PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Musim kemarau panjang tahun 2026 membawa dampak berbeda bagi para pelaku ekonomi di Kabupaten Pangandaran. Saat petani mencemaskan gagal panen, perajin batu bata di Dusun Neglasari Desa Paledah justru memacu kapasitas produksi.
Cuaca terik mempercepat proses pengeringan batu bata basah dari dua pekan menjadi sepuluh hari saja.
Baca Juga: Dulu Memulung Bersama Ayah, Kini Tiga Anak di Pangandaran Siap Kembali Bersekolah
Percepatan masa pengeringan memungkinkan perajin memutar siklus produksi hingga tiga kali dalam sebulan.
Seorang perajin setempat bernama Cahwan (48) mampu mencetak 5.000 batu bata setiap dua hari.
Ia mempekerjakan tiga orang buruh dan rutin mengirimkan produknya ke pasar Jawa Tengah.
Namun, percepatan produksi ini menyisakan persoalan berat saat pekerja menggali bahan baku tanah liat.
Suhu panas membuat struktur tanah mengeras sehingga pekerja harus mengeluarkan tenaga ekstra memakai cangkul.
Penggunaan alat berat seperti ekskavator sebenarnya bisa menjadi solusi cepat untuk mengeruk tanah keras.
Sayangnya, harga sewa ekskavator yang mencapai Rp650 ribu per jam terasa sangat memberatkan perajin kecil.
Satu titik galian butuh waktu hingga sepuluh jam dengan total biaya mencakup Rp7 juta.
Ketiadaan modal besar memaksa mayoritas perajin tetap mengandalkan tenaga manual untuk menggali tanah.
Kondisi tersebut menciptakan ketimpangan produksi antara perajin bermodal besar dan perajin skala kecil.
Pemerintah Daerah Pangandaran sendiri belum mengucurkan skema subsidi sewa alat berat bagi sektor IKM ini.
Meski diterpa tingginya biaya bahan baku, para perajin tetap bersyukur karena pesanan pasar terus mengalir.
(Sajidin)



