spot_imgspot_img
Jumat 7 Agustus 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Warga Cibaduyut Permai Bandung Tolak Pembangunan SDN 026, Ini Alasannya

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Rencana pembangunan SD Negeri 026 di kawasan Cibaduyut Permai, Kota Bandung, menuai penolakan dari warga RW 02. Warga khawatir keberadaan sekolah baru dengan sekitar 1.000 siswa akan memperparah kemacetan dan kebisingan di lingkungan permukiman.

Salah seorang warga RW 02, Sutrisno Nasuhi (72) mengatakan, warga selama ini menginginkan lingkungan tempat tinggal yang tenang. Terlebih, kawasan tersebut telah memiliki sejumlah fasilitas pendidikan.

“Tentu saja, kami sebagai warga di sini sudah lama menginginkan ketenangan. Hidup ini tinggal masa tua, jadi kami ingin hidup dengan tenang,” kata Sutrisno saat di wawancara di lokasi, Jumat (7/8/2026).

Baca Juga: SDN 026 Bojongloa Digembok, Farhan Pasang Badan Lindungi 900 Siswa

Menurut Sutrisno, di sekitar permukiman warga sudah terdapat SD, SMP, TK, SMPN 13 hingga sekolah swasta. Karena itu, warga mempertanyakan rencana pembangunan sekolah baru di kawasan tersebut.

“Di sini kan sudah banyak sekolah. Ada SMP, di tengah kompleks kami ada SD, ada TK. Di sini juga ada SMPN 13, ada SMP swasta, ada sekolah lain. Lengkap, ada SD,” ujarnya.

Selain kepadatan fasilitas pendidikan, warga mempersoalkan proses sosialisasi. Sutrisno menyebut warga baru mengetahui rencana pembangunan sekolah setelah adanya sosialisasi di tingkat kelurahan pada 28 Juli 2026.

“Kami sama sekali tidak pernah di ajak bicara bahwa di sini akan di bangun sekolah. Kami baru tahu beberapa minggu belakangan ini, setelah ada sosialisasi di kelurahan,” katanya.

Warga juga mengkhawatirkan dampak terhadap lalu lintas. Penambahan sekitar 1.000 siswa di nilai berpotensi membuat arus kendaraan semakin padat, khususnya saat jam masuk dan pulang sekolah.

“Bayangkan kalau ada sekolah lagi dengan tambahan sekitar 1.000 siswa. Bagaimana situasi di sini? Lalu lintas saat jam masuk dan pulang sekolah pasti semakin padat,” ucapnya.

Sutrisno menyebut kondisi lalu lintas saat ini saja sudah cukup padat. Bahkan, fasilitas lingkungan warga di sebut kerap di gunakan untuk menunjang aktivitas sekolah yang telah ada.

“Sekarang saja sudah seperti ini. Sekolah-sekolah di sini kan tidak punya tempat olahraga. Tempat kami ini di pakai untuk kegiatan mereka. Tiap hari seperti itu,” ungkapnya.

Akses Menuju Sekolah

Lebih lanjut Sutrisno mengatakan, warga selama ini masih memberikan akses menuju sekolah yang sudah ada. Namun, warga keberatan jika akses tersebut kembali di gunakan untuk menunjang sekolah baru.

“Silakan. Tapi jangan di tambah lagi. Jangan di tambah lagi dengan pembangunan sekolah baru yang akan menambah kerumitan bagi kami,” tegasnya.

Tak hanya kemacetan, warga juga khawatir aktivitas siswa dan kendaraan akan meningkatkan kebisingan di lingkungan permukiman.

“Kebisingan juga akan bertambah. Bayangkan kalau nanti 1.000 siswa datang naik motor atau di antar ke sini. Bagaimana kami bisa hidup tenang?” kata Sutrisno.

Sutrisno mengatakan, warga telah berkonsultasi dengan kuasa hukum terkait rencana pembangunan tersebut. Mereka juga telah bertemu dengan Dinas Pendidikan, camat, dan lurah untuk bermusyawarah. Namun, pertemuan tersebut belum mengubah sikap warga.

“Kemarin kami sudah bertemu dengan Dinas Pendidikan, camat, dan lurah untuk bermusyawarah. Namun kami tetap menyatakan keberatan,” katanya.

Layangkan Surat Keberatan

Warga juga mengaku telah melayangkan surat keberatan kepada Wali Kota Bandung, DPRD, Gubernur Jawa Barat hingga Ombudsman.

“Surat keberatan itu di susun dengan alasan-alasan sesuai ketentuan hukum. Kami sebagai warga mungkin tidak memahami seluruh aspek hukumnya, tetapi dari sudut pandang tata ruang dan berbagai ketentuan hukum lainnya, banyak hal yang menjadi keberatan kami,” tuturnya.

Baca Juga: Gerbang SDN 026 Bojongloa Bandung Digembok Lagi, Murid Terpaksa PJJ di Tengah Sengketa Lahan

Sutrisno menyebut pihak kecamatan juga mengakui adanya kekurangan dalam proses sosialisasi kepada warga.

“Kemarin juga di akui oleh Pak Camat bahwa memang ada kekurangan dalam proses sosialisasi,” katanya.

Meski menolak pembangunan SDN 026, Sutrisno menegaskan warga RW 02 tidak anti terhadap pendidikan.

“Perlu kami sampaikan kepada masyarakat bahwa kami bukan menolak pendidikan. Sama sekali bukan. Kami mendukung pendidikan,” pungkasnya.

(Yusuf Mugni)

spot_img

Berita Terbaru