelapa satu per satu menjadi sapu lidi. Gerakannya pelan, tapi tekun.

‎Setahun lalu, tangan itu masih memegang kemudi mobil, mengantar gula lintas provinsi. Kini, tangan itu harus belajar bertahan dengan cara lain.

Baca Juga: Pernah Jadi Lokasi Syuting Mak Lampir, Goa Parat di Pangandaran Simpan Makam 2 Penyebar Islam

‎Tak jauh darinya, sang istri, Karsem (60) sibuk mengolah gadung yang baru ia kumpulkan dari perbukitan. Gadung itu akan menjadi keripik, dijual Rp60.000 per kilogram.

‎Bagi mereka, lidi dan keripik gadung bukan sekadar pekerjaan. Itu adalah napas terakhir untuk tetap hidup setelah harta habis untuk berobat.

‎Semuanya bermula dari benjolan di tubuh Mansur. Kadang dua, kadang tiga. Nyeri itu tak tertahankan.

‎”Ada benjolan, tumor ganas katanya. Kalau sudah kerasa, waduh enggak sebandinglah nyerinya, ya Allah,” ucap Mansur lirih.

‎Vonis itu membawanya bolak-balik dari Pangandaran ke RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, Banyumas, Jawa Tengah sejak 2025.

‎Operasi dijalani, dirawat 10 hari. Belum selesai. Ia harus menjalani kemoterapi 12 kali. Dalam sebulan, dua kali kemo selama enam bulan.

Sudah Tak Miliki Uang

‎Perjalanan sekitar tiga jam itu tak ditempuh dengan mobil. Tapi dengan motor.

‎Karsem yang menjadi sopirnya. Mereka berangkat jam 4 subuh agar tiba jam 7 pagi.

‎”Mau pakai mobil sudah enggak ada dana. Jadi pakai motor saja. Kata bapak nanti gantian nyupirnya,” ujar Karsem.

‎Sewa mobil butuh Rp600.000 ditambah uang makan sopir Rp200.000. Uang yang tak mereka punya.

‎Perjuangan itu makin berat ketika luka bekas operasi jebol lagi 10 hari setelah penutupan. Mansur harus kembali ke Banyumas hingga lima kali.

‎Biaya perjalanan, obat, dan kontrol perlahan menggerus semua yang mereka punya.

‎”Iya, jual motor dua buat pengobatan dia. Kebun habis semua. Makanya sekarang berjuangnya gini, sudah buat makan,” kata Karsem sambil menahan air mata.

Buka Jasa Tambal Ban

‎Saat uang tak ada, Karsem pinjam ke tetangga. Bantuan sosial Kartu Merah Putih sebesar Rp600.000 per tiga bulan yang ia terima, habis untuk bayar utang.

‎Kini Mansur tak lagi bisa jadi sopir. Ia lebih banyak di kursi roda. Kadang memaksakan diri membuka jasa tambal ban.

‎”Kalau enggak gitu gimana lagi. Jadi dia maksa nambal ban. Kalau ada yang mau nyuci mobil dia belum sanggup. Ini sanggupnya nambal doang,” kata Karsem.

Baca Juga: Pemprov Jabar Batal Bangun Permanen Jembatan Pongpet Pangandaran?

‎Karsem sendiri harus berjalan jauh ke atas gunung untuk mencari gadung dan bahan sapu lidi. Di rumah, Mansur yang merautnya.

‎”Alhamdulillah, satungtung tos dioperasi, alhamdulillah pada tiis,” ucap Mansur dalam bahasa Sunda, bersyukur nyerinya berkurang setelah operasi.

‎Oktober mendatang, Mansur harus kembali kontrol ke Banyumas. Mereka berharap itu menjadi kontrol terakhir.

‎Di rumah sederhana itu, Mansur dan Karsem masih bertahan. Dengan lidi yang diraut dari kursi roda, dan keripik gadung yang dijual kiloan. Sambil menunggu jadwal berikutnya ke rumah sakit.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru