BANDUNG,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menjalin kerja sama strategis dengan Bank bjb untuk memperluas jangkauan pembiayaan bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Langkah ini bertujuan memperkuat permodalan industri kreatif lokal agar mampu meningkatkan skala bisnisnya.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa ketersediaan modal menjadi kunci utama bagi para pengusaha mikro untuk berkembang pesat.
Baca Juga: Pembangunan BRT Bikin Jalan Sempit, Farhan Waspadai Kemacetan Makin Parah
“Pemberian modal kredit oleh bjb merupakan salah satu upaya agar para pengusaha mikro mendapatkan akses ke dunia perbankan,” kata Farhan dalam kegiatan UMKM Hebat, Kota Bandung Kuat Bersama Bank bjb di Gedung Serbaguna Balai Kota Bandung, Kamis (20/8/2026).
Farhan menjelaskan bahwa pihak perbankan menyediakan nilai kredit yang sangat fleksibel untuk para pelaku usaha, mulai dari nominal Rp5 juta hingga mencapai Rp1,5 miliar. Besaran angka ini menyesuaikan dengan tingkat kelayakan serta skala bisnis masing-masing pemohon.
Pentingnya Legalitas dan Ekosistem Usaha Saling Membantu
Selain membuka kran permodalan, Pemkot Bandung aktif mengajak para pemilik usaha untuk segera merampungkan kelengkapan izin dan legalitas bisnis mereka. Kelengkapan dokumen ini menjadi kunci utama yang mempermudah proses pengajuan bantuan keuangan dari lembaga perbankan.
Lebih lanjut, Farhan menekankan bahwa pembentukan ekosistem bisnis yang sehat memerlukan sinergi erat antara pengusaha, lembaga keuangan, konsumen, dan pemerintah selaku pembuat kebijakan.
“Karena bicara lingkungan dan saling berhubungan, yang paling pertama mesti dibangun ketika kita mau membangun sebuah ekosistem adalah pelakunya. Semua pelakunya sudah ada di sini, pertama pelaku UMKM,” katanya.
Ia mengimbau para pemilik usaha untuk lebih dahulu menguji dan memperkuat pangsa pasar lokal di sekitar tempat tinggal mereka sebelum membidik pasar yang lebih luas.
“Paling penting, barang jualan UMKM itu pajang dulu di lingkungan. Apakah mereka membeli barang yang bapak ibu jual atau tidak? Itu penting sekali karena itu namanya membangun pasar,” ucapnya.
Dari Cilok Jadi Kuliner Restoran: Bukti Kreativitas UMKM Bandung
Kota Bandung terkenal dengan inovasi produk kulinernya. Farhan mencontohkan keberhasilan jajanan lokal seperti cilok, cireng, dan seblak yang kini sukses menembus pasar premium. Fenomena ini membuktikan tingginya kreativitas pengusaha Bandung dalam mengemas dan menaikkan citra produk.
“Cilok dan cireng sudah masuk ke restoran. Artinya, dalam 10 tahun mececap para pengusaha kuliner berhasil mengangkat citra cilok, cireng, dan seblak menjadi kelas kuliner,” ujarnya.
Upaya penguatan sektor bisnis mikro ini makin krusial mengingat angka pengangguran terbuka di Kota Bandung masih berada pada tingkat 7 persen. Sektor UMKM memiliki tanggung jawab besar untuk terus tumbuh dan membuka lebih banyak lapangan kerja baru.
Saat ini, Pemkot Bandung mencatat sekitar 12.000 UMKM resmi terdaftar. Sektor ini menunjukkan tren positif dengan rata-rata pertumbuhan omzet mencapai 25 persen dan kenaikan aset usaha sekitar 10,9 persen.
“Yang dibutuhkan sekarang adalah kekuatan UMKM, usaha mikro, kecil, dan menengah yang harus tumbuh besar dan menyerap tenaga kerja sebesar-besarnya,” jelasnya.
Komitmen Bank bjb dalam Mendorong Pengusaha Lokal Naik Kelas
Direktur Utama Bank bjb, Ayi Subarna, menegaskan komitmen lembaganya dalam mendampingi pertumbuhan ekonomi daerah melalui penguatan sektor UMKM.
“Hingga Juni 2026, Bank bjb secara konsolidasi mengelola aset sekitar Rp228 triliun dengan total kredit dan pembiayaan mencapai Rp140,4 triliun. Pertumbuhan bank harus sejalan dengan pertumbuhan masyarakat dan dunia usaha,” kata Ayi.
Pihaknya mencatat realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank bjb telah menyentuh angka Rp405 miliar per 31 Juli 2026. Sementara itu, total outstanding pembiayaan sektor UMKM tercatat mencapai kisaran Rp3,37 triliun.
Ayi menambahkan bahwa tolok ukur kesuksesan program pembiayaan ini tidak hanya berpatokan pada besarnya nilai nominal yang tersalurkan.
“Keberhasilan pembiayaan bukan hanya tentang seberapa besar kredit yang disalurkan, tetapi sejauh mana pembiayaan tersebut mampu membuat usaha tumbuh, naik kelas, dan semakin mandiri,” katanya.
Ia berharap kolaborasi ini menjadi wadah edukasi bagi para pelaku usaha untuk memperluas wawasan mengenai akses modal, strategi pasar, dan peluang bisnis masa depan.
“UMKM tidak bisa tumbuh sendirian. Pemerintah, regulator, perbankan, dan para pelaku UMKM harus berjalan bersama,” ujarnya.
(Yusuf Mugni)



