PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Tumpukan batang daun kelapa berserakan di depan rumah sederhana di Blok Warung Bungur, RT 1/6, Dusun Empangsari, Desa/Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran.
Di atas kursi roda, Mansur (65) duduk membungkuk. Tangannya tak berhenti meraut batang daun kelapa satu per satu menjadi sapu lidi. Gerakannya pelan, tapi tekun.
Setahun lalu, tangan itu masih memegang kemudi mobil, mengantar gula lintas provinsi. Kini, tangan itu harus belajar bertahan dengan cara lain.
Baca Juga: Pernah Jadi Lokasi Syuting Mak Lampir, Goa Parat di Pangandaran Simpan Makam 2 Penyebar Islam
Tak jauh darinya, sang istri, Karsem (60) sibuk mengolah gadung yang baru ia kumpulkan dari perbukitan. Gadung itu akan menjadi keripik, dijual Rp60.000 per kilogram.
Bagi mereka, lidi dan keripik gadung bukan sekadar pekerjaan. Itu adalah napas terakhir untuk tetap hidup setelah harta habis untuk berobat.
Semuanya bermula dari benjolan di tubuh Mansur. Kadang dua, kadang tiga. Nyeri itu tak tertahankan.
”Ada benjolan, tumor ganas katanya. Kalau sudah kerasa, waduh enggak sebandinglah nyerinya, ya Allah,” ucap Mansur lirih.
Vonis itu membawanya bolak-balik dari Pangandaran ke RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, Banyumas, Jawa Tengah sejak 2025.
Operasi dijalani, dirawat 10 hari. Belum selesai. Ia harus menjalani kemoterapi 12 kali. Dalam sebulan, dua kali kemo selama enam bulan.
Sudah Tak Miliki Uang
Perjalanan sekitar tiga jam itu tak ditempuh dengan mobil. Tapi dengan motor.
Karsem yang menjadi sopirnya. Mereka berangkat jam 4 subuh agar tiba jam 7 pagi.
”Mau pakai mobil sudah enggak ada dana. Jadi pakai motor saja. Kata bapak nanti gantian nyupirnya,” ujar Karsem.
Sewa mobil butuh Rp600.000 ditambah uang makan sopir Rp200.000. Uang yang tak mereka punya.
Perjuangan itu makin berat ketika luka bekas operasi jebol lagi 10 hari setelah penutupan. Mansur harus kembali ke Banyumas hingga lima kali.
Biaya perjalanan, obat, dan kontrol perlahan menggerus semua yang mereka punya.
”Iya, jual motor dua buat pengobatan dia. Kebun habis semua. Makanya sekarang berjuangnya gini, sudah buat makan,” kata Karsem sambil menahan air mata.
Buka Jasa Tambal Ban
Saat uang tak ada, Karsem pinjam ke tetangga. Bantuan sosial Kartu Merah Putih sebesar Rp600.000 per tiga bulan yang ia terima, habis untuk bayar utang.
Kini Mansur tak lagi bisa jadi sopir. Ia lebih banyak di kursi roda. Kadang memaksakan diri membuka jasa tambal ban.
”Kalau enggak gitu gimana lagi. Jadi dia maksa nambal ban. Kalau ada yang mau nyuci mobil dia belum sanggup. Ini sanggupnya nambal doang,” kata Karsem.
Baca Juga: Pemprov Jabar Batal Bangun Permanen Jembatan Pongpet Pangandaran?
Karsem sendiri harus berjalan jauh ke atas gunung untuk mencari gadung dan bahan sapu lidi. Di rumah, Mansur yang merautnya.
”Alhamdulillah, satungtung tos dioperasi, alhamdulillah pada tiis,” ucap Mansur dalam bahasa Sunda, bersyukur nyerinya berkurang setelah operasi.
Oktober mendatang, Mansur harus kembali kontrol ke Banyumas. Mereka berharap itu menjadi kontrol terakhir.
Di rumah sederhana itu, Mansur dan Karsem masih bertahan. Dengan lidi yang diraut dari kursi roda, dan keripik gadung yang dijual kiloan. Sambil menunggu jadwal berikutnya ke rumah sakit.
(Sajidin)



