spot_imgspot_img
Senin 3 Agustus 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ratusan Brand Fesyen Lokal Ramaikan Glam Local Bandung, Ribuan Pengunjung Padati Area Bazar

BANDUNG,FOKUSjabar.id: Antusiasme masyarakat terhadap produk fesyen lokal terus menunjukkan tren positif. Fenomena ini terlihat jelas dari membludaknya gelombang pengunjung dalam ajang Glam Local Bandung yang memboyong sekitar 160 brand fesyen lokal dari berbagai pelosok Indonesia.

Sejak hari pertama pembukaan, antrean panjang mengular di depan pintu masuk area bazar. Ribuan pengunjung memadati lokasi guna berburu deretan koleksi fesyen paling gres. Suasana di dalam ruang pameran pun riuh oleh lautan pengunjung yang saling berdesakan mendatangi setiap stan.

Baca Juga: Usia 50+ Bukan Halangan, Bos Koi Hartono Soekwanto Kembali Juara 3 Turnamen Padel di Bandung

Pendiri Glam Local, Rizky Azhar atau yang akrab dengan sapaan Kiki, menegaskan bahwa pihaknya memasang target sedikitnya 8.000 pengunjung saban hari. Angka ini melonjak tajam jika membandingkannya dengan rata-rata penyelenggaraan edisi terdahulu yang mengantongi sekitar 5.000 pengunjung per hari.

“Kami menargetkan jumlah kunjungan sedikitnya 8.000 orang per hari. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata penyelenggaraan sebelumnya,” ujar Kiki di Bandung, Sabtu (1/8/2026) lalu.

Kiki menilai membludaknya jumlah pengunjung menjadi bukti shahih bahwa animo masyarakat terhadap produk fesyen buatan dalam negeri masih sangat tinggi. Padahal, penyelenggara menggelar acara ini di luar musim Ramadhan yang kerap memegang predikat puncak penjualan industri fesyen.

“Ramadan memang high season. Namun, saat kami menggelar acara di kuartal kedua yang bertepatan dengan kebutuhan biaya sekolah, antusiasme masyarakat untuk berbelanja tetap tinggi,” katanya.

Koleksi Produk Baru

Bukan sekadar menawarkan pangkas harga atau diskon, Glam Local mengukuhkan diri sebagai panggung peluncuran bermacam koleksi produk baru. Sebanyak 80 brand yang unjuk gigi merupakan peserta anyar yang belum pernah menjajal ajang Glam Local sebelumnya.

Komposisi peserta mencakup sekitar 40 persen brand asal Bandung, sedangkan sisanya datang meramaikan dari berbagai daerah seperti Makassar, Kalimantan, hingga Medan.

“Ada 80 brand baru yang belum pernah ikut Glam Local sama sekali. Jadi, memang benar-benar memperkenalkan banyak brand baru,” ungkap Kiki.

Kiki menambahkan, mayoritas pengunjung datang bukan murni mencari potongan harga, melainkan ingin mengamankan produk eksklusif yang rilis khusus selama bazar berlangsung.

“Orang di sini sepertinya bukan hanya mencari diskon. Banyak yang mencari produk baru karena banyak brand yang melakukan special launching di sini,” ujarnya.

Kiki mengakui bahwa proses kurasi peserta memberikan tantangan tersendiri menyusul tingginya minat brand lokal yang ingin bergabung. Panitia harus menyeleksi ketat produk yang benar-benar cocok dengan selera pasar Kota Bandung.

Di sisi lain, Kiki menyoroti potongan biaya administrasi di platform e-commerce yang masih mencekik para pelaku usaha lokal. Menurutnya, potongan tinggi tersebut memicu harga jual produk di toko daring kerap membumbung lebih mahal ketimbang harga yang ditawarkan langsung di bazar.

“Biasanya mereka memasukkan komponen biaya administrasi yang bisa mencapai 20 persen,” katanya.

Pihak penyelenggara mengaku telah melayangkan aspirasi tersebut kepada Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah serta DPR agar segera menelurkan regulasi terkait pemotongan biaya platform digital demi menyokong pertumbuhan brand lokal.

Sementara itu, salah seorang pengunjung, Aleya Agustin, mengaku sengaja meluangkan waktu datang dua hari berturut-turut demi melengkapi koleksi fesyen miliknya.

“Hari pertama lebih banyak lihat-lihat, baru hari kedua belanja lebih banyak saat flash sale. Produknya banyak, semuanya pengen, jadi bingung milihnya,” ujarnya.

(Alpin Septian)

spot_img

Berita Terbaru