BEKASI,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi memperkuat berbagai langkah taktis untuk menghadapi ancaman kekeringan yang mulai melanda kawasan pertanian. Melalui Dinas Pertanian, pemerintah daerah menyiagakan pasokan air agar lahan sawah tetap produktif dan hasil panen padi tidak terganggu.
Salah satu aksi nyata di lapangan adalah mendistribusikan puluhan unit mesin pompa air ke daerah yang kekurangan pasokan air. Tim Brigade Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) menyalurkan total 83 unit pompa untuk membantu pengairan sawah para petani.
Baca Juga: OJK Tasikmalaya Ingatkan Pelajar, Waspadai Game Online yang Minta Deposit dan Janjikan Uang
Bantuan tersebut mencakup 13 unit pompa berukuran 6 inci dan 70 unit pompa berukuran 3 inci. Petugas menempatkan peralatan ini di tujuh kecamatan rawan, meliputi Pebayuran, Cabangbungin, Kedungwaringin, Tambelang, Sukawangi, Setu, serta Muara Gembong.
Mesin-mesin pompa ini bekerja menyedot air dari sungai dan sumber air terdekat untuk disalurkan langsung ke persawahan warga yang mulai mengering.
Langkah cepat ini menjadi krusial karena dampak musim kemarau telah meluas hingga menyerap sekitar 1.354 hektare lahan pertanian. Wilayah terdampak kini tersebar di 41 desa yang berada di 15 kecamatan se-Kabupaten Bekasi.
Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Eem Embang, menegaskan pentingnya melakukan mitigasi risiko sejak awal untuk mencegah penurunan produksi beras lokal.
“Melakukan mitigasi sejak dini pada wilayah rawan kekeringan dan melakukan penanganan jangka pendek sesuai tugas, fungsi, dan anggaran Dinas Pertanian,” ujar Eem, Kamis (20/9/2026).
Eem menjelaskan bahwa penurunan produksi padi sejauh ini belum terlihat secara signifikan. Namun, penyusutan debit air irigasi tetap menjadi kewaspadaan utama agar tidak merusak kualitas panen mendatang.
“Di situ pastinya terdampak ada penurunan produksi. Karena sebetulnya dari Kementerian Pertanian kita harus menggenjot luas tambah tanam. Nah, kalau luas tambah tanam terus-menerus harus ditingkatkan, kembali lagi ke kondisi air,” katanya.
Normalisasi Saluran Irigasi dan Kemudahan Akses BBM Bersubsidi
Selain mengandalkan strategi pompanisasi, Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi aktif membersihkan jaringan irigasi dari sumbatan eceng gondok. Langkah ini bertujuan agar aliran air menuju persawahan dapat mengalir lebih lancar.
Dinas Pertanian juga menjalin koordinasi intensif bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) serta Perum Jasa Tirta (PJT) II untuk mencari solusi pemenuhan pasokan air jangka panjang.
Guna mendukung kelancaran operasional mesin di lapangan, dinas membantu memfasilitasi surat rekomendasi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi bagi para petani. Bantuan dokumen ini memudahkan petani mendapatkan pasokan solar untuk menggerakkan mesin pompa.
Di samping itu, petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) melakukan pemantauan kondisi lahan secara berkala.
“Pembaruan data terus dilakukan agar respons terhadap lahan yang terdampak kekeringan dapat dilakukan dengan cepat,” kata Eem.
Untuk penanganan jangka menengah, Pemkab Bekasi bersama BBWS mendorong pengerukan dan normalisasi beberapa saluran air penting. Saluran tersebut meliputi Saluran Sekunder (SS) Balongtua sepanjang 7 km, SS Jagawana sepanjang 10 km, serta Kali Butek di Kecamatan Cabangbungin.
Pemerintah pusat melalui Kementan turut memberikan suntikan anggaran operasional untuk pengerjaan normalisasi irigasi di Desa Karangharja, Kecamatan Pebayuran.
Amankan Target Produksi 503 Ton Padi per Musim
Rangkaian program penanggulangan ini bertujuan mempertahankan produktivitas lahan agar petani tetap dapat bercocok tanam. Dinas Pertanian menetapkan target produksi padi mencapai kisaran 503 ton dalam satu musim tanam.
“Target yang ingin kita capai itu 503 ton per musim. Makanya kita coba melakukan penanggulangan dan membantu petani agar jangan sampai lahan-lahan itu tidak tertanami,” jelas Eem.
Kecamatan Pebayuran, Sukatani, Sukakarya, Sukawangi, dan Muara Gembong masih menjadi penopang utama sentra beras di Kabupaten Bekasi. Wilayah Pebayuran sendiri mampu mencatatkan angka produksi tinggi, yakni sekitar 8 hingga 9 ton per hektare.
Pemerintah daerah terus memotivasi petani untuk mengoptimalkan pola tanam hingga tiga kali dalam setahun demi mendukung swasembada pangan nasional.
Guna menjaga stabilitas pangan daerah, Dinas Pertanian juga menerjunkan petugas informasi pasar untuk mendata stok beras di pabrik-pabrik penggilingan. Langkah pengawasan menyeluruh ini memastikan ketersediaan pangan warga Kabupaten Bekasi tetap aman selama musim kemarau.
(Jingga Sonjaya)



