BANDUNG,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mulai mengantisipasi dampak kemacetan akibat pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya di sejumlah ruas jalan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, dirinya akan turun langsung meninjau proses pembangunan BRT sekaligus melihat dampaknya terhadap arus lalu lintas, khususnya di Jalan Jakarta.
Baca Juga: Kontrak Berakhir Oktober, P3K Paruh Waktu Bandung Dipastikan Diperpanjang
“Pembangunan BRT saya akan tinjau hari ini. Saya akan keliling untuk melihat efek pembangunan BRT,” kata Farhan Kamis (20/8/2026).
Farhan mengaku, sebelumnya belum melihat dampak signifikan dari pembangunan BRT. Namun, ia mendapat informasi bahwa proyek tersebut mulai menimbulkan kemacetan.
“Karena kemarin agak terlalu adem, kayaknya siga nu euweuh nanaon pembangunan téh. Tapi begitu semalam saya dengar ternyata menimbulkan kemacetan, nah, saya baru akan turun,” katanya.
Dampak Pembangunan BRT
Menurutnya, dampak pembangunan BRT terhadap lalu lintas berpotensi semakin besar seiring berjalannya proyek. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pemasangan separator khusus bus yang akan mempersempit ruang kendaraan di badan jalan.
“Karena nanti dampaknya akan makin lama makin bertambah, terutama dengan pembangunan pemisah atau separator. Separator khusus untuk bus. Itu kan mempersempit jalan,” ujarnya.
Farhan menyebut separator jalur BRT dipasang di sejumlah ruas jalan utama Kota Bandung. Ruas tersebut di antaranya Jalan Jakarta, Jalan Ahmad Yani, Jalan Asia Afrika, Jalan Sudirman, Jalan Rajawali, Jalan Otista, Jalan Mohammad Toha hingga kawasan Alun-Alun Bandung.
“Di Jalan Jakarta, Ahmad Yani, Asia Afrika, Sudirman, Rajawali, Otista, Muhammad Toha sampai Alun-Alun,” ungkapnya
Farhan mengakui, pemasangan separator akan mempersempit ruang jalan. Ia pun masih mempelajari dampaknya terhadap kondisi lalu lintas di sejumlah ruas tersebut.
“Nah, itu makanya. Makanya ini saya sedang pelajari dulu bagaimana dampaknya,” ucapnya.
Pengawasan Lapangan
Farhan memastikan komunikasi dengan pihak BRT terus dilakukan. Menurutnya, pengawasan di lapangan penting untuk memastikan dampak pembangunan terhadap lalu lintas dapat segera diantisipasi.
Baca Juga: Forkoda PPDOB Jabar Tawarkan Solusi Kemandirian Fisikal
“Kalau dengan BRT, kita melakukan komunikasi terus, ya. Jangan sampai nanti saya merasa kecolongan, saya ngamuk deui di jalanan, hoream empan,” katanya.
Farhan menambahkan, pemasangan separator sebenarnya sudah dilakukan sejak awal pembangunan. Ia mengaku telah mengetahui ruas jalan yang terdampak pemasangan separator tersebut.
“Sudah dari awal. Separator mah sudah ada dari awal juga. Makanya saya hafal jalannya mana saja,” pungkasnya.
(Yusuf Mugni)



