GARUT, FOKUSJabar.id: Dalam perjalanan panjang perjuangan pembentukan Calon Daerah Otonomi Baru (CDOB) Kabupaten Garut Utara Jawa Barat (Jabar), terdapat tokoh-tokoh yang bukan hanya hadir sebagai bagian organisasi. Namun juga menjadi penyangga moral perjuangan, penjaga arah, penguat legitimasi sosial sekaligus tempat bersandar ketika perjuangan menghadapi ujian panjang. Salah satunya, Adang Hambali.
Dia adalah seorang ulama, akademisi, guru besar dan tokoh masyarakat yang di kenal memiliki keluasan ilmu, kedalaman hikmah serta keteduhan dalam memandang persoalan masyarakat.
BACA JUGA:
“Singa Limbangan” Pemberi Mandat Perjuangan CDOB Garut Utara
Bagi warga Garut Utara, Adang Hambali bukan hanya tokoh pendidikan dan ulama. Namun seorang sosok yang menjaga ruh perjuangan agar tetap berjalan di atas jalan maslahat, persatuan, kebijaksanaan dan kepentingan masyarakat luas.
Karenanya, seluruh kalangan pengurus dan pejuang Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra) yang telah membersamai perjuangan sekitar 13 tahun di pandang sebagai “Gunung Pananggeuhan.”
Sebagaimana Gunung Haruman yang berdiri kokoh memayungi bentang Garut Utara, tenang, teduh, tidak banyak gaduh tetapi kuat menjaga alam di sekelilingnya.
Demikian pula dengan sosok Adang Hambali. Dalam perjalanan perjuangan Garut Utara, hadir bukan hanya ketika perjuangan telah besar seperti hari ini. Namun sejak masa gagasan, aspirasi dan cita-cita pemekaran Garut Utara mulai di perbincangkan oleh para tokoh masyarakat, ulama, akademisi, budayawan dan pejuang daerah.
Dia tetap berdiri bersama perjuangan dalam setiap fase. Yakni, saat gagasan mulai di rintis, saat aspirasi masyarakat di himpun, saat perjuangan di perjuangkan ke ruang-ruang pemerintahan hingga ketika perjuangan menghadapi dinamika dan ujian panjang seperti hari ini.
Sang Profesor memahami bahwa perjuangan pembentukan Kabupaten Garut Utara bukan sekadar tentang wilayah administratif baru. Tetapi tentang menghadirkan keadilan pembangunan, pemerataan kewenangan, distribusi fiskal yang lebih proporsional, percepatan pelayanan publik, penguatan ekonomi masyarakat serta menghadirkan pemerintahan yang lebih dekat kepada rakyat.
Garut saat ini merupakan salah satu kabupaten dengan wilayah luas dan jumlah penduduk terbesar di Provinsi Jawa Barat. Dengan lebih dari 2,7 juta jiwa dan bentang wilayah yang sangat panjang dari pegunungan hingga pesisir selatan, rentang kendali pemerintahan menjadi sangat berat.
BACA JUGA:
Arti dan Makna Filosofis Logo PM Gatra
Akibatnya, ketimpangan pembangunan antarwilayah terus terjadi. Wilayah utara Garut masih menghadapi berbagai persoalan.
Mulai pelayanan publik yang belum optimal, distribusi pembangunan yang belum merata, keterbatasan pusat pertumbuhan ekonomi, tingginya masyarakat rentan miskin, lemahnya percepatan pembangunan kawasan hingga tantangan sosial, keamanan dan moral masyarakat yang semakin kompleks.
Adang Hambali memahami, jika wilayah terlalu luas sementara kemampuan kontrol pemerintahan terbatas, maka yang lahir adalah ketimpangan berkepanjangan.
“Pelayanan menjadi lambat, pengawasan melemah, pembangunan tidak merata dan masyarakat pinggiran terus tertinggal,” ungkap Adang Hambali.
Dia menegaskan, perjuangan DOB Garut Utara di pandang sebagai jalan strategis dan konstitusional untuk memperpendek rentang kendali pemerintahan, mempercepat pelayanan masyarakat, membuka pusat pertumbuhan ekonomi baru, menghadirkan pemerataan fiskal serta memperkuat stabilitas sosial dan keamanan wilayah.
BACA JUGA:
Bambang Fouristian Sang Mata Pena di Balik Pergerakan PM Gatra
Bagi Dia, perjuangan pemekaran bukan soal ambisi kekuasaan. Tetapi tentang masa depan masyarakat, tentang bagaimana negara hadir lebih dekat kepada rakyat, bagaimana generasi mendatang memperoleh pelayanan yang lebih baik dan bagaimana pembangunan dapat di rasakan lebih adil oleh masyarakat Garut Utara.
Sebagai ulama dan akademisi, Dia selalu mengingatkan bahwa perjuangan harus tetap berjalan secara bermartabat, konstitusional dan menjaga persatuan masyarakat. Karena perjuangan besar yang kehilangan nilai dan kebijaksanaan akan mudah kehilangan arah.
Dalam sejarah perjuangan CDOB Kabupaten Garut Utara, Dia tercatat sebagai salah satu orator Deklarasi pada tanggal 18 Februari 2012, tokoh penyampaian awal usulan CDOB Garut Utara kepada DPRD dan Pemerintah Kabupaten Garut tanggal 12 Juli 2012.
Pembaca doa pada Sidang Paripurna Persetujuan DOB Kabupaten Garut Utara serta pengawal peta jalan perjuangan Garut Utara di tingkat Kabupaten, Provinsi Jawa Barat hingga tingkat nasional.
Dia bersama KH Amin Muhyiddin, Didin Umarzen (alm), Usep Romli (Alm) serta para tokoh ulama, akademisi, budayawan dan intelektual Garut Utara menjadi bagian dari pemberi amanah perjuangan kepada Holil Aksan Umarzen untuk mengemban amanah sebagai Ketua Umum PM Gatra.
BACA JUGA:
Paradigma Baru Fase Akhir Perjuangan CDOB Garut Utara
Momentum tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan Garut Utara. Karena lahir dari kepercayaan perjuangan, dorongan moral dan harapan besar agar estafet perjuangan tetap berjalan dalam satu arah, bermartabat dan berkelanjutan.
Dalam struktur organisasi PM Gatra, Dia di percaya sebagai Ketua Dewan Pembina.
Posisi Dewan Pembina bukan hanya sebagai organisatoris. Namun menjadi penjaga moral perjuangan, pengarah nilai sekaligus penguat legitimasi sosial perjuangan Garut Utara.
Dia menunjukkan bahwa tokoh besar tidak selalu hadir dengan suara paling keras. Kadang justru hadir melalui keteduhan berpikir, keluasan pandangan, keberanian moral dan kemampuan menjaga arah perjuangan agar tetap berada di jalan maslahat.
Jejak Adang Hambali mengajarkan perjuangan besar. Bukan hanya tentang siapa yang paling depan berbicara. Tetapi siapa yang mampu menjaga niat perjuangan tetap lurus, menjaga persatuan tetap utuh dan memastikan bahwa perjuangan benar-benar menjadi jalan kemaslahatan masyarakat.
Perjuangan Garut Utara bukan hanya perjuangan hari ini. Tetapi tentang masa depan anak cucu, tentang pelayanan yang lebih dekat, pendidikan yang lebih baik, peluang ekonomi yang lebih luas serta kehidupan masyarakat yang lebih aman, adil dan bermartabat.
(Bambang Fouristian)



