spot_imgspot_img
Rabu 8 Juli 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Alarm Bahaya! Situ Gede Surut, Kekeringan Ancam Ribuan Hektare Sawah di Tasikmalaya

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Aroma tanah kering yang menyengat serta hamparan sawah yang mulai retak-retak kini mewarnai pemandangan pilu di sejumlah sudut Kota Tasikmalaya. Hantaman musim kemarau panjang kembali datang membawa ancaman nyata yang siap melumpuhkan sektor pertanian lokal. Merosotnya pasokan air secara drastis pun mulai mencekik urat nadi kehidupan para petani.

Data dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Tasikmalaya menunjukkan bahwa efek domino dari kemarau ini mulai merayap ke seluruh wilayah. Otoritas kini memasukkan empat kecamatan ke dalam zona merah alias wilayah paling rawan kekeringan, yaitu Kecamatan Purbaratu, Kawalu, Tamansari, dan Kecamatan Mangkubumi.

Baca Juga: Budaya Sunda Mulai Ditinggalkan Anak Muda, PaSI Kota Tasikmalaya Siapkan Langkah Nyata

Meskipun hingga saat ini dinas belum menerima laporan resmi terkait kasus gagal panen total (puso). Bayang-bayang kerugian finansial yang besar sudah mengintai para petani jika pemerintah tidak segera mengambil langkah mitigasi yang cepat dan adaptif.

Larang Petani Spekulatif dan Imbau Istirahatkan Lahan

Merespons situasi kritis tersebut, Kepala Bidang Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan DKP3 Kota Tasikmalaya, Anisah Kardiyati, menegaskan bahwa kemarau tahun ini merupakan ujian kolektif yang menuntut kelenturan pola pikir para petani. Ia melarang petani nekat menanam komoditas yang haus air seperti padi biasa.

“Kalau pasokan air sudah mulai menipis, jangan dipaksakan untuk menanam padi. Ini saatnya petani beralih ke varietas tanaman yang jauh lebih tahan terhadap kondisi kering (palawija),” ujar Anisah, Rabu (8/7/2026).

Jika pasokan sumber air di suatu wilayah benar-benar telah mengering total, DKP3 menawarkan opsi yang lebih aman. Yakni menunda masa tanam dan membiarkan lahan bera (beristirahat) hingga musim penghujan tiba.

Menurut analisis Anisah, langkah membiarkan lahan beristirahat jauh lebih bijaksana daripada memaksakan diri yang justru berujung pada investasi bodong alias gagal panen. Sisi positifnya, masa bera ini sangat efektif untuk memutus mata rantai siklus perkembangbiakan hama serta penyakit tanaman.

Kebut Proyek Irigasi Cikunten II dan Sistem Pembagian Air

Pemerintah Kota Tasikmalaya sendiri bergerak cepat membenahi infrastruktur vital. Saat ini, pemerintah pusat sedang mengebut proyek rehabilitasi Jaringan Irigasi Cikunten II. Proyek tersebut menjadi urat nadi pengairan utama di wilayah tersebut. Kelancaran proyek irigasi ini harapannya mampu menjadi solusi jangka panjang yang kokoh untuk mengairi total luas sawah produktif di Kota Tasikmalaya yang mencapai 4.689 hektare.

Untuk penanganan jangka pendek yang mendesak, DKP3 menjalin kolaborasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Serta pengelola irigasi lokal guna menerapkan sistem pergiliran air secara ketat di lapangan.

“Begitu ada laporan lahan yang terancam kering, kami langsung bergerak bersama BBWS untuk mengatur pembagian air secara bergilir. Tujuannya agar asas keadilan terpenuhi,” tambah Anisah.

Alarm Bahaya dari Menyusutnya Debit Air Situ Gede

Kondisi di lapangan kian mengkhawatirkan seiring dengan menyusutnya volume air di sejumlah penampungan alami. Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUTR Kota Tasikmalaya, Rino Isa Muharam, mengungkapkan ikon wisata air daerah, Situ Gede, kini mulai surut secara drastis.

“Kondisi Situ Gede sekarang sudah mulai surut. Ini adalah alarm bagi kita semua. Jika tren penurunan ini terus berlanjut, ketahanan air dan otomatis ketahanan pangan kita akan sangat terganggu,” ungkap Rino memperingatkan situasi.

Saat ini, Bidang SDA mengawasi sedikitnya 29 daerah irigasi dengan total panjang jaringan yang membentang hingga 332 kilometer. Selama ini, petugas mengandalkan aliran Sungai Citanduy sebagai tumpuan utama untuk menyuntikkan suplai air ke Sungai Ciloseh.

Meskipun pemerintah mengupayakan pasokan air dari Sungai Citanduy, hasil rapat koordinasi bersama UPTD PSDA Wilayah Sungai Citanduy memetakan dinamika yang sedikit berbeda. Otoritas menetapkan tiga wilayah dengan risiko kekeringan paling ekstrem yang membutuhkan perhatian khusus, yakni Purbaratu, Cibeureum, dan sebagian wilayah Tamansari.

Dalam menghadapi kemarau panjang 2026 ini, kolaborasi erat antara DKP3, Dinas PUTR, serta kedewasaan para petani dalam mengubah pola tanam menjadi kunci utama. Kecepatan perbaikan infrastruktur serta manajemen distribusi air yang presisi diharapkan mampu menyelamatkan sektor pertanian Kota Tasikmalaya dari hantu gagal tanam.

(Abdul Latif)

spot_img

Berita Terbaru