BEKASI, FOKUSJabar.id: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi memastikan kondisi inflasi daerah masih berada dalam kondisi yang terkendali meskipun sejumlah bahan pangan strategis mengalami kenaikan harga dalam beberapa pekan terakhir.
Stabilitas ekonomi daerah di nilai tetap terjaga dan belum memberikan tekanan berarti terhadap daya beli masyarakat.
BACA JUGA:
Dua Pemuda Diamankan Polisi Saat Diduga Hendak Tawuran di Bekasi Timur
Di tengah berbagai tantangan ekonomi global. Termasuk penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat serta dinamika geopolitik internasional, aktivitas ekonomi masyarakat Kabupaten Bekasi masih berjalan relatif stabil.
Pemerintah daerah terus memantau perkembangan harga kebutuhan pokok guna memastikan inflasi tetap berada dalam batas yang aman.
Hasil pemantauan yang di lakukan Dinas Perdagangan Kabupaten Bekasi menunjukkan, kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari masih cukup baik.
Kenaikan harga yang terjadi pada beberapa komoditas pangan sejauh ini belum berdampak signifikan terhadap kondisi konsumsi masyarakat.
Kepala Bidang Pengendalian Barang Pokok dan Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan Kabupaten Bekasi, Helmi Yenti mengatakan, kondisi tersebut terlihat dari hasil pendataan harga dan daya beli masyarakat yang di lakukan secara berkala.
“Hasil pendataan menunjukkan daya beli masyarakat masih berada pada zona aman, meskipun terdapat beberapa komoditas pangan yang mengalami kenaikan harga,” ujar Helmi.
Data Indeks Perkembangan Harga (IPH) pekan sebelumnya menunjukkan Kabupaten Bekasi mencatat angka 1,56. Angka tersebut menempatkan Kabupaten Bekasi di posisi delapan di Jawa Barat dan masih berada di bawah ambang batas 1,58 yang menjadi indikator bahwa kondisi inflasi daerah masih terkendali.
Menurut Helmi, capaian tersebut menunjukkan fluktuasi harga yang terjadi di pasar belum memberikan pengaruh besar terhadap kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok.
BACA JUGA:
Kemenhut Bongkar Gudang Satwa di Bekasi, Usut Dugaan Jaringan Penyelundupan Reptil
Kondisi tersebut juga mencerminkan bahwa stabilitas harga secara umum masih dapat di jaga dengan baik.
Meski demikian, hasil pemantauan di sejumlah pasar rakyat menunjukkan adanya kenaikan harga pada beberapa komoditas utama.
Produk yang mengalami peningkatan harga antara lain daging sapi, bawang merah, bawang putih, cabai merah keriting serta cabai rawit merah.
Bahkan di sejumlah pasar tradisional (Pasar Cikarang, Cibarusah dan Pasar Serang) harga beberapa komoditas telah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
Helmi menjelaskan, kenaikan harga tersebut di pengaruhi oleh dua faktor utama. Selain meningkatnya biaya operasional di sektor peternakan dan distribusi, gangguan rantai pasok pada komoditas hortikultura juga turut mendorong harga di tingkat pasar.
Untuk komoditas daging sapi, harga saat ini berada pada kisaran Rp135 ribu-150 ribu per kilogram.
Kenaikan tersebut di pengaruhi oleh meningkatnya biaya transportasi dan distribusi dari sentra peternakan maupun rumah potong hewan.
Sementara itu, harga daging sapi impor juga ikut terdampak oleh kondisi geopolitik global yang memengaruhi perdagangan internasional.
Pada kelompok hortikultura, harga cabai merah keriting di Pasar Cibarusah tercatat mencapai Rp68 ribu per kg. Sementara di Pasar Tambun dan Pasar Serang, harga masih berada di kisaran Rp45 ribu per kg atau masih di bawah HET Rp55 ribu per kg.
BACA JUGA:
Terungkap Disidang, Inilah Pesan Ade Kunang ke Kadisdik Bekasi
Untuk cabai rawit merah, harga tertinggi di temukan di Pasar Cikarang dan Pasar Serang yang mencapai Rp90 ribu per kg. Adapun harga terendah berada di Pasar Babelan, Rp65 ribu per kg, namun tetap lebih tinggi di bandingkan HET yang di tetapkan sebesar Rp57 ribu per kg.
Kenaikan juga terjadi pada bawang putih yang kini menyentuh Rp40 ribu per kilogram atau naik sekitar Rp10 ribu di bandingkan harga normal.
Sementara bawang merah di perdagangkan pada kisaran Rp35 ribu hingga Rp50 ribu per kg.
Di luar komoditas tersebut, harga kebutuhan pokok lainnya relatif stabil. Beras premium maupun minyak goreng masih di perdagangkan dengan harga yang tidak mengalami perubahan signifikan.
Untuk menjaga kestabilan harga, Pemerintah Kabupaten Bekasi telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif. Salah satunya dengan memperkuat pasokan dari luar daerah.
“Selain di pengaruhi biaya operasional, kenaikan harga juga terjadi karena hambatan rantai pasok. Seperti gagal panen cabai di Garut yang berdampak pada distribusi ke Pasar Induk Cibitung. Untuk menjaga stabilitas harga, kami menyiapkan pasokan alternatif dari Sumatera,” kata Helmi.
Pemerintah Kabupaten Bekasi juga akan terus melakukan pemantauan harga secara berkala serta memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak guna memastikan ketersediaan pasokan dan menjaga inflasi daerah tetap berada dalam kondisi terkendali.
(Jingga Sonjaya)



