TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Suasana tempo dulu kental menyelimuti kawasan Gedung Kesenian Dadaha, Kota Tasikmalaya, Rabu (30/9/2026). Rumah panggung bernuansa Sunda dan alunan musik tradisional menyambut para tamu yang hadir.
Pemandangan tersebut mewarnai peringatan Milangkala Ambu Midang ke-4. Komunitas perempuan pegiat seni ini terus menunjukkan konsistensinya merawat akar budaya lokal.
Baca Juga: APBD Perubahan 2026
Sejumlah pejabat penting menghadiri acara tersebut. Wakil Wali Kota Tasikmalaya Dicky Candra Negara hadir bersama istrinya, Rani Permayani.
Hadir pula Sekretaris Komisi IV DPRD Evi Silviani, Kepala Disporabudpar Deddy Mulyana, dan Ketua DKKT Tatang Pahat. Para tamu menikmati dekorasi khas Sunda sejak melangkahkan kaki di area pintu masuk.
Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya, Evi Silviani, memberikan apresiasi tinggi terhadap soliditas komunitas ini.
“Kami sangat mengapresiasi semangat dan kekompakan Ambu Midang yang konsisten menjaga, merawat, dan menghidupkan akar budaya lokal daerah di tengah gempuran di era digitalisasi. Tentu Ini tidak mudah, butuh kecintaan yang luar biasa terhadap budaya sendiri,” ungkap Evi pada Rabu (30/9/2026).
Evi mengaku bangga menyaksikan unjuk kebolehan para anggota Ambu Midang. Mereka menampilkan tari tradisional, lengser, angklung, hingga peragaan busana kebaya Sunda.
“Komunitas Ambu Midang ini, menjadi contoh dan penggerak untuk selalu mencintai seni budaya tradisional daerah, agar tetap berjaya dan eksis di tengah budaya modern di era globalisasi saat ini,” ujarnya.
Pujian Pemkot Tasikmalaya atas Gerakan Swadaya
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dicky Candra Negara, menegaskan rasa bangga pemerintah daerah terhadap kiprah Ambu Midang.
“Kami dari Pemerintah daerah, tentu menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada perempuan-perempuan Ambu Midang. Apa yang selama ini Ambu Midang lakukan adalah bentuk kecintaan serta pelestarian budaya yang tulus, walau tanpa bantuan anggaran dari pemerintah Kota,” ungkapnya.
Ia menilai komunitas ini berhasil memberikan edukasi budaya bagi generasi muda secara mandiri.
“Kita bangga dan salut, di Kota Tasikmalaya ini ada komunikasi Ambu Midang, yang terus konsisten dalam melestarikan budaya Sunda dengan swadaya, tanpa anggaran pemerintah. Ini bukti bahwa cinta budaya tidak harus menunggu bantuan. Pemerintah daerah tentu terus mendukung kegiatan-kegiatan positif yang terlakasan di seluruh elemen masyarakat, termasuk kegiatan pelestarian budaya daerah,” tuturnya.
Menjaga Jati Diri Orang Sunda
Ketua Komunitas Ambu Midang, Elis Darliani atau Ijem, menyampaikan rasa syukur atas perjalanan komunitasnya. Saat ini Ambu Midang merangkul sekitar 1.600 orang anggota.
“Di Milangkala ke-4 ini, harapan saya Ambu Midang tetap kompak dan solid, kemudian tidak pernah menyerah demi kemajuan dan perkembangan nilai-nilai budaya tradisional daerah. Dan kami ingin anak cucu kita nanti, tetap mencintai budaya lokal daerah, dan tetap menjaga jati dirinya sebagai urang Sunda,” kata Ijem.
Ijem menegaskan bahwa melestarikan kebudayaan menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga.
“Keberlangsungan seni dan budaya, bukan tanggung jawab kelompok atau komunitas saja, tapi lestari dsn berkembangnya budaya daerah ini, terlebih merupakan tanggung jawab kita bersama, demi keturunan anak cucu kita di masa mendatang,” paparnya.
Panitia menutup acara dengan prosesi potong tumpeng dan doa bersama. Pertunjukan rampak lesung, tari topeng aseupan, dan angklung memukau para hadirin hingga akhir acara.
(Seda)



