spot_imgspot_img
Minggu 2 Agustus 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Barcode Solar Subsidi Bikin Ribet Perajin Bata di Pangandaran

PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Cuaca kemarau mempercepat pengeringan batu bata di Pangandaran. Tapi di balik lancarnya produksi, para perajin di Desa Paledah Kecamatan Padaherang justru ketar-ketir gara-gara solar.

‎Bahan bakar untuk mesin cetak itu kini susah di dapat lewat jalur subsidi. Ribetnya urus barcode bikin mereka lari ke solar eceran yang harganya jauh lebih mahal.

BACA JUGA:

Saat Petani Khawatir Kemarau, Perajin Batu Bata di Pangandaran Justru Kebanjiran Pesanan

‎Nining, perajin batu bata di Desa Paledah mengaku mesin cetaknya nyala hampir setiap hari. Tanpa solar, 5.000 batu bata yang di targetkan tiap 2 hari sekali tidak akan jadi.

‎”Untuk produksi seminggu butuh sekitar 50 liter. Sebulan bisa sampai 200 liter,” ujar Nining di lokasi produksinya.‎

‎Harga resmi solar subsidi di SPBU Rp6.400 per liter. Tapi untuk beli, perajin wajib punya Surat Rekomendasi Pembelian BBM dari dinas, lengkap dengan barcode atau QR Code.

‎Masalahnya, surat itu cuma berlaku 1-3 bulan. Kalau habis masa berlakunya, harus urus lagi dari awal.

‎”Barcode itu isi suratnya harus di perpanjang tiga bulan sekali. Memang gratis, tapi kita harus ke Parigi. Jauh,” kata Nining.

‎Nining menyebut prosesnya panjang. Pertama minta surat pengantar ke desa. Lalu dokumen itu di bawa ke kantor dinas di Parigi untuk di proses dan dapat barcode baru.

‎Tak hanya itu, prosesnya butuh waktu, tenaga dan biaya. Sedangkan produksi tidak bisa berhenti.Oleh karena itu, banyak perajin pilih jalan pintas dengan membeli solar eceran.

‎”Solar Rp6.400 di SPBU. Kalau di eceran Rp8.500. Gak tentu ecerannya di mana. Kita harus minta bahkan sampai nyedot ke mobil, minta 10 liter,” ucapnya.

‎Dari pembelian itu, selisih Rp2.100 per liter. Untuk kebutuhan 200 liter sebulan, artinya Nining harus keluar uang lebih Rp420 ribu di banding harga subsidi.

‎”Ya kita mending bayar saja lah ke eceran. Ya bayar lebih sedikit,” ujarnya pasrah.

‎Ia menyebut tidak semua penjual bensin eceran punya solar. Kadang harus keliling dulu baru dapat.

‎Di Paledah, batu bata masih jadi andalan ekonomi warga. Hasil produksinya di kirim ke berbagai wilayah di Pangandaran bahkan sampai Jawa Tengah.

BACA JUGA:

Dulu Memulung Bersama Ayah, Kini Tiga Anak di Pangandaran Siap Kembali Bersekolah

‎Namun, dengan sistem barcode yang harus di perpanjang tiap 3 bulan dan jarak ke Parigi yang jauh, perajin kecil seperti Nining merasa terbebani.

‎Aturan subsidi ini di buat BPH Migas bersama Pemda untuk menertibkan penyaluran.

“Tujuannya memang baik agar solar subsidi tepat sasaran,” ujar Nining.

‎Tetapi fakta di lapangan, justru mempersulit pelaku usaha mikro yang butuh solar setiap hari dan tidak punya waktu luang untuk bolak-balik urus administrasi.

‎Akibatnya, alih-alih menghemat, perajin justru membayar lebih mahal demi produksi tetap jalan.

‎”Mesin harus tetap nyala. Kalau berhenti, pesanan numpuk,” tutup Nining.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru